Zeeta Dan Dunia Sihir

Zeeta Dan Dunia Sihir
Pertarungan yang Sudah Dimulai


__ADS_3

Petir menggelegar. Angin pun berdesir dengan ributnya. Burung-burung berhamburan meninggalkan rumah mereka yang sudah diporak-porandakan. Tidak lama kemudian, hujan deras pun turun. Situasi jadi tidak terkendali setelah ledakan demi ledakan menghantam Bumi.


"Apa yang sebenarnya terjadi di sana...?" tanya Zacht. Ia tak mempedulikan deruan angin disertai air yang dapat membuat siapapun segera kedinginan.


"Phantasmal itu berevolusi mejadi Hollow, karenanya kekuatannya semakin bertambah," jawab Maisie.


"Berevolusi...?" Zacht mengingat kalimat pertama yang diucapkan Maisie ketika ia dan Eclipse tiba di sini. "Ja-jadi...?! Ketika inti miliknya hancur lagi, kekuatannya jadi semakin bertambah?!"


"Itu benar. Hollow, adalah makhluk sihir yang selalu membawa bencana. Dan yang mampu memadamkan semua bencana itu dalam satu serangan sekaligus adalah Catasrophe Seal.


"Tetapi, seperti yang kauketahui, Zeeta harus meningkatkan kekuatan dan menguasai bentuk-bentuk dari senjata suci itu. Tergantung dari situasi yang terjadi, apa yang bisa disegel pun beragam.


"Sabit digunakan untuk menyegel musuh yang membawa bencana untuk dunia, perisai untuk menyegel kekuatan musuh, dan tongkat sihir yang mampu mengendalikan alam.


"Menilai dari situasi ini, cepat atau lambat Phantasmal yang baru menjadi Hollow ini pasti akan datang. Tetapi, dalam jangka waktu itu, berapa jiwa yang bisa selamat dari Phantasmal-Phantasmal selain dia yang menunggu situasi semakin memburuk, aku atau Roh yang Agung pun tidak tahu.


"Aku tahu kau menganggap Roh yang Agung adalah sosok yang supernatural dan kekuatannya sangatlah kuat. Ya, itu benar, tetapi ini adalah pertarungan antara kalian para Manusia dari Aurora dan Phantasmal.


"Perlu kaucatat, Roh yang Agung Luna pernah menegaskan kedudukannya di kerajaanmu. Dia bukanlah sekutu bagi kalian, tetapi dia tetap akan mengikuti apa yang diinginkan Zeeta.


"Begitu juga dengan Roh yang Agung Siren. Satu-satunya alasan dia tidak mengacuhkan kerajaanmu adalah keinginan dari Benih Yggdrasil-nya."


Zacht mencengkeram tangannya. "Apa kita memang harus bergantung pada Tuan Putri seorang?! Tak bisakah kita mengatasi masalah ini dengan kekuatan kita sendiri?"


"Jika situasinya hanya satu Phantasmal yang muncul, maka 'ya' adalah jawabannya.


"Aku selalu mengawasi hutan. Phantasmal yang hendak menuju ke sini adalah Phantasmal yang mampu menghanguskan ratusan meter hutan dalam satu serangan.


"'Mustahil' adalah jawaban paling logis untuk situasi ini. Phantasmal yang sudah ter-Hollow-fikasi adalah musuh yang harus dikalahkan dalam satu kali serangan yang sangat kuat, yang takkan memberinya kesempatan untuk berevolusi lagi


"Sekuat apapun kalian, tanpa senjata suci yang ditempa dengan kekuatan Roh yang Agung, seratus persen—tidak, seribu persen kerajaan Aurora lenyap dengan mudah."


"Kuhhh...! Sialan!" Zacht memukul tanah.


Maisie melihat betapa tak berdayanya manusia itu. Mengingatkannya, bahwa Manusia memanglah makhluk yang lemah dan rapuh.


"Meskipun begitu...." Ucapan Maisie membuat Zacht mendongak. "Bukan berarti kalian harus berputus asa. Manusia akan selalu jadi lebih kuat jika mereka sedang terpojok. Mereka akan memikirkan segala cara untuk bisa menyelamatkan diri seperti bekerja sama dan saling melindungi. Mereka yang ada di belakangmu saat ini sedang berusaha menciptakan peluang untuk memukul balik situasi ini. Apa yang harus kita lakukan di sini adalah menghalangi Phantasmal melangkahi kita!"

__ADS_1


Zacht termotivasi. "Demi nama dan keluarga Dormant, serta apa yang kulindungi dengan pedang ini, aku akan menuntaskannya!


"Ah, aku harus melaporkan ini pada Grand Duchess Ashley!"


"Yah, aku pun tidak tahu setelah sihir ini rampung, apa aku bisa melihat pertarungan mereka sampai usai atau tidak...," batin Maisie.


......................


Eclipse bertatap tajam. Dia waspada dengan serangan seperti apa yang akan menyerangnya setelah Grimm menjadi Hollow. Tubuhnya menjadi semakin ramping dengan otot yang tidak tertinggal. Kekuatannya semakin bisa dikendalikan dan dia tidak pernah melepaskan senyum percaya dirinya. Seakan-akan, Naga di hadapannya tak ada apa-apa untuknya.


"Ini seru sekali!" seru Grimm, "ternyata, alasan orang itu mengizinkanku untuk datang terlebih dahulu karena membiarkanku merasakan sensasi bervelousi menjadi lebih kuat!


"Ah.... Sayang sekali lawanku sebelumnya malah digantikan olehmu. Aku sangaaat ingin sekali menghancurkan mana-nya yang entah kenapa sangat mengusikku.


"Tapi, karena ini seru jadi kubiarkan. Kita beradu sihir sampai meluluh-lantakkan Bumi. Tidakkah kau setuju?


"Ufufufufu...!"


"Jangan berbesar kepala!" Eclipse tiba-tiba muncul di sebelah kanan Grimm dengan cakar yang kemudian melukai tenggorokannya.


Grimm menyeringai. "Kaupikir aku tak menduganya?"


'BOOMM!'


Eclipse terpental dengan membawa luka bakar di perutnya. Namun, luka itu dengan mudahnya teregenerasi.


"Sudah kuduga dari Naga, takkan bisa kulukai dengan semudah itu!" luka di tenggorokan Grimm juga beregenerasi.


"Kau jadi cukup berisik, ya, setelah mendapatkan kekuatan baru!" Eclipse segera tersinggung mendengarnya.


Eclipse hilang dari pandangan Grimm. Grimm berusaha dengan cepat menemukan lokasi Eclipse dengan matanya. Atas, kanan, kiri ... tak ada tanda-tanda lawannya akan melancarkan serangan. Ketika dia menyadarinya, dia terlambat.


Eclipse mencengkeram kaki Grimm dan mendatangkan petir pada tubuhnya. "Gwaaagghhh!!" erang Grimm. Eclipse tidak berhenti. Ia melanjutkan serangannya dengan sambaran lanjutan yang terpusat pada intinya. Tubuhnya yang hangus, membuatnya tak mampu berkutik. Grimmpun jatuh ke tanah.


"Sudah kuduga, dia tidak mampu membaca aliran mana. Dia hanya mengandalkan panca inderanya," kata Eclipse.


Tapi tiba-tiba....

__ADS_1


Eclipse mendapati dadanya tertusuk tombak milik Grimm dari belakang.


"Guhakk!" Eclipse memuntahkan darah. "Sialan, aku menurunkan pertahananku!"


Eclipse mengeraskan tangan bersisik naga-nya dan memukul bilah tombaknya. Dampaknya, ia jadi terengah sembari menyembuhkan lukanya. Namun sayang, dia tidak diberi kesempatan melakukannya. Kepalanya ditendang ke kiri oleh sosok yang seharusnya hangus. "Sejak kapan dia?!" batinnya. Eclipse tidak membiarkan serangan itu menjatuhkannya. Dia menggunakan ekornya untuk melilit erat Grimm sampai dia bernasib sama dengannya—memuntahkan darah dan patah tulang.


Sayangnya, Grimm terlihat tidak memikirkannya. Dia menggunakan tangan kanan atasnya untuk memakai semburan sihir apinya. Menghindari api itu, Eclipse memakai sayap kirinya sebagai ganti perisai, kemudian memutar ekornya ke bawah untuk melempar Grimm. Selanjutnya, ia membuka mulutnya lebar-lebar untuk mengumpulkan seluruh mana alam dan mana-nya di depan mulut. Setelah besarnya mencapai sebesar bola kaki, ia menembakkannya.


Ketika dia memastikan Grimm terkena serangannya, dia mengangkat sedikit kepalanya sehingga menyebabkan tanah yang lagi-lagi terbelah. "Sialan, inti-nya ternyata dilndungi dengan semacam medan penghalang! Jika terus begini, aku yang akan kehabisan kekuatan duluan!"


Grimm terbang lagi ke langit dengan penampilannya yang bobrok tetapi perlahan pulih. "Ada apa...? Kau kehabisan cara untuk mengalahkanku...?" ia menyeringai.


......................


Sementara itu, disaat yang sama, air terjun yang terbelah dua, menandaskan air dari bebatuannya. Dari balik air terjun itu, sebuah bangunan layaknya rumah abad pertengahan dengan corong di atapnya. Rumah itu melebar dan panjang. Meski penampilannya rumah abad pertengahan, kondisinya tetap terawat dan tidak pernah rusak.


Luna, Siren, Axel, Myra, pasukan Crescent Void, dan Minos sang Minotaurus, memasuki rumah itu. Dalam perjalanannya, Pasukan Crescent Void mendapati masih ada banyak makhluk sihir lain, yang penampilannya membuat mata mereka terpaku, yang mendiami ruang bawah tanah unik ini.


Ketika mereka memasuki rumahnya, mereka sudah disambut dengan perapian yang sudah menyala dengan api hijau dan biru, serta alat-alat tempa yang sedang dipersiapkan para Half Elf dan Dwarf. Mereka juga terpukau melihatnya.


"Selain para Bocah Tengik ini, tunggulah di luar. Kalian takkan mampu menahan pengap-nya ruangan. Roh yang Agung, ketika saatnya tiba, kami akan memanggil!" seru Axel.


Mereka yang disebut mengangguk lalu keluar.


"Nah, pertama-tama, jelaskan pada kami seperti apa sihir yang sering kalian gunakan dan atribut apa yang kalian miliki."


Penjelasan merinci dari masing-masing anggota akan mempengaruhi senjata yang akan ditempa. Penjelasan mereka memakan waktu lima belas menit, hingga akhirnya Axel berteriak untuk melepas segelnya.


"Sudah saatnya, kah?" gumam Myra. Kemudian, Myra mengambil kalung yang ada dibalik pakaiannya, lalu merapal. "Aku adalah keturunan dari Naga Perang Orsted dan Naga Penempa Schrutz. Dengan namaku Myra, bersama dengan berkah kepandaian Schrutz dan ilmu dari Orsted, aku bersumpah melepas segel kekuatanku untuk menumpas bencana dunia!"


Tubuh Myra bersinar perak. Semua yang mendengar rapalan Myra tidak menyangka identitasnya yang sebenarnya. Cahaya perak itu menyilaukan semua orang. Ketika mata mereka telah beradaptasi kembali, mereka mendapati Naga raksasa yang melingkari rumah abad pertengahan itu. Tubuhnya berbulu lebat. Dua tanduknya tipis di bagian kepala.


"Kaubisa memulainya, Axel!"


"Baiklah, ayo kita lakukan ini, saudara-saudaraku!!" pekik Axel.


"YAAA!!" jawaban dari Dwarf lain tak kalah semangat. Axel dan para Dwarfpun mulai menempa.

__ADS_1


"Aku ... bersyukur lolos ke Crescent Void," ujar Marcus. Anggota lain juga satu suara dengannya.


__ADS_2