Zeeta Dan Dunia Sihir

Zeeta Dan Dunia Sihir
Dua Gerbang yang Terbuka


__ADS_3

Kegelitaan malam seakan terbit lagi usai refupnya gemerlap yang berasal dari Penguasa Kekelaman dan Zeeta.


Zeeta jatuh ke tanah setelah Mellynda memeluknya erat dan mendorongnya. Ifrit yang tidak menduga ini, segera bertukar kembali dengan sang pemilik tubuh. Mata merahnya kembali menjadi biru langit. "Melly...?" bisiknya, "kau tidak perlu seerat ini memelukku, lho."


Mellynda melenyapkan kristal yang digunakannya untuk menghalau panas aura rivalnya itu, tetapi dia malah semakin mengeratkan dekapannya. "Diamlah, dasar Rivalku yang bodoh."


Zeeta menanggapinya dengan diam lalu mengelus rambut pirang teman bangsawan pertamanya. "Maaf sudah membuatmu khawatir, Melly."


"Tolong jangan pernah lakukan hal nekat seperti ini lagi."


Ucapan Mellynda memantik ingatan Zeeta tentang pemandangan masa depan mengerikan yang dilihatnya. "Soal itu ... aku tidak bisa janji...." Dia tersenyum kecil, mengalihkan pandangan, sembari tetap mengelus rambut.


"HAH...? Kenapa?!"


"Itu—"


Tatkala Zeeta akan menjawab, mereka terdistraksi oleh pandangan di lawan arah.


"Ughuk ughkk... aahhkk!"


Keduanya melihat Penguasa Kekelaman kesulitan bernapas sambil memegangi lehernya. Ia terlihat ingin menggaruknya, tetapi bisa dipahami hanya dengan melihatnya saja. Jika disentuh, miasma yang terus melelehkannya itu malah menjalar.


"Kak Azure...." Zeeta menggumam. Pandangan rambut hitam panjang dengan dua warna dari sosok yang selalu ia anggap sebagai kakaknya sendiri sejak kecil itu tampak anggun, tetapi seram disaat yang sama.


Dia menganggapnya anggun sebab cahaya ungu dari sihir kakaknya masih tersisa di tangan—mengingatkannya tentang kejadian di kediaman Rowing bertahun-tahun silam. Kakaknya ... berdiri di depan untuknya, sekali lagi.


Sihir Azure tersisa di tangannya, bukan seperti redupan cahaya, melainkan tetesan. Seluruh telapaknya demikian. Saat itu Zeeta sadar, ada perubahan dalam sihir Azure. Dia tahu, dahulu sihirnya tidaklah seperti ini. Tetapi disaat yang sama dia pun tahu jika sihirnya memang bisa melakukan hal seperti ini.


Dengan kata lain ... Azure sudah menjadi lebih kuat. Sangat kuat sehingga memaksa Penguasa Kekelaman menderita seperti itu. Sementara itu, perasaan seram yang dirasakannya, adalah karena ia takut pemandangan yang sama terjadi kepadanya pula suatu saat nanti.


"Sudah cukup kaulakukan ini, Zeeta." Ucapan Azure mendongakkan dua kepala yang merasa terpanggil.


"Ahhh.... Ini jadi rumit, oleh karena itu kau akan kusebut sebagai Zeeta Alter!" Azure menunjuk Penguasa Kekelaman.


"Alter," sambung Azure, "mengapa sampai seperti ini kau membenci dirimu sendiri?"


Alter menggigit bibirnya, bersama dengan kepala yang ditundukkan lagi.


Azure mengernyit. Dia lalu memakai telunjuk kedua tangannya untuk memindahkan miasma yang berpusat di lehernya kepada pergelangan tangan serta kaki. Dalam prosesnya, Alter berteriak kencang.


"Zee, kaubisa bangun?" tanya Mellynda.


"U-uhm, aku baik. Tapi, mereka—"


Saat Zeeta hendak menunjuk keberadaan rekan-rekannya, tiba-tiba seseorang datang dengan mencolok.


'BWHAAMM!!'


Zeeta yang pertama kali melihatnya.


"Tidak apa!" seru sosok itu, kendati asap tanah mengepul di sekitarnya. "Mereka baik-baik saja. Belle sudah memastikannya!" sambungnya.


Mendengar Belle, Zeeta jadi tahu siapa yang baru datang ini. Lantas, iapun tersenyum. "Syukurlah...."


"Walaupun begitu...." Tellaura mengibas asap di sekitar. "Untuk berjaga-jaga...."


Zeeta melihat rekan-rekannya, dimana di setiap bagian tubuh mereka yang tertembak, telah dilapisi sihir.


"Aku sudah menutup lukanya untuk sementara, sampai mereka kembali nanti," pungkas Tellaura.


"Sialan kau, Zeeta!!" jerit Alter, yang memancing semua mata kembali padanya, sementara Azure kembali mengernyit padanya.


"Kau juga sama saja, Kak Azure!" Alter mengepalkan tangannya. Matanya yang tertutup karena luka yang diberikan Tellaura, akhirnya terbuka, menunjukkan mata biru langitnya. Sklera—bagian putih matanya—menunjukkan urat, yang di sekitarnya masih ada bekas merah dari lukanya.


"Gadis itu adalah munafik yang hanya peduli terhadap dirinya sendiri!" Alter menunjuk Zeeta. "Dia memang melakukan banyak hal demi melindungi yang berharga baginya, tetapi dia selalu takut, takut, dan takut!"


Zeeta merasa tersambar mendengarnya.

__ADS_1


"Dia seakan selalu lupa jika ada banyak orang... BANYAK SEKALI orang yang peduli terhadapnya, tetapi ia selalu mengalihkan pikirannya dari mereka!


"'Aku takut melukai mereka, aku takut berhadapan dengan mereka, aku takut dunia akan membenciku....'"


Alter menggertak gigi.


"SADARLAH BAHWA ALASAN YANG SELALU KAUBUAT DI DALAM DIRIMU ITU ... KAULAH PENYEBAB MEREKA SEMUA LENYAP DARI SISIMU!"


Zeeta, Azure, Tellaura, dan Mellynda melihat Alter menangis.


"Gadis itu sejak awal tidak seharusnya berada di dunia ini!"


Azure kaget saat mendapati Alter bisa menggerakkan kedua tangan yang masih bermiasma. Ia mengangkatnya ke atas, memanggil sesuatu dari sebuah dimensi.


Itu adalah lima buah Batu Jiwa yang telah didapatkannya. Semuanya langsung tersentak dan memberi jarak dari Alter.


"APA KAU SUDAH GILA?!" jerit Azure, "kauingin mendatangkan Ragnarok ke dunia ini juga?!"


"Ragnarok...?" Alter menyusul lima Batu Jiwa ke hadapannya. Ia lalu menyeringai. "Aku akan membawakan neraka yang lebih buruk dari Ragnarok!"


"Apa?!" semuanya bersiaga.


"Aku tak perlu lagi membuka gerbang Drékaheim dan Jötunnheim, sebab itu sudah mulai terbuka dan kalian sama sekali tak menyadarinya!"


......................


[Belle, di Tanah Kematian....]


"Sudah terbuka?! Apa maksudnya?! Sebelumnya mereka hanya menggeseknya saja!"


Dia mengawasi dari kolam biasanya. Kemudian ia memeriksa lebih teliti lagi di tempat Zeeta berada. Ternyata....


"Kesalahan macam apa yang telah kuperbuat ini!? Sialan ... aku harus—"


"Tidak. Kau tetap di sini." Edouard—ayah Belle—menghalanginya.


"Jangan bertanya kenapa, dasar bodoh! Jika memang gerbangnya sudah terbuka, skenario buruknya kau harus menyeimbangkan jiwa-jiwa yang sampai ke Lembah Jiwa!"


"Cih...." Belle tak bisa mengelak. "Tak adakah yang bisa kita lakukan...?"


......................


Semuanya melihat ke langit, setelah menyadari ada dua sumber silau. Yang satu merah kejinggaan, sementara yang lain hitam kekelabuan. Sumber tersebut adalah retakan di langit—sama seperti yang pernah terjadi lima tahun silam.


Geraman, jeritan, serta lolongan dari dua retakan yang berbeda itu membuat gemetar seisi Galdurheim.


"Bunuh semua Manusia!"


"Hancurkan Galdurheim!"


"Saatnya balas dendam sudah tiba!!"


Gema suara berat juga terbawa ke telinga penduduk Galdurheim secara merata. Tak ada yang tidak mendengarnya.


Banyak orang-orang yang jatuh lemas, mendadak pingsan, ataupun panik seperti orang tak waras. Demikian pula terjadi di kerajaan Aurora, yang terjadi pada bangsawan penting....


"TIDAAAAKK!!!


"JANGAN DEKATI AKU!


"JANGAN DEKATI KELUARGAKU!!"


Karim adalah orangnya. Agatha dan Claudia panik melihatnya mendadak seperti itu, sementara ia masih terbaring di ranjang.


"Ada apa denganmu, Sayang?!" Agatha memeluk suaminya.


"Larilah, Agatha! Larilah dari sini! Tinggalkan aku! Mereka ....

__ADS_1


"Ragnarok sudah tiba!!"


Jantung kedua wanita di sana segera terpacu mendengarnya.


Sementara itu, di lain tempat, Alicia dan Hazell mendengar kepanikan yang serupa dengan Karim dan itu hampir merata ke semua penduduknya dari tingginya ruang takhta.


"Apa yang terjadi...?" gumam Hazell, "ah, jangan-jangan?!"


......................


Gigi bergemetar hingga terdengar orang yang memapahnya. Ia adalah Zeeta. Matanya melotot tak percaya dengan yang dilihatnya. "Hen... henti ... hentikan...," gumamnya tergagap.


"Zeeta! Hei, Zeeta!" Mellynda terus memanggil temannya. "Kuatkan dirimu, Zeeta!"


Tanpa diketahui Mellynda atau Azure dan Tellaura, Zeeta melihat sesuatu yang sangat-sangat dihindarinya selama ini....


.


.


.


.


"Lakukanlah sesuatu, Zeeta! Kau adalah harapan kami satu-satunya!"


"Zeeta, tolonglah!"


"ZEETA!!"


Mereka yang bicara padanya adalah sosok yang dianggapnya berharga. Mereka mengalami ketakutan yang sama dengannya, tetapi mereka seperti tak mengerti ketakutannya lebih dari yang mereka kira. Dari mata Zeeta, mereka hanyalah siluet hitam berambut. Dia melihat sesuatu yang sebenarnya tidak terjadi ... atau belum terjadi....


.


.


.


.


"BERISIIIIKK!"


Zeeta menjerit, bersama dengan tangan memegangi kepalanya. Ia tersungkur, tubuhnya bergemetar hebat.


Semuanya terpaku pada Zeeta.


"Dia benar! Aku ini orang yang munafik!" sambung Zeeta, "aku selalu menjadi penakut dan itu tak pernah berubah sejak dulu!


"Aku takut tak bisa menepati janjiku, aku takut tidak bisa melindungi semua orang, aku takut aku gagal....


"Aku takut ... pada diriku sendiri ... yang memiliki semua kekuatan ini....


"Jika aku memang harus mati, Zeeta, bunuhlah saja aku dan tidak usah libatkan Galdurheim!"


Azure menggertak gigi. "Apa yang kaubicarakan, Tolol!?" dengan kasar, dia menarik kerah Zeeta dan mengangkatnya hingga beberapa senti dari tanah.


"Kak Azure, tenangkan dirimu!" Mellynda berusaha memisahkan Azure yang terlihat tak peduli dengan kondisi adiknya.


"Kau diamlah saja!" bentak Azure, "lihatlah mataku, dasar Tolol!"


Zeeta perlahan melirik mata kakaknya. Ia lantas terkejut. Kakaknya marah, namun menangis.


"Kaupikir aku ini apa bagimu, Zeeta?


"Kau juga, Alter!


"Mengapa kau melupakan hal penting yang selalu kuberitahu tanpa henti, bahwa kau tidaklah sendirian...? Bilanglah jika kau butuh bantuan, Sialan!" air matanya semakin mengucur deras.

__ADS_1


__ADS_2