Zeeta Dan Dunia Sihir

Zeeta Dan Dunia Sihir
Tirta Amarta 3


__ADS_3

‘Tuk ... tuk ... tuk’


Suara langkah kaki terdengar samar oleh Jourgan. Matanya yang telah terpejam dan merasa sudah pasrah dengan apa yang akan terjadi pada tubuhnya selanjutnya, tak mampu lagi ia buka agar bisa mengetahui siapa yang menghampirinya.


“Yggdrasil adalah pohon yang menghidupi semua makhluk di Bumi ini, bahkan Phantasmal sekalipun—yang arti keberadaannya saja tidak pasti. Mereka terlahir dari keinginan-keinginan kuat makhluk lain; ada yang terlahir dengan ego, ada pula yang tidak.


“Kendati Yggdrasil sudah terpecah belah menjadi ribuan Roh, kami tetap memiliki tujuan yang sama, meskipun kesadaran kami berbeda-beda.


“Dengan demikian, sumpahmu, dua adikmu, serta Tetua yang kalian agung-agungkan itu, sudah kuketahui, sama dengan dua Roh Yggdrasil yang lain. Apa yang hendak kulakukan ini tak bisa lagi kulakukan bila kami sudah menjadi satu kembali, namun ini harus kulakukan untuk menghindari hal yang terburuk.”


.


.


.


.


“Siapa sebenarnya wanita yang sudah tahu kondisiku seperti ini, namun tak memperkenalkan dirinya? Aku ini sedang tak bisa merasakan mana, tahu!


“Tapi ... aku punya dugaan....”


.


.


.


.


Xennaville merapatkan kedua kakinya, kemudian meregangkan kedua tangannya, setelah itu mendongakkan kepala. Tubuhnya perlahan bercahaya kuning kehijauan. Dari bawah kakinya, muncul akar-akar yang kemudian menjalar dan merekatkan diri pada hampir seluruh tubuh Jourgan dan Danny. Perlahan-lahan, tubuh kedua makhluk tersebut ikut bercahaya dengan sinar yang sama.


“Sisanya, kuserahkan padamu, Penakluk Penguasa Lautan.”


......................


“Aku sudah tahu apa yang harus kulakukan karena bantuan Undine yang Agung. Untuk menjawab kepercayaannya padaku, aku harus bisa melakukan ini! Tunjukkan kemampuanmu, Cynthia!”


Cynthia yang masih berada di atas pusaran airnya, mengurangi intensitas dan ketebalan pusaran di bawah lutut hingga setipis kakinya saja. Bila dipandang secara kasat mata, sekarang Cynthia seperti berdiri di atas tebing tipis yang bisa jatuh kapan saja dibawah terangnya bulan.


Setelah itu, dengan trisula yang terus diputar-putar di atas kepalanya, muncullah lingkaran sihir biru besar yang “memanggil” pusaran air lain dari samudera, yang kemudian “bersiaga” untuk melintasinya.


Dengan menggumamkan rapalan, Cynthia siap untuk melepaskan sihir pamungkasnya. “Tirta ialah sukma bagi sarwa amarta di Bumi ini. Tirta ialah suci, tirta ialah agung. Beserta uluran Undine yang Agung, aku, Cynthia Arseld Orsfangr, akan menjadi penengah bagi dua amarta—Jourgan dan Danny—pada salah satu Roh Yggdrasil, Xennaville....”


Cynthia menghentikan putaran pada trisula—dimana posisinya tepat pada bilah ada di atas. Bertepatan dengan terhentinya trisula, air-air yang sudah “bersiaga” sebelumnya, masuk dengan ganasnya—seakan disembur dengan menggunakan selang.


Air-air yang telah melintasi lingkaran sihir birunya, kemudian berubah menjadi hujan deras yang terpusat pada pulau di depannya. Air yang menghujani pulau tersebut tidak hanya membasahi pulaunya saja, namun juga mempercepat tumbuhan di atasnya. Rerumputan juga berubah menjadi ilalang dengan ritme yang cepat. Pepohonan kelapa yang tumbuh di sana, memperbanyak jumlah buahnya—seakan itu menjadi pohon kelapa “mistis” sebab jumlahnya yang tak masuk akal.


Hal yang serupa terjadi pada Danny dan Jourgan. Tubuh rusak Danny perlahan-lahan kembali seperti biasa, rambutnya juga perlahan sedikit memanjang. Pun dengan Jourgan. Ia bisa merasakan sakit dan betapa dirinya tak berdaya, mulai bisa bergerak sedikit demi sedikit. Secara bertahap pula, matanya bisa dibuka—dan akhirnya melihat sendiri apa yang sebenarnya terjadi.


Dalam pandangan Jourgan yang baru saja terbuka, ia melihat pohon yang sangat-sangat besar di bawah sinar mentari yang menembus awan mendung. Di bawah pohon tersebut ada kehidupan-kehidupan tumbuhan lain—dimana dibawah tumbuh-tumbuhan tersebut ada beragam jenis makhluk-makhluk yang hidup.


Merasa pandangannya adalah mimpi, ia memuyu-muyu mata. Dan benar saja, pandangannya segera berubah. Ia melihat Xennaville dengan kostum pelayan klasiknya tengah berdiri siaga di depannya. “Tolong segera bangun jika kau sudah bisa bergerak, kita tak punya banyak waktu.”


“ZEETA!”


Jourgan tersentak sebab pekikan Danny yang amat sangat lantang.


“E-eh...? Apa ini...? Hanya mimpi?” ia menggaruk-garuk kepalanya yang terasa tak biasa. “Aah?! Ra-rambutku?! Se-sejak kapan rambutku jadi menutupi mataku seperti ini!?”

__ADS_1


“Tsk.” Empat urat timbul di pelipis Jourgan. Dirinya tak percaya telah membatin semua maaf pada Manusia di sebelahnya ini. “Aku punya banyak pertanyaan, tetapi jelaskan dahulu apa yang terjadi padaku. Aku seharusnya mati!”


“E-EH?! Benarkah itu, Kak Jour?!”


Jourgan mengacuhkan pertanyaan histeris Danny.


“Berjalan dengan lancar, ya?” suara gadis yang dikenali Jourgan dan Danny terdengar dari langit. Ia adalah Cynthia yang turun perlahan dengan piringan air. Ketika sudah mendarat di tanah, kaki cantik nan panjangnya terpampang jelas—bahkan harus memaksa Danny untuk mengalihkan pandangannya sesaat—karena perbedaannya yang begitu signifikan kala sepasang kaki tersebut dalam bentuk siripnya saat di dalam air.


“Kau ... Cynthia, ‘kan?” Jourgan memastikan.


“Ya. Berkat kalian, aku berhasil mengembalikan sebagian dari kekuatanku. Bagaimana? Aku bukan lagi Adik Kecil, namun sekarang aku adalah Kakak bagi kalian!” Cynthia tersenyum lima jari.


“Berisik! Sekarang bukan waktunya untuk itu, dasar Adik Kecil!”


“Apa, sih?!" Cynthia segera sewot. "Kau hanya lebih tua beberapa tahun dariku, jadi jangan—“


“Ehem-ehem!” dehaman Xennaville menyadarkan dua wanita tersebut.


“Ma-maaf,” ujar keduanya bersamaan.


“Biarkan aku yang menjabarkannya, kau kembalilah kepada Undine!” perintah Xennaville.


“Ba-baik, aku akan cepat!” dengan momentum pada kakinya, Cynthia melontarkan diri dari tanah untuk terjun bebas masuk ke dalam samudera. Dari kejauhan, gerakan renang Cynthia seperti lumba-lumba.


“Sekarang....” Xennaville fokus pada Jourgan dan Danny. “Saat ini, dunia sedang membutuhkan kalian.” Keduanya segera mengernyit begitu dirinya mengatakannya.


“Apa yang terjadi pada Zeeta?” tanya Danny. Ia segera mengerti maksud terselubung Xennaville.


......................


[Sementara itu, di desa dimana Zeeta, Luna, Serina, dan Gerda berada....]


Zeeta tidak pernah bilang pada siapapun, termasuk Luna sekalipun tentang waskita ini, sebab menurutnya, ini tidaklah begitu penting karena ia hanya melihat pemandangan yang “biasa” saja—namun kenyataannya....


“Gerda, di sinilah aku menemukan dirimu yang telah menjadi serpihan abu.” Ucapan Luna tak hanya menghentikan sesaat jantung subjek darinya, namun demikian pula pada Zeeta dan Serina.


“A-apa maksudmu aku telah menjadi abu?!” pekik Gerda.


“Ingatlah lagi,” balas Luna, “begitu kau membuka mata, aku sudah memaksamu untuk menghentikan Nak Elf ini dark pertarungannya dengan Zeeta, bukan?”


Gerda mencoba menata ulang lagi ingatannya. Wajahnya mendadak pucat. “Ta-tapi, siapa yang...?” disaat Gerda melihat sekitar untuk membantunya mengingat-ingat—kala ia melihat pada wajah Zeeta, ia langsung mengingat semuanya.


“A-aku ingat!” seru Gerda, “Zee... Zeeta telah....”


Gerda yang tampak ketakutan, segera menaik-pitamkan Serina yang sempat padam. Ia langsung menjatuhkan Zeeta di tanah dan mencekiknya. “Sudah kuduga, itu kau!”


“Hentikan ini, Kak Serina!” Zeeta yang muak, balas membanting Serina di tanah. “Sudah kujelaskan, itu bukan aku!”


“Tapi, Gerda—“


“Maaf, Serina,” tukas Gerda, “tapi seperti kata—“


‘BWOOOOMM!’


Tiba-tiba saja tanah di bawah Serina dan Zeeta naik bagaikan tebing—membuat keduanya melambung di udara


“Apa yang terjadi?!” Gerda panik, lalu melihat sekitar. Tak butuh waktu lama, dia melihat siapa pelakunya. “Ti-Titania?!”


“Uwaah!” Zeeta terkesiap. “Ada Raksasa yang lebih besar dari Ozy!” ia lalu membantu Serina untuk menstabilkan diri di udara. “Kau baik-baik saja, Kak Serina?”

__ADS_1


Tak berniat mengacuhkan Zeeta, namun Serina hanya terfokus pada sosok di depannya. “Titania... kenapa...?”


“KAU!” pekik Titania, “kaulah yang membunuh Kak Gerda! Aku takkan memaafkanmu!”


‘FWISH!’


Sebuah ayunan dari Raksasa itu berhasil melontarkan Zeeta jauh ke kirinya. Tentu saja Serina juga jadi korban ayunan tersebut.


“Luna, lakukanlah sesuatu!” pinta Gerda.


“Jangan salah paham, aku sudah melakukannya.”


“Eh...?”


“Sebelum kau membuka matamu, aku sudah memindahkan Raksasa itu ke dimensi yang lain. Untung saja hal itu bisa dilakukan cepat, sebab dia sedang tertidur sambil melindungi abumu agar tak tertiup angin.


“Bila dugaanku benar, usai Zeeta—uh—Penguasa Kekelaman itu membakarmu habis, Raksasa itu merasakan apa yang terjadi. Jangan remehkan kepekaan seorang Raksasa terhadap mana—akibat Zeeta mendekat ke sini, dia langsung mengamuk seperti ini.”


“Lalu, kenapa kau malah membawanya ke sini?! Aku tak mengerti!”


Luna melirik Gerda. Tatapannya yang seakan ingin mengucapkan sesuatu yang sulit diungkapkan, menggundahkan hati Gerda.


“Mari kita percayakan Raksasa itu pada mereka dan bicara di tempat lain.” Luna kemudian membuka dimensi lain dengan jemarinya, membawa Gerda masuk.


......................


“Kenapa kau harus membawaku secara pribadi begini, Luna...? Kau berlagak aneh!” seru Gerda. Ia agak menjauh dari Luna.


“Ketika Zeeta sedang disibukkan oleh Nak Elf itu, aku buru-buru ke tempatmu berada melalui arahan Zeeta yang sempat dikatakannya padaku.


“Aneh adalah satu-satunya ungkapan yang kupikirkan. Aku dan Zeeta merupakan pasangan yang seharusnya bisa merasakan mana besar, seperti milik Raksasa tersebut, tetapi saat aku sampai, aku malah melihat Raksasa sedang bertelungkup melindungi sesuatu.


“Padahal dari kejauhan—bahkan dari atas langit—kami tak bisa melihat apapun yang besar seperti itu.


“Kau mengerti apa maksudnya?”


Gerda mengernyit, kemudian menggeleng.


“Ada dua kemungkinan.


“Pertama, Raksasa itu melakukannya secara tidak sadar. Katakan padaku apa yang kauketahui tentang Raksasa itu. Dia sepertinya sangat terpengaruh oleh fakta bahwa dirimu telah sempat mati—untuk yang kedua kalinya.”


Tidak merasa ragu untuk memberitahukannya, Gerda angkat bicara. “Raksasa itu bernama Titania. Dia hanyalah anak kecil—sama seperti anak-anak pada umumnya. Dia memiliki ayah seorang Manusia—begitulah yang dikatakan penduduk desa.”


“Lalu?”


“Ibunya sangat dihormati dan sangat disayangi oleh desa. Dia adalah Raksasa bernama Jeanne. Menurut pemimpin desa sekarang, Jeanne mati di tangan Seiryuu.”


Kala itulah, Luna mengernyit. “Seiryuu...? Jangan-jangan, dia memiliki pakaian yang aneh?”


“I-itu benar! Deskripsi yang diberikan pemimpin desa itu sama seperti yang pernah diceritakan kak Azure!”


Gerda kemudian mendapati ekspresi Luna seakan terganggu. Namun ia tetap tak bisa mengetahui alasannya, sebab setelah itu, Luna berkata, “Aku—tidak—Yggdrasil tahu siapa Jeanne.”


“Benarkah...?”


“Bisa dimengerti kalau dia bisa menghalangi mana dan membatasi penglihatan dalam tingkat yang tinggi, tetapi aku tidak akan menjadikan hal ini bagaikan masalah besar. Yang menjadi masalahnya....


“Adalah kemungkinan keduanya—dimana kedua hal tersebut dilakukan oleh kekuatan Rune yang seharusnya tidak berada di sini.

__ADS_1


“Sungguh, Manusia itu benar-benar sulit dipahami!”


__ADS_2