Zeeta Dan Dunia Sihir

Zeeta Dan Dunia Sihir
Ambang Keputusasaan


__ADS_3

Kerajaan Aurora masa sekarang, Wilayah Barat, hari sudah berganti malam. Zeeta dan Selen yang asyik mendengar cerita masa lalu Hellen terkesima dengan kisahnya. Zeeta, yang memutuskan akan menginap di kediaman Hellen, telah diberikan izin oleh Ashley. Alasan ia diizinkan adalah, untuk saat ini ia sudah menyelesaikan kepentingan mendesak sebagai Tuan Putri, dan rencananya perihal pelindung sensor, akan dilanjutkan oleh Ashley karena jabatannya saat ini sebagai kepala pemerintahan.


Saat ini, Zeeta, Hellen, dan Selen, sedang "berpesta piyama" di kamar pribadinya Hellen. Mereka sedang duduk di atas kasur queen-size berseprai putih.


"Aku tak menyangka ayahku seberani itu," kata Zeeta, yang sumringah mengingat cerita bahwa Arthur memeluk erat Hellen.


"Aku juga baru tahu, kalau Kakak pernah diperlakukan seromantis itu, meskipun kondisinya sangat tidak mendukung. Ciyee," ujar Selen. Ia mencolek-colek lengan kakaknya.


"Ehehe...." Hellen menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil tersenyum menjijikkan.


"Lalu, kapan kalian akan menikah?" tanya Zeeta, yang sangat tak diduga oleh Hellen.


"So-soal itu...." Hellen dibuat down mendadak. "Oh iya, kalau kuingat lagi, setelah itu Arthur justru cuek padaku.... Agh, sungguh! Aku tak tahu apa yang dipikirkannya!"


"Masalah itu biar diselesaikan oleh mereka berdua, bagaimana kalau kita mendengar kisah tadi sampai selesai, Tuan Putri?" tanya Selen. Ia memberi saran, dia tidak sanggup melihat hati kakaknya dibuat tertusuk lagi oleh anak kecil.


"Ah, uhm! Aku juga ingin lebih tahu, apa yang guru Ashley dan ibuku lakukan disaat genting seperti itu...." Zeeta ingin membuat cerita itu sebagai referensi.


"Baiklah." Hellen mengangguk. "Ketika itu, kukira evolusi dari Erigona setelah itu adalah akhir untuk kami semua. Meskipun pada awalnya itu salah Garren, namun kami masih tak bisa mengetahui apa yang menyebabkan Erigona bisa berevolusi seperti itu." Kemudian, Hellen melanjutkan kisahnya.


......................


"Tuan Will, apa kau masih sadar?" tanya Ashley. Ia memasang sihir di kakinya, untuk bersiaga agar lekas menghindar apabila Erigona menyerangnya. "Jika kau bisa mendengarku, cepatlah lihat keadaan Alicia, juga muridmu yang lain, kemudian mundurlah. Aku akan melakukan sesuatu untuk melawannya."


Dengan langkah yang tergagap, melalui Buku Sihirnya yang masih terbuka, Willmurd berteleportasi sambil menyembuhkan mata kanannya dengan sihir.


"Kuharap matanya bisa kembali normal...," gumam Ashley, "sekarang ... bagaimana caraku menghadapimu? Aku bahkan tak memiliki waktu untuk memanggil pasukan kerajaan."


Ashley kemudian mengatur napasnya. Setelah ia tenang, ketika ia mengedipkan mata, Erigona di depannya hilang.


"Sial!" Ashley segera mengurung dirinya di dalam bongkahan batu tebal untuk memperkecil dampak serangan. Tak lama setelahnya, Erigona itu muncul di belakang Ashley lalu menendangnya dengan sangat kuat hingga ia terpental jauh ke dalam hutan dan menghancur-leburkan bagian belakang batu tersebut—juga melukai punggung Ashley.


"Apa-apaan kekuatannya itu?!" batin Ashley. Ia masih mampu berdiri lagi. Buku Sihirnya, yang sampul depan dan belakangnya bergambar pohon maple, bersinar merah kejinggaan. Lembaran-lembaran buku itu terbalik menuju halaman yang diinginkan Ashley dengan sendirinya.


"Akan kutunjukkan kekuatanku!" seru Ashley. Dari sihir yang telah ia pakai melalui Buku Sihir, ia saat ini memakai zirah yang menutup bagian vitalnya saja, seperti bahu, siku, dada dan perut, serta area pangkal paha.


Erigona tersenyum melihat Ashley. Kemudian, angin berhembus kencang untuk beberapa saat. Ashley berkuda-kuda dan mencengkeram erat kepalan tangan kanannya, lalu muncul aura merah kejinggaan yang terpusat pada kepalannya. Ketika anginnya berhenti berhembus, Ashley menghirup napas dalam dan menahannya, lalu dalam keadaan menahan napas, dengan cepat ia berteleportasi ke depan Erigona.


'BBBMMM!'


Ashley meninju perut Erigona hingga membuat tubuh makhluk itu melengkung layaknya huruf "C" dengan kepalan kanannya, dan diakhiri dengan pentalan jauh dari Erigona yang membuat dampak tanah terbelah besar.


"Fffuuuuhh...." Ashley membuang napasnya. Tak berhenti di situ saja, ia melapisi seluruh tubuhnya dengan aura merah kejinggaan lalu menyusul dimana Erigona berada, yang masih tergeletak di tanah.


Ketika Ashley melihat efek dari pukulannya, ia terkejut, tapi sudah menduganya. Perut yang menerima pukulannya itu rapuh—berubah menjadi seperti abu. Di tengah-tengahnya terdapat inti—yang sebelumnya disebut Alicia—dengan bentuk prisma dan berisi butiran sihir berwarna merah.


Dengan cepat, ia merubah seluruh aura yang melapisi tubuhnya itu menjadi sebilah pedang untuk menusuk inti tersebut. Namun, sadar akan bahayanya, Erigona membuat pelindung berupa akar di atas sekujur tubuhnya dan ia berniat menghisap aura berbentuk bilah pedang tersebut dari tangan Ashley.


"Heh. Tidak akan berhasil!" pekik Ashley. Ia terdengar penuh percaya diri. "Ini bukan mana, tahu." Ia tersenyum, lalu mengubah bentuk bilah tersebut menjadi palu bogem dan menghancurkan pelindungnya. Namun sayang, Erigona tidak lagi di balik pelindung itu.


"Cih, jangan berani kabur setelah berani melukai Alicia!" teriak Ashley.

__ADS_1


Tanpa dirasakan oleh Ashley, Erigona memunculkan kepalanya di bawah kaki Ashley. "Lalu, jika bukan mana... apa?"


Merespon hal mengejutkan ini, ia melayangkan diri di udara. "Apa ini karena dia berasal dari tumbuhan, makanya dia bisa bersembunyi di balik tanah? Sial... padahal tadi aku sudah punya kesempatan!"


"Mau kuberitahu juga takkan ada arti untukmu jika tidak bisa kauserap!" teriak Ashley, lalu melapisi tubuhnya lagi dengan auranya.


"Kalau begitu, aku akan mengalahkanmu langsung!" Erigona bangkit dari tanah. Batang runcing yang tumbuh di punggungnya, memanjang untuk ia tancapkan ke tanah. Ia seperti akan melakukan sesuatu.


......................


Sementara itu....


Di kerajaan Aurora, singgasana Scarlet, para kepala keluarga bangsawan utama—kecuali Dormant, yaitu Willmurd, sedang bertekuk lutut pada Ratu mereka. Scarlet, yang tentu saja merasakan perubahan mana yang terus terjadi di sekitar lokasi Erigona, menunjukkan perasaan khawatirnya dengan pergerakan empat jari tangan kirinya yang diangkat bergiliran.


Merasakan kekhawatiran Scarlet, sang kepala keluarga Cloxzar, Marchioness Brandia, menanyakan apa yang ada di pikiran Scarlet hingga memanggil semua kepala bangsawan utama.


"Ah, ya. Maaf membuat kalian menunggu," kata Scarlet, yang mengejutkan semua bangsawan utama. Ucapan yang sangat jarang sekali terdengar oleh Scarlet, sang Ruby Berkobar yang terkenal atas kebengisannya, justru meminta maaf sambil memasang wajah khawatir.


"Alasanku memanggil kalian adalah... aku ingin kalian menggali informasi lebih dari keberadaan Elf," ujar Scarlet.


"Elf, Yang Mulia?" tanya Elze, Count Ophenlis, yang berpostur sama dengan Porte masa sekarang, namun memiliki rambut pirang sepunggung.


"Ya. Sudah lama aku merasa janggal dengan informasi yang tersimpan di arsip istana. Sekecil apapun informasinya, segera beritahu aku."


"Apakah ini berhubungan dengan ramalan Ratu Feline, Yang Mulia?" tanya Orima, Count Rowing, yang berambut cokelat pendek dengan kumis yang menanjak dan berkacamata.


"Ya, kau benar. Jika aku ingin melepas semua kemungkinan ramalannya, aku harus mengerahkan segala apapun yang tidak termasuk dalam waskita sebelumnya, dan menjadikannya sebagai sekutu manusia."


"A-apakah itu mungkin dilakukan, Yang Mulia?" tanya Brandia.


"So-soalnya, arsip istana...." Brandia merasa tak yakin untuk melanjutkan ucapannya.


"Ah, perkawinan silang dari keluarga kerajaan dan Peri?"


"I-itu benar."


"Hei! Memangnya ini sudah berapa abad setelah kejadian itu? Masa bodoh dengan tabu keluarga kerajaan, masa depan kita dipertaruhkan!"


"Ba-baik, Yang Mulia!" Brandia gelagapan atas suara menggelegar Scarlet.


"Elze, aku berharap banyak dengan sihir kristalmu," kata Scarlet, yang menatap lurus pada Count Ophenlis ketujuh itu.


"Siap, Yang Mulia!" Elze menjawabnya sambil menegakkan tubuhnya.


"Lalu, bergulir ke masalah selanjutnya." Scarlet masih belum selesai dengan bangsawan utama ini. Empat bawahan Scarlet itu meneguk liurnya.


"Segera jalankan Perintah Darurat Satu, saat ini juga." Ucapan darinya membuat semua orang tua itu terbelalak.


"Ya, Yang Mulia!" jawab mereka bersamaan.


"Pakai seluruh alat sihir yang kita miliki untuk melindungi rakyat. Setelah kalian selesai, temui aku di depan gerbang tembok Wilayah Selatan."

__ADS_1


"Baik." Mereka kembali menjawabnya bersamaan, kemudian membubarkan diri dengan teleportasi.


......................


Disaat yang sama dengan berjalannya pertemuan Scarlet dan pertarungan Ashley, Willmurd segera memeriksa kondisi Alicia yang ada di dalam lubang tanah—apakah ia terluka atau tidak.


"Tuan Putri!" teriak Willmurd. Ia segera turun ke dalam lubang itu, mengabaikan mata kanannya yang tidak berhenti berdarah. Ia segera memukul pelan pipi Alicia agar menyadarkan dirinya. "Putri! Putri Alicia!" serunya.


"Hnggh...? Di mana ini...? Apa yang ...." Alicia membuka matanya. "Erigona!" Ia mengingat apa yang terjadi, tampaknya tak ada yang gawat dari Alicia.


"Anda baik saja, Putri Alicia?" tanya Willmurd.


Alicia kemudian duduk, lalu menjawab, "Uhm. Bagaimana dengan yang lain—Tuan Will, mata kananmu?!"


"I-ini karena Erigona-nya...."


"Diamlah sebentar. Sementara itu, ceritakan padaku apa yang terjadi." Alicia memejamkan matanya, kemudian anting bulan setengah lingkaran di telinga kanannya menyala. Ia membuat bola cahaya hijau—sebhah sihir penyembuh.


Setelah memahami apa yang terjadi, ia membuka matanya. Disaat yang sama, cahaya dari anting bulannya menghilang, dan sihirnya pun sudah selesai. "Begitu, ya." Kemudian, Alicia membagi bola hijau tersebut menjadi lima bola. Yang paling pertama diberikan, adalah Willmurd. Sisanya adalah untuk Hellenia, Arthur, Porte, dan Garren.


"Sudah kuduga... sihir Anda memanglah hebat, Putri Alicia!" seru Willmurd.


"Terima kasih, tapi kita punya masalah lain." Alicia segera berdiri dan membuka Buku Sihirnya.


"E-Erigona?! Sejak kapan...?" Willmurd yang tidak merasakan hawa mana-nya, mengikuti langkah Alicia.


"Percuma untuk mencoba merasakan mana-nya, Tuan Will. Dia sudah menyatu dengan hampir sebagian besar hutan di sini."


"A-apa?! Bagaimana bisa? Jangan-jangan, Grand Duchess telah—"


"Tidak. Guru masih baik-baik saja. Erigona ini ... membagi tubuhnya...."


......................


Beberapa waktu sebelumnya....


Setelah Erigona menancapkan batang runcing hitam di punggungnya, ia tersenyum, kemudian berkata dengan nada riang, "Mungkin aku takkan bisa mengalahkanmu satu lawan satu... tapi, bagaimana dengan sepuluh dariku? Ah, pasti akan seru!"


"Apa katamu?!" Ashley tersentak.


Batang runcing yang ditancapkannya, kemudian tumbuh di tempat dekat Garren, Porte, Alicia, Arthur, Hellen, serta murid lainnya berada secara bersamaan.


"Aku mulai, ya!" Tiga belahan dirinya yang ada di dekat Erigona, dengan cepat menyerang Ashley secara bersamaan. Diawali pantulan kuat dari kaki mereka, lalu mencoba menusuk dada Ashley.


Merespon serangan itu, dengan sama cepatnya seperti Erigona, Ashley mematahkan jemari runcing mereka dengan aura yang dipusatkan di lutut serta sikunya. Erigona itu sempat terkejut, namun salah satu dari mereka lekas menyerang Ashley dengan kaki kirinya dan berhasil membuat Ashley terjatuh.


Sebelum menyentuh tanah, Ashley membuat bantalan kapas, dan memantulkannya kembali ke Erigona dan membalas mereka dengan membuat putaran layaknya tornado. Ia meluruskan tubuh serta tangannya lalu memasang aura yang dibentuk sebuah bilah pedang di kedua tangannya yang diluruskan tersebut.


Dua dari mereka nyaris hancur total, namun regenerasi mereka menjadi lebih cepat dari sebelumnya.


"Apa yang—"

__ADS_1


'BWAAMMM!'


Kepala Ashley berhasil dibanting oleh yang asli hingga membuat lubang di tanah dan menghilangkan kesadaran Ashley.


__ADS_2