Zeeta Dan Dunia Sihir

Zeeta Dan Dunia Sihir
Melangkah ke Depan (1/2)


__ADS_3

Tiga hari usai bentrok antar Peri dan manusia padam, pembangunan wajah baru kerajaan Aurora berlangsung dengan lancar. Setelah disembuhkan oleh Zeeta dari kondisinya yang sangat memprihatinkan, Porte pun sudah diinformasikan apa saja yang ia lewati sementara ia terkunci di dalam medan pelindung yang pelakunya masih belum diketahui itu. Namun sayang, ia tak bisa membalas informasi itu dengan harga yang setimpal, karena ia sama sekali tidak menyadari apa yang terjadi di sekitarnya setelah "menyatu" dengan kristalnya untuk menggerakkan Labirin Cremlyn.


Kini, kerajaan Aurora akan memulai aktivitasnya secara damai, dan perlahan-lahan tujuan utama Zeeta setelah pembangunan ini selesai—yaitu membebaskan Alicia dari istana yang terlilit akar raksasa—dapat dituntaskan. Sebelum Feline dan Morgan pergi meninggalkan Aurora, tentu saja Manusia-Manusia itu sudah bertanya tentang apa sebenarnya akar raksasa itu pada mereka, dan jawaban mereka adalah....


"Entahlah, cari tahu saja sendiri. Diperjanjian kita tak ada sepatah katapun yang mengharuskanku membeberkan apa yang menjadi rencanaku." Feline tersenyum jahat. "Kau memang anak kecil, ya, Zee."


Zeeta ikut tersenyum membalas Feline. "Hehehe," gelaknya. "Bodohnya aku bertanya padamu. Uhm, maafkan aku. Jangan terkejut jika aku bisa mengeluarkan ibuku dari sana."


"Cobalah, lagi pula itu mustahil."


Morgan menghampiri Zeeta, lalu berkata, "Aku hanya akan memberimu satu petunjuk tentang Scarlet. Gunakanlah anting itu sebaik mungkin, lantas kau akan menemukan jawabannya."


Zeeta tidak merespon Morgan. Ekspresinya pun tidak bergeming.


......................


"Terlalu banyak yang harus kupikirkan.... Untuk saat ini aku harus fokus untuk menyelamatkan ibu dulu," batin Zeeta. Ia sekarang sedang sendirian di kamar kediaman Ashley untuk beristirahat. Tak lama kemudian, ia jatuh terlelap.


Sesaat setelah ia jatuh dalam lelapnya, ia bertemu kembali dengan Velvet. "Halo! Kita bertemu lagi, ya!" sapanya sambil melambaikan tangan dan memamerkan senyum lima jarinya. Entah kenapa, jauh di dalam lubuk Zeeta, ia merasa hangat disambut seperti ini, oleh seseorang yang sangat ceria, dan bahkan seseorang yang tidak pernah ia kenal sebelumnya.


"Berikan aku tosmu, setelah berjuang dengan baik di luar sana!" seru Velvet. Ia menyuguhkan tangan kanannya.


Meski diawali rasa ragu, Zeeta membalas tos dengan tangan kanannya, ia merasa bahwa ia tak bisa menyentuh seseorang yang tidak ada di dunia ini, tapi ia justru dibuat terkejut. Velvet bahkan menepuk kepalanya beberapa kali, lalu segera memeluknya.


"Kau hebat ya, aku bangga denganmu!" seru Velvet, seraya mengelus kepalanya.


Tidak diduga oleh Zeeta, air mata membanjiri pipinya. "Eh... kenapa...? Kenapa aku...?"


"Jangan katakan apapun dulu. Lampiaskanlah semua tangis itu padaku."


Mata Zeeta yang berkaca-kaca, semakin diderasi tangis yang seakan tak bisa dibendung lagi itu. "Huwaaaaaa!" Zeeta bahkan sampai berteriak—layaknya anak kecil pada umumnya. Ia kemudian membalas pelukan Velvet dengan sangat erat. Sangat erat sampai membuat wanita itu ikut menitikkan air mata.


Setelah beberapa menit menangis, Zeeta merasa cukup dan melepas pelukan serta menyeka tangisnya—meskipun ia masih sesenggukan.

__ADS_1


"Bagaimana, sudah merasa lebih baik?" tanya Velvet.


"U-uhm...," jawab Zeeta.


"Kalau begitu baguslah!"


Terjadi diam beberapa detik di antara mereka, sebelum Velvet mulai mengajak bicara keturunan kedua puluh satunya ini.


"Selagi kita memiliki banyak waktu di sini, aku akan menceritakan padamu tentang banyak hal yang untuk saat ini perlu kauketahui. Aku tahu kau pun memiliki banyak tugas yang harus diselesaikan di luar sana, tapi kau memiliki rakyatmu—ayah angkat, teman, rival, dan makhluk-makhluk sihir itu. Mereka pasti akan dengan senang hati membantumu."


"Kenapa Anda bisa ta—"


"Panggil aku dengan sebutan 'Kakak', oke?!" tukas Velvet dengan mata yang sedikit melotot.


"A-ah, uhm. Jadi... kenapa Kakak bisa tahu?"


"Aku adalah Velvet Aurora XI, Putri Kedua dari Clarissa Aurora IX. Sejak masaku, aku menghabiskan waktuku untuk meneli—mengamati—apa yang terjadi di sekitar kerajaan Aurora.


"Aku tahu di sekitar kerajaan ini ada Hutan Sihir Agung, Hutan Peri, keberadaan Ozy si Raksasa, Dryad, dan aku juga-lah yang membuat rumah bawah tanah untuk ditinggali para Dwarf.


"Manusia memang sangat mengerikan jika mereka tidak bisa mengerti apa yang sedang mereka hadapi. Mereka akan ditelan oleh ketakutannya lebih dulu, lalu secara sepihak menganggap sesuatu harus dimusnahkan secepatnya. Hal itu, selama apapun waktu bersilih-ganti, tidak akan pernah berubah.


"Zeeta, aku tidak pernah menceritakan ini pada siapapun kecuali kakakku, adikku Rozè, dan ibuku. Kautahu kenapa?"


Zeeta menggelengkan kepala.


"Jika itu kuceritakan ke khalayak luas, pasti akan terjadi perang dunia sihir."


Zeeta terbelalak begitu mendengarnya.


"Manusia adalah makhluk yang paling lemah, paling penakut, paling kejam, tetapi disaat yang sama, mereka juga sangat mengasihi, saling menyayangi, juga saling peduli.


"Jika kau benar-benar tidak ingin meneruskan apa yang menjadi tanggung jawabmu, aku tidak akan menolaknya.

__ADS_1


"Zeeta, tanggung jawabmu saat ini bukanlah sebagai Tuan Putri kerajaan Aurora lagi. Tetapi kini, kau menanggung hidup jutaan nyawa manusia, dengan dua orang lain sebagai sesama Benih Yggdrasil.


"Setiap kekuatan selalu memiliki celahnya. Layaknya kau yang mampu melakukan apa saja dengan sihirmu, kau juga akan menjadi poros harapan seluruh pengikutmu.


"Dengan kata lain, kau bisa dianggap seperti Dewi untuk mereka."


"Itu... soal itu aku...."


"Ya, aku tahu. Aku sangat tahu kau tidak menyukainya. Kau hanya ingin menjadi seorang anak perempuan biasa, bermain dan menghabiskan waktu bersama dengan Danny, Gerda, Melly, dan Azure.


"Selama kupersembahkan hidupku untuk mengamati dan belajar berbagai macam hal, hanya ada satu cara bagimu untuk terlepas dari rantai ini."


"Benarkah?! Apa itu benar-benar bisa kulakukan?!"


"Ya. Maka dari itu, dengarkan aku baik-baik. Ini masalah yang harus kita putuskan bersama—sebagai keluarga kerajaan."


"U-uhm...."


......................


Pukul lima sore, Zeeta terbangun dari lelapnya dalam kondisi pipi yang sembab. Ia mengingat apa yang ia lihat dalam "mimpi"-nya.


"Tidak adil...," gumamnya. "Kalau itu terjadi... aku hanya akan berakhir seperti yang sudah diramalkan Ratu Feline....


"Tidak adil... ini tidak adil!"


Zeeta meringkukkan kakinya lalu menjatuhkan air matanya lagi.


Lalu, beberapa saat kemudian, seseorang mengetuk jendela kamar. "Zeeta!" teriak orang itu. "Zeeta, aku tahu kaubangun, kemarilah!"


Dengan terpaksa, Zeeta bangun dari kasurnya tetapi ia berjalan menunduk untuk menutupi pipi sembabnya. Zeeta pun membuka jendelanya.


"Zee... Zeeta? Kau baik saja...?" tanya orang itu, yang tidak lain adalah Danny. Ia memakai sebuah sapu untuk terbang.

__ADS_1


"DANNY, CULIK DIA!" seru orang di belakangnya, yaitu Azure, seraya menunjuk Zeeta.


Tanpa pikir panjang, Danny menarik tangan Zeeta dan memberi sedikit mana agar Zeeta dapat melayang lalu memosisikannya agar duduk di hadapannya. Mereka lekas pergi menjauh dari kediaman Ashley, dengan meninggalkan secarik kertas di dalam kamar.


__ADS_2