Zeeta Dan Dunia Sihir

Zeeta Dan Dunia Sihir
Menghilangkan Siklus Kebencian


__ADS_3

Dikala mentari menghangatkan Bumi seperti biasanya, kehangatan tersebut tidak mampu merangkul seorang gadis yang sedang terisak di sebuah kursi taman bunga istana. Gadis itu masih berduka atas kehilangannya terhadap sosok kakak—satu-satunya keluarga yang dimilikinya. Namun, beberapa saat kemudian, ada seorang pangeran berambut pirang yang menghampirinya sambil menyerukan, “Ah, di sini kau rupanya!” dia lalu duduk di sebelah gadis tersebut.


“Pangeran Leon....” Gadis tersebut membiarkan Sang Pangeran duduk di sebelahnya. “Maafkan aku bila aku jadi membuatmu kerepotan begini. Padahal kerajaan sedang dalam masalah besar, namun aku malah memperburuknya seperti ini.”


“Tidak,” jawab Leon menggeleng, “aku mengerti alasanmu yang menginginkan waktu untuk sendiri. Tapi, Ratu Peri ingin aku memberikanmu ini. Katanya, ini dari kakakmu.” Dia memberikan sebuah renjie pada Si Gadis, dan dirinya segera menerimanya. “Aku juga ingin mengatakan kalau aku akan bersamamu, membantumu, dan menemanimu.” Leon kemudian mengusap tangis dari pipi dan mata Si Gadis berambut ungu tersebut.


Si Gadispun tersenyum. “Terima kasih, Pangeran. Aku sangat menghargainya. Aku akan segera kembali setelah hatiku tenang.”


“Ya, baiklah.” Dengan menutup pembicaraan dengan simpulan senyum, Leon kembali ke ruang takhta.


.


.


.


.


Clarissa memandangi buah renjie-nya. Buah yang sekilas mirip jeruk tersebut, dipandanginya sesaat. Ia sampai membatin kala melihatnya. “Aku tidak mengerti kenapa sebelum kaumati malah memberikanku ini....” Dia kemudian mengelusnya dengan ibu jari, lalu dimakannya begitu saja. Tiba-tiba....


“Yo, Adik!”


Clarissa melihat sosok kakaknya yang tembus pandang. Dirinya yang kebingungan, melihat ke sekelilingnya. “Apa aku bermimpi...?”


“Tentu saja tidak! Ini adalah sihir.”


“Sihir...?”


“Yap. Dan keberadaanku di sini takkan bisa lama, sebab aku hanya menaruh tak seberapa mana di dalamnya. Jadi, dengarkanlah aku baik-baik.”


“Baiklah....”


“Kau mungkin sudah tahu hal ini dari Feline, tetapi aku telah bersepakat dengannya untuk membantu kalian mempelajari sihir. Tujuanku bicara padamu, adalah untuk memberitahumu satu hal yang kemungkinan tidak bisa kau ataupun keluarga kerajaan lain lihat.


“Selalu ingatlah satu hal yang akan kuberitahu ini dan sampaikanlah ke generasi selanjutnya, bahwa....”


Tellaura memberitahukan segalanya tentang waskita Yggdrasil dan tentang Seele pada Clarissa.


“Sekarang,” lanjut Tellaura, “aku akan membiarkanmu memilih. Apakah kau akan membantuku untuk menghalangi waskita itu terjadi, ataupun kauikut bersamaku, itu semua terserah dirimu.


“Aku tahu kau masih tak bisa percaya tentang garis keturunan kita, namun aku ingin kau tak menyesali keputusanmu.”


Clarissa terdiam sesaat. Ia kemudian mencengkeram kedua tangannya. “Katakan padaku langsung, kenapa Kakak memilih untuk mati daripada menjalani ini bersama denganku? Apa aku memang ... hanyalah beban bagimu, sehingga kau lebih memilih untuk mati?”


Tellaura tersenyum. “Tak perlu kutegaskan langsung dari mulutku, kautahu apa yang kupikirkan, bukan? Kau dan aku saling melengkapi. Sejak kita kecil, selalu seperti itu. Aku ini lemah tanpamu dan kau pun tak mampu melakukan apapun tanpaku.


“Oleh karenanya, aku sudah memberikanmu apa yang sanggup kuberikan. Selanjutnya, aku menyerahkan keputusannya padamu.”


Clarissa lalu menangis. “Kakak juga!” jeritnya, “sampai melakukan hal berbelit-belit begini, kalau mau mati dan meninggalkanku begitu saja, kau tidak harus melakukan ini!


“Kakak juga tahu apa yang akan kujawab, ‘kan?!”


Tellaura menghampiri adiknya, lalu mendekapnya meski tak bisa benar-benar menyentuhnya. “Kuserahkan padamu, Adikku. Aku menyayangimu.” Kala ia mengecup kening adiknya, ia menghilang seperti percikan cahaya.


Clarissa mengusap tangisnya lagi. Tatapan matanya sudah yakin. Ia yakin dengan keputusannya. “Selama ini, selalu kakakku saja yang membantu dan menyelamatkanku. Kini dan seterusnya, adalah giliranku!”


......................


‘BRAKK!’

__ADS_1


“Ratu Peri Feline, Pangeran Leon, Paduka Ratu dan Paduka Raja!” tegas Clarissa, “aku bersedia untuk menjadi penerus Ratu Amanda dan mengemban peran absolut itu!


“Namun, kumohon, bantulah aku untuk melakukan sesuatu pada kehidupan yang ada di dalam perutku ini!”


Semua yang ada di dalam ruang takhta tersenyum. Pun dengan Feline. “Mendekatlah,” ujarnya. Ratu Peri itu kemudian menciptakan dua buah kursi, kemudian menyuruh Leon dan Clarissa duduk. “Selalu ingatlah. Sihir itu bisa melakukan segalanya. Namun ingatlah juga, disaat yang sama sihir pun bisa mendatangkan keburukan. Tergantung pada makhluk dan orang-orang yang menggunakannya, sihir bisa menjadi baik maupun buruk.


“Yang akan kulakukan dalam sebuah artian baik, namun bisa diartikan buruk pula.”


“Apa memangnya yang akan kaulakukan?” tanya Clarissa.


“Mengubah kehidupan di dalam perut itu menjadi milik kalian berdua.”


Keduanya segera membatu begitu mendengarnya. Tak ada yang menyadari, Hilma juga demikian.


“Tu-tunggu tunggu!” seru Leon, “ba-bahkan aku dan Risa belum—“


“Kau berisik, oh Putraku!” tukas Amanda. “Setelah ini kalian hanya perlu mengumumkan pertunangan, menikah, dan segalanya selesai!”


“I-itu benar tapi....”


Meskipun masih ada rona merah di wajahnya, Clarissa bilang, “Tolong, lanjutkan saja, Ratu Peri.”


“Baiklah-baiklah.”


Feline lalu melukai ibu jari Leon terlebih dahulu, kemudian terbang di tengah-tengah hadapan Leon dan Clarissa. Butiran mana merah mudanya, menjadi katalis untuk menciptakan lingkaran sihir di bawah kedua manusia tersebut. Untuk menstabilkan lingkaran sihirnya, dirinya menggunakan kedua tangan. Tapi, beberapa saat kemudian, kestabilan itu harus ditahan dengan tangan kirinya saja, sebab darah dari ibu jari Leon diangkatnya dengan tangan kanan.


Feline lalu mengarahkan gumpalan darah itu ke depan perut Clarissa. Lingkaran sihir di bawah kaki Leon berpindah ke depan perut Si Gadis juga, barulah Feline mendorong gumpalan darahnya menuju lingkaran sihir.


Gumpalan sihir yang telah melewati lingkaran sihir, berubah menjadi butiran-butiran mana berwarna-warni, yang kemudian memasuki perut Clarissa.


“Fuuuh~” Feline melepas lingkaran sihirnya, lalu menyeka keringatnya sambil menghembuskan napas lega. “Sekarang, kehidupan di dalam perutmu sudah milik kalian berdua. Berbahagialah.”


“Jangan berterima kasih dulu. Pekerjaanmu masihlah banyak.”


“Uhm. Aku akan berjuang, juga demi memenuhi keinginan kakakku!”


Dari kejauhan, Hilma yang tersenyum, menyimpan kecemburuan yang sangat besar. Dia bahkan mengigit bibirnya sendiri agar bisa terus menahan kecemburuan itu. Feline yang bisa merasakannya diam-diam menargetkannya untuk menjadikannya sebagai pion, namun....


Clarisa berdiri lalu segera berlari untuk mendekap erat Hilma. Ia kemudian membisik. “Terima kasih karena sudah menyelamatkanku, terima kasih karena sudah berbesar hati. Kau memang benar-benar wanita yang luar biasa.


“Tapi, kau tidak perlu menyembunyikan perasaan itu di depanku. Sebab, aku tahu kaulah yang paling memendam perasaan paling besar dan paling lama pada Pangeran. Aku tidak ingin perasaan itu tersimpan selamnya dan hanya akan menjadi racun untuk hubunganmu dengan Pangeran setelah ini, oleh karenanya....


“Ungkapkanlah perasaanmu yang sebenarnya.


“Aku tidak ingin kau menyesali keputusanmu.


“Karena aku yakin dan benar-benar akan merasa, kita bertiga akan menua bersama-sama hingga maut memisahkan.”


Hilma sampai terbungkam seribu bahasa. Dia akhirnya membalas dekapan Clarissa. “Dasar.... Mendengarnya, aku jadi sulit untuk mengatakan tidak, dasar bodoh...!”


“Ehehehe~”


......................


Sekarang, dikala Ratu Peri Feline telah undur diri dan membiarkan masalah internal kerajaan dibiarkannya diurus oleh para manusia, Leon, Hilma, dan Clarissa bertekuk lutut di hadapan Amanda dan Gerard.


“Aku tahu hari sudah semakin petang dan kita bahkan belum menyantap makanan apapun,” ucap Amanda, “tapi sebelum kita membubarkan diri, aku ingin menegaskanmu tentang satu hal ini, Calon Menantuku.”


“Ba-baik, Paduka Ratu!” jawab Clarissa.

__ADS_1


“Mulai sekarang, kau akan menerima banyak penolakan. Terutama dari pihak bangsawan. Tetapi, kaubisa menggunakan rakyat untuk memercayaimu.


“Sederhananya, kau akan belajar berpolitik, beretika bangsawan, etiket, sopan santun, dan lainnya. Hal-hal ini patut kaukuasai untuk menjadi sosok yang absolut dalam segi pengetahuan sihir.


“Kau akan membimbing rakyatmu dulu untuk menggunakan sihir dan menuntun mereka agar tidak berbelok ke arah yang salah.


“Tapi tenang saja. Kau tidak sendirian. Aku, Ratu Aurora Kedelapan, Amanda Aurora, akan mendukungmu hingga kau menjadi penerusku.”


“Terima kasih Paduka Ratu, izinkan aku menerima dukunganmu dengan tangan terbuka.”


“Umu." Amanda mengangguk mantap. “Sekarang....”


“Eh? Masih ada lagi?” tanya Gerard. Dirinya segera menerima pelototan dari istrinya.


“Aku selalu mendengar Laura membanggakanmu tentang masakanmu. Buktikan padaku. Bila aku mengakuinya, ini juga bisa menjadi kekuatanmu untuk menarik rasa percaya dari bangsawan dan rakyatmu.”


“Dengan senang hati, Yang Mulia.”


.


.


.


.


Demikianlah, awal dari Clarissa, yang secara bertahap naik dari nol menjadi orang yang paling berpengaruh dalam sejarah kerajaan Aurora. Dirinya, serta tiga anak-anaknya, Iris, Roze, dan Velvet, telah menjadi bagian penting dalam kehidupan seorang keturunan jauh di masa depan mereka, dimana dalam waskita tersebut, berbeda dari semua leluhurnya yang membenci dunia, keturunan yang memiliki nama Zeeta dan bergelar Putri Aurora Kedua Puluh Satu.


Mereka berempat, bersama sosok kedua yang menghadirkan sihir untuk manusia, Tellaura, telah membentuk Zeeta—membantu dirinya untuk berkeputusan tentang masalah yang sedang ada di depan mata—yaitu ancaman dari Ragnarok.


......................


[Tanah Kematian....]


Tellaura selesai bersihir untuk membagikan ingatannya pada mereka yang ada di sana bersamanya.


Semuanya paham. Tentang apa alasan lain kenapa Tellaura mengutuk dunia agar manusia bisa bersihir lagi. Jawaban itu tak lain dan tak bukan karena waskita Yggdrasil, yang melihat siklus kebencian yang tak pernah usai sejak masanya Gala, akhirnya berubah di zamannya Zeeta.


Dan untuk mencegah waskita yang melihat Zeeta sendirian di dunia yang membuatnya jadi sendirian tersebut, Tellaura mengutuk dunia.


“Jadi, setelah semua yang kulihat,” ucap Tellaura yang memandangi Zeeta, “apa keputusanmu untuk ancaman di luar?”


Zeeta tidak memasang ekspresi apapun, namun dia tetap menjawab. “Sebelum ini, aku sudah berbicara dengan Kak Azure dan Melly, yang jika dalam mata Clarissa, mungkin adalah Hilma dan dirimu.


“Dan ucapanmu sendiri dalam ingatan itu, juga telah membantuku untuk membulatkan keputusanku.


“Belle, aku tahu kau merasa tidak berkewajiban, tapi maukah kau membantuku untuk menyelesaikan semua siklus kebencian ini?”


Belle menatap dalam-dalam keturunan bulan lainnya itu. “Aku ikut, tetapi asal kautahu saja, bila aku bertemu dirimu yang lain itu, atau bahkan kalau kau berubah menjadi orang yang sama sepertinya, aku tidak akan segan untuk menghancurkanmu.”


Zeeta tersenyum. “Terima kasih. Aku juga ingin bantuan kalian semua yang ada di sini bersamaku.


“Ragnarok bukanlah hal yang bisa kuselesaikan sendirian.”


“Tentu saja!” jawab Mellynda dan Azure bersamaan.


Scarlet mengangguk, Porte tersenyum, pun dengan Edouard. Tellaura yang melihat respon mereka, merasa lega. Dalam hatinya, ia merasa perjuangannya dan adiknya terbayarkan. Namun, belum saatnya untuk berbahagia. Dirinya kemudian bertanya pada Zeeta, “Apa langkah yang ingin kauambil setelah ini?”


Zeeta menatap serius Tellaura. “Ini gila, tapi aku ingin membiarkan lawan memiliki Batu Jiwa.”

__ADS_1


“HAH...?!” semua yang ada di sana, bahkan Tellaura menjerit pada si gadis berambut perak dan bermata biru langit tersebut.


__ADS_2