Zeeta Dan Dunia Sihir

Zeeta Dan Dunia Sihir
Benih Yggdrasil


__ADS_3

Malam hari telah menduduki cakrawala bersama dengan bulan perbani atau hampir penuh. Angin pun berhembus tenang. Rakyat Aurora sudah kembali ke masing-masing rumah. Hanya satu yang berbeda dari sebelumnya, yaitu sementara Wilayah Timur akan diperbaiki, penduduknya akan tinggal di Labirin Cremlyn sampai pengerjaan seluruh bangunan barunya selesai.


Azure, Gerda, dan Danny saat ini bersama-sama berdiri di sisi sebuah jembatan. Dari sana, mereka dapat melihat istana yang dililit oleh akar raksasa. Pantulan bayangan bulan di air sungai di bawah jembatan itu hancur ketika Azure melempar bongkahan batu ke sana.


"Entah kenapa, lama-lama aku jadi kesal dengan Zeeta," kata Azure.


"Eh?" Danny dan Gerda menatap bingung Azure.


"Aku tahu aku hanya menghabiskan waktu yang singkat dengannya, tapi apa kalian tidak merasakan apa yang kurasakan?"


"Merasakan? Merasakan apa?" tanya Gerda.


"Zeeta itu sok kuat."


Gerda dan Danny mengalihkan pandangan.


"Mau bagaimana lagi, dia adalah Tuan Putri," balas Danny.


"Dia punya alasannya sendiri bertindak seperti itu," sambung Gerda.


Urat kepala Azure terpancing keluar. "Hah...?"


"Kami juga tidak ingin Zeeta seperti itu, tapi jika itu keinginannya, apa boleh buat, 'kan?!" timpal Danny.


Azure mendekati Danny lalu menarik kerahnya. "Kau ... serius berkata seperti itu? Itu sama saja dengan kau membiarkan Zeeta akan melakukan apa yang sudah diramalkan Ratu Peri!


"Jika kalian sebagai teman terdekatnya tidak mau hadir di samping Zeeta disaat-saat seperti ini, tidak heran jika Zeeta ingin menghancurkan dunia!


"Dia selalu mengemban segala beban sendirian! Dia selalu ingin semuanya tersenyum padahal dirinya menderita! Apa kau benar-benar berpikir seperti itu kepadanya?!"


Danny mencengkeram tangan Azure lalu menepisnya. "Apa yang kaupahami tentang Zeeta?! Bahkan jika kami ingin ada bersamanya, apa itu akan menyelesaikan semuanya?!"


Azure sangat ingin menampar anak laki-laki itu saat itu juga, tetapi ia meredakannya dengan bertanya pada Gerda. "Gerda, apa kau juga berpikir seperti itu pada Zeeta?"


"Aku tidaklah sedangkal Kakakku, tapi aku paham apa yang dia maksud. Kak Azure, kami bertiga selalu menghabiskan waktu bersama. Baik itu latihan sihir ataupun momen lainnya. Tapi, diantara semua hal itu, satu hal yang tidak bisa kami ubah sebagai temannya adalah siapa dirinya saat ini," jawab Gerda.


"Maksudmu?" tanya Azure.


"Menurutku dia masih bingung dengan kedudukannya sebagai Tuan Putri. Aku, sih, tetap akan berteman dengan Zeeta siapapun dirinya. Tapi, selama dia belum menerima siapa dia, sebelum dia menerima secara utuh fakta bahwa dia adalah Tuan Putri, kami tidak bisa sejajar dengannya. Apapun yang akan kami katakan pasti akan diacuhkan olehnya."


"Heeehh~, Tuan Putri itu punya teman yang membosankan begini, ya?" Mellynda datang dari belakang Gerda dan Danny.


"Apa katamu?" Danny tersulut emosi.


"Oh? Ada bangsawan di sini. Apa kauingin menyingkirkan kami dari ibu kota?" tanya Azure. Ia tidak ingin berurusan lagi dengan bangsawan.


"Hmm? Hahaha, tentu saja tidak, merepotkan sekali."


"Lalu, mau apa kau repot-repot menguping pembicaraan kami, Nona Bangsawan?"


"Oh, salam kenal. Namaku adalah Mellynda von Ophenlis IX. Aku putri dari Count Porte Ophenlis VIII yang wilayahnya hancur karena tertindih Raksasa." Melly memperkenalkan diri ala bangsawan.


"Lalu?"


"Yah, aku hanya jalan-jalan karena tidak ada yang bisa kulakukan di labirin, jadi kebetulan aku mendengar omong kosong dari dua orang yang mengaku sebagai temannya Tuan Putri."


Gerda ikut tersulut emosinya. "Apa yang ingin kaukatakan?!"


"Sudah kukatakan, aku mendengar omong kosong. Kupikir orang yang pantas mengaku sebagai teman Tuan Putri adalah kakak yang ada di sana." Melly menunjuk Azure. "Katakan padaku, apa kalian pernah terpikirkan untuk menjadi keluarga kerajaan? Tentunya kalian tahu sedikit-sedikit tentang kewajiban dan tanggung jawab sebagai keluarga kerajaan, bukan?


"Hidup ribuan jiwa kerajaan ini dipikul oleh anak yang kalian akui sebagai temannya.


"Hei....


"Katakan padaku saat ini juga...!"


Mellynda mencengkeram kedua tangannya amat erat. Ia juga sempat menggigit bibirnya sendiri.


"Apa kalian berdua MAMPU mengemban beban itu?!


"Aku sangat benci orang yang munafik. Sebelumnya kupikir Zeeta adalah Tuan Putri menakutkan dengan kekuatan besar. Aku takut dia menghancurkan segalanya dengan kekuatan besarnya, seperti ramalan Ratu Peri.


"Tapi, tidak pernah tersematkan dalam pikiranku bagaimana perasaan dia dengan membawa kekuatan itu. Apakah dia senang, takut, atau benci. Namun akhirnya, setelah melihat apa yang dia lakukan dua kali demi kerajaan ini aku sangat tahu apa yang dia rasakan.


"Ingatlah, ketika Raksasa menurunkan meteor, dia sempat menangis! Kuyakin ada sesuatu yang terjadi di pikirannya.


"Lalu makhluk tadi siang yang hampir memusnahkan kita semua, dia hampir saja mati jika tidak ada yang bisa menolongnya. Sekarang katakan padaku! Mampukah kalian seperti Zeeta?!"


Gerda dan Danny terdiam. Mereka juga tampak bergemetar.


"Kuakui, sebagai seorang bangsawan, aku pun tidak berani melawan makhluk itu seorang diri. Mereka mengubah rakyatku menjadi tengkorak begitu saja. Apa yang ada di pikirannya sampai berani seperti itu?" Mellynda memandang bulan sambil tersenyum. "Aku sudah memutuskan! Jika dia sudah kembali, aku akan menantangnya sebagai rivalku...!


"Dah, aku hanya kesal saja tadi dengan omong kosong kalian. Aku permisi dulu." Setelah memberi salam ala bangsawan lagi, bangsawan Wilayah Timur itu meninggalkan ketiganya.


Azure memandangi sungai, kemudian ia kembali berbicara. "Gerda, Danny, apa Zeeta berharga untuk kalian?"


Air mata tampak akan menetes dari kakak-beradik tersebut. "Tentu saja!" mereka mengatakannya bersama.

__ADS_1


"Jika begitu, ketika dia pulang nanti, kita harus memarahinya agar jangan sok kuat. Setelah itu, kita juga harus katakan padanya jika kita akan selalu ada untuknya dan akan terus membantunya semampu kita! Karena kita adalah...." Azure memotong kata-katanya.


"Teman dekat Zeeta!" balas Danny dan Gerda.


"Nah, itu baru bagus!" Azure menepuk kepala dua anak itu.


......................


Zeeta sedang duduk melipat kakinya ke samping di atas hamburan rerumputan biru. Ketika ia menyentuhnya, rerumputan tersebut membuat dirinya seperti bersinar biru. Kini, ia sedang berhadapan dengan Aria yang bertolak pinggang.


"Tetap duduk di sana. Meskipun itu terlihat seperti rumput, tapi itu adalah tanaman penyembuh. Tubuhmu terasa sakit dan lemas, bukan?" tanya Aria.


"Uhm. Aku pun merasa tubuhku mulai membaik," jawab Zeeta. Lalu, ia bertanya, "tapi, kenapa kau ada di sini? Kau sempat mengagetkanku karena tiba-tiba menyentuh pundakku dari belakang."


"Oh, ini adalah hutan yang pernah kuceritakan padamu. Ini adalah tempat tinggalku, Hutan Sihir Agung."


"Hutan Sihir Agung? Jadi ... apa mereka itu mana?" Zeeta menunjuk titik-titik bercahaya warna-warni.


"Bukan. Mereka bukan mana, tetapi Roh Yggdrasil."


"Eh? Roh Yggdrasil? Apa ... itu juga makhluk sihir?"


"Hmmmm.... Bagaimana bilangnya, ya.... Ah, masalah itu biarkan Tetua saja yang menjelaskannya."


"Tetua...?"


"Ya. Aku membawamu ke sini karena Tetua ingin bertemu denganmu. Maaf membuatmu repot ya, Zee."


"Ti-tidak tidak! Aku juga minta maaf! Seharusnya aku bisa menghindari kematian Ozy jika aku serius melakukannya sejak awal...."


Aria terdiam dan memandangi Zeeta yang murung.


"Zee, apa kaulupa apa yang kukatakan ketika pertama kali bertemu denganmu?" tanya Aria.


"Ehmm... ingat, sih, tapi itu ada banyak, hehehe...." Zeeta menggaruk pipinya yang tidak gatal.


"Aku bilang, meskipun kau adalah Tuan Putri, jangan berpikir jika nasib hidup semua makhkuk ada di tanganmu. Memangnya kau ini siapa? Dewi? Bukan! Kau hanya manusia biasa, dan kau hanyalah anak kecil! Jangan sok bertanggung jawab begitu!" Aria memukul pelan kepala Zeeta. "Aku sedih, tapi aku tahu jika kau pun sedih. Daripada menyesalkan apa yang sudah terjadi, lebih baik kita berusaha lebih baik lagi agar hal itu tidak terulang!"


Zeeta terdiam sesaat lalu mulai berbicara. "Kautahu? Hari ini aku sudah mendapat banyak sekali omelan tentang pemikiranku, ehehe.... Tampaknya, aku masih harus banyak belajar lagi agar bisa menjadi Tuan Putri yang layak."


"Omelan? Tapi ... selama ini kau terus ada bersama kami, kapan kau menerima omelan itu?"


"Uhmmm...." Zeeta terlihat ragu untuk mengatakannya. "A-apa kau akan percaya padaku jika aku bilang aku bertemu dengan leluhurku, Clarissa Aurora IX?"


Aria terbelalak. "Kau ... serius?" tanyanya.


"Kita harus segera bertemu Tetua, bisakah kau berdiri sekarang?" Aria menawarkan tangan kanannya untuk membantu Zeeta berdiri.


"Uhm. Aku bi—"


"Tidak perlu. Tetaplah di sana sampai staminamu benar-benar pulih." Seorang pria bertelinga runcing persis seperti Aria, keluar dari sebuah pohon. Ia seperti tembus dari pohon itu. Pria bertelinga lancip itu memakai kaus panjang putih tebal yang dilapisi zirah sederhana yang terbuat dari kulit hewan. Celananya hitam panjang yang juga sama-sama dilapisi zirah kulit. Ia berkulit gelap, berambut hitam panjang lurus seleher dan bermata ungu.


"Tetua!" sahut Aria, "mengapa Anda repot-repot ke sini?" Aria segera berlutut di hadapan Tetua itu.


"Hahahah... jangan bercanda, Aria. Tidak mungkin kubiarkan Zeeta yang repot menemuiku dikala ia menerima efek samping Catastrophe Seal." Tetua berdiri tepat di samping Aria yang masih berlutut.


"Salam kenal, Tuan Putri Aurora Kedua Puluh Satu, namaku adalah Hugo. Seperti yang diungkapkan Aria, aku adalah Tetua di Hutan Sihir Agung, dan aku adalah Dark Elf."


"A-a-ah! Sa-salam kenal kembali!" Zeeta berdiri dengan tergesa-gesa. "Nama saya Zeeta. Zeeta Aurora XXI. Senang bertemu dengan Anda!"


"Fufufu." Hugo terkekeh. "Tidak perlu terlalu sopan seperti itu, Tuan Putri. Bicaralah seperti kaubicara dengan Aria."


"Ba-baik!"


"Nah, karena kita sudah bertemu, aku ingin bicara banyak denganmu. Apa kerajaanmu bisa kautinggal?"


Zeeta berpikir keras dan mengingat situasi sebelum ia berada di sini. "Anu, apa aku boleh bertanya?"


"Tentu, apa itu?"


"Apa Anda... eh, ehmm... maksudku, kautahu Maisie?"


"Oh? Tentu saja. Ada apa?"


"Apa aku bisa memercayainya? Aku merasa jika dia hendak menyembuhkan guru sihirku Ashley, sama seperti dia telah menyembuhkan lukaku." Zeeta memegangi perutnya.


Hugo tersenyum. "Ya. Kaubisa."


"Huuuuh...." Zeeta menghela napas lega. "Jika guru Ashley sudah baik, aku bisa tenang. Baiklah, Paman Hugo, aku akan bicara banyak denganmu!"


"Kalau begitu, mari kita ubah tempat ini agar lebih nyaman. Aria?"


"Ya, Tetua?" tanya Aria. Ia masih dalam posisi berlututnya.


"Beri Zeeta jus jeruk dingin. Oh, jangan lupa beri dia buah renjie. Setelah memakai Catastrophe Seal, pasti dia kelaparan."


"Siap!" Aria segera mengangkat kaki dengan kepakkan sayapnya.

__ADS_1


Zeeta kaget ketika mendengar jus jeruk dan buah renjie. Atas tatapan bingung dari Zeeta, Hugo menyadarinya. "Hahaha, jangan berwajah seperti itu. Ini adalah Hutan Sihir Agung. Lihat, pohon yang ada di belakangmu?" tanya Hugo. Zeeta kemudian menoleh. Pohon yang ia dapati adalah pohon tinggi besar bak raksasa yang jumlahnya banyak—macam hutan hujan.


"Uhm." Zeeta mengangguk.


"Lihat buahnya?"


Untuk melihat buahnya, Zeeta sampai harus benar-benar mendongakkan kepala. "Ti-tidak kelihatan...."


"Nah, buah itulah yang akan mengeluarkan apapun yang diinginkan penduduk di sini. Kami hanya perlu mengimajinasikannya, seperti kalian yang berimajinasi ketika menyihir."


"Whoaah... hebat!"


"Apa ini juga hebat?"


Zeeta kembali menolehkan kepala ke arah Hugo dan kini ia tengah duduk di atas kursi yang terbuat dari kayu bersama dengan set meja.


"Se-sejak kapan ada meja dan kursi di sini?!" mata Zeeta tampak berbinar.


"Hahaha... Zeeta, ini adalah sihir, lho, sihir. Manusia juga bisa melakukan ini!"


"Yah, aku tak menyangka.... Sejak kapan aku tidak merasa bahagia seperti ini?! Wajah polosnya yang tampak gembira itu... sangat berharga!" batin Hugo.


Tak lama kemudian, Aria datang kembali membawa apa yang diminta Hugo.


"Aria, kami akan bicara penting. Kaupergilah temui seseorang di air terjun, dia perlu banyak kau marahi," perintah Hugo.


"Ba-baiklah...." Aria mengiyakan perintah Hugo. "Seseorang? Memangnya siapa?" batin Aria.


......................


"Baiklah, Zeeta. Sebelum bicara masalah pentingnya, ada tiga alasan aku ingin bertemu denganmu secara pribadi di Hutan Sihir Agung ini," kata Hugo.


"Ya?" tanya Zeeta.


"Pertama, Dark Elf adalah Elf yang jatuh dari kebenaran. Kami tidak bisa seenaknya muncul ke dunia luar, karena mereka sangat membenci kami."


"Jatuh dari kebenaran?"


"Sederhananya, kami adalah Elf yang berkelakuan sangaaaat jahat. Pembunuhan, benci, dendam, semua itu kami lakukan."


"Oh, begitu, ya.... Berarti itu sama seperti Manusia, bukan?"


Hugo sedikit terkejut dengan jawabannya. "Sama?"


"Ya, yang kutahu Manusia juga melakukan hal-hal itu. Oh, jadi... apa manusia yang berkelakuan seperti itu dinamakan 'Dark Human', ya?"


"Zee... Zeeta? Kau serius?"


"Ah... ahahaha. Tentu saja bercanda. Hehe, maaf. Silakan dilanjutkan."


"Anak ini...." batin Hugo tersenyum kecut. Tak mengira dirinya malah diajak bercanda. "Alasan yang kedua, setelah kau menggunakan Catastrophe Seal, kami tahu apa efek samping yang akan kaudapatkan. Oleh karena itu, kuperintahkan Aria membawamu ke sini."


"Apa rasa sakit dan lemas ini tidak bisa disembuhkan dengan sihir biasa?"


"Nah, jawaban itu berkaitan dengan alasanku yang ketiga, yaitu... Zeeta, kau sudah bertemu dengan Roh Yggdrasil, bukan?"


"Bertemu dengan Roh Yggdrasil? Mereka ini maksudmu? Uhm, saat ini aku sedang bertemu...?" Zeeta memandangi titik bercahaya warna-warni di dekat mereka.


"Tolong, seriuslah!"


"Ehehe, meskipun kau Dark Elf, kau sama sekali tidak terasa mengancam, ya?" Zeeta sangat santai. "Hmmm, kalau bola bersinar yang kutemui di mimpiku itu benar adalah Roh Yggdrasil, mungkin iya!"


"Bisa kaujelaskan padaku bagaimana dan seperti apa kau bertemu dengannya?"


Zeeta lalu menjelaskan ketika ia bermimpi sebelum disembuhkan Maisie dan ketika sebelum ia bangun di Hutan Sihir Agung.


.


.


.


.


"Kalau begitu, ini memperjelas keadaanmu. Zeeta, alasan mengapa mana-mu sangat kuat daripada Manusia lain di sekitarmu... adalah karena kau merupakan Benih Yggdrasil," ungkap Hugo.


"Uhm, aku tahu." Zeeta tidak terlihat terkejut.


"...."


"A-apa?!" Saking terkejutnya, Hugo sampai membanting meja.


"Leluhurku yang kesembilan sudah menceritakannya padaku. Tentang Ratu Peri dan akar raksasa di istana juga."


"Le-leluhurmu?"


"Uhm. Clarissa Aurora IX."

__ADS_1


__ADS_2