Zeeta Dan Dunia Sihir

Zeeta Dan Dunia Sihir
Gadis Seiryuu yang Bernasib untuk Mati


__ADS_3

Selepas dialognya dengan Aria dan Hugo, Reina bergegas kembali ke kediamannya, dimana ia bisa lebih fokus dan mengeluarkan kekuatannya secara penuh untuk menuntaskan perintah Tetuanya. Selama perjalanannya, ia ditanya oleh penduduk Elf lain tentang apa yang dibicarakan mereka, tetapi jawaban Reina adalah, “Maaf! Aku tidak memiliki waktu untuk menjawabnya!” lalu tetap berlari.


“Selagi aku berlama-lama di sini, Aurora sedang dalam bahaya kehancurannya,” batin Reina, “memang, saat kami berbincang dengan Tetua, kuyakin tidak hanya aku yang merasakan jika ada kekuatan besar yang benar-benar mampu ******* habis kerajaan itu meski ada beberapa ras kuat lain yang menjadi sekutu mereka. Tidak hanya Zeeta saja, tetapi aku juga harus memberitahu teman-temannya yang lain, termasuk kak Jourgan dan kak Serina!”


Saat Reina sampai ke kediamannya, ia segera duduk di dekat perapian padam, di sebuah kursi yang berbentuk seperti kursi singgsasana dari kayu dengan semacam hiasan berbentuk bola kristal di pojok tengah atas sandarannya, dan di masing-masing penyangga tangan. Ketika ia duduk di situ, bola-bola kristal yang sebelumnya berwarna kelabu pudar, bercahaya hijau terang.


“Aku mohon padamu, Chronos, aku akan mengeluarkan seluruh kekuatanku untuk membantu dunia, melalui orang-orang yang sudah ditakdirkan!”


Melalui pandangan terpejam Reina, ia melihat tiga TKP yang berbeda, dan sepuluh orang yang berbeda, secara berkala, dalam jangka lima sampai sepuluh detik. Dari pandangan-pandangan yang ia tangkap itu, ia putuskan, untuk yang pertama kali ia bantu dengan kekuatan waskita-nya adalah Jourgan.


Reina melihat Jourgan sedang mengacungkan tombaknya pada seorang gadis remaja, membelakangi seorang makhluk sihir bertelinga sirip. Dia juga mendengar percakapan mereka, jadi tanpa memikirkan apapun lagi, Reina langsung “meminta” Chronos untuk memerlihatkannya waskita spesifik, untuk apa yang diinginkan Jourgan saja.


Mengabulkan “permintaannya”, Chronos memberi waskita tentang seekor Naga Kuno yang bisa bersihir layaknya sihir keahlian Elf, yaitu sihir samaran, yang mengubah wujud dirinya menjadi seorang pria tua. Dia adalah Naga bernama Carlou. Dia juga sepertinya melayani Kaisar Zero.


Chronos juga memberi waskita tentang hubungan Carlou dengan gadis yang sedang diujung tombak Jourgan, serta L’arc yang sedang bertempur dengan Danny di atas lautan. Kemudian, tanpa pikir panjang lagi, Reina segera menyampaikan apa yang baru saja dilihatnya itu, melalui telepatinya pada Dark Elf tersebut.


“Tujuan orang-orang Seiryuu itu hanyalah untuk memuaskan hasrat Naga bernama Carlou. Tidak ada alasan baginya untuk merebut Batu Jiwa dari Orsfangr, tapi kemungkinan Naga itu akan kembali lagi, jadi waspadalah!


“L’arc juga tidak bisa kauanggap remeh. Aku tidak melihat bagaimana cara ia bisa dikalahkan dengan waskitaku, tetapi yang ingin kukatakan, bila kau punya kesempatan, kak Jour....


“Sampaikanlah pada Danny, bahwa kerajaan Aurora sedang berperang habis-habisan dan butuh bala bantuan segera!”


......................


Jourgan mengernyit. Dia mendengar semua telepati yang sampai pada otaknya secara langsung. Ia segera kembali fokus pada apa yang sedang terjadi di hadapannya, kemudian bilang, “Hanya untuk melepas kebosanan Tuan Carlou... kah?”


Ucapan Dark Elf itu tentu saja mengejutkan tidak hanya untuk Aira, salah seorang prajurit remaja bawaan Carlou dari Seiryuu, tetapi juga Sang Putri Kedua Kerajaan Bawah Laut, Cynthia Arseld Orsfangr.


“A-apa maksudmu hanya untuk melepas kebosanan, Dark Elf?” tanya Cynthia. Dia juga mencengkeram tangannya kuat-kuat.


“Seperti kata-katanya,” jawab Jourgan singkat.


“Ja-jadi...!” urat kepala Cynthia mulai muncul. “Ibuku mati ... hanya karena kebosanan seekor Naga saja...?!”


“Jadi, kauingin membunuh Manusia ini, Putri?”


“MEMBUNUHNYA?! TENTU SAJA AKU INGIN!” ia memelototi Aira.


Aira tampak takut dengan perubahan mendadak dari tatapan cemas dari Cynthia sebelumnya, menjadi tatapan yang haus darahnya.


“Tidak hanya ibuku, tetapi kalian juga mempermainkan kakanda dan ayundaku, demikian pula pada ayahandaku!


“Katakan padaku sekarang juga, Manusia!


“Apakah kau tidak memiliki keluarga yang kausayangi?! Teman yang kausayangi?! Atau orang yang kausayangi?!”

__ADS_1


Pasir di sekitar kaki Cynthia mulai meleleh—seakan terkena suhu yang amat sangat panas.


“Aku ... punya....” Aira menunduk.


“YA, TENTU SAJA KAUPUNYA! TENTU SAJA!


“Karena jika kau tidak memilikinya, kau tidak akan menangisi dua orang yang sudah DITEMBAK MATI oleh pria bernama L’arc itu, bukan?


“Jadi kenapa ... kenapa hal SEDERHANA seperti itu saja tidak bisa kau mengerti sebelum mempermainkan keluargaku, Sialan!?”


Jourgan segera menciptakan cangkang hijau gelap untuk tubuhnya sendiri, supaya bisa menahan mendidihnya panas yang mulai menyebar kepadanya. Tentu saja, juga pada Aira yang lemas dan tidak mampu berbuat apapun karena SATU persen racun “Pembunuh Raksasa” yang diteteskan Jourgan sebelumnya.


“A-aghhkk!” tubuh Aira perlahan mulai melepuh.


“Makhluk yang tidak bisa menghargai nilai sebuah nyawa sepertimu, untuk apa hidup lebih lama lagi?!”


Jourgan tetap diam, membiarkan Cynthia melepaskan semua uneg-unegnya. Tetapi....


“Dasar bodoh!”


Sebuah suara wanita terdengar kencang dari belakang Jourgan dan Aira. Sementara dari posisi Cynthia, ia segera bisa melihat siapa yang berteriak itu.


“Ayunda Sugar...?!” udara panas yang bahkan mampu melepuhkan seketika kulit Aira, kembali ke suhu sedia kala, Jourgan juga menghancurkan cangkang sihirnya.


Sugar, kakak kedua Cynthia, sudah siuman sejak ia tak sadarkan diri usai wajahnya dipukul oleh Danny karena sempat melukai Jourgan. Dia tampak tidak senang atas perbuatan adiknya. Marah, sedih, seakan menjadi satu. Menanggapi kedatangan Sugar, Jourgan menjauhkan tombak dari Aira, dan menancapkannya di pasir.


“Tapi, Ayunda, Manusia itu sudah mempermainkan Kakanda dan Ayahanda! Aku ... mana bisa aku diam saja!”


“Seperti ucapanmu, Adindaku, Manusia itu juga memiliki orang yang disayanginya, dan dia sudah kehilangannya, bukan? Maka tidak adalah gunanya kau merebut nyawanya pula!”


“Tidak. Tidak ada  gunanya dia hidup lebih lama lagi, Putri Kedua,” sanggah Jourgan, yang segera ditanggapi kaget oleh tiga lainnya.


Sugar mengernyit. “Apa maksudmu ... oh tamu Adindaku...?”


“Manusia ini hanyalah alat bagi Mantan Benih Yggdrasil yang sedang bertarung dengan rekanku. Dia juga hanyalah alat bagi Naga yang membunuh ibu kalian, juga hanyalah alat yang sudah tidak berguna bagi Kekaisarannya.


“Jika dia kembali, nasibnya untuk mati, tidaklah berubah.”


Jourgan, Sugar, dan Cynthia, bisa melihat dengan jelas tatapan keputusasaan Aira begitu mendengar ucapan Si Dark Elf.


“Dengarkan aku, Manusia. Ada sepasang kakak-adik yang gagal seperti kalian, dan mereka bernama Lyuu dan Akira.”


“A... Akira...? Lyuu...?” Aira sepertinya mengenali siapa nama itu.


“Akira sudah gagal dan tewas oleh rekanku,” sambung Jourgan, “namun aku yakin jika Lyuu itu masih akan kembali untuk membalaskan kegagalannya, tetapi seharusnya kautahu apa yang kumaksud, ‘kan?

__ADS_1


“Akira masih bisa diselamatkan, tetapi Naga bernama Carlou itu menolaknya dengan alasan ‘Sampah tidak berguna untuk pulang’.


“Tentu saja, rekanku yang melukai fatal Akira, masih bisa menyelamatkan nyawanya, tetapi ingatlah yang kalian lakukan sekarang ini, sudah termasuk perang.


“Untuk apa menyelamatkan nyawa musuh, yang hendak membumihanguskan sebuah desa?”


Sugar dan Cynthia terdiam seribu bahasa.


“Tuan Putri sekalian.” Jourgan mencabut tombaknya. “Kalian kuakui sangatlah kuat. Tetapi, kalian tidak pernah berperang dengan Manusia yang picik, Naga yang sombong, dan Raksasa yang penuh harga diri, ‘kan?


“Maka kalian tidak bisa seenaknya bersuara tentang kebencian atau kebahagiaan, disaat kalian hanya tahu kedamaian.


“Kami ini juga selalu berperang dengan banyak makhluk sihir lain. Lihatlah sendiri berapa kali nyawaku terancam, dan meninggalkan luka pada tubuhku ini.


“Saat ini juga, selama kita berbicara, belahan dunia lain sedang berperang, dengan dunia sebagai taruhannya. Siapa yang menang, akan menentukan nasibnya.


“Aku, telah menemukan dan berjanji pada seseorang yang mengemban tanggung jawab dunia ini, agar bisa bersama-sama menopangnya.


“Singkatnya....”


‘ZRSHT!’


Jourgan menusuk jantung Aira.


“Bagiku, nyawa Manusia macam mereka, tidaklah ada nilainya. Mau seperti apa kalian memandangku, aku tidak peduli. Tujuanku mengangguk pada Putri Cynthia hanyalah satu, yaitu memastikan keselamatan Batu Jiwa, yang menjadi kunci penting pada peperangan yang sedang berjalan ini.


“Namun, jika yang menghadapi gadis ini adalah Manusia yang sedang bertarung dengan Mantan Benih Yggdrasil di atas lautan ini, mungkin keputusannya akan berbeda.”


.


.


.


.


Dingin.


Tidak berperasaan.


Itulah yang terbesit dalam kepala dua Tuan Putri Orsfangr yang sejak Jourgan bicara, hanya bisa membisu. Mereka pun tidak bisa mengelak, karena semua ucapannya tidak terasa kebohongan. Tatapannya juga. Dia benar-benar menatap benci Manusia yang baru saja dibunuhnya itu.


Namun, batin Cynthia, yang sudah cukup lama berada di sisi Jourgan, memikirkan ini. “Dark Elf itu memanglah sangat membenci Manusia, tetapi dia juga mengetahui ada sisi kehangatan yang dimiliki oleh Manusia itu. Sebelumnya, dia ingin menyiksa dan membunuh perlahan, namun saat aku bertanya tentang orang yang disayang....


“Mungkin saja, Dark Elf itu tidak ingin gadis itu menderita lebih lama dengan sakit yang juga telah kutambahkan padanya....

__ADS_1


“Dark Elf Jourgan... aku tidak bisa membayangkan betapa kejamnya dunia yang telah kauhadapi sebelumnya, namun aku bisa melihat kau mulai melihat harapan dari orang yang telah kaupercaya itu....”


__ADS_2