Zeeta Dan Dunia Sihir

Zeeta Dan Dunia Sihir
Ingatan Manis Hellenia (1/2)


__ADS_3

Wilayah Barat, wilayah kekuasaan sang Marchioness, Hellenia von Cloxzar. Dengan wewenang kekuasaan berada dibawah Grand Duchess, membuat Hellen merupakan bangsawan yang sangat sibuk, bahkan untuk mencari pasangan hidup saja ia tak sempat. Meskipun begitu, ia sangat tahu, bahwa pujaan hatinya tak pernah berubah sejak lima belas tahun yang lalu.


Tidak, ini bukan karena dia tidak ingin menikah, menolak pernikahan politik, atau alasan yang sejenis itu. Dalam kerajaan Aurora, seorang kepala keluarga bangsawan, terutama bangsawan utama, berhak penuh atas siapa pendamping hidupnya. Alasannya, adalah demi mempertahankan nama baik serta keberlanjutan marga bangsawan tersebut.


Oleh karena itu, bangsawan dibawah Marchioness, seperti Count dan lain-lainnya, kepala keluarganya bukanlah wanita meski kerajaan ini matrinial.


Mereka bahkan diberi izin tentang pihak siapakah yang akan menjadi kepala bangsawan tersebut. Apakah sang pria ataukah sang wanita. Terkecuali untuk tiga bangsawan diatas mereka, penerus wanita merupakan keharusan. Selain itu, kedudukan kepala bangsawan itu takkan berganti kepada penerusnya, apabila ia belum meninggal dunia.


Saat ini, Hellenia sedang duduk santai di balkon kediamannya memandangi tamannya yang sedang dirawat oleh para pelayan. Dengan berpakaian gaun tidur mewah-nya, ia ditemani sebotol anggur merah berkualitas tinggi dan matahari yang perlahan menyelimuti diri dengan cakrawala.


Bangsawan bernama besar itu menikmati momen istirahatnya ini, setelah kemarin rapat panjang dengan Tuan Putri dan bangsawan utama lain.


Ia meneguk anggur merah yang sudah ia tuang ke dalam gelas. "Dasar.... Setelah sepuluh tahun tidak bertemu, tahu-tahu dia sudah jadi ayah. Apa dia tahu perasaanku sekacau apa?" ia sedang menggalau. "Tapi... penampilannya jadi makin oke sejak saat itu.... Aaah..., aku sangat mencintainya!" ia memeluk dirinya sendiri sambil meliuk-liukkan tubuhnya.


"Uwah... sudah lama sekali sejak aku melihat sisi Kakak yang ini...," ujar seorang perempuan. Mendengar suaranya, Hellen berlagak polos.


"O-oh, wahai Adikku. Kau di sini, ya?" katanya sambil menahan malu yang sangat hakiki.


Adik Hellen memiliki rambut hitam panjang sepaha yang diikat satu mendekati pangkal rambutnya dengan kuncir kain berwarna merah. Matanya berwarna merah kejinggaan. Ia memakai gaun sederhana. Bagian atas sepanjang lengan berwarna hitam dan garis kuning pada bagian pinggang, bagian leher, serta pergelangan tangan. Bagian bawahnya berwarna paduan merah-hitam.


"Padahal sejak aku datang, aku sudah melambaikan tangan dari gerbang...." Adiknya duduk di sebelah kiri Hellen.


"A-aku tak tahu. Apa kauyakin kau tidak berbohong?"


"Ih... lagipula untuk apa aku berbohong dengan Kakak? Jadi... apa pria bernama Arthur itu akan menjadi suamimu?"


"Ha-hah?! A-apa maksudmu? Ke-kenapa kau tahu namanya?!"


"Kak Hellen... kalau sudah masalah Arthur selalu seperti orang bodoh. Padahal kau ini sangat modis, cantik, pintar, juga kuat. Sejak Kakak masih di Akademi Dormant, Kakak selalu seperti ini kalau Arthur terlibat di hari-harimu!"


Telinga dan pipi Hellen memerah. Untuk menyembunyikannya, ia mengalihkan pandangan dari adiknya.


"Kakak malu? Lihat, tuh, wajah dan telinga Kakak memerah. Imutnyaaa...." Sang adik sumringah. Sudah sangat lama ia tak melihat pemandangan ini dari kakaknya. Apalagi, mengingat usia kakaknya sudah kepala tiga.


"Be-berisik! Ini karena anggur dan mataharinya!"


"Ah, lihat, ada Arthur!"


"Eh? Di mana?! DI MANA?!" Hellen segera mencarinya dengan mata melotot. Sadar dia dibodohi, membuat wajahnya semakin memerah. "Dasar jahil, berhentilah menggoda Kakakmu!"


"Ehehe... maaf, soalnya Kakak sangat imut."


"Lagi pula... Arthur saat ini sedang di penjara.... Tidak mungkin juga dia tiba-tiba datang ke sini." Hellen seketika menjadi lesu, bagaikan tak memiliki semangat hidup.


"Heee...." Adiknya terkesan tak terkejut. "Aku sudah dengar dari ibu dan ayah, Arthur ini jadi ayah angkatnya Tuan Putri, 'kan?" ia memastikan.


"Uhm." Helen mengangguk.


"Kenapa Kakak berlagak seperti tak mengenalnya? Ini Arthur yang sangaaat Kakak cintai, lho. Mana mungkin dia berbuat kriminal tanpa alasan jelas."


"Oh, kau ada benarnya...."


"Tanyakan saja pada guru Will tentang itu."


"Hah?! Pada Tua Bangka itu?! Tidak, aku tidak sudi!" Hellen bicara seolah akhir dunia sudah dekat.


Adiknya yang sudah biasa dengan gelagat kakaknya seperti ini ketika membahas Willmurd, hanya bisa tertawa dan bilang, "Hahahah... kali ini ada masalah apa lagi dengannya?"


"Dia menjebakku di hadapan Tuan Putri...."


Sang adik mengerenyitkan dahinya. "Pfft.... Hahahahaha!"


"Hei, tidak sopan! Apanya yang lucu?"


"Tidak tidak, aku sangaaaat senang sekali, bisa melihat Kakak seperti ini. Sejak kau terpisah dengan belahan hatimu Arthur, kau sangat dingin pada siapapun yang kau temui!"


"Ugghhh.... Jangan lanjutkan, kumohon!" Hellen meringkuk.


Sang adik berdiri dan berjalan ke belakang Hellen. "Uhm. Selamat datang kembali, Kak." Ia memeluk Hellen melalui lehernya dan menaruh kepalanya di bahu kiri Hellen.


"Ya. Aku pulang, Selen." Hellen memeluk kepala Selen dengan tangan kiri dan menempelkan pipinya pada pipi Selen.


Tak lama kemudian, seseorang yang hadir menjadi tamu datang melalui sihir teleportasi di gerbang mengejutkan kakak-adik itu, termasuk para pelayan yang ada di dekatnya. Sosok itu tersenyum lima jari sambil melambaikan kedua tangannya.


"Kak, ini hanya firasatku, tapi... apa dia Tuan Putri?" tanya Selen.

__ADS_1


"Oh, kau benar." Setelah melihatnya secara lebih jelas dengan sihir, Hellen memastikannya.


"Eh?! Di-dia datang sendirian? Apa kauyakin tak apa?"


"Hmm..., yah, Tuan Putri kuat, jika datang dengan teleportasi ya tidak apa. Aku akan menyambutnya dulu." Hellen segera mengganti ke pakaian yang lebih pantas dan menemui Zeeta yang terus melambaikan tangan di halaman depan kediamannya.


......................


Hellen sudah berpakaian pantas dengan gaun mewahnya. Ia dibuntuti oleh Selen yang secara etika harus menyambut Zeeta yang sudah digiring masuk ke kediamannya oleh para pelayan.


Zeeta yang sedang duduk di sofa lebar nan empuk kemudian berdiri setelah melihat kedatangan mereka. "Huh... wanita kalau berias memang selalu lama, ya! Tinggal pakai sihir saja selesai, 'kan? Lagi pula kau tidak sedang bertemu dengan ayahku sampai harus berias cantik segala," celoteh Zeeta.


"A-apa maksud Anda, Tuan Putri? Pakaian itu merupakan kelopaknya seorang wanita! Semua orang akan memandang dan menilai penampilan wanita dari pakaiannya, oleh karena itu wanita harus selalu tampil cantik dan elegan!" tegas Hellen, "Tuan Putri, ini adalah adikku. Selen, perkenalkan dirimu."


Selen mengangkat sedikit dua sisi gaunnya dan menarik sedikit ke belakang kaki kirinya untuk memberi salam hormat. "Namaku Selenburg von Cloxzar X. Aku sangat merasa terhormat dapat bertemu dengan Anda, Yang Mulia."


Zeeta membalas salam hormat itu kepada Selen dengan melakukan hal yang sama. "Uhm. Terima kasih. Langsung saja, Nona Selen, ada satu hal yang perlu kuperjelas."


"A-apa itu, Yang Mulia?"


"Aku memang seorang Tuan Putri, tapi aku dibesarkan di desa. Jadi, karena aku pasti akan berbeda dengan bangsawan lain, kuharap kau dapat memakluminya."


"Ba-baik...." Selen tak sepenuhnya mengerti apa maksud Zeeta.


Hellen kemudian duduk di kursi yang satu set dengan sofa sementara Selen berdiri di sebelahnya.


Zeeta memandangi kakak-adik itu. "Hmmm...." Zeeta seperti terpikirkan sesuatu. Ia seperti tidak bisa menerima apa yang dilihatnya.


"A-ada apa, Tuan Putri?" tanya Hellen.


"Yah, aku hanya tak terbiasa melihat pemandangan ini. Kemarilah, duduk bersamaku!"


"E-eh...?" keduanya terbisu.


"Kalian lebih tua dariku, aku tak bisa tenang melihat salah satu dari kalian berdiri seperti itu."


"Ta-tapi, memang sudah etika kerajaan seperti ini...," kata Selen.


"Uhm, aku tahu itu. Masalah itu boleh saja kalau ini resmi, aku datang karena hanya ingin menagih kata-kata Nona Hellen kemarin saat kami rapat." Senyum smug terlukis di wajah Zeeta.


......................


Setengah jam berlalu, para pelayan sudah menyediakan aneka camilan dan teh untuk disantap oleh majikan dan tamu-tamunya. Sementara Selen dan Zeeta menyantap camilannya, Hellen menceritakan masa lalunya pada Zeeta mengapa ia bisa jatuh cinta dengan Arthur.


"Hari itu, lima belas tahun yang lalu, ketika aku masih berusia tujuh belas tahun dan masih bersekolah di Akademi Dormant, Arthur menyelamatkanku." Hellen bercerita sambil diiringi senyum.


"Seperti biasa, setiap tiga bulan sekali, Akademi Dormant selalu mewajibkan para muridnya untuk latihan tempur. Diwaktu-waktu seperti itu, kami selalu keluar kerajaan dengan membagi tim. Pada awalnya, aku sama sekali tak memiliki rasa apapun terhadap Arthur, tetapi setelah kejadian itu...." Hellen merona merah.


"Hummm, sudah kuduga ayah memang selalu terkenal di kalangan wanita, ya...." Zeeta mengatakannya tanpa mengetahui ucapannya akan menimbulkan kesalahpahaman.


"A-apa? Arthur... terkenal di kalangan wanita?" Hellen terasa tersambar petir.


"Uhm. Di desa dia selalu dikagumi banyak wanita!"


"He... heeehh.... Be-begitu, ya...." Hellen merasa down seketika.


"Gawat, aku harus melakukan sesuatu untuk Kakak!" batin Selen. "A-apakah Arthur menyukai seseorang di sana?" tanyanya.


"Hmm... sejauh ini tidak." Jawaban Zeeta membuat Hellen merasa lega. "Lalu, apa yang terjadi setelah itu?" Ia penasaran akan kelanjutan flashback Hellen.


"Setelah itu...." Hellen pun menceritakan lebih lanjut masa lalunya.


......................


[Lima belas tahun yang lalu, Akademi Dormant di Wilayah Utara.]


Willmurd sebagai wali kelas Hellen, sedang mengumpulkan para murid dengan empat barisan yang masing-masing barisan terdapat lima sampai enam orang.


Di Akademi Dormant, bangsawan atau bukan bisa sekolah di sini. Dengan syarat, ada ujian masuk dengan tes kemahiran sihir.


Arthur dan Hellen berada dalam satu kelompok dengan tiga bangsawan lain. Di sana juga terdapat Garren dan Porte yang berada di kelompok lain, ada juga Illia, Alicia, dan Emma.


Beberapa saat kemudian, Willmurd yang tampak masih memiliki rambut hitam dan belum memiliki banyak kerutan di wajah, datang bersama Ratu Aurora kesembilan belas dan Grand Duchess Ashley.


"Ra-Ratu Scarlet?!" semua orang terkejut atas kedatangannya.

__ADS_1


Ratu Scarlet Aurora XIX, sesuai namanya, memiliki rambut merah panjang bergelombang dengan tatapan tak bersahabat. Lebih tepatnya, bengis. Ia memiliki warna mata yang sama dengan rambutnya. Dengan tatapannya yang bengis itu, membuat siapapun yang ada di hadapannya tak berani berbicara.


Scarlet berjalan sedikit lebih jauh dari Willmurd dan Ashley, kemudian ia bertanya, "Aku akan mempersingkat alasanku datang ke sini. Sebelum memulainya, apa kalian tahu apa itu Erigona?"


Tak ada yang menjawab.


"Kupikir ini adalah akademi sihir terbaik kerajaan ini. Ratu kalian bertanya, APA KALIAN TAHU?!" dengan intonasi yang ditinggikan membuat detak jantung siapapun berdegup sangat cepat.


"Ti-tidak, Yang Mulia!" jawab seluruh murid bersamaan.


"Begitu lebih baik. Will, perketat pembelajaranmu." Scarlet melirik Willmurd.


"Baik, Yang Mulia." Willmurd menundukkan sedikit kepalanya.


"Kembali ke pembicaraan. Erigona merupakan makhluk sihir berupa tumbuhan menjalar yang menyerap mana alam dan aku ingin kalian para murid menumpas makhluk sihir itu. Apa ada pertanyaan?"


Arthur mengangkat tangannya.


"Katakan." Scarlet mempersilakan.


"Jika makhluk itu menyerap mana, bagaimana kita bisa menumpasnya?"


"Fufu... fufufu...." Scarlet tertawa. "Nak, itu adalah tugas kalian untuk mencari tahunya. Pikir sekali lagi sebelum bertanya."


"Eeh... apa-apaan itu?" batin Arthur.


"Kulanjutkan. Jika Erigona tak segera dibasmi, dia akan terus menerus tumbuh sampai ukuran raksasa dan membuat apapun di sekitarnya mati. Oleh karena ini merupakan kali pertamanya kalian membasmi Erigona, Ashley dan Willmurd akan ikut bersama kalian. Tapi, aku hanya mengizinkan mereka mengawal kalian, tak ada yang boleh membantu, kecuali ada dari kalian yang terluka.


"Hmmm, kukira aku akan menambahkan dua poin lagi. Satu; ini merupakan ujian langsung yang kuberikan pada Alicia, dan kedua; aku ingin kalian mengetahui bahaya yang ada di luar kerajaan. Sekian." Scarlet kemudian pergi meninggalkan mereka.


Semua orang masih tak mampu mengucapkan sepatah kata. Kecuali untuk satu orang lelaki yang ada di dekat Alicia. "Seperti biasa ibumu tak memiliki ampun, ya." Lelaki itu tersenyum manis.


"Ahahah, kau benar. Tapi aku harus memenuhi harapan ibu," jawab Alicia. Ia serius.


"Kalau begitu aku akan melindungimu."


"Eh? A-aku bisa sendiri, kok." Keseriusannya segera luntur.


"Sudahlah, aku juga tak ingin melihat kau terluka. Tetaplah di dekatku, Alicia!"


Alicia merona merah. "U-uhm...."


Kemudian, Ashley menjadi pusat perhatian para murid sekarang. Penumpasan Erigona akan segera dilaksanakan.


"Ini memang kebiasaan Ratu, tapi demi keselamatan aku ingin memberi kalian petunjuk."


"Oh? Petunjuk?!" semuanya berharap tinggi.


"Erigona akan terus beregenerasi dan serangan sihir justru membuatnya semakin kuat.


"Kalau begitu, baris satu dan dua, ikut denganku. Sementara tiga dan empat, ikuti instruksi Count Willmurd. Kita akan berangkat lima menit lagi, sementara itu persiapkan pelindung kalian." Ashley dan Willmurd pergi setelahnya. Para murid pun mengikuti Ashley dan Willmurd dari belakang.


"Hmph. Menumpas tumbuhan? Pasti mudah!" ujar Garren.


"Tapi Erigona akan terus beregenerasi, kita harus waspada," balas Porte.


"Ah... aku tak ingin pakaianku kotor karena tanah...," kata Hellen.


Arthur yang ada tepat di belakang Hellen menepuk bahunya. Ketika Hellen menoleh ke belakang, Arthur berkata, "Berhati-hatilah, kau akan tersandung." Kemudian ia pergi begitu saja.


"Hmm? Apa maksu—uaah!" Hellen benar-benar tersandung dan jatuh.


"Arthur... pasti dia menyihirku agar aku terjatuh!" batin Hellen. Bangsawan-bangsawan yang ada di dekatnya membantunya bangun.


......................


Para rombongan Akademi Dormant telah menunggangi hewan-hewan sihir bersayap mereka- seperti singa, macan, kuda, dan lain-lain. Mereka keluar kerajaan sejauh tiga puluh kilometer. Setelah mencari dimana letak targetnya, mereka mendapati makhluk tersebut sedang meliuk-liuk dengan ukurannya yang sudah raksasa dan tumbuhan di sekitarnya berubah hitam karena mati. Demikian pula dengan tanahnya.


Layaknya tumbuhan merambat dengan bentuknya yang menjalar, Erigona telah berevolusi menjadi tumbuhan raksasa berduri besar.


"I-inikah Erigona?" Hellen merasa cemas.


"Semuanya, berhati-hatilah dengan durinya! Tetaplah jaga jarak kalian dengannya dan coba cara apapun yang kalian pikir akan berguna!" teriak Willmurd.


"Baik, Guru!" jawab semua murid.

__ADS_1


Penumpasan Erigonapun dimulai. Namun, tak ada satupun diantara murid itu yang tahu seberapa sulitnya menumpas satu kehidupan makhluk sihir tersebut....


__ADS_2