
Pohon Dunia....
Laksana pohon nirwana, bagi mereka yang bergantung kepadanya. Ia pun laksana pohon naraka, untuk mereka yang membencinya.
Seperti julukannya—Pohon Dunia memang untuk menghidupi dunia. Namun, sebagaimana kehidupan berlangsung, tidak akan ada namanya "hidup" bila tidak ada rintangan di dalamnya. Menjadi hidup, adalah untuk melewati, mundur, menghancurkan, atau apapun kepada rintangan tersebut.
Hidup tidak hanya hitam dan putih, mereka yang telah berpengalaman, sering sekali mengucapkannya. Oleh sebab itu, Yggdrasil—Pohon Dunia—adalah sosok yang dibutuhkan.
Lantas, benarkah demikian?
......................
"Bagaimana menurutmu, Barghest?" tanya L'arc, yang sedang mengajak lelaki di sebelahnya berjalan-jalan di kerajaan Gala. "Kesenangan mereka, tawa dan canda, serta kehidupan mereka saat ini adalah sesuatu yang tidak hadir—bukan... melainkan... direbut darimu."
Barghest memerhatikan saksama sekitarnya. Masyarakat yang sedang bertukar dialog, berbelanja, anak-anak yang sedang bersenda gurau, dan masih banyak lagi aktivitas lainnya.
"Jika kau tidak dibuang oleh orang tuamu, mungkin saja kehidupanmu bisa senyaman dan setenteram mereka."
"Lalu, apa yang membuatmu menyuruhku untuk menghancurkan kehidupan indah seperti ini?"
L'arc tersenyum. "Untuk menjawabnya, kita harus masuk ke istana. Tenang saja, takkan ada yang menyadari, rekanku akan membantu."
"Rekan?"
Meski ia tidak menjawabnya, Barghest tetap mengekori L'arc.
.
.
.
.
Beberapa saat kemudian, keduanya sampai di depan bangunan mirip seperti candi berdua tingkat. Mata telanjang harus menghitung perlahan seberapa banyak anak tangga yang harus dilalui untuk masuk ke lantai duanya. Candi tersebut dijaga ketat oleh puluhan prajurit. Karenanya, "rekan" L'arc mengulurkan tangan mereka untuk menyihir keduanya agar wujudnya tak terlihat.
"Kita akan masuk ke atas sana?" tanya Barghest berbisik
"Tidak. Kita akan ke bawahnya."
"Bawah?" Barghest tetap mengikuti L'arc, dengan perasaan curiga kenapa ia tahu betul tentang jalan-jalan yang harus diambilnya.
Saat mereka sampai di lantai bawah—yang harus melewati ratusan anak tangga pula—mereka masuk ke sebuah ruangan. Begitu masuk, sihir yang menyelimuti mereka hilang, api biru dari obor-obor yang tertancap di dinding segera menyala.
Keduanya segera melihat sesuatu di sana dan itu merupakan sebuah cincin. Cincin tersebut terletak di atas sebuah pedestal, yang berada di tengah-tengah lantai berongga lingkaran air. Air tersebut pun jernih.
"Cincin...?" Barghest mengernyit.
"Jangan tertipu dengan penampilannya. Cincin itu disimpan untuk kelak dipakai sebagai senjata penghancur dunia."
"Pe-penghancur dunia?! Benda sekecil ini?!"
"Apa kau mau mencoba memakainya?"
"Untuk apa?"
"Yah, siapa tahu cincin itu bisa mengangkat kutukanmu. Lagi pula, tidak ada salahnya bertaruh pada cincin yang menjadi senjata kuat itu.
__ADS_1
"Oh, aku juga belum menjelaskan apapun tentang kutukanmu, ya? Tapi, aku harus membuatmu tahu terlebih dahulu.
"Aku serius soal cincin itu menjadi senjata. Kenapa Gala menyimpan ini? Aku tidak tahu. Tapi, aku ingin kau menghancurkannya."
Lagi-lagi Barghest mendengar kontradiksi dari pria ini.
"Kauingin aku memakainya, atau menghancurkannya? Sebagai pria, katakanlah dengan tegas dan jelas!"
"Kutukanmu berasal dari sesuatu yang dunia ini sebut sebagai Pohon Dunia." L'arc mulai menjelaskan.
.
.
.
.
"Jadi, pada intinya," kata L'arc yang masih menjelaskan, "kutukanmu dan gadis itu datang dari Pohon Dunia yang ingin memberimu rintangan. Jujur saja, aku tidak suka itu.
"Aku ingin kutukan kalian lenyap, tetapi lawanmu adalah Pohon Dunia. Yang memiliki kemungkinan untuk memupuskan kutukannya hanyalah cincin itu."
"Lantas kenapa kauingin aku menghancurkannya? Aku masih tidak mengerti."
"Sebab jika kau tidak terpilih, maka kau akan 'poof'! Lenyap menjadi debu."
"Kalau begitu tidak ada gunanya kau menunjukkan aku semua ini. Kau bercanda denganku, hah?!"
"Kau masih tidak mengerti? Apa aku harus mengatakannya langsung agar otak kecilmu itu mengerti?"
"Pikirkanlah titik-titik yang saling berhubungan, Barghest. Pohon Dunia, kutukanmu, dan cincin ini.
"Jika Gala memiliki senjata sekuat ini, mereka pasti mengetahui kalau kau telah dikutuk. Memangnya apa lagi alasannya kau diincar oleh Gala kalau bukan karena kutukanmu? Mereka ingin 'power'."
"Setelah mereka memiliki semuanya, memang apa yang hendak dicapai?"
"Tentu saja Pohon Dunia itu sendiri."
"A-apa itu bisa? Memangnya, Pohon Dunia memiliki benih atau semacamnya?"
"Ya, itu benar. Tapi, kau tidak perlu terkejut dengan hal itu, sebab munculnya Pohon Dunia tidak berarti kedamaian. Keberadaan Gala saat ini adalah ancaman bagi generasi masa depan.
"Pikirkanlah seperti ini, Barghest.
"Jika kelak kau memiliki keturunan, dan keturunan itu hidup dengan damai, tetapi tiba-tiba langit menghujani Bumi dengan pisau raksasa karena kekuatan yang tersimpan di cincin itu, apa kaubisa menerimanya?
"Bumi ini luas dan kautahu bukan hanya Manusia dan makhluk sihir saja yang hidup di dalamnya. Setidaknya, kaupasti mengerti maksud sudut pandangku.
"Tapi, ketahuilah ini. Gala mungkin memang ada hubungannya dengan Pohon Dunia, bahkan jika kau memutuskan untuk menghancurkannya, tidak berarti kutukanmu pun akan hilang.
"Yang akan kaulakukan bukanlah genosida, tetapi menjadi legenda menakutkan. Kau akan menjadi legenda dimana anak-anak, remaja, dan dewasa akan berpikir dua kali sebelum memihak pada pihak yang memiliki kekuatan besar.
"'Jangan gigit tangan yang memberimu pakan, ketika ia sedang memegang pisau', sederhananya begitu."
"...." Barghest terdiam sambil memandangi cincin itu.
"Apa benda sekecil ini memang bisa menjadi ancaman?"
__ADS_1
"Kauingin bukti? Baiklah." L'arc menciptakan sihir kloningan dirinya sendiri. Klonnya tersebut menyentuh cincinnya, yang mengakibatkan ia segera lenyap menjadi debu.
"Lihat? Untuk apa kekuatan begini tetap disimpan? Jika Gala tidak berniat berperang, kenapa penjagaannya selemah ini dan mengapa pula tidak ada yang berusaha menghalau masyarakat mengetahui keberadaannya?"
"Tapi, setelah mengetahui ini semua, mengapa tidak kau sendiri yang melakukannya? Kenapa harus aku?"
L'arc tersenyum. "Tujuannya adalah menciptakan legenda, Barghest.
"Jika aku yang melakukannya, makhluk lain akan semakin membenci Manusia. Namun, jika legenda tersebut berbunyi, 'Manusia yang Dikutuk Oleh Dunia', maka semuanya akan berbeda.
"Menciptakan legenda tidaklah semudah yang dipikirkan. Namun, itu semua kukembalikan pada keputusanmu sendiri. Kita akan kembali ke atas, istirahat, dan berikanlah aku jawabanmu esok."
......................
Barghest ditinggal sendiri oleh L'arc di sebuah penginapan, sementara dia terbang ditemani beberapa Roh Yggdrasil yang mempertanyakan keputusannya.
"Berani-beraninya kau mengotori tujuan sebenarnya dari Catastrophe Seal!" bentak salah seorang Roh—yang keesokan harinya akan berbincang dengan Maaya dan Eizen.
"Berisik. Kita semua sudah sepakat untuk melakukan ini. Kalau orang itu tidak lahir, maka masa depan Galdurheim akan baik-baik saja. Dengan begitu aku pun bisa ...."
.
.
.
.
[Keesokan harinya, pada pagi buta, Barghest mendatangi L'arc....]
"Aku akan menghancurkan Gala. Tapi, bagaimana dengan rakyatnya?"
"Teman-temanmu pasti sedang mengejarmu. Sampai semuanya selesai, bertahanlah."
"Lalu, apa yang akan kaulakukan?"
"Peranku datang setelah kau selesai. Aku akan menyebarkannya pada makhluk lain."
"Baiklah. Aku akan menunggu mereka dulu."
"Kalau begitu, camkanlah ini. Ratakanlah SEMUA bangunannya, jangan sampai ada satupun yang tersisa."
"Aku tahu."
......................
"Lalu, apa yang harus kami perbuat, Roh Yggdrasil?" tanya Maaya.
"Hancurkanlah Hollow dan selamatkan Gala!"
'BWHAAMM!!'
Begitu diucap, ledakan berasap membumbung tinggi—menyiluetkan mata merah besar.
"Aooouuu!" serigala raksasa yang berada di dalam asap debu itu melolong.
Melihatnya, tak bisa membuat Eizen tenang sama sekali. "BARGHEST, JANGAN BERANI KAULAKUKAN APAPUN PADA RUMAHKU!!!"
__ADS_1