Zeeta Dan Dunia Sihir

Zeeta Dan Dunia Sihir
Bangkit


__ADS_3

Rune Ansuz merupakan Rune yang mampu memanipulasi ingatan. Rune ini digunakan para Raksasa untuk berkomunikasi satu sama lain. Komunikasi sendiri tidak hanya berwujud saling bertukar dialog atau hal serupa lainnya, tetapi komunikasi juga bermakna untuk "berbahasa" ataupun "berbicara".


Dengan Rune ini, seorang Raksasa mampu memanipulasi ingatan-ingatan targetnya agar memiliki satu tujuan dengannya dan menjadikan target tersebut menjadi pihaknya.


Misalnya, bila seorang Raksasa ingin menyihir sebuah pohon mati agar bisa hidup kembali, ia akan memasuki ingatan tersebut—melihat "ingatan" mana yang membuatnya mati, kemudian mengubah "ingatan" tersebut menjadi bagian yang baru. Dengan kata lain, pohon tersebut di-reinkarnasi oleh si Raksasa.


Contoh yang lain, secercah api bisa menjadi api yang membara bila seorang Raksasa bisa mengendalikan Rune Ansuz-nya dengan benar. Api memiliki "ingatannya" sendiri untuk bisa menjadi panas, terang, melindungi, atau menjadi taring, dan lain-lain. Seorang Raksasa bisa memanipulasi "ingatan" tersebut supaya itu menjadi rekan yang membantunya.


Kegunaan Rune Ansuz pada dasarnya amatlah kuasa. Oleh sebab itu, para Raksasa yang bisa memakainya, menunjukkan bahwa ia bukanlah Raksasa yang bisa diremehkan.


Jika begitu, Manusia, yang seharusnya TIDAK AKAN pernah bisa memakai Rune, malah mengacaukan dunia dengan Rune Ansuz, apakah ia juga sekuat yang dibayangkan...?


......................


Titania sudah melihat ringkasan ingatan milik Ozy. Dari titik paling awal—saat Ozy dan ibunya, Jeanne, masih kanak-kanak, lanjut pada titik pertemuannya dengan Clarissa, hingga titik dimana ia melatih Zeeta menggunakan Rune.


"Jangan terlalu senang dulu, Paman Ozy," ujar Titania, yang sedang meregangkan tubuhnya. "Ibu memang sudah melatihku, tetapi aku masih belum tahu apa yang harus kulakukan atau benarkah aku mampu melakukan apa yang kauharapkan dariku!"


"Hah!" Ozy senang karena kesombongan Titania yang masih bisa dikesampingkan itu. Ia pun tersenyum kecut. "Kepercayaan diri yang tinggi itulah yang kaubutuhkan! Titania, kau akan menjadi Raksasa pertama yang akan membawakan kembali harapan pada dunia!"


"Membawakan kembali harapan? Apa maksudnya?"


Selagi Ozy menjelaskan apa yang harus dilakukan Titania, disaat yang sama....


.


.


.


.


Elbrecht telah membawa seorang lelaki berstatus penting di tanah kelahirannya. Salah satu keturunan dari Naga Perang Orsted dan Naga Penempa Schrutz itu ada di sebuah gua yang dikelilingi oleh tumpukan emas dalam bermacam bentuk. Koin, batangan, perhiasan, dan lain-lain.


"Sudah saatnya kaubuka mata itu!" pekik Elbrecht.


Lelaki tersebut—Arata Akihiro—membuka matanya. "Nggh...." Ia mengigau. "Apa yang ...? Dimana ini...?" matanya lalu mendapati seekor Naga yang sedang menatapnya dengan tajam.


Arata terpukau dengan sisiknya. Sisik-sisik itu berwarna perak dan merah kirmizi. Tanduknya, ia kira, sepertinya adalah salah satu kebanggaan terbesar dari sang Naga. Itu tampak kokoh, kuat, dan tajam, dengan gemerlap putih-kekuningan. Matanya kuning menyala.


"Sampai kapan kau akan terus menatapku seperti itu?!" bentak Elbrecht.


Arata kaget. "Ma-maafkan aku, oh Naga yang Agung!" ia segera mengubah posisi telentangnya dengan posisi sujud.


Elbrecht mengernyit karenanya


"Aku tidak suka diagungkan seperti itu. Yah, kesampingkan itu, yang lebih penting, apa tangan itu sudah bisa kaugerakkan?"


Arata sempat kebingungan dengan pertanyaan itu. Kemudian, ia mengingat bahwa lengan kanannya putus karena serangan "Zeeta".


"Digerakkan...?" batin Arata, melirik pada lengannya yang dipikirnya sudah putus itu. "Ap—?!" ia segera terkesiap, kala mendapati lengan itu telah berubah menjadi tangan bersisik dengan cakar hitam yang tajam.


"Kekuatan yang ada di dalam tubuhmu itulah yang memungkinkan hal seperti itu terjadi. Kini, tanganmu jauh lebih kuat daripada lengan Manusia-mu yang seperti karet itu."


"Ta-tapi... bagaimana...?"


"Manusia," panggil Elbrecht. Arata langsung menengadah kepala.


"Apa kau membenci Naga?"


Arata seakan tersengat dengan pertanyaan itu. "Apa ... maksudmu...?" ia langsung menunduk, sembari mencengkeram tangannya.


"Carlou dan Fafnir adalah rekan sebangsaku, tetapi mereka telah membunuh orang tuaku, lebih tepatnya, satu komplotan."


"Orang tuamu...?" Arata menelaah ingatannya. Kata-kata "membunuh" itu, seakan baru saja didengarnya beberapa saat yang lalu.


Arata ingat.


Dia ingat bahwa ia seakan-akan dibawa ke sebuah ingatan seseorang—dua ekor Naga yang saling beradu argumen—Carlou dan Fafnir. Dalam argumennya, Fafnir menyebutkan dia telah membantu Carlou menandaskan Orsted dan Schrutz.


"Apa kauingin membalas dendam? Kepadaku yang memiliki kekuatan mereka?"

__ADS_1


"Balas dendam? Untuk apa?"


"Eh...?" Arata menengadah kepala lagi.


"Aku berbicara empat mata denganmu seperti ini, di tempat tinggal keluargaku dahulu ini, untuk bertanya sekaligus memadatkan kekuatan yang hampir bangun di dalam tubuhmu itu."


Arata meneguk liurnya. "Tolong jelaskan lebih detail!"


"Sebelum itu, Manusia, kuingin kau jawab pertanyaanku ini."


"A-apakah itu...?"


"Katakanlah kau sedang terlibat dalam sebuah perang.


"Dalam perang itu, kau menemukan seorang teman lamamu yang ternyata memihak lawanmu. Padahal dahulunya, kalian tumbuh, berlatih tanding, dan menjalankan hari-hari hampir selalu bersama.


"Namun, teman itu menyandera adikmu dan memaksamu untuk membunuh orang tuamu jika ingin adikmu dibebaskan.


"Jika kau dalam situasi seperti itu, siapa yang akan kauselamatkan?"


"Jika itu aku ...." Arata larut dalam pikirannya.


.


.


.


.


"Jika itu aku, aku akan membunuh temanku itu."


"Mengapa? Dia adalah teman berhargamu."


"Itu benar. Tetapi, adikku sendiri pernah bicara ini padaku. 'Lain kali, jangan biarkan orang lain menghasut keputusanmu dan jangan biarkan keputusan itu membuatmu menyesal'.


"Aku tidak pernah tahu sebelumnya kalau tuan Carlou hanya memandangku sebagai salah satu alatnya saja dan dia adalah salah satu sosok yang mendalangi kematian ibuku.


"Padahal, adikku sudah pernah mengingatkanku bahwa dua sosok itu membahayakan negeri—membahayakan keluargaku.


"Namun, aku tidak bisa memungkiri bahwa keduanya adalah sosok penting bagiku. Tuan Carlou melatihku, sementara ayah adalah sosok panutanku. Setidaknya ... sebelum ia berubah menjadi sosok yang tiran.


"Bila ibuku ada di sisiku, kuyakin semuanya akan berbeda. Oleh sebab itu, bila aku ada di dalam perang, aku tahu siapa prioritasku!"


Arata mengatakan semua itu dengan pandangan yang mantap serta nada yang percaya diri.


Elbrecht memejamkan mata sesaat.


"Salah."


.


.


.


.


"E-eh...?"


"PERANG TIDAK AKAN MEMBERIMU WAKTU UNTUK BERPIKIR!"


Auman Elbrecht menghempaskan Arata beberapa meter.


"Dasar Manusia yang hanya tahu kedamaian! Rasakanlah amarah dari para Naga yang ada di dalam tubuhmu!"


Begitu Elbrecht mengucapkannya, Arata mendadak batuk berdarah, napasnya tak teratur.


"A-apa...? Apa yang salah dari jawabanku...?!


"Selain itu ... tubuhku tiba-tiba...!"

__ADS_1


"Perang adalah kenyataan terburuk yang ada di dunia ini! Kau akan kehilangan segala yang kaumiliki, entah suka atau tidak!


"Perang tidaklah selembut, 'aku bisa membunuh temanku demi menyelamatkan keluargaku'!


"Pertanyaanku adalah, 'SIAPA yang akan kauselamatkan'?!


"Kau akan dipaksa menghadapi kenyataan pahit, dimana harapanmu selalu pupus di depan mata!


"Kenyataan tidaklah seindah 'SEMUA keluargaku pasti akan kuselamatkan'!"


Arata menggertak giginya. "Tutup mulut itu!"


Elbrecht melihat mata Arata berubah—menjadi mata Naga, dimana bagian kornea-nya berbentuk garis meruncing.


"Harapan itu ada untuk diwujudkan, entah sepahit apa perjalanannya!


"Menjunjung tinggi harapan adalah bentuk dari kekuatan!


"Membunuh teman lama itu juga merupakan kenyataan yang pahit!


"Aku tahu dan sadar tentang kemungkinan semuanya takkan semudah yang kuucapkan....


"TETAPI TETAP SAJA!!!


"Jika itu demi melindungi senyuman orang yang kusayangi, bahkan jika itu artinya aku yang tersakiti, aku akan berdiri paling depan dan menuntun mereka ke jalan baru yang terlepas dari segala kenyataan pahit itu!


"Ini mungkin hanyalah idealismeku saja, tetapi seperti itulah sosok yang ingin kucapai, dengan kekuatan yang kumiliki ini!"


Elbrecht lagi-lagi memejamkan matanya.


......................


"Ayah... maafkan aku...."


Sosok Elbrecht muda sedang menangis tersedu di bawah Yggdrasil. Di hadapannya ada Naga dengan sisik merah kirmizi secara keseluruhan.


"Jangan menyesali keputusanmu, Putraku!"


Elbrecht tersentak.


"Aku tidak ingat mendidikmu menjadi cengeng seperti ini! Kau masih memiliki sosok yang harus kaulindungi dan kau tak boleh menunjukkan kelemahan ini padanya!"


"Tapi, aku sudah...."


"Elbrecht...." Pandangan Si Naga, Orsted, mulai meredup. "Berjanjilah padaku, Putraku...." Darah terus mengucur dari perut bagian kirinya yang berlubang. "Berjanjilah bahwa setelah ini, kau dan Myra hidup dengan jalan masing-masing.


"Para Naga bersekongkol melakukan ini pada kita ... semata-mata untuk memuaskan harapan mereka.


"Oleh sebab itu ....


"Tetaplah lurus pada kewajiban kita sejak awal—melindungi Yggdrasil. Lakukan itu ... dengan cara kalian masing-masing, dan berbanggalah terhadapnya.


"Jika tidak ... Orsted dan Schrutz akan se... dih...."


......................


Elbrecht tersenyum. "Selamat," katanya.


Arata kembali dibuat kebingungan.


"Moral yang tinggi adalah salah satu dasar dari kemenangan dari sebuah peperangan.


"Sekarang, aku hanya tinggal meminta adikku menempa zirah yang bisa menyeimbangkan kekuatan Naga dan tubuh Manusia-mu." Elbrecht hendak mengepakkan sayapnya.


"Tu-tunggu sebentar!" jerit Arata, "apa yang sebenarnya terjadi di sini...?"


Elbrecht justru mengernyit. "Kau tidak menyadarinya?"


"Apa?"


"Para Naga sudah mengakuimu. Itu artinya...."

__ADS_1


Arata terkesiap dan terbelalak. "Kekuatanku ... bangkit...?!"


__ADS_2