
Serina telah mengusapkan sihir semacam salep ke tubuh Suzy yang tak sadarkan diri. Sementara itu, Jourgan bersiaga dengan tombaknya, dibarengi dengan Serina yang berlindung di belakang punggungnya.
"Sudah dimulai!" ucap Serina, ketika melihat asap mengepul dari tubuh Suzy.
"Bersiagalah, Serina, untuk yang terburuk!" Jourgan berkuda-kuda.
Serina melihat ke belakang, memastikan pertarungan antara Mintia dan Minos dengan para monster yang menunggu bangunan di sana.
"Serangan akhir, Minos! Ayo lakukan ini dan menangkan!" jerit Mintia bersemangat sambil mengarahkan panahnya pada monster serigala berkepala tiga, monster terakhir yang dilawan. Serigala itu menggeram tak senang. Liurnya yang menetes dari ketiga kepala melelehkan tanah. Mintia kemudian mengacungkan tiga anak panah sihirnya ke kepala mereka, dan segera menembakkannya.
'SHWUUSH!'
Anak panah sihir itu terdiri dari ungu, putih, dan merah, yang masing-masing dari ketiganya menancap di masing-masing kepala serigala dengan sempurna. Dari ketiga panah, aktif sihir yang mewakili warnanya. Ungu sebagai sengatan listrik, putih sebagai es, dan merah sebagai api.
Monster serigala tersebut terdengar mengerang dari balik asap oleh mata Minos dan Mintia, tapi....
"Bahaya! Sihir tidak mempan terhadapnya!" jerit Serina tiba-tiba.
"Apa?!" Mintia segera menengok ke Serina, lalu balik lagi ke monster. Dia segera terbelalak dan menganga. "A-apa yang terjadi...?!" tanyanya, dengan tubuhnya yang tiba-tiba tertutup bayangan.
Minos dengan sigap segera menangkap Mintia sekaligus melakukan roll untuk segera menjauh dari tempat mereka berdiri. Tak lama kemudian....
"RRRAAFF!"
Salah satu kepala monster serigala itu menerkam dengan ukuran yang menjadi empat kali lipat dari normalnya. Liur yang jatuh pun kini melubangi tanah hingga beberapa meter dalamnya. Sadar bahwa mereka meleset, monster itu tak tinggal diam dan segera mengejar Minos yang setelah melakukan roll, menaruh Mintia di bahunya lantas berlari.
Serina yang telah menyadari sesuatu segera berteriak pada keduanya. "Minos, ulurkanlah waktunya, aku akan membuatkanmu senjata! Sihir tidak akan menang di hadapannya, namun justru memperkuatnya!
"Seranglah dia dengan kekuatan fisik!"
Minos yang mendengarnya segera menurunkan Mintia, kemudian berlari lagi memutar untuk memancing Si Serigala. Kala ia memutar dan berhadapan dengannya, ia tidak hanya sekadar melewati atau menghindari monster itu, tapi dia pun mendaratkan serangan. Walaupun kini tubuhnya kalah besar dengan Si Serigala, tak membuatnya tidak memiliki kesempatan menyerang. Saat dia dekat dengan Si Serigala, Minos berlari dengan empat kakinya, untuk menyeruduk Si Serigala dengan tanduknya yang kokoh nan perkasa.
'ZZRRTT!'
Tanduknya berhasil melukai Si Serigala dan membuatnya melayang beberapa meter di udara, yang disaat bersamaan memberi jalan bagi Minos untuk lewat ke seberang. Minos tidak puas hanya mendaratkan sebuah seruduk saja. Matanya yang mendapati bongkahan batu bangunan raksasa, segera dicapainya untuk dilempar pada Si Serigala.
"Ganas sekali dia...," batin Serina sambil membuat senjata dari sihirnya.
"Serina, bisakah kaupergi menyusul Mintia? Sepertinya di sini juga tak bisa didiamkan begitu saja," ujar Jourgan, memancing Serina melihat apa yang dimaksud kakaknya.
Serina segera menyipitkan mata setelah melihat apa maksud ucapan Jourgan. "Cih... disaat begini...."
Sebuah tubuh Elf berwujud setengah badan dengan tekstur seperti minyak hitam—belum seutuhnya terpisah dari tubuh Suzy—muncul di permukaan. "Berani-beraninya kalian...," kata wujud Elf itu.
"Dia bahkan sudah memiliki kesadaran! CEPATLAH!" seru Jourgan.
"Ba-baiklah!" tanpa mengubah pose tangannya yang menengadah, Serina berlari menuju Mintia berada.
"Carilah Zeeta dan bawa dia ke sini!" sambung Jourgan.
"Itu tidak perlu!" suara yang dikenal seluruh Elf di sana membuat mereka menoleh ke sumber suara.
Zeeta.
Zeeta berjalan sambil menyilangkan tangan tanpa menunjukkan senyum. Dikala ia berjalan, ia menggunakan tongkat Catastrophe Seal-nya untuk menulis Rune. "Minos, apa kau keberatan jika kumusnahkan makhluk itu?" tanya Zeeta.
Minos yang bersiaga dengan empat kakinya berdiri lalu melemaskan tubuhnya, setelah itu menggelengkan kepala.
"Baiklah." Zeeta memejamkan mata. "Selamat tinggal untukmu." Ia menuliskan Uruz pada tubuh Si Serigala, yang mengakibatkan kristal ungu menusuk tubuhnya dari dalam. Darah yang terciprat tersebar ke segala arah, membuat Serina dan Mintia harus menghindar karena kaget sekaligus jijik.
__ADS_1
"Suara menyebalkan ini... kau ... Zeeta?!" teriak Elf bertubuh layaknya minyak—Jewel. Ia perlahan-lahan terpisah dari Suzy.
Mendapatkan kesempatan emas, Zeeta sekali lagi memakai tongkat sihirnya. Ia mengangkat tubuh Suzy lalu mengantarkannya pada Serina dan Mintia. Serina kebagian tugas menggendongnya.
"Rawatlah dia." Usai mengatakannya, melainkan pergi ke arah Jewel, ia mendekat ke Minos.
"Hei! Elf yang di sana! Jawablah aku! Suara itu Zeeta, 'kan?! Kenapa dia mengabaikanku?!"
Jourgan mengernyitkan alis. "Hah? Untuk apa aku memberitahumu? Memangnya kausiapa?"
Pertanyaan yang dilancarkan Jourgan segera saja memantik emosi Jewel. "Pasti 'kan kubunuh kau...! Tunggulah saja sampai aku bisa mendapatkan tubuh itu lagi!"
"Hah!" Jourgan menyeringai. "Mustahil!"
"Apa?!"
"Jika kusebut Hutan Sihir Agung, kau tentu tahu pohon apa yang ada di sana, bukan?" Jourgan tak menghilangkan seringainya.
"Pohon...?
"Ada apa dengan pohon Chronos...?
"Ja-jangan-jangan?!"
Jourgan semakin melebarkan seringainya. "Ya!" balasnya, "kami membuat sihir dari pohon itu untuk memaksamu terpisah dari inangmu, dasar Elf parasit!"
"Tidak mungkin! Chronos adalah pohon yang tak bisa menua, dirusak, ataupun dimanfaatkan! Itu hanyalah sekadar pohon raksasa!"
"Dasar buta!"
"Hah...?!"
"Pohon yang tidak bisa dimanfaatkan, katamu? Hanya sebuah pohon raksasa, katamu...?
"Lalu, pohon yang melindungimu dari serangan waktu itu, kaukira kau yang membuatnya?
"BUKAN!
"Chronos adalah makhluk hidup juga!"
Mendengar Jourgan menyebutkan sebuah masa yang sangat dibenci ingatannya, membuat Jewel semakin bingung. Apa maksudnya?
"Memang, Elf biasa tak bisa melakukan apa-apa terhadap Chronos selain memanfaatkan ketinggiannya untuk berburu atau mengawasi keadaan, tetapi bila ada seorang yang dipilih oleh hutan itu sendiri... dengan kata lain oleh pohon-pohon waktu itu sendiri...
"Maka dia bisa mengintip kejadian di masa depan atau masa lalu dan mengulurkan tangan untuk membantu makhluk hidup lain entah sejauh apapun itu, sebab akar Chronos sudah seperti Bumi ini sendiri. Akar-akarnya telah menyatu dengan semua pohon yang eksis di dunia ini....
"Adikmu, Hugo, bisa melakukannya!"
"Hu... Hugo, katamu?! Di... dia... dia masih hidup...?!"
"Meskipun begitu, Elf memang berusia panjang, tetapi bukanlah abadi. Kini, Elf yang meneruskan kekuatan itu adalah rekan kami, Reina...."
......................
Astray Land, Reina sedang berbicara dengan Volten Sisters....
"Volten Sisters... aku butuh bantuan kalian untuk membantu Zeeta," ujar Reina, yang menggenggam selembar potongan kayu. "Peran kalian bertiga sangatlah penting, jadi dengarkanlah aku baik-baik.
"Kalian akan menyelamatkan Klutzie. Namun, tantangan kalian adalah saudari Tetua Hugo, Jewel, yang menjadi parasit bagi tubuh kakak Klutzie, yaitu Suzy.
"Kalian harus memisahkannya dari tubuh itu menggunakan ini. Kak Serina, buatlah sihir pemisahnya dengan ini sebagai katalis." Reina memberikan kayunya pada Serina.
__ADS_1
"Apa ini...?"
"Kulit Chronos."
"A—?!" ketiganya terkejut bukan main.
"Tidak apa. Chronos tidak mempermasalahkan jika hanya setitik bagiannya saja. Itu tidak akan memengaruhi arus waktu.
"Masalah yang harus diatasi selain itu masih ada, tapi kita tak memiliki banyak waktu. Aku sudah meminta bantuan pada makhluk sihir lain untuk masalah spesifik ini, jadi Kak Mintia, kuserahkan masalah ini padamu dan makhluk sihir itu. Kak Jourgan lindungilah Kak Serina."
"Baiklah!" Jourgan mengangguk.
"Siapa memangnya makhluk sihir itu?" tanya Mintia.
"Kuharap dia mau jika Naga itu yang membujuknya, tapi...."
Tak lama kemudian, Minos datang dengan langkah kakinya yang besar.
"Mi-Mi-Mi... Minotaurus...?!" ketiganya kaget setengah mati sekali lagi.
"Syukurlah ... kau bersedia membantu Zeeta...?" tanya Reina.
Minos menghembuskan napasnya, kemudian mengangguk.
"Terima kasih banyak." Reina menundukkan kepala. Ketiga Elf di belakangnya mengikutinya.
"Mohon bantuannya, Minos sang Minotaurus!" ujar Jourgan.
Minos sekali lagi menghembuskan napas. "Ya," jawabnya pendek.
Sebelum keempatnya berangkat, Serina bertanya satu hal spesifik pada Reina. "Katakan padaku, apa guna kulit ini hingga aku harus memakainya sebagai katalis? Jika aku membuatnya tanpa tahu gunanya, aku takut sihirnya akan...."
"Ah, kau benar.
"Tentu saja, sesuai namanya, kulit ini akan mengacaukan waktu antara Suzy dan Jewel. Baik itu waktu lahir, hidup, ataupun kronologis kehidupqn keduanya. Pohon ini adalah pohon yang paling cocok untuk menghadapinya.
"Tapi, begitu kalian memisahkannya, hanya Zeeta-lah yang mampu mengalahkannya. Karena pada dasarnya, dia adalah Phantasmal sekaligus Elf yang telah memanen kebencian yang amat dalam selama ratusan tahun, ditambah kejahatannya setelah dia bereinkarnasi seperti kata Tetua....
"Paham maksudku...?"
Volten Sisters mengernyitkan mata. "Haruskah kuingatkan, jika Zeeta sudah...," ujar Jourgan.
"Aku tidak akan meminta bantuan kalian jika benar-benar buntu. Aku tak melihat apa yang terjadi padanya, tapi jika dia belum sampai, Kak Jourgan... kaulah harapannya."
"Heh!" Jourgan memutar-mutar tombaknya. "Aku tak yakin bisa memenangkannya, tapi jika menghambatnya, aku bisa melakukan sesuatu!
"Gadis-Gadis, ayo lakukan ini!!" ia pun mengangkat tombaknya tinggi-tinggi ke udara.
"Ya! Semangatku membara!" jerit Mintia.
"Serahkan padaku," balas Serina tenang.
......................
"Tidak, Kak Jourgan," kata Zeeta, "untuk itu aku tidak sesuara dengan kalian."
"...."
"HAHHH?!" Volten Sisters dumbfounded mendengarnya.
"Aku akan membuatkannya tubuh jika perlu. Karena aku HARUS memukulnya dengan tangan ini, untuk membalas perbuatannya yang biadab selama ini!"
__ADS_1