
Tanah yang menjadi jurang atas serangan Marianna—hancur lebur seketika—begitu dirinya keluar dari sana. Ia keluar dengan mana yang seakan-akan tidak ingin kalah saing dengan Zeeta. Aura merah-hitam menyelimuti dirinya, namun dengan wajah tanpa kulit karena sudah terkelupas saat ia menukik dari angkasa sebelumnya. Ia terlihat mengerikan. Tidak hanya dari penampilannya saja, tetapi juga dari mana-nya. Marianna langsung menerjang menuju Zeeta yang sedang merapal.
Saat Marianna menghantam aura emas Zeeta dengan aura merah-hitamnya, ketika itulah percikan listrik ungu terjadi di langit—yang direspon positif oleh seseorang di suatu tempat di negeri timur. Ia tersenyum lebar sambil melihat bola kristal yang menayangkan apa yang sedang terjadi.
Pipi orang tersebut tidak hanya sumringah karena senyum, tetapi juga merona karena kegembiraannya.
Ia memegang pipinya dengan ekspresi begitu bahagia—amat sangat bahagia. “Huhuhuhummmh...,” tawanya girang. “Siapa....
“Siapa yang menyangka ini akan terjadi!
“Zeeta!
“Zeeta Zeeta Zeeta Zeeta... oh, Zeeta!
“Kau memanglah makhluk yang berbahaya, tetapi aku menyukaimu!
“Lihatlah, apa yang terjadi bila kau terus hidup di dunia ini!
“Lihatlah, apa yang terjadi pada dunia karena kehadiranmu yang menyeretnya!” orang itu mengangkat tangannya, lalu memegang pipinya lagi dengan napas berat sambil menambahkan, “ini adalah hari yang berbahagia ... tidakkah kau setuju, Xennaville...?”
Xennaville tersenyum. “Anda benar sekali, Nona Asteria.” Ia terlihat memegang sesuatu di tangannya.
Untuk sesaat ia melihatnya. Itu adalah sesuatu seperti batu yang berkilau. Tidak lama kemudian, ia menyimpannya lagi ke dalam saku. “Siapa juga yang akan menyangka Zeeta sendiri mampu memantik terbukanya....
“Jötunnheim....”
......................
Bola mata dari langit yang berlubang melotot—memandang seakan tidak percaya—sekaligus benci—yang dapat terlihat karena urat matanya muncul begitu melihat manusia. Bola mata itu kemudian mendapati Zeeta yang sedang merapal. Ia mengernyit—melakukan zoom penglihatan yang sama seperti Ozy lakukan lalu terbelalak.
“A-apa yang terjadi sebenarnya?!” bahkan untuk Suzy, situasi dimana alam seakan benar-benar memuntahkan emosinya melalui petir yang menyambar secara ganas dan bunyi guntur yang amat kasar, membuatnya panik.
“Apa maksudmu dengan kekuatan Zeeta bangkit, Roh yang Agung, Siren?!” tanya Aria, “bukankah Zeeta harusnya bangkit saat dia berusia tujuh belas tahun?” pertanyaan Aria memancing seluruh mata menuju Siren.
“Siren benar,” sahut Luna, yang duduk pada kasur kapas. “Nak Elf itu juga benar. Kasus umum dimana seorang Aurora membangkitkan kekuatan secara utuh, adalah saat dia berusia tujuh belas tahun.”
“Ya, dan diusia itu juga seorang penerus Aurora berhak naik takhta,” timpal Alicia. “Tolong, beritahulah aku! Apa yang sedang terjadi pada putriku?”
Luna terlihat enggan membicarakannya di depan umum. “Akan kuberitahu nanti.”
Alicia hanya bisa terdiam dan menggigit bibirnya. Tetapi tak lama, seseorang dari warga Nebula mengangkat tangannya. “Anu...,” ujarnya, yang memancing mata padanya seorang, “apa kita memang benar-benar aman di sini?
“Maksudku, aku tahu—kami tahu jika Tuan Putri Aurora adalah Benih Yggdrasil layaknya Pangeran Klutzie, tetapi sedari tadi alam—tidak—bahkan dunia seperti sedang mengalami kehancuran!
“A-aku merasa tidak pantas mengatakannya, tapi... kurasa Tuan Putri itu adalah mon—“
“Lanjutkan ucapanmu dan kepala itu jatuh ke tanah, Manusia!” Aria menukas ucapan warga tersebut. Ia bahkan mengancam dengan “death glare” yang sangat merendahkan. Tentu saja apa yang dilakukannya membuat seorang warga itu bergidik ngeri.
“Hentikan, Nak Elf!” seru Luna.
“Jangan hentikan aku, Roh yang Agung!
“Seakan-akan dia bicara tidak ada sangkut pautnya dengan masalah ini....
“Dengar! Manusia itu selalu mengagung-agungkan ‘keadilan’, ‘harga diri’, juga ‘kemanusiaan’. Tapi, kalian tidak pernah secuil pun menyadari bahwa tindakan kalian justru menciptakan orang-orang yang membenci kalian sendiri, bukan?
“Belajarlah dengan apa yang terjadi pada Suzy!
“Jika kalian—Manusia—tidak sombong dan angkuh pada hasil pengetahuan kalian—apa yang merasuki dirinya tidak akan memberontak dan tidak akan membuatnya menjadi seorang pembunuh!
“Kalianlah yang menyebabkan situasi ini!
“Dan kalianlah yang sedang Zeeta usahakan untuk lindungi!
“Aku tidak peduli apa kata Tetua, rekan Elf-ku yang lain, atau bahkan Zeeta sendiri ... tetapi Manusia selain dirinya dan orang-orang yang dianggapnya berharga, tidak lebih dari sampah dunia, yang tidak takut, acuh, dan abai pada siapa korban yang mereka lukai....
__ADS_1
“Atau mereka bunuh!
“Jangan bilang kalian tidak pernah terlibat—atau tidak pernah tahu pada usaha pemusnahan Elf!”
Aria mengakhiri emosi panjangnya dengan napas yang terengah. Warga Nebula, termasuk tiga bangsawannya, bungkam seribu bahasa.
.
.
.
.
“Sudah puaskah dirimu, oh Elf bernama Aria?”
Alicia dan yang lain menengok pada sumber suara. “Azure?”
“Kau....” Aria membalikkan badan padanya. “Apa? Apa kau keberatan?”
Azure bangun dari kasur kapas setelah dibawa Scarlet ke dimensi ini. Ia berjalan menghampiri Aria. “Apa yang kaukatakan tidak akan membantu Zeeta keluar dari ramalan itu. Kau benar dengan segala ucapanmu barusan, tetapi aku yakin Zeeta akan melakukan hal sebaliknya darimu.
“Kau.
“Sebutkan namamu!”
Azure menunjuk pada warga Nebula sebelumnya.
“No-Norman...,” jawabnya.
“Baiklah, Norman,” balas Azure, “’kan kujelaskan dengan singkat dan mudah dimengerti.
“Alasan mengapa dunia seperti ini sekarang—disebabkan oleh dua orang dengan mana yang teramat sangat gila—yang sangat ingin mengubah dunia sihir yang sudah BUSUK ini.
“Kau, aku, Elf ini, dua pihak bangsawan dari dua kerajaan di belakangku, pasti menyadarinya.
Si warga Nebula, Norman, atau warga Nebula lain, termasuk orang-orang yang disebut Azure, dibuat bungkam.
......................
Hantaman dua aura dengan atribut yang berbanding terbalik, sangat mempengaruhi lebar dan tinggi lubang yang muncul di langit. Tetapi hal tersebut tidak bertahan lama sampai Zeeta dan Marianna melancarkan masing-masing serangan. Tebasan oleh Zeeta, pukulan kanan oleh Marianna.
“CATASTROPHE ...!” seru Zeeta kala ia menghantam sabit dengan tangan Marianna. Hantaman dua senjata yang sekali lagi bertemu itu membuat tanah semakin hancur—memaksa Zeeta melayang di langit, begitu juga dengan lawannya.
Tak hanya itu, hantaman keduanya juga membalikkan apa yang terjadi pada langit. Itu menutup lubang di langit secara perlahan. Begitu juga dengan yang terjadi pada area di luar pertarungan keduanya. Alam semakin memburukkan "mood"-nya dengan berbagai macam bencana yang ditimbulkan. ****** beliung, angin kencang, gempa, sambaran petir, bahkan hingga menumbangkan pohon yang masih segar.
Untungnya, Scarlet telah mengantisipasi hal seperti ini terjadi, sehingga belum ada korban yang jatuh. Hal ini baru berlangsung sekitar sepuluh menitan, tetapi sudah dapat terlihat banyak orang yang dibawa Hazell tampak pucat. Menyadarinya, Scarlet lebih mengalirkan mana-nya lagi pada mereka. “Ini baru sesaat, tapi rasanya sudah berjam-jam saja!” batin Scarlet, “tak bisakah dia lebih cepat lagi?”
Menyadari lubang yang menghubungkan Jötunnheim dengan Galdurheim mulai menutup, seseorang dari negeri timur—Asteria—sangat kecewa. Sampai Xennaville mengatakan sesuatu, wajah kecewanya perlahan berubah dengan gigi yang digertakkan, bersama dengan pecahnya keramik, teko, dan kursi di sekitarnya. Rambutnya juga melawan gravitasi.
“Nona Asteria, tenangkanlah diri Anda,” kata Xennaville, “kita masih memiliki Spirit Stone dan kesempatan membuka Jötunnheim bukan hanya sekarang.
“Ingatlah tujuan besar dan mulia Anda, Nona.”
Sesaat setelah ia tenang, rambutnya kembali normal, dan ia mengatur napasnya. “Kau benar, Xennaville. Terima kasih.”
“Tidak perlu berterima kasih, Nona. Saya hanyalah pelayan yang ada hanya untuk tujuan Anda.
“Apa yang Anda ingin saya lakukan setelah ini? Haruskah saya mengumpulkan Spirit Stone lagi?”
“Tidak.
“Tidak perlu. Galdurheim tidak akan bertahan jika semua ini terjadi sekaligus. Tujuan utamaku pun bisa ikut hancur. Bergeraklah ketika aku memerintahkanmu saja, Xennaville.”
“Dimengerti, Nona.”
__ADS_1
.
.
.
.
“Wooooooggghhh!!” jerit Zeeta, mendorongnya agar tidak kalah dari Marianna.
“Rrrrrrraaaaaaaaagh!” jerit Marianna, yang sama seperti Zeeta.
Keduanya sama-sama tidak mengizinkan diri sendiri kalah. Atas hal itu, alam juga semakin tidak kondusif.
Tapi....
Adu senjata antara Marianna dan Zeeta akhirnya menghasilkan pemenang—begitu tangan kanan monster yang selalu digunakan Marianna untuk menyerang—muncul huruf Rune Laguz di sekitar bahunya. Kala itu, Marianna seakan melihat sesuatu pada Zeeta.
Sebuah penglihatan—atau lebih tepat seperti waskita—bagaimana sosok Zeeta beberapa tahun ke depan. Ia melihat Zeeta yang sudah tumbuh dengan rambut perak panjang sedang bercengkerama dengan teman-teman dari berbagai ras. Namun, tidak hanya mereka, seseorang yang begitu ia cintai—bermula dari sekumpulan asap menjadi segumpal penglihatan—ia juga melihat Velvet, ibunya, sedang melambaikan tangan padanya dengan senyum yang lembut, yang selalu diberikan padanya.
Tidak lama kemudian, mengitari kabut ibunya, muncul juga ayahnya, Elhart, dan kedua bibinya, Iris dan Roze. Mereka sama-sama melambaikan tangan dengan tangis yang menetes.
Penglihatan itu membuatnya sedikit terkejut dan melemaskan serangannya, sehingga sabit Zeeta berhasil melukai tangannya. Lalu, petir-petir yang menyambar tebal di sekitar mereka, seolah menanggapi Rune tersebut, menambahkan serangan padanya. Sehingga apa yang terjadi, tangan yang menjadi bukti balas dendamnya itu, hancur perlahan layaknya abu.
Tidak menyia-nyiakan kesempatan, Zeeta mengernyitkan mata sekaligus melancarkan serangan akhirnya.
“SEEAAAAL!”
‘ZRINGG!’
Huruf ‘Z’ menebas Marianna, dengan dampak serangan teramat destruktif, yang membuat segala yang berada di belakang Marianna seperti tersapu habis tak bersisa, membuat tanah yang dipijak Zeeta justru menjadi gunung yang baru.
Ketika itu juga, pelan tapi pasti, alam kembali normal, dengan mentari yang bersinar hangat. Lubang langit dengan mata yang mengintip pun ikut sirna. Sabitnya yang bersinar emas sebelumnya mulai meredup dan perlahan kembali tersegel. Zeeta kemudian memutar-mutar sabitnya, lalu menancapkannya pada tanah.
“Haaaah... haaah....” Zeeta melihat kedua tangannya bergetar hebat.
“Kerja bagus....”
Zeeta mendengar suara Marianna. Ia kemudian menengadahkan kepala, yang langsung disambut kaget.
Marianna kembali seperti sedia kala—sebelum ia menerima kekuatan kutukan pada tangannya—dengan tubuh transparan dan mengeluarkan butiran mana. Saat itu, ia tersenyum lembut.
“Terima kasih padamu juga, wahai keturunanku, Zeeta.
“Kamu rela berkorban sepayah ini hanya demi membebaskanku dari kutukan dan kebencianku.”
Zeeta membalas senyuman leluhurnya. “Tidak. Ini tidak seberapa dibandingkan usaha kalian demi mengubah masa depanku. Aku pun tidak ingin masa depanku seperti apa yang sudah diramalkan Feline.
“Seperti ucapanmu, dunia sihir ini perlu diubah.
“Aku belum begitu menangkap bagaimana pandanganku pada dunia sihir ini, tetapi aku pun merasakan apa yang kaurasakan.
“Jadi, kulakukan semua ini, juga untukku. Demi pertumbuhanku sebagai Putri, Aurora, manusia, dan diri sendiri. Daripadaku, leluhur-leluhurku masih jauh lebih hebat!”
“Begitu, ya....
“Sebelum aku pergi menyusul anak-anakku, ingatlah ini; untuk beberapa tahun ke depan, jangan tunjukkan dirimu ke luar kerajaan, bahkan jika itu untuk ke Grandtopia. Apapun yang terjadi, jagalah keseimbangan antara tiga dunia. Namun, bila situasinya mendesak, sebagai keturunan Aurora yang telah ditakdirkan....
“Kuserahkan keputusannya padamu.
“Terakhir, dengan anting kanan atau penglihatan Elf bernama Reina, sampaikan bahwa aku mencintai Hugo. Ingatlah janji kita berempat dan teruslah menjadi Elf yang dihormati.
“Kebencian antara Elf dan Manusia, sudah berakhir!”
Bersama dengan kalimat akhirnya, Marianna lenyap dari dunia dengan butiran mana.
__ADS_1
“Selamat jalan, Mary. Hiduplah bahagia di sana.” Zeeta mengantar kepergian Marianna dengan senyuman. Tidak lama kemudian, ia kehilangan kesadaran dan terjatuh begitu saja.