
Kerajaan Aurora adalah salah satu dari beberapa yang beruntung karena tidak menderita korban jiwa usai Malam Neraka dua minggu yang lalu. Di pagi hari yang baru, mereka menyambutnya dengan semangat yang baru pula.
Masyarakat, termasuk para bangsawan, sengaja beraktivitas sedikit lebih jauh dari istana. Tidak ada yang keberatan apabila mereka harus mendirikan tenda sementara untuk beristirahat, atau bahkan menggelar tikar, hingga berbagi tempat sampai ke desa-desa di luar tembok kerajaan.
Segalanya sudah berubah, semuanya sudah bisa satu hati. Hal ini mungkin saja mustahil dilakukan, jika Tuan Putri mereka tidak berhasil mengatasi rintangan-rintangan terjal yang sudah menghadangnya sejak ia masih berusia delapan tahun. Apa yang berhasil dicapainya sejak saat itu, menjadi inspirasi dan motivasi untuk mereka, tanpa harus diutarakan dengan keras.
Rata-rata penduduknya paham bahwa tanggung jawab Tuan Putrinya sangatlah berat, namun sosoknya yang terus saja berdiri tegak dan pantang mundur dari semua yang menghadangnya, merupakan sesuatu yang tidak mudah dilakukan banyak orang. Mereka tahu, bagi Tuan Putrinya, kata "mundur", bukanlah sebuah opsi. Lantas, yang harus mereka lakukan untuk meringankan setidaknya sejengkal saja beban yang dipikulnya, hal seperti "minggir untuk sementara" bukanlah hal yang besar dan harus diributkan. Malah, mereka semakin berharap jika Tuan Putrinya bilang apapun yang dibutuhkan, yang sekiranya mampu dilakukan mereka.
......................
Zeeta sudah selesai membersihkan diri. Ia sudah wangi, bersih, dan cantik. Kali ini, ia hanya memakai gaun sleeveless sepanjang lutut dengan corak plain dengan bagian bahu berwarna biru. Ia mengikat satu rambutnya ke belakang—menunjukkan kesan kasual. Setelah merasa siap dengan penampilannya, Zeeta meregangkan tubuhnya yang sudah terlalu lama terbaring lemah. Merasa siap dengan kekuatannya, berangkatlah dirinya ke luar istana. Saat dalam perjalanan, ia berpapasan dengan seorang perempuan di halaman. Orang tersebut tampak menunggunya dengan sabar.
"Selamat datang kembali, Zee," ujar orang tersebut menyambutnya dengan suka cita.
"Ya, terima kasih, Kak Suzy," balas Zeeta yang tersenyum. "Kenapa sendirian di sini?"
"Menunggumu."
"Aku? Apa ada sesuatu yang harus kutahu?"
"Tidak, aku hanya ingin berterima kasih."
"Terima kasih...? Memangnya aku sudah melakukan apa padamu...?"
Suzy tersenyum kecut. "Atas segalanya, dasar bodoh."
Zeeta masih tampak tidak mengerti.
"Kau sudah menyelamatkan banyak orang, termasuk diriku. Semua yang telah kaulakukan, terima kasih.
"Sungguh! Aku sangat berterima kasih padamu!"
Zeeta terkesiap tatkala melihat titik air mata muncul bersamaan dengan Suzy yang menjerit.
"Kau mungkin tidak menyadarinya, namun semua perjuanganmu yang telah mengorbankan nyawamu sendiri, telah memberikanku kesempatan untuk lebih mengerti apa yang terjadi padaku dan keluargaku.
"Juga ... terhadap dunia ini.
"Aku yakin, rakyatmu juga menyadari hal itu. Karena itu, terima kasih karena sudah terus berjuang untuk kami!"
Zeeta mengikat simpulan di bibirnya. "Apa ini karena kau mendengar keluh kesahku, makanya kau mengatakan hal manis begini sekarang?"
"Mungkin saja. Sebab, selama ini, aku tidak bisa menggapaimu karena selalu menganggap kau adalah bintang yang mampu bersinar seorang diri. Tapi kenyataannya, aku pun bodoh karena tidak mengatakan ini secepatnya.
"Zeeta, kau adalah bulan.
__ADS_1
"Terkadang kaubisa menyembunyikan diri dibalik silau cahaya, terkadang kau bersinar dengan sangat gagah diantara gelapnya malam."
Zeeta menunduk. Ia juga mencengkeram tangannya. "Ayolah ... jangan buat aku menangis!"
Suzy maju menghampiri Zeeta, lalu tanpa persetujuannya, segera mendekap erat. "Tidak hanya aku yang berpikir seperti ini, tetapi aku tahu Azure dan teman-temanmu yang lain begitu.
"Jadi....
"Meskipun kautahu ada cara yang PASTI untuk mengakhiri dunia sihir yang seperti ini, aku yakin ada cara lain."
"Bagaimana caramu tahu tentang cara pasti itu?"
"Ayolah, Dik Zee... bukankah kau sendiri yang memintaku bekerja di sini? Lambat laun, orang jenius sepertiku akan tahu!"
Zeeta sedikit terkekeh dibuatnya. "Hehe, begitu, ya." Ia melepas dekapan Suzy. "Sudah kuduga, aku memang menyukai dunia ini!"
Suzy berbinar saat melihat senyuman tulus dari seorang Zeeta Aurora. Ia tampak begitu polos, kuat, namun rapuh. Ia kembali memaksa tubuh gadis yang terasa berotot itu dalam dekapannya. "Kau memang melindungi kami dengan sihirmu yang kuat, tetapi kami pasti bisa melindungimu dengan segenap yang kami miliki berkatmu.
"Senyuman, harapan, kekuatan, cinta, dan pertemanan. Bersama-sama, kami akan menciptakan dunia dimana kaubisa terus tersenyum seperti ini!"
Senyuman tulus nan lebar Zeeta berubah masam. "Apa aku boleh egois seperti itu? Dunia sedang mendambakan seorang 'Penyelamat' dari seorang keturunan yang disebut akan menghancurkan dunia, lho."
"Tentu saja tidak apa! Justru, beregoislah sedikit, dasar! Kau itu bukanlah alat!"
"Hehe. Terima kasih, Kak Suzy. Berkatmu, aku jadi tidak ragu lagi. Baru saja, aku terpikirkan bagaimana aku harus menghadapi diriku yang lain."
"Tunggu sebentar." Zeeta menekuk salah satu lututnya dan merasakan tanah dengan tangannya. "Uhm. Begini pasti bisa."
"Zee?"
"Aku ingin segera memakai 'tiket egoisku'. Boleh?"
Suzy yang masih dilanda bingung, bertanya, "Memangnya apa?"
"Ini cukup merepotkan, tapi kelak akan berguna."
......................
Zeeta memakai teleportasinya. Ia muncul di depan palang penanda desa Lazuli. Mereka yang sedang beraktivitas atau dalam tenda masing-masing, terpaku pada lingkaran sihir kebiruan yang mendadak muncul di tanah. Kala mereka melihat siapa sosok yang muncul, mereka segera mengerumuni Zeeta untuk memberinya sorak-sorai selamat dan syukur. Zeeta sendiri bahkan sampai dibuat kaget dan kewalahan karenanya. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa desa terujung di Wilayah Selatan justru terokupasi oleh banyaknya orang. Bahkan biasanya saja tidak seramai ini yang menyanjung kedatangannya.
"A-aku senang dan berterima kasih atas semangat kalian, tapi ... seperti yang kalian lihat, aku sudah baik-baik saja, oke?"
"Yah ...!" sahut Rakyat A, "kami benar-benar sangat khawatir Anda akan kenapa-napa! Soalnya sudah dua minggu Anda tidak siuman! Sungguh, syuuukurlah!"
"Tuan Putri!" panggil Rakyat B, "apa Anda sudah makan? Kami bisa segera siapkan makanan untuk Anda! Mungkin tidak akan selezat yang selalu Anda masak, tapi...."
__ADS_1
Tidak tega menolak tawaran rakyatnya, mau tidak mau Zeeta menerimanya. "Baiklah. Tapi buatkan yang ringan saja, ya, soalnya sebelum ke sini, aku sudah bersiap banyak."
Merasa semangat, Rakyat B dan sisanya segera berapi-api. "SERAHKAN PADA KAMI!"
"Kalau begitu, aku akan menemui ayah Arthur dulu. Apa dia ada di rumah?"
"Ya! Dia sedang bersama Nona Hellen!"
"Begitu. Terima kasih! Sampai nanti, ya!"
"Baik, Yang Mulia!"
Rakyat-rakyatnya segera melambaikan tangan.
.
.
.
.
Ketika Zeeta berjalan dengan terus melambaikan tangan pada siapapun yang memberinya hormat, Zeeta menyadari ada sesuatu yang janggal di seberang sungai. Ia terhenti dan secara reflek menyipitkan mata. "Hutan Perinya kembali rindang...? Apa ini berkat Vanadust juga?" ditengah ia menduga-duga, ia mendengar bunyi ember penuh dengan air terjatuh. Zeeta menoleh ke sumber suara, dan..., "Ah...!"
Sekelompok orang termangu melihat Zeeta. Mereka adalah Gerda, Danny, kedua orang tua mereka, Recko dan Grilda, Hellenia, serta Arthur.
"Hai semuanya, aku pulang!" Zeeta memberikan senyum dan lambaian kecil tangan.
"Akhirnya kau datang juga, dasar Wadah yang selalu membuat cemas!"
Zeeta mendengar suara Luna. Ia datang dari belakangnya dengan wujud siluman setengah rubahnya.
"Luna! Kau baik-baik saja!? Syukurlaaah!" Zeeta membalik badannya.
"Zee ... ta...?! Kau ini benar-benar, ya...!"
Suara mencekam kini datang dari pihak Gerda dan yang lain. Ketika ia membalik lagi badannya, ia langsung nyaris terjatuh karena pelukan tiga orang—Gerda, Hellenia, dan Arthur.
"Syukurlah kau sudah siuman...!" seru Gerda, yang sekaligus identitas dari orang yang bersuara mencekam.
Zeeta balas memeluk ketiganya bersamaan. "Dasar...." Ia mengelus rambut mereka pelan. "Terima kasih sudah mengkhawatirkanku dan maaf. Aku sudah baik-baik saja."
Semua yang ada di sana, Luna, Danny, Recko, dan Grilda, tersenyum sahaja melihat mereka.
[Sementara itu, di sisi Hutan Peri....]
__ADS_1
"Mwa ha ha ha! Tampaknya sudah saatnya Daku unjuk diri!"
Seseorang dengan empat helai sayap berwarna biru sedang bertolak pinggang dan menatap desa Lazuli dengan senyuman lima jari.