Zeeta Dan Dunia Sihir

Zeeta Dan Dunia Sihir
Manusia dan Makhluk Sihir yang Bentrok


__ADS_3

"Kau sudah kalah, Zeeta. Segera pergilah dari sini! Nikmati rasa keputusasaanmu di luar sana," usir Si Pria Tua berambut merah dan berponi panjang perak. Ia beranjak menjauh dari Zeeta, sementara dirinya sendiri mematung.


Suara langkah kaki terdengar mendekat ke arah Si Pria Tua dari telinga Zeeta. Ia masih tak mengira bahwa dirinya—yang memiliki kekuatan Catastrophe Seal—bisa dikalahkan begitu saja. Ia tak tahu harus apa, pandangannya pun gelap. Sementara ia membatu, telinganya mendengar suara langkah kaki itu tiba-tiba seperti menghancurkan tanah, namun ia masih tidak bereaksi.


Ia benar-benar bereaksi setelah menyaksikan tubuh Si Pria Tua itu terhempas tepat di hadapan mata dan memaksanya mengalami hal yang serupa seperti Zeeta beberapa saat yang lalu.


"Takkan kumaafkan!" pekik suara itu, yang ternyata berasal dari Ashley. Tubuhnya memerah, darahnya naik hingga ujung kepala, urat-uratnya pun nampak jelas. Ia terselimuti oleh aura merah kejinggaan yang tinggi. "Seenaknya saja membuat perjanjian, seenaknya melukai Zeeta, dan seenaknya saja memutuskan....


"Aku tak tahu siapa identitasmu, tapi tindakanmu— Axel dan Myra—kalian telah melewati batas!"


Pria Tua itu tersenyum, lalu membebaskan diri dari tebing seolah tak terjadi apa-apa. Ia kemudian melemaskan lehernya setelah menerima pukulan telak yang membuat kepalanya seperti sendok yang bengkok.


"Itu bukanlah sihir...," batin Ashley, setelah melihat leher lawannya kembali seperti semula.


"Silakan saja serang aku sesukamu, tapi apapun pendapatmu, tetap saja takkan berpengaruh bagiku," balas Si Lawan, "mau bagaimanapun, Manusia takkan bisa menang melawanku."


Urat kepala Ashley semakin membesar setelah mendengarnya. "Ho...?" ia melemaskan tangan, leher, serta punggungnya. "Zee, menjauhlah. Lihatlah Gurumu dalam mode seriusnya!"


Zeeta merasa teryakinkan tetapi tubuhnya menolak untuk bergerak. "Ta-tapi... aku tidak bisa...."


"Oh, benar." Ashley menjentikkan jemarinya. Sebuah botol berisi debu sihir berwarna merah datang padanya, lalu itu dilempar pada Zeeta. "Taburkan dari atas kepala, itu akan cukup untuk membuatmu bergerak."


......................


Setelah Zeeta menjauh dan Ashley sudah berhadapan langsung dengan lawannya, ia mengatakan satu hal padanya. "Sepertinya kautahu Alicia ... atau bahkan Hazell. Aku baru ingat, semua makhluk sihir yang ada di belakangku itu BUKANLAH buatan Alicia, melainkan Phantasmal."


"Lalu? Apa yang mau kaukatakan?" tanya Pria Tua.


"Aku takkan segan memakai dua jenis kekuatanku sekaligus, jadi jangan salahkan aku bila kau terbunuh secara tak sengaja...."


Kini, urat kepala Si Pria Tua itu yang membesar. "Oh... berani-beraninya kau yang hanya seorang Manusia menantangku seperti itu.... Baiklah, akan kuladeni kau!"

__ADS_1


[Sementara itu, di waktu yang sama, di Hutan Peri....]


Ratu Peri Feline melihat di mana Zeeta berada saat ini dari sebuah bola kristal. Namun, bola itu tampak buram dan dia merasa tidak senang sama sekali. "Zeeta ... seharusnya kau menjadi anak bodoh yang hanya menuruti apa kata Peri seperti yang sudah terjadi pada leluhurmu... jika begini terus, mau tidak mau aku harus mengotori tanganku!


"Kenapa semua Aurora—sejak keturunannya yang ke sepuluh selalu memiliki cara untuk terhindar dari ramalanku?!


"Rencanaku demi dunia...! Rencanaku demi dunia yang indah seperti yang diinginkan Raksasa itu! Kenapa harus sekarang poros waktunya mulai benar-benar berubah?!


"Jika itu mau kalian... baiklah! Rasakanlah sendiri bagaimana kekuatan dari Peri!"


......................


Ashley berlari mendekat ke lawannya, sedangkan sang lawan sendiri tetap diam sambil membuka telapak tangan kirinya lebar-lebar. Setiap jarak Ashley semakin dekat dengannya, tampak kuku-kukunya memanjang sedikit demi sedikit. Ia hendak mencabik Ashley seketika dia ada dalam jarak cakarnya. Namun, Ashley tidaklah senaif itu. Dia mempercepat kecepatan larinya dengan aura di tubuhnya sehingga terlihat menghilang.


"Ap—?!" mata pria itu segera meneliti ke mana Ashley pergi. "Mana-nya tak bisa kurasakan!"


Ashley tiba-tiba muncul di belakang Si Pria itu lalu mencekik pergelangan tangan kirinya dan membantingnya ke tanah. Tidak berhenti, ia kemudian menarik tangan kanan itu ke belakang tubuhnya hingga terdengar suara tulang yang patah. Erangan keras tentu terdengar dari mulut Si Pria.


"Asal kautahu, jika Rowing tidak dalam kondisi terkutuk dan akan segera dieksekusi, akupun tak segan melakukan hal ini pada mereka. Jangan pikir hanya karena kami Manusia, kami tidak bisa mempertahankan diri dari kekejaman dunia sihir."


"JANGAN SOMBONG DULU!" teriak Pria itu lalu menyerang Ashley dengan ekor yang muncul tiba-tiba. Tetapi, dia gagal sebab Ashley melompat lebih cepat dari ayunan ekornya. Ia mundur beberapa langkah.


"Kau berhasil menangkis Catastrophe Seal karena kau sudah bersiap dengan perisai tak terlihat. Bahkan dengan perisai itu saja, kau tak mampu menangkis semua serangannya, makanya kau keluarkan sayap dan ekor itu.


"Kau begitu percaya diri dengan menungguku menyerangmu karena kau juga sudah siap dengan perisai itu. Tapi ... aku punya kekuatan yang mampu merasakan keanehan di sekitarku jika aku benar-benar serius."


Pria Tua itu bangun dari tanah. "Kau benar-benar sudah meremehkanku, Manusia...." Ia mengembalikan letak tulang lengan kanan dan pergelangan tangannya yang retak, lalu membuat tangan itu besar seperti saat melawan Zeeta. Kemudian, ia memosisikan kedua tangannya di hadapan dadanya dan memunculkan bola hitam yang terlihat berlapiskan aliran listrik hitam keunguan.


"Ho?" Ashley tersenyum kecut. Ia juga beraba-aba untuk menangkis serangan yang akan dilancarkan musuhnya.


Disaat yang sama, Zeeta kehilangan fokusnya. Pandangannya kosong, meski di hadapannya ada pertarungan yang tidak bisa diacuhkan.

__ADS_1


"Bergeraklah, Nak, mereka dalam bahaya." Zeeta melihat sebuah siluet berambut panjang. "Kaubisa melakukannya. Kami yakin padamu."


Kemudian, siluet itu hilang begitu saja. Zeeta sama sekali tidak paham apa yang baru saja ia lihat, tapi ia tahu apa yang harus segera dilaksanakannya. Ia langsung memakai teleportasi untuk meninggalkan "permukiman bawah tanah" itu dan kembali ke daratan.


Orang-orang terkejut ketika melihat kedatangan Zeeta yang begitu tiba-tiba, dan tanpa menggubris pertanyaan ada apa Zeeta tampak terburu-buru, mereka hanya bisa terpatung dan melihat Tuan Putri mereka terbang di langit.


Anting bulannya bersinar biru, tubuhnya juga diselimuti aura biru berlapis putih. Setelah itu, ia melapisi seluruh kerajaannya dengan medan pelindung biru dengan meregangkan tangan ke atas. Albert, Willmurd, Hellenia, dan bangsawan utama lain yang melihat medan pelindung yang tak asing ini segera panik. Mereka tergesa-gesa keluar dari kediaman mereka dan menyusul di mana Zeeta berada. Begitu juga dengan Claudia.


"A-ada apa Tuan Putri tiba-tiba...?" tanya penduduk A.


"Apa jangan-jangan...?" tanya penduduk B.


"Li-lihat!" penduduk C menunjuk ke luar pelindung, yang terdapat bola merah kecil sedang mendekat.


Ketika bola merah itu menyentuh medan pelindung Zeeta, bolanya mendadak membesar puluhan kali lipat dan memancarkan panas yang tidak main-main. Semua penduduk mengerang panas serta panik dengan serangan dadakan ini, dan membuat Zeeta merasa bersalah. "Karena serangan ini... aku tak punya cukup waktu untuk memberi ruang aman untuk mereka...," batinnya, "tidak, aku harus segera mengatasi serangan ini dengan cepat. Tapi ... bagaimana...?"


"Tuan Putri!" beberapa suara memanggil Zeeta. Ketika ia menoleh, ia mendapati bangsawan utamanya, termasuk Rey Emeria datang. "Kami akan membantu," ujar Albert, "Anda fokus saja pada medan pelindungnya!"


"U-uhm! Terima kasih!" balas Zeeta.


Semua bangsawan utama yang hadir di sana, kecuali Porte, mengeluarkan Buku Sihir mereka. Diawali dari Hellenia yang membuat medan pelindung lagi di bawahnya untuk seluruh kerajaan untuk mengembalikan udara seperti semula, disusul oleh Willmurd yang berkuda-kuda dengan pedang rapier-nya. Ia merubah wujud pedang itu menjadi light saber panjang, kemudian menebas bola merah itu tanpa memberi efek pada medan sihir Zeeta, namun justru sihir pedangnya yang hancur.


Saat giliran Rey tiba, dengan sihir permatanya, ia mengeluarkan banyak permata lalu membesarkannya sebesar pilar lalu menerjang bola merah itu agar menjauh. Itu bekerja namun tidak terlalu efektif, tetapi ia terus melakukannya.


"Heeeii!" teriak Orchid yang menyusul, "jangan tinggalkan aku begitu saja dong, Rey! Hati ini terluka tahu...." Ia kemudian membuka Buku Sihir-nya, kemudian menjulurkan akar-akar yang ditumbuhkan dedaunan dari bukunya untuk melemahkan bola merah itu. Kini, serangan mereka tampak membuahkan hasil. Bola merah itu berhasil dijauhkan dan terlihat mengecil.


"Huhuhum~ inilah yang terjadi jika Tuan Orchid ada bersama kaaalian!" Orchid memasang berpose sambil mengedipkan sebelah mata.


Namun....


Semua mata bangsawan utama mendadak terbelalak dan panik ketika Zeeta tiba-tiba berlumuran darah dan jatuh ke daratan perlahan-lahan. Medan penghalangnya hancur dan tak ada lagi yang bisa melindungi kerajaan.

__ADS_1


__ADS_2