
Di arah mata angin selatan, di sebuah wilayah bersalju dan memiliki medan penghalang, yang dibaliknya terdapat tanah hijau nan subur serta sumber air yang mengalir dengan derunya yang lembut.
Tanah yang berada di balik medan penghalang ini seakan-akan "menepis" fakta bahwa dunia hendak mengalami kehancuran dunia, dengan penduduknya yang hidup tenang.
Tempat ini sebelumnya pernah dikunjungi oleh Luna, Mintia, Lloyd, Colette, Marcus, dan Novalius, demi memastikan keamanan Batu Jiwa yang menurut peta yang diciptakan oleh ras Raksasa—yang dimiliki perpustakaan bawah tanah istana Aurora, serta dibawah kewenangan Hazell yang mempekerjakan Suzy—berada di tempat yang dijaga oleh Roh Kuno Angin, Zephyr.
Batu Jiwa masih ada di dalam penjagaan Zephyr. Oleh sebab itu, mereka masih tidak tahu kekacauan yang sedang terjadi di sekitaran wilayah Kekaisaran Seiryuu. Namun, begitu suara Undine tiba-tiba menghampiri isi pikirannya, Zephyr segera mengerahkan tenaganya yang telah lama sekali tidak ia pakai, untuk menyampaikan pesan permintaan rekan sesama Roh Kuno-nya tersebut.
Suara kepanikan yang datang dari Undine, tak membuat Zephyr hilang arah atas apa yang sedang terjadi kepadanya. Sebab, kedatangan Luna—sang Roh Yggdrasil tempo hari—sudah bisa dijadikan acuan untuk memperkirakannya.
Jika Undine mampu memanipulasi air, Ifrit memanipulasi api, demikian pula pada Zephyr yang bisa memanipulasi angin. Dengan kekuatannya, ia tak hanya bisa mengubah suhu menjadi ekstrem atau normal, bergerak cepat, berlindung, melawan, dan banyak hal lainnya, tetapi ia juga bisa menyampaikan pesan—sebagaimana yang telah dilakukannya pada seluruh penjuru dunia—Galdurheim.
Perlu digaris bawahi, dunia ini banyak sekali penduduknya. Tidak hanya manusia, hewan, dan tumbuhan, tetapi juga makhluk sihirnya. Kendati disebut makhluk sihir, ada dari mereka yang tidak mengancam, namun malah terancam karena lemah mana.
Bagi mereka yang lemah mana, yang berlaku juga kepada manusia, mereka tak bisa mendengar pesan yang dihempaskan melalui angin Zephyr.
Kendati demikian, mereka yang lemah mana tetap bisa merasakan adanya perbedaan hembusan angin. Sebab, seperti yang pernah dikatakan Arthur pada Zeeta ketika dirinya masih lima tahun, meskipun lemah, tetap saja mereka memiliki mana. Tidak mungkin mereka tak menyadari adanya perbedaan atau pergerakan sesuatu yang kuat.
Angin yang dihempaskan Zephyr ke seluruh penjuru dunia, tentu saja tersampaikan kepada mereka yang sedang dalam perjalanan menuju Seiryuu, atas permintaan Tellaura.
......................
[Beberapa saat sebelum dua Zeeta saling berseteru....]
Posisi Tellaura masih ada di dalam istana Aurora. Kepergian Serina, Mintia, Aria, dan Ozy tak mengubah kondisi kesiagaan mereka yang masih tinggal.
Di sana ada Crescent Void yang terdiri dari Marcus, Collete, Novalius de Dormant, dan Mellynda. Diluar pihak Crescent Void ada Azure.
Ada para bangsawan utama yang terdiri dari Ratu, Raja, Grand Duke Albert Alexandrita XX, Count Porte Ophenlis VIII, Marchioness Hellenia von Cloxzar IX, dan Count Zacht de Dormant XVII, serta Count Rey Emeria.
Diluar pihak bangsawan utama, ada mantan Grand Duchess, Ashley Alexandrita IX, dan Scarlet Aurora IX.
Selain para manusia, ada juga sekutu mereka dari pihak Naga, Elbrecht dan Myra, serta dari pihak Elf, Lloyd.
Di tengah kerumunan itu, tiba-tiba...
"Tellaura, kaubisa dengar aku?"
Suara Belle menggema di dalam kepala salah satu leluhur Aurora itu.
"Aku bisa. Ada apa?" tanya Tellaura.
"Jangan tanya apapun, pokoknya segeralah perintahkan semua yang ada di sana untuk menuju kekaisaran Seiryuu. Tidak usah menunggu lagi."
Tellaura mengernyit. "Aku mengerti."
"Ratu, kuingin kita semua segera berangkat. Bisakah kaupercayakan kepadaku siapa saja yang harus ikut?"
Melihat dari cara bicara serta mimik yang diberikan leluhurnya, Alicia kemudian menjawab, "Aku, Suamiku, Grand Duke, serta ibuku, Scarlet, tetap di sini. Sisanya, terserah kau."
Tellaura mengangguk. "Tuan dan Nona Naga." Dia melihat ke arah mata keduanya. "Kuingin kalian yang paling cepat datang ke sana."
"Apa ada alasan mengapa tiba-tiba—" pertanyaan Myra segera ditukas.
"Ya dan itu sangat tidak baik, juga tak ada waktu untuk menjelaskan. Pokoknya cepatlah."
Myra dan Elbrecht mengangguk, yang kemudian langsung melesat cepat meski masih dalam bentuk manusianya. Mereka memecahkan jendela yang ada di sana, yang direspon santai oleh semuanya.
"Kau." Tellaura menepuk bahu Azure dan Mellynda. "Fokuslah pada dia."
Azure dan Mellynda agak terkesiap tetapi mereka paham maksudnya. "Baiklah," jawab mereka, yang menyusul dua Naga tadi.
"Kau dan kau!" Tellaura menunjuk Hellenia dan Zacht.
"Ya!?" tanya keduanya.
"Segera ciptakan sihir yang bisa mengantarku cepat ke sana. Tenang saja, aku akan memandu jarak dan koordinatnya.
"Aku harus menyimpan mana-ku untuk keadaan di sana."
Hellenia dan Zacht mengangguk. "Siap!" keduanya lalu mulai bekerja.
__ADS_1
Terakhir, Tellaura menatap Ashley. "Kau ... adalah keturunan dari anak adikku, bukan?"
Ashley mengangguk.
"Jagalah kerajaan ini bersama mereka. Aku tahu sihir-sihir kalian bisa melindunginya. Kami yang bergerak maju, menyerahkan pertahanannya pada kalian."
Tidak hanya Ashley saja, tetapi Marcus dan Colette sama. Mata mereka berbinar mendengar ucapan Tellaura.
"Bagaimana denganku?" tanya Lloyd. Ia lalu mendapati Tellaura terdiam sesaat.
"Pergilah ke kerajaan Nebula."
"Hah...? Nebula?"
"Kau akan mendukung Benih Yggdrasil yang ada di sana."
"A-apa maksudmu?! Aku ini Elf dan aku tak peduli dengan manusia lain selain—"
"Dukung Benih Yggdrasil itu! Dia akan menjelaskan apa maksudku di sana. Jangan banyak oceh dan laksanakan saja. Aku tak masalah bila kauingin membenciku dan membalasnya nanti."
"Cih ... baiklah!"
......................
Hellenia dan Zacht tidak menciptakan sihir baru untuk Tellaura gunakan. Mereka berdua memakai masing-masing afinitas sihir mereka demi memenuhi permintaannya.
Hellenia selama ini pasif dalam bertarung tetapi pertahanannya bisa diandalkan. Kendati pasif, tentu saja ia adalah bangsawan yang cukup kuat. Meskipun dia kuat, tetapi dia sadar bahwa dirinya bukanlah orang yang mampu menciptakan sihir diluar nalar seperti mereka yang ada di sekitarnya. Dia tahu dia bisa melakukan sesuatu yang bisa memenuhi harapan Tellaura.
Demikian pula dengan Zacht. Ia adalah orang yang membaktikan dirinya untuk belajar pedang dan hanya memakai sihir sebagai selingan latihan serta di lapangan. Hal ini berbeda dengan yang dilakukan putra tunggalnya, Novalius. Putranya malah jauh lebih hebat dalam pedang dan sihir daripada dirinya—seperti itulah pengakuannya pada sang putra.
Walaupun begitu, dia tahu dasar-dasar bersihir. Terlebih, dia juga membantu latihan putranya berpedang. Dia memiliki beberapa cara yang dipikirnya bisa meringankan beban Tellaura.
Keduanya memunculkan sesuatu yang telah lama tak terlihat, yaitu Buku Sihir. Sebagai pengingat, buku ini diciptakan atau lebih tepatnya didasari oleh keinginan Clarissa sebagai Ratu pada kala itu, untuk memudahkan rakyatnya bersihir.
.
.
.
.
"Tetapi ... aku tahu.
"Walau aku tak terpilih seperti keduanya, kami semua memiliki tekad yang sama. Tekad layaknya kupu-kupu. Kami takkan memandang seberapa terbatasnya kami dalam menopang kerajaan, tetapi dengan seluruh tenaga yang kami miliki, kami bisa berguna dan mengepakkan sayap cantik kami kepada mereka yang menghargai keberadaan kami.
"Aku tidaklah kuat seperti putraku dan ayahku, tetapi aku tahu teknik pedang yang bisa membantu Nona Tellaura menuntaskan tujuannya hidup lagi bersama kami.
"Bila teknik ini dipadukan dengan sihir Nona Hellenia, maka...."
Zacht tersenyum kecil. Hellenia yang ada di sebelahnya menyadarinya. "Apa ada sesuatu yang lucu, Tuan Zacht?"
"Ah, maafkan aku. Aku hanya terheran bagaimana bisa Nona Tellaura seakan tahu kita bisa memadukan sihir yang akan membantunya."
Hellenia membalas senyuman itu dengan cara yang serupa. "Anda benar. Mungkin itu karena dia telah mengawasi kita dari Tanah Kematian? Kita pun tidak tahu mengapa tiba-tiba dia memutuskan untuk 'bangkit' dari kematian. Semua yang terjadi setelah tuan putri berusia tujuh belas tahun ... terasa begitu besar sampai-sampai kita tak bisa melihat senyuman darinya.
"Kuharap, kehadirannya kembali ke dunia ini akan mengantar putri ke tempat yang lebih bisa membuatnya tersenyum seperti dulu lagi."
"Jika demikian, maka kita harus bisa menuntaskan sihir ini dengan sempurna!"
"Anda benar, Tuan Zacht!"
......................
[Di halaman istana....]
"Inikah sihir yang kalian ciptakan?" tanya Tellaura dengan seringai bangganya. Seringai itu dilebarkan karena melihat sesuatu yang ada di hadapannya.
"Apa ada yang salah?" tanya Hellenia.
"Tidak. Aku hanya berpikir adikku dan keturunannya telah mengeluarkan Aurora dari jeratan yang sangat buruk dan aku sangat senang.
__ADS_1
"Tenang saja, kalian berdua. Kedatanganku ke sini tentu saja untuk membantu Zeeta."
Zacht dan Tellaura tersenyum hangat mendengarnya. Kemudian, Tellaura menaiki sesuatu yang dilihatnya tersebut.
Sesuatu itu adalah pedang rapier besar yang melayang di udara. Rapier ini terselimutkan oleh bara hitam pada seluruh bilah runcingnya. Sementara itu, di depan Tellaura terdapat dua perisai berbentuk persegi panjang yang keduanya miring tiga puluh derajat—membentuk huruf "V".
Kaki Tellaura ikut terselimutkan oleh bara hitam yang sama. Bara itu seakan mengikatnya agar dirinya tak jatuh.
"Jarak kerajaan ini dengan kekaisaran Seiryuu sekitar tiga ribu kilo meter menuju timur. Kami tahu itu jarak yang SANGAT jauh dan hendak kaucapai dalam waktu yang SANGAT singkat." Hellenia menjelaskan. "Oleh sebab itu, sihir yang kami ciptakan berporos pada kecepatan.
"Perisai yang ada di hadapanmu berguna untuk mengikis angin yang menerpa dan semakin menambah kecepatan di udara. Namun, aku sudah memastikan perisai itu takkan rusak sebelum kau mencapai tujuan.
"Tolong ingatlah bahwa kami hanya menyimpan mana di masing-masing sihir sejauh jarak tersebut dan itu takkan berbelok-belok meskipun ada yang mengganggunya.
"Sihir ini hanya sekali pakai dan kami percaya sihir ini mampu mengejar mereka yang telah berangkat lebih awal."
Tellaura tersenyum. "Terima kasih. Ini sangat mengagumkan. Aku sangat menghargainya."
"Nona Tellaura!" panggil Zacht.
"Ada apa?"
"Jujur saja, sebagai bawahannya aku tahu tidak layak mengatakan ini, tetapi aku adalah seorang ayah. Aku tahu putri Zeeta sedang mengalami masa sulitnya dan dalam beberapa tahun terakhir senyumannya telah luput dari wajahnya.
"Bila ... bila keegoisan ini bisa kaudengarkan ... tolong lindungilah senyuman itu."
Tiba-tiba....
"TENTU SAJA DIA HARUS!"
Ketiganya menoleh pada sumber suara. "Nyo-Nyonya Scarlet...?!" dua bangsawan utama itu kaget.
"Laura, kau telah melihat apa yang tidak aku dan Alicia lihat. Kebalikannya, kau yang hidup tiga ratus tahun silam justru melihat apa yang Zeeta lihat....
"Aku tahu kau telah bercerita tentang ini, tapi jika kau tidak bisa melindunginya ... saat aku mati nanti, aku pasti akan membunuhmu lagi."
Angin menghembuskan rambut mereka. Rambut merah dari Tellaura tertiup lembut—menghipnotis dua bangsawan utama itu.
"Kuhargai perasaan kalian kepada Zeeta, tetapi ingatlah, ini adalah ceritanya. Kita semua yang membantunya hanyalah peran yang melengkapinya.
"Sejauh apapun bantuan yang kita berikan pada Zeeta, bila dirinya berpikir tak layak menerimanya, kita bisa apa?
"Maksudku, aku percaya pada Zeeta. Tentu saja aku akan membantu di sisinya. Aku juga sudah mendengar mimpi dan tujuannya di dunia ini.
"Zeeta adalah keturunan Bulan, Scarlet. Sejak dia terlahir di dunia ini, dia tidaklah sendirian. Meskipun dia terlupa tentang fakta itu, sudah ada orang yang akan mengingatkannya lagi.
"Namun peran itu, bukanlah peranku, dirimu, kalian berdua, ataupun orang tuanya sendiri.
"Mereka yang memegang peran tersebut adalah...."
......................
"Aku adalah Roh Kuno Angin, Zephyr! Dengarkanlah pesan Roh Kuno Air, Undine, yang sedang ada di medan pertempuran!
"Bagi kalian yang bisa mendengar suara ini, jangan biarkan mana dua Zeeta itu saling berseteru! Jika tidak, Ragnarok akan datang!"
Azure dan Mellynda dapat mendengar jelas suara Zephyr. Mereka masih dalam perjalanan menyusul Zeeta.
"Kaudengar itu, Melly?!" jerit Azure.
"Iya, aku dengar!"
"Sumpah ... anak itu tak pernah berubah sejak dulu!"
"Kakak benar! Meskipun dia tidak berubah, tetap saja dia adalah rivalku!"
"Heh! Kaupikir siapa aku ini? Aku ini kakaknya dan aku berhak memarahinya kapanpun dia membuat kesalahan.
"Tapi kali ini ... aku takkan memarahinya."
Azure dan Mellynda saling mengikat senyuman.
__ADS_1
"Tunggulah kami, Zeeta!"