
Vivid Party telah berakhir. Hampir semua bangsawan telah kembali ke kediaman masing-masing, sedangkan Lowèn, Rey, dan Orchid, tetap tinggal. Rey dan Orchid ingin menggali lebih dalam mengapa Tuan Putri bisa emosi seperti sebelumnya pada pamannya sendiri.
"Aku hanya ingin melindungi Zeeta," ujar Lowèn, dengan wajah yang menyimpan rasa kesal sekaligus menyesal. Ia terlihat mengepalkan tangannya hingga timbul urat. "Aku tidak ingin lagi kehilangan keluargaku! Kak Alicia adalah Ratu yang sangat kukagumi dan kak Hazell adalah kakak yang kuhormati.... Jika kubiarkan Zeeta, itu berarti sama saja dengan aku mengabaikan pengorbanan kakak-kakakku!"
Orchid dan Rey terdiam. Mereka memiliki pandangannya masing-masing. Orchid berdiri ke hadapan Lowèn lalu menepuk bahu kirinya sembari menggigit tulip merah dari sakunya. "Lalu, apa kamu benar-benarrr tahu apa yang direncanakan Tuan Putri?" tanyanya. Tampak kilauan di sekitar wajahnya.
"Rencana? Apa yang bisa direncanakan dia?" balas Lowèn, "ia memang berhasil mengalahkan dan menyelamatkan kita dari Hollow, lantas? Sebaiknya kita orang dewasa yang merencanakan sesuatu dan dia berlagak seperti dia yang merencanakannya."
Orchid memegang dagu Lowèn lalu mengangkatnya. "Bodoh. Kamu salah mengerti situasi, Tuan Lowèn."
Tidak suka dagunya dipegang seenaknya, Lowèn menangkis tangan Orchid, namun Orchid kembali memegang dagunya.
"Yang Mulia sudaaah memberitahukannya, bahwa Roh Yggdrasil ada di sisinya. Apa kamu tidak mengertinya?"
Lowèn membisu, sementara Orchid tersenyum.
"Roh Yggdrasil itu tahu tentang sesuatu di baaalik istana. Mengapa hal sesederhana itu kamu tidak bisa paham? Pantas saja Yang Mulia marrrah padamu.
"Ah.... Hormatku terhadap Levant sediiikit berkurang karenamu. Kudengar, Levant memiliki pengetahuan besaaar dibalik dunia sihir ini, juga kekuatan sihir langsung dari matahari.
"Apakah itu hanya isapan jempol?" tatapan mata Orchid sengaja ia sipitkan.
Terpancing emosi atas ucapan itu, Lowèn menarik kerah Orchid. "Jangan main-main denganku!" tegasnya.
"Ohho...? Kamulah yang bermain-main." Orchid dengan mudahnya melepas diri dari tangan Lowèn. "Amaaarah tidak akan membawamu kemana pun. Santaikanlah kepalamu dan berefleksi dirilah!" Orchid memasukkan sebuah tulip ungu di saku mantel Lowèn kemudian pergi masuk ke dalam kediaman Ashley.
Rey yang daritadi hanya diam dan melihat mereka, membuat Lowèn kembali emosi. "Apa maumu?!" teriaknya.
Rey membungkuk diri kemudian menjawab, "Maaf. Aku juga satu suara dengan Tuan Orchid. Permisi." Ia mengikuti Orchid masuk ke dalam.
Lowèn hanya bisa bungkam setelahnya. Ia melihat dengan tatapan kosong tangannya. "Aku tahu ada yang salah denganku... tapi aku tak tahu harus berbuat apa.... Tanpamu, aku harus apa... Chloe?" titik air mata jatuh ke telapak tangannya.
Tanpa ia sadari, dari jarak jauh, Zeeta melihat gerak-gerik Lowèn dengan teropong dari sihirnya. Setelah ia selesai, teropong itu menghilang. "Aku harus minta maaf," gumamnya.
Selagi Rey berjalan menuju kediaman Ashley, ia hanyut dalam pikirannya tentang kesannya terhadap Zeeta telah berubah tiga ratus enam puluh derajat. Ia hanya mengira bahwa Zeeta hanyalah anak kecil yang kebetulan menjadi Tuan Putri, tetapi setelah mendengar bagaimana ia berbicara, ia mengerti. Zeeta telah mengalami banyak hal sejauh ini dan tubuh mungilnya masihlah belum jatuh. Hormat dan rasa ingin melayani sepenuh hatinya muncul begitu saja. Ia benar-benar ingin berguna demi membantu meringankan beban Zeeta.
......................
Sesuai permintaan Zeeta saat di Vivid Party, Orchid dan Rey menghadap pada Zeeta. Di sebelah kanan Zeeta ada Ashley dan Albert, sementara di sebelah kirinya ada Hellenia, Illia, serta Mellynda. Mereka duduk secara horizontal. Mereka ada di ruang bola kristal tempat Zeeta diperlihatkan Ashley tentang masa lalu Alicia.
Sebelum memulai rapat penting mereka, Zeeta berdiri, kemudian membuat penghalang berwarna biru yang mengelilingi hanya untuk orang-orang yang ada di sana saja. Setelah itu terbentuk, Luna turun dari kepala Zeeta lalu menyentuh pelindung itu. Warna biru sebelumnya menjadi hilang. Hanya satu jawaban yang bisa disimpulkan atas tindakan barusan. Zeeta tidak ingin rapat ini didengar atau dilihat oleh siapapun.
"Ini adalah pembicaraan yang tidak boleh kalian bocorkan pada siapapun sebelum aku mengizinkannya. Ini adalah identitas ras yang akan menyerang kerajaan," ucap Zeeta, dengan tatapan serius. "Mungkin kalian pernah mewaspadai mereka, tetapi karena kalian tidak memiliki bukti, maka kalian hanya bisa diam. Mereka adalah ... Peri."
"Yang Mulia... apa Anda serius...?" tanya Illia.
__ADS_1
Zeeta mengangguk, kemudian lanjut berbicara. "Aku akan menjelaskan detail alasan mengapa aku menyebut Peri."
Kemudian, Zeeta menjelaskan secara kronologis dari ia bertemu Ratu Peri Feline, kemudian bertemu dan dijelaskan oleh sang Elf, Aria, lalu bertemu kembali dengan Feline. Selanjutnya, ia memutuskan untuk berbicara tentang kekuatan antingnya dan pertemuannya dengan Clarissa yang membuat pelaku dari seluruh ancaman pada Aurora jelas.
Perasaan bangsawan-bangsawan itu campur aduk. Mereka marah, juga merasa tak percaya dengan kemampuan Zeeta, dan fakta bahwa dirinya bertemu dengan Ratu Aurora beratus-ratus tahun yang lalu.
"Yang Mulia ... apa motif sebenarnya dari Ratu Feline menipu Aurora selama ratusan tahun?" tanya Willmurd.
"Alasannya aku, Tuan Willmurd. Sebelum aku menjawabnya, Tuan Orchid, Tuan Rey, apa yang akan kalian dengar adalah informasi baru untuk kalian. Informasi ini berkaitan tentang rencana yang ingin kulakukan bersama kalian. Jadi, aku ingin kalian bersumpah atas nama Aurora, menutup mulut sampai waktunya tiba."
Orchid dan Rey membungkukkan setengah badan dan segera mengiyakan Tuan Putri mereka.
"Hmm?" Zeeta merasa ada yang mengganggu sihir pelindungnya.
"Yang Mulia...?" tanya Rey.
"Sssh!" tukas Zeeta.
Semua wajah di sana segera berubah tegang.
"Luna, siapa yang menganggu ini?" bisik Zeeta.
"Aria. Ingin membawanya masuk?" balas Luna, "tapi ... dia bersama seorang laki-laki. Aku seperti kenal mana-nya, tapi...."
"Anak itu ... seenaknya saja meninggalkan rapat penting seperti ini!" gerutu Ashley.
Bangsawan-bangsawan utama itu hanya bisa meresponnya dengan tawa kecil.
"Tapi... kenapa Melly diizinkan ikut mendengar ini, Nyonya Illia?" tanya Hellenia.
"Huhuum, itu karena aku rivalnya. Sudah wajar aku diizinkan Zeeta mendengar percakapan ini!" Mellynda menghempaskan rambut pirangnya ke belakang.
"Aaaaa! Dasar Zeeta! Aku tak tahu kalau pembicaraannya akan jadi sepenting ini! Jika ... jika dia tahu dulu aku bertemu Peri, apa yang akan dia lakukan...? Hmm? Kenapa aku jadi was-was?" batin Mellynda. Raut wajahnya berubah, lalu ia berdiri. "Semuanya, aku ingin mengaku!" serunya.
......................
Zeeta sampai di halaman depan kediaman Ashley. Aria dan lelaki yang disebut Luna memang ada di sana.
"Zeeta! Se-se... sejak kapan Roh Yggdrasil bisa ada bersamamu?!" Aria menunjuk Zeeta.
"Eh? Kautahu?" tanya Zeeta.
"Tentu saja! Ozy yang memberitahuku! Sihirmu dilapisi oleh sihir GILA ini!" tampak ada air mata yang akan menetes sebab iri.
"O-Ozy? Apa yang...?" Zeeta segera melihat dengan saksama lelaki berambut abu-abu itu. "Aku tidak akan terkejut. Pokoknya, aku tidak akan terkejut!
__ADS_1
"Aku tahu kau Ozy. Ratu Clarissa sudah menceritakannya padaku. Tapi....
"Melihat kalian sama seperti melihat ayah dan anak, ya? Ufufu."
"Ha... hah?! Apa-apaan itu?! Asal kautahu, aku bisa kapanpun merubah ukuran tubuhku!" Aria yang sebelumnya lebih tinggi sedikit dari Zeeta, meninggikan dirinya sama seperti Ozy, sekitar seratus enam puluh delapan sentimeter.
"Uhm. Kalian berdua cocok!"
"Hah?!" Aria dibuat merona.
"Nah, kalau begitu, karena aku sedang sibuk, ayo ikut ak—"
"Apa, sih, yang terjadi padamu?! Kenapa kau santai sekali seperti ini? Ozy, kau juga! Kenapa kau diam saja?" teriak Aria masih dalam rona merahnya.
"Aku ingin bertemu Roh Yggdrasil itu," jawab Ozy. Aria segera kembali serius.
"Dasar. Kalau Zeeta tidak bertingkah begitu.... Baiklah, kami akan ikut."
"Uhm. Terima kasih." Zeeta membawa mereka dengan teleportasinya kembali ke rapat. Di kala itu, Ashley berteriak.
"Peri, katamu?!" teriakan Ashley membuat ketiganya terkejut.
.
.
.
.
"Tak salah lagi. Peri itu ... adalah Peri yang diusir oleh Scarlet, Morgan! Sialan... kenapa kau tidak menceritakan ini lebih awal?!" teriak Ashley sambil memukul kursi.
Mellynda tampak begitu takut hingga memeluk lengan ibunya. "G-Grand Duchess... mohon tenangkan diri Anda...," ucap Illia berusaha menenangkan Ashley.
"Ibu, Nyonya Illia benar. Melly hanya anak kecil, dia tidak mengerti apa yang dia hadapi...." Albert memegang bahu Ashley.
"Morgan itu hampir membunuh kami. Dia hampir membunuh aku, Nona Hellen, Tuan Will, dan Alicia dengan Erigona yang diberikan mana olehnya agar berevolusi!"
"Guru, tenanglah." Zeeta yang sudah kembali ke ruangan segera menundukkan kepalanya. "Masalah itu singkirkan dulu. Yang penting, Melly tidak kenapa-napa, dan tujuan utama kita bukanlah mengurusi seekor Peri saja.
"Aria, aku tahu Elf menyimpan dendam pada Peri. Aku juga sadar Manusia juga ikut dalam lingkaran kebencian para Elf. Tapi, aku tidak ingin kebencian terus lahir. Jika begini, ini sama dengan keinginan Ratu Peri."
Selain Zeeta, semua yang di sana sadar betul jika tanah berguncang, aura biru muncul, serta tangan yang dikepalkan menunjukkan seberapa marah Zeeta sebenarnya.
Disaat itu juga, Mellynda kembali diingatkan. Bahwa apa yang terjadi pada Zeeta selama ini, tidak akan dapat ia jalani. Bahkan jika itu terjadi padanya, ia pasti sudah tumbang duluan.
__ADS_1