
Danny mencengkeram senjata suci berupa belati kembarnya dengan bilahnya yang terbalik. Poni panjangnya menutupi sebelah matanya, namun pandangan tetap lurus pada targetnya, Snjór. Aura merah menyelimuti tubuh, sementara belatinya berubah kebiruan dengan hawa panas mengitari.
Dari pandangan Snjór yang menyipitkan mata, dia merasa melihat sesuatu yang aneh; dua ekor Naga seakan ada bersama Danny, dengan taring yang siap mencabiknya. "Schrutz...? Orsted...? Tidak mungkin!"
Kedua Naga tersebut mengapit Danny. Mereka mengaum, seraya Danny menjerit, "RRROOAAAHHH!" mendadak, para Badai Salju mengalihkan fokus padanya, yang dilanjutkan dengan terpakunya mereka seakan takut sesuatu. Dari pandangan Danny sendiri, ia menarget beberapa Badai Salju untuk menjadi "batu lompatan" sekaligus mengurangi jumlah lawan, yang berakhir pada leher Snjór.
Tidak hanya Snjór ataupun para Badai Salju yang melihat datangnya Orsted dsn Schrutz, namun Novalius dan prajurit-prajurit pun demikian. Tidak, keduanya tidaklah berwujud fisik, namun seperti kumpulan aura yang membentuk diri saja. Ukurannya pun besar—jauh lebih besar dari Danny. Sementara Orsted berwarna merah, Schrutz berwarna biru.
"Aku sudah berjanji dengan mereka!"
Danny mulai bergerak. Ia melompat lambung menuju Badai Salju terdekat, menebas lehernya, kemudian segera pergi ke Badai Salju lain dan melakukan hal yang sama. Ia terus melakukan itu berkali-kali. Sementara rekannya yang sudah memberinya waktu untuk menjalankan rencananya tersebut, menganggap yang dilakukan Danny saat ini seakan dia sedang berdansa. Walau ia bermandikan darah, caranya hinggap dari satu Raksasa ke Raksasa lainnya dengan begitu cepat dan lihai, terlihat benar-benar mempesona. Bahkan Schrutz dan Orsted seakan membantunya mempercepat gerak tubuh dan mempertajam serangannya. Semakin banyak korban nyawa yang jatuh dengan tangannya, gerakan Danny semakin akurat, kuat, dan fatal. Yang awalnya hanya mampu menebas leher, kini dengan ayunan diagonal pada masing-masing belati kembarnya, ia mampu menebas sampai kaki para Badai Salju.
"Apa sebenarnya yang dilakukan Danny...?" gumam Novalius.
"Aku sudah berjanji dengan Myra dan Axel. Senjata ini hidup dan mereka tumbuh bersamaku. Itu artinya, mereka pun melihat apa saja yang sudah kulalui dan seperti apa keinginanku yang sebenarnya.
"Aku hanyalah Manusia yang meminjam kekuatan ras yang lebih kuat. Tanggung jawabnya besar, namun mereka pasti paham alasanku bertarung.
"Dengan demikian, akan kukerahkan segalanya di sini! Aku akan melindungi adik, orang tua, teman-teman, dan menyelamatkan Zeeta! Bila kekuatan ini pun masih tak cukup—tidak! Aku harus melakukannya!
"Naga Orsted! Naga Schrutz! Aku tahu ini sangatlah lancang, namun kumohon pinjamkanlah kekuatan kalian!"
"AAAARRGHHH!" Danny berhasil mencapai di hadapan Snjór. Sementara dia mengerutkan dahi dan menggertak gigi, Danny mengerahkan segala yang ia miliki saat ini. Seluruh tubuhnya mulai terluka bakar, apa lagi tangannya.
"KAUKIRA AKU AKAN DIAM SAJA?!"
'ZRAATTT!'
'BWMMM!'
'BLARRR!!!"
Danny berhasil menebas Snjór, namun disaat yang sama, ia terpukul telak oleh telapak kiri hingga menyebabkan patah tulang di berbagai titik. Luka yang dialami Snjór pun untungnya fatal. Dada kiri—mendekati bahunya—tertebas hingga bagian ginjal kanannya. Padahal, targetnya adalah leher Raksasa itu. Kemudian, tak lebih lama dari tiga detik setelahnya, sihir gravitasi dari Zeeta Alter menyerang dan menyebabkan semua yang ada di sana terbanting keras. Sayang, Danny juga jadi tertimpa tubuh Snjór—memperparah lukanya.
__ADS_1
Marianna yang sedang bertarung dengan Fenrir pun mengalami hal yang sama. Keduanya hendak melancarkan serangan fatal, namun tergagalkan oleh sihir tersebut. Markas yang diisi oleh prajurit-prajurit terluka, sayangnya nasibnya lebih parah. Beberapa dari mereka hancur tak bersisa karena tekanannya, orang-orang yang menyaksikannya ingin berteriak histeris namun suaranya tak mampu keluar karena gravitasinya. Ekspresi wajah saja sudah lebih dari cukup untuk menggambarkan betapa kaget, sedih, marah, dan takutnya mereka sekarang. Tidak ada yang tidak terkena sihir gravitasi tersebut.
Suasana Galdurheim mendadak sunyi. Sunyi tersebut diikuti dengan suara tangis dan jeritan kebencian, tak terima, putus asa, dan masih banyak lagi. Teriakan tersebut seakan merata ke seluruh Bumi saat ini. Bumi saat ini terlapisi oleh tiga warna. Birunya langit, putihnya awan, dan merahnya tanah yang dibanjiri oleh darah.
Pandangan Danny gelap. Begitu gelap. Ia tak dapat merasakan tubuhnya sendiri, bahkan bernapas pun sulit. Kendati demikian, ia mendengar jeritan yang sangat memilukan hatinya.
"Aku ... harus menolong mereka....
"Aku ... harus bergerak!
"Janjiku belum tertuntaskan.... Zeeta! Zeeta! Aku tak bisa meninggalkannya sendiri!
"*Aku harus bangkit!
"Gaaaahhh*!!!"
"Jangan bergerak lebih dari itu, Danny!"
"Bertahanlah! Aku akan segera menyelamatkanmu!"
Tak lama kemudian, dirinya yang kesulitan bernapas mulai agak lega dan matanya bisa melihat secercah cahaya. Azure melempar tubuh Snjór ke sisi lain. Dia mendapatkan Danny yang berlumuran darah Snjór dan darahnya sendiri.
"Demi Aurora!" Azure segera mengobati Danny dengan sihir kegelapannya. "Bicaralah bila kaubisa bicara Danny!"
"Y... ya...." Suaranya lemas, matanya hanya terbuka sedikit sekali, napasnya juga lemah. Namun, seorang Danny tersenyum saat itu. "Aku ... harus ... tepati janji...!"
'DEG!'
Azure merasa terenyuh. "Aku tahu! Aku tahu maka janganlah bergerak dulu! Fokuskan dirimu untuk sembuhkan diri, barulah pergi! Aku tahu apa yang kaupikirkan!"
"Ya ... terima kasih, Kak...." Danny mulai mengatur napasnya perlahan. Sementara itu, Azure terus menyembuhkan Danny bersama dengan Buku Sihir-nya.
"Zeeta...! Kau benar-benar sudah gila...!"
__ADS_1
Disaat Azure masih fokus untuk menyembuhkan, senjata suci Danny bergetar. Danny langsung saja terbelalak. Ia berusaha bangun lagi.
"Sudah kubilang jangan bergerak dulu! Banyak tulangmu yang patah!"
"Zeeta! Aku harus hentikan Zeeta! Dia...! Dia! Cepatlah! Antarkan aku ke sana, Kak Azure!"
Melihat seberapa putus asanya Danny, membuat Azure tak punya pilihan lain. "Khh... baiklah. Kudoakan kau berhasil!" Azure melapisi Danny dengan sihir kegelapannya dan mengirimnya kemana dua Zeeta berada.
[Sementara itu, di sisi Marianna....]
"Yang benar saja, hei...." Ia tak kuasa melihat pemandangan sekitarnya. Kecuali mereka yang benar-benar kuat, semuanya hancur tak tersisa. Bahkan, matanya mendapati para Omega yang sudah tewas juga rata dengan tanah. "Keturunanku itu benar-benar mampu melakukan hal ini...?"
[Tanah Kematian....]
Suara jeritan yang tak pernah terdengar di sini, benar-benar mengacaukan situasi. Sejak kedatangan Keenai, belum banyak perbaikan di sini, dan beberapa jiwa terlepas dari "lintas reinkarnasi"-nya, sehingga mereka mampu mewujudkan bentuk fisik mereka kembali.
"Yah, tak kusangka di daratan benar-benar kacau, ya, Ibu!" ada Velvet yang membantu Belle menenangkan para jiwa yang ketakutan untuk kembali ke lintasannya.
"Jangan biarkan fokusmu teralihkan! Teruslah alirkan manamu pada tanah agar bisa kembali tenangkan mereka!"
"Aku tahu, Bu. Tapi ... sungguh...." Velvet melihat sekitarnya. Banyak sekali orang beranting, berkalung, atau bergelang bulan—yang mengidentitaskan diri mereka sebagai keturunan Aurora, sedang membantu Tanah Kematian.
Tanah Kematian, sebagai satu-satunya pondasi terakhir agar Galdurheim tidak hancur lebur, Belle terpaksa mengambil langkah nekat seperti ini. Tidak semua yang memiliki wujud fisik membantu mereka menenangkan Tanah Kematian, ada juga yang berusaha mengalahkan Hollow dan mereka yang sebelumnya pernah menjadi lawan, karena ketidakseimbangan mana saat ini.
"Leluhur-Leluhurku! Aku sungguh berterima kasih atas bantuan kalian! Baru saja, beban kita bertambah karena gadis itu, namun aku yakin Ragnarok akan berakhir sebentar lagi!"
"Semangat yang bagus, Belle!" salah satu dari mereka menjawab, sementara yang lain menunjukkan jempol, tersenyum, dan balasan positif lainnya.
......................
Zeeta sudah memegang Rhongomyniad di tangan kanannya. Itu bersinar emas dengan bentuknya yang menyerupai kerucut memanjang dengan ukuran cukup besar. Tangannya berada dibalik tombak. Sinar emas itu memancarkan butiran mana dengan warna yang sama. Rambut peraknya terkibas, mata yang sembab, dan wajah yang sudah mencerminkan tekad bulat. Luna tidak terlihat di bahunya lagi. Ia menyatu dengan Zeeta, selayaknya mode Spirit Warble-nya Klutzie. "Ini adalah akhir bagimu, Zeeta!"
Zeeta Alter tak tinggal diam. Ia mewujudkan senjata sucinya, Catastrophe Seal yang berbentuk sabit. "Akulah yang akan mengakhirimu!"
__ADS_1