
Malam ini terlihat sedikit unik sekaligus menakutkan bagi banyak orang yang tidak mengetahui eksistensi orang orang yang mewarisi kekuatan Bulan. Bagaimana tidak, bulan biru yang bersinar terang ditengah gelapnya malam tanpa awan, ditemani jutaan bintang, akan membuat mata siapapun akan berdecak kagum.
Bagi mereka yang memiliki kamera, mereka memfoto bulan, bagi mereka yang tidak memilikinya, menggambar di sebuah buku ataupun lukisan, dan bagi mereka yang memiliki sihir merasakan kekuatan yang kuat terpantul dari cahayanya—meskipun itu dari kalangan rakyat biasa sekalipun.
Sementara bangsawan utama, Naga, Raksasa, Elf, Crescent Void, prajurit kerajaan—termasuk prajurit dari Wilayah-Wilayah, ditambah beberapa ratus orang yang bersedia menjadi pasukan tambahan sedang bertempur bersama Raja dan Ratunya, di Dimensi Lain yang diciptakan Alicia, terdapat beberapa bangsawan, salah satunya adalah anggota Levant, yaitu Agatha, Karim, Lowén, Claudia, Edward, dan Ella.
Di sana, Karim yang rambut ubannya semakin bertambah, tengah duduk di kursi roda, dengan Lowén yang terus menjaganya. Karim yang sebelumnya sudah membangkang dari sumpah turun-temurun Levant yang tidak mengizinkan mereka membantu kerajaan Aurora, KECUALI jika dunia sedang terancam, membuatnya kehilangan seluruh kekuatan sihirnya. Lambang Matahari yang terdapat pada semua keturunan berkekuatan Matahari—Levant—yang tentunya juga terdapat di punggungnya pun sirna.
Edward, yang kini usianya telah menginjak belasan tahun, tepatnya empat belas tahun, tidak terima dengan langkah yang diambil sang kepala keluarga Levant saat ini—yaitu ayahnya sendiri. “Ayah!” bentaknya, “kenapa kita tidak membantu bibi Alicia dan paman Hazell, dan malah ikut mengungsi?! Bukankah saat ini kita memiliki alasan untuk ikut bertarung?!”
“Tenangkanlah pikiranmu, Ed,” jawab Lowén santai.
“Bagaimana kubisa tenang saat semua keluarga kita yang lain ikut mempertaruhkan nyawanya?! Bahkan kak Azure—kakak baru kami—juga tidak takut untuk ikut ke garis depan! Tetapi kita, sebagai keluarga kerajaan malah....” Edward mencengkeram tangannya erat-erat.
Melihat Edward masih bersikeras pada pemikirannya sendiri, Lowénpun memerintah. “Ibu, Chloe, tolong tinggalkan kami bertiga sendiri.”
Tidak meragukan keputusan kepala keluarga mereka itu, Chloe membawa kursi roda Karim. Namun, sebelum mereka benar-benar menjauh, Karim berpesan, “Jangan terlalu keras pada anakmu, Lowén.”
“Aku paham. Percayakan saja padaku.”
Tatkala ketiganya bergabung dengan ribuan pengungsi lain, Lowén langsung berdiri tegap di depan Edward, menyilangkan tangan, dan sedikit melebarkan kakinya. “Lihatlah sekitarmu, Edward Levant.”
Begitu Edward melihat sekitarnya, ia tak mendapati keanehan apapun, selain melihat langit luas berwarna-warni dengan gemerlap menyerupai bintang. Sama juga dengan tanahnya. Lantas, iapun bertanya. “Memangnya ada apa?”
“Ella, bagaimana menurutmu?”
“Dimensi ini tidak memiliki celah, Papa,” jawab Ella.
“Ed, setelah mendengar itu, coba peras lagi kemungkinan apa yang bisa terjadi. Aku ingin kau menjawab sejujurnya.”
Edward melihat ke arah langit sambil benar-benar memikirkannya. Dengan semua informasi-informasi yang telah ia dapat selama ini, akhirnya ia terbelalak. “Bahkan dimensi tanpa celah ini pun ... bisa saja hancur?!”
Lowén tersenyum. “Kita pun memiliki peran di sini. Garis depan bukanlah satu-satunya tempat penting dalam pertempuran.
“Aku mengerti perasaanmu yang ingin unjuk gigi atas kemampuanmu mengendalikan kekuatan Matahari, tapi kita harus berjaga dengan kekuatan penuh, apabila, dalam kemungkinan terburuk, dua benteng terakhir kita, yaitu Alicia dan Hazell, tumbang.
“Lawan kita kali ini sangatlah berbeda, jadi kau tidak boleh sembarangan mengambil tindakan.”
Edward kemudian mengambil posisi sigap, kemudian menunduk setengah badan sambil tangan kanan dirapatkan dan ditempel pada dada kiri. Ia lalu menarik kaki kirinya sedikit ke belakang dan menekuknya. Dia bilang, “Maafkan aku atas kebodohanku, Ayah.”
“Tidak apa.
“Selain itu, daripada mencemaskan kita, aku lebih mencemaskan kakak-kakak kalian, Azure dan Zeeta.”
“Eh? Kenapa?” tanya Edward dan Ella bersamaan—meski tidak direncanakan.
“Tidak. Sebaiknya kalian tidak mengetahuinya.
__ADS_1
“Ayo, kita ikut bergabung bersama mereka.”
Edward menatap Ella. Ella membalas tatapan Edward, tetapi ia mengangkat bahunya. Setelah itu mereka segera menyusul ayahnya.
......................
Hazell dan Alicia yang turun duluan ke garis depan pertempuran—beberapa ratus meter dari benteng terluar Aurora, segera mengerutkan kening. “Ini bahaya sekali,” ujar Alicia.
“Sekitar satu banding seratus, ya?” tanya Hazell.
Alicia dan Hazell berhadapan dengan pasukan yang tersusun rapi—dari yang terkecil hingga paling besar, yaitu Raksasa dan Naga, di barisan paling belakang. Jika di-zoom out, yang paling banyak dimiliki musuh adalah Hollow berukuran kecil, berukuran sebanding dengan Hell Hydra sekitar ratusan, tiga ekor Naga, dan dua Raksasa.
“ITU BENAR SEKALI!”
Keduanya tiba-tiba mendengar suara pria yang begitu semangat. Saat mereka melihat ke arah sumber suaranya....
Mereka mendapati seorang lelaki berambut gimbal dengan pakaian kuno—semacam kaus yang diselendangi sebuah kain dan celana panjang abu-abu. Rambut gimbalnya itu memanjang hingga tengkuknya. Matanya berwarna cokelat dan dia berkulit gelap.
“Jadi kau...,” gumam Alicia, yang menebak-nebak.
“Akhirnya... akhirnya saat-saat yang telah kutunggu ribuan tahun, sudah tiba! Akan kupastikan kalian—Aurora—akan hancur oleh tanganku!” seru Lelaki itu.
“Sepertinya hanya karena kami kalah jumlah, kau benar-benar sudah meremehkan kami,” balas Alicia, “jika informasi yang kuterima tentangmu benar, maka tidakkah keberatan jika setidaknya kau perkenalkan dirimu, oh Lelaki Tiga Ribu Tahun?”
“Tidak ada gunanya memperkenalkan diri untuk orang-orang yang takkan lama lagi akan mati.”
“Tapi, sebagai rasa sanjungku karena kalian tidak kabur meskipun tahu kalian tidak memiliki kesempatan untuk menang, akan kuberitahu namaku. Keenai.”
“Baiklah, kalau begitu, Keenai, sebelum kumulai mempertahankan negeriku ini bersama suamiku, biarkan aku memastikan satu hal. Apakah kau yang benar-benar merubah Phantasmal dan makhluk sihir menjadi Hollow?”
Keenai menyeringai. “Apakah kau butuh bukti?”
“Tidak. Sebenarnya aku sudah merasakan betapa jahatnya mana-mu, tapi ....” Alicia meledakkan mana-nya, hingga menyebabkan angin kencang menghempas bersama dengan debu dan tanah.
Meresponnya, Keenai mengerutkan keningnya. Ia tidak senang sama sekali.
“Aku juga memastikan ucapan putriku sendiri. Ayo kita mulai, Sayang!”
Tidak berubah dari posisinya berdiri, Alicia mengangkat kedua tangannya. Disaat yang sama, tanah dibawah beberapa ratus Hollow berukuran kecil—seukuran manusia dewasa—retak melebar dan bercabang.
Melanjutkan serangan Alicia, Hazell yang merapatkan kaki, ikut mengangkat kedua tangannya. Sebagai jawaban dari angkatan tangannya itu, api menyembur dari bawah retakannya.
“HAH!” Keenai merendahkan. “Kalian pikir serangan itu bisa melukai Hollow-ku?!”
Hazell dan Alicia menyeringai. Sontak saja Keenai merasa terganggu dengannya.
“Lihatlah lebih jeli lagi!” seru Alicia.
__ADS_1
Saat Keenai melakukannya, ia terkejut melihat beberapa Hollow yang terkena serpihan api sedikit saja, malah terbakar seutuhnya. Ditambah, ringis kesakitan mereka juga menambah concern-nya.
Kenapa? Kenapa ini bisa terjadi?
Di wajahnya terlihat sekali pertanyaan yang ada di dalam benaknya.
“Jika lawan kami bukanlah Hollow berukuran sedang, Naga, dan Raksasa seperti di belakangmu itu, kekuatan kami pun masih bisa menghancurkan mereka. Jangan bilang kau lupa tentang sejarah Aurora dan Levant.”
Keenai merasa baru teringat sesuatu. Ia mencengkeram tangannya erat-erat. “Dasar kekuatan-kekuatan yang merepotkan!!”
“Ara ara.” Suara seorang gadis datang dari langit. Ketiganya langsung mendongak ke atas. Mereka mendapati gadis berambut hitam dan memakai topeng. Ia memakai sihir terbang. “Jangan buat aku kecewa hanya karena kau salah perhitungan, Keenai.”
Keenai tidak merasa mengenal gadis itu. “Siapa kau?!”
“Astaga. Kau lupa akan kedatanganku ribuan tahun lalu?”
Keenai langsung terbelalak. “Ka-kau…?!”
“Sepertinya kau sudah ingat. Tapi, mengesampingkan hal itu, aku tak bisa menyalahkanmu lebih jauh karena lawan pertamamu adalah mereka berdua. Jadi, akan kuberi kau sediiikit bantuan.”
“Khhh.... Aku bisa melakukan ini sendirian!”
“Ayolah, jangan sombong diri begitu. Yang memberimu sihir kegelapan, siapa lagi kalau bukan aku? Ingatlah. Kau itu bukanlah siapa-siapa, Keenai. Kau sudah datang sejauh ini untuk membalaskan semua yang telah dilakukan Matahari dan Bulan padamu, bukan?
“Jangan biarkan kesempatanmu gagal karena kau terlalu keras kepala.”
“Cih. Baiklah. Tapi setelah itu, biarkan aku yang melakukannya sendiri!”
“Tentu saja, tentu saja. Aku pun datang ke sini, bukan untuk mengganggumu.” Si Gadis bertopeng turun perlahan ke tanah. Dia kemudian menjentikkan jemari kirinya—yang langsung memadamkan api Hazell.
“A-apa?!” Hazell kaget melihatnya.
“Siapa dirimu sebenarnya...?” tanya Alicia. Ia menggenggam tangan Hazell.
“Fufu. Waktulah yang akan menjawabmu.” Si Gadis bersiaga untuk menyentil dengan jari tengah dan jempol kanannya.
Merasakan betapa bahayanya serangan yang akan dilancarkan lawan, Hazell segera memunggungi Alicia.
‘BWOOAAAMMMM!!!’
Tanah seakan terbelah, menargetkan Alicia dan Hazell.
‘DDUUAAAMMM!’
Benteng terluar seketika hancur lebur membawa masuk tanah yang terbelah itu.
Melihat adanya ledakan besar itu, para pasukan tambahan mulai was-was. Sementara itu, Colette dan Lloyd terbelalak. Mereka tampak takut juga. Keduanya paham sejentik mana kecil yang dipakai barusan, siapa pemiliknya, sebab mereka pernah melihatnya dengan mata kepalanya sendiri....
__ADS_1