Zeeta Dan Dunia Sihir

Zeeta Dan Dunia Sihir
Kehancuran


__ADS_3

Rhongomyniad adalah Tombak Suci yang terletak di Ujung Dunia, dimana desa yang terletak di dekatnya memiliki peran penting supaya Zeeta, sebagai calon pemakainya, benar-benar bisa menggunakan tombak itu. Namun, penduduk desa itu sudah lenyap dari eksistensi karena Belle Vianna de Aurora atau yang juga dikenal dengan Penjaga Tanah Kematian.


Menurut ingatan yang dilihat Zeeta dan Luna melalui perantara Karim, Rhongomyniad berasal dari darah Ars yang dikebumikan Gala di Ujung Dunia tersebut. Ujung Dunia sendiri, pada tiga ribu tahun yang lalu, merupakan tempat yang dijaga oleh dua makhluk, Roh Kuno Api Ifrit dan Naga Eldtönn. Tetapi saat ini, di tepi tebing Ujung Dunia tersebut ada seorang gadis berambut hitam panjang dan bermata biru. Ia duduk sambil menggoyangkan kedua kakinya ke depan dan belakang.


"Mmhm." Mata Gadis itu berkilau memandangi Bumi yang sedang luluh lantak dari berbagai sisi. Dari sisi barat ada Aurora yang sedang bertarung melawan Fenrir dan kelompoknya, bersama dengan bantuan Snjór sang Pemimpin Raksasa Badai Salju beserta prajuritnya. Dari sisi timur ada Seiryuu yang berhadapan dengan Raksasa Vulkan dan Surtr. Untungnya, kekurangan pasukan di kekaisaran itu dibantu oleh kehadiran Cynthia Arseld Orsfangr, Putri Kedua dari Kerajaan Bawah Laut Orsfangr. Berbelok sedikit ke arah timur laut, ada Nebula yang sedang diujung tanduk oleh Jormundgand. Dari Si Gadis duduk saat ini, ukuran Raksasa Ular Mimpi Buruk—Jormungand—terlihat dengan jelas. "Semuanya sedang BENAR-BENAR bersemangat demi tujuannya. Dan kini...." Ia berdiri dan mengangkat tangan kirinya. Sebuah sihir kegelapan hendak diwujudkannya.


Zeeta datang tidak lama setelahnya. Rambut perannya tampak mencolok di tanah tanpa warna itu. Dadanya berkembang-kempis cepat. "Kau...!" dirinya segera bersiaga memakai Catastrophe Seal.


Gadis Berambut Hitam itu, Zeeta Alter, menyeringai. "Ini hadiahku." Ia mewujudkan sihir kegelapannya dengan bentuk bilah tombak yang cukup besar. Sihir tersebut bahkan diselimuti arus petir dengan warna serupa, ungu gelap.


'FWISHH!!'


Alter menembaknya bukan ke arah Zeeta, tetapi jauh ke arah utaranya. Zeeta yang sudah beraba-aba, kaget. Ke mana arah yang ditembaknya? Saat ia sadar....


"Bajingan!" Zeeta segera mewujudkan sabit emas dan hendak menebasnya secepat mungkin, namun ia terlambat. Area yang diincar meledak besar, bahkan mengguncang Bumi. Pertempuran terhenti sesaat untuk melihat sumber ledakan. Para rekan Zeeta terperangah, sementara lawan-lawannya buntu apa yang terjadi.


Ledakan seperti setengah lingkaran yang terus melebar itu bertahan hingga beberapa belas detik, sampai diakhiri oleh kepulan asap serupa dengan pohon. Hal tersebut membekukan para Elf yang sedang ditengah-tengah pertarungannya. Mereka tahu betul bahwa di arah ledakan itu tersimpan sesuatu yang sudah mereka perjuangkan selama ratusan tahun. Tidak hanya untuk Elf saja, demikian pula Manusia, apa lagi Gerda. Dia yang sedang memulihkan tenaganya di balik tembok hancur Aurora, bergetar hebat. "TITANIA!!!"


.


.


.


.


"Aku paham betul jalan pikirmu, Zeeta!" jerit Alter dengan seringai yang cukup lebar. "Lagi pula, kau adalah aku, dan aku adalah kau! Kau tidak ingin melibatkan Titania dalam Ragnarok, sebab dia adalah kunci penting setelah kau menghancurkan segalanya!"


Zeeta mencengkeram erat tangannya yang sedang memegang sabit. Langit di atasnya berguntur, tanah pun bergemuruh, kerikil-kerikil di sekitar kakinya melawan gravitasi.


Alter bahagia melihat respon Zeeta, namun tidak diduga keduanya, dari kepulan asap berbentuk pohon sebelumnya, muncul guntur yang serupa dengan yang baru saja Zeeta wujudkan karena amarahnya. Asap itu berkilau kuning, lalu semua yang ada dalam pertempuran dapat melihatnya.


Rangkaian Rune—berbeda dengan Bind Rune yang terdiri dari bermacam Rune yang jadi satu dalam lingkaran besar—muncul melengkung dari sana dan berakhir tepat di atas kepala Alter. Zeeta sendiri kaget dan bingung dengan yang terjadi.


Keduanya tahu apa Rune-Rune itu. Uruz, Thurisaz, Raidho, Hagalaz, dan Nauthiz. Dua dari Rune itu, Raidho dan Thurisaz, diulang beberapa kali.

__ADS_1







'BRWUSHH!!'


Sesuatu ditembakkan dari balik asap itu, lurus menuju rangkaian Rune. Alter menggertak gigi, tidak senang sama sekali.


......................


[Beberapa saat sebelum sihir Alter ditembaknya....]


Bintang memberi penglihatan pada Hitomi tentang Alter yang hendak menembak sihirnya. Tidak memberi aba-aba terhadap apa yang hendak terjadi, Hitomi segera menciptakan kubah transparan yang menutupi seluruh Hutan Elf, dengan cara menepuk tangan dan mengeratkannya. Tidak lebih dari satu detik setelahnya, terjadilah ledakan besar yang memaksa Hitomi mimisan dan mengorbankan tubuhnya sebagai penerima ledakan itu. Tubuhnya perlahan memerah, perlahan menghitam, dan jeritan kencangnya terdengar hingga sepenjuru Hutan Elf. Otomatis, semua penghuninya mengetahui apa yang dilakukan Hitomi. Untuk beberapa belas detik, Hutan Elf ditutupi oleh kegelapan asap.


Setelah dirasa aman, Hitomi melepas tangannya. Xennaville segera menyembuhkan.


"Kumohon."


"Tch, baiklah! Titania!"


Titania yang sejak tadi hinggap di salah satu batang pohon, mengatur napasnya. Ia memegang kalungnya untuk sesaat sambil memejamkan mata. "Ibu ... tolong pinjamkan keberanianmu...." Setelah selesai menggumam, Titania turun.


"Serina," panggil Ozy, "jadilah mata untuknya." Dia kemudian berjalan maju dan mulai menciptakan rangkaian Rune.


Serina lalu menghampiri Titania dan memberikannya sebuah busur panah emas. "Ini adalah harta karun bagi Naga Myra dan Elbrecht. Sebuah senjata tempaan tiga ribu tahun yang lalu, oleh Naga Schrutz agar digunakan ibumu, Jeanne."


Titania menerima busur emas yang terdapat kristal pipih di sekitarnya. Tak ada anak panah, maka ia yakin itu akan berasal dari sihirnya. "Senjata untuk ibu...."


"Kau sudah mengerti semua yang sedang terjadi," lanjut Serina, "target balas dendammu adalah orang itu." Ia menunjuk Xennaville dan Hitomi. "Namun, semua hal itu kuyakin kau akan mendapatkan jawabannya. Saat ini, kau tahu bahwa dia sudah serius tentang ucapannya, maka—"

__ADS_1


"Aku mengerti, Kak Serina." Titania memejamkan mata. "Alam juga sudah mengatakannya padaku." Ia langsung mengeker. Tidak ada yang mengajarinya bagaimana memanah, ia sudah bisa saat itu juga. "Ayo kita balaskan Alter itu dan buktikan kalau ini belumlah seberapa!"


Serina dan Ozy tersenyum. "Rune-nya sudah siap."


Serina lalu mengangguk dan memandu tangan Titania. "Kerahkan tenagamu, Titania!"


"Ya!"


Titania-lah sumber dari kilau dari balik asap. Debu mengelilingi kakinya, sementara tubuhnya dilapisi oleh aura kuning.


Hitomi yang memandangi mereka walau masih kehabisan napas, memegang tangan Xennaville, lalu menunjuk ke arah bidikan yang sama. Xennaville segera mengangguk, kemudian itulah sumber dari gunturnya.


"Semuanya juga! Ikuti aba-abaku!" teriak Serina.


"Ya!!!" jawab para Elf.


......................


Alter menggertak giginya. "Tidakkah kalian mengerti, kehancuran itu adalah keselamatan! Tidak ada lagi jeritan putus asa ataupun permintaan tolong!"


Zeeta terkesiap mendengarnya. Ia diam saja ketika melihat kaki Alter diikat oleh akar yang tiba-tiba muncul dari balik tebing dan segera membantingnya.


'BLARR!!!'


Langit mengguyur Alter dengan tembakan sinar cahaya dari bintang yang sebelumnya mampu memaksa Si Penyu Raksasa, Qyu, sekarat. Sejurus kemudian, serangan dari Titania dan Ozy mendarat pada Alter yang menyebabkan ledakan lebih dahsyat daripada sebelumnya. Zeeta ikut masuk dalam area ledakan, namun tak ada tanda-tanda pergerakan darinya.


Beberapa saat kemudian, lingkaran sihir ber-Bind Rune di langit hilang, tidak, lebih tepatnya berubah menjadi satu titik saja. Kendati demikian, itu terus melebar hingga mencakup seluruh area pertarungan. Itu memaksa mereka sekali lagi menghentikan segala aktivitas peperangan. Semuanya merasa tegang dengan apa yang akan dikeluarkan dari lingkaran sihir itu. Dan itu adalah....


'DBUMM!!'


'ZRASHTTT!!'


Gravitasi berat menghantam semua yang ada di bawah lingkaran sihir. Ia memaksa semuanya tunduk mencium tanah, bahkan Jormungand sekalipun terpelanting. Sayangnya, bagi Manusia yang tidak mampu menahan beratnya, semua segera berubah seperti cipratan darah. Tak ada yang tersisa, walaupun itu adalah zirah sekalipun. Kendati ada, itu sudah menjadi barang gepeng.


Penglihatan masa depan Zeeta terwujud. Itulah sebabnya mengapa dia terpaku di tempat. Kendati ia bergerak, mustahil dirinya bisa menyelamatkan semuanya secara merata. Bersihir? Sudah terlambat. Alter sengaja tak bergerak di tempat karena sudah mengetahui hal itu akan terjadi padanya sejak sebelum ia datang ke hadapannya. Ia memakai tubuhnya sendiri sebagai katalis agar sihir gravitasi itu aktif dengan daya yang besar seperti itu. Semakin hancur tubuhnya, maka semakin berat pula gravitasi yang diberikan.

__ADS_1


Zeeta tahu. Zeeta memahaminya. Dia paling takut dengan jalan pikirnya yang seperti itu. Jalan pikir yang "pandai berimajinasi" itu sudah menjadi kebiasaannya sejak kecil. "Maaf.... Maaf.... Maafkan aku karena tak bisa menyelamatkan kalian...."


Luna yang ada di bahu Zeeta sejak tadi mulai bersuara. Tidak biasanya dia menggeram dan ikut meneteskan air matanya. "ALTEEERR!!!!"


__ADS_2