Zeeta Dan Dunia Sihir

Zeeta Dan Dunia Sihir
Pertanggungjawaban yang Pantas


__ADS_3

"Aku akan membuatkannya tubuh jika perlu. Karena aku HARUS memukulnya dengan tangan ini, untuk membalas perbuatannya yang biadab selama ini!" penegasan Zeeta memaksa semua yang mendengarnya menganga tak menduga.


"Jangan bercanda!" jerit suara lelaki.


Pintu gerbang di dekat mereka terbuka, memerlihatkan sebuah cahaya yang layaknya pusaran. Banyak orang keluar dari sana. "Aku berhasil mengeluarkan ayah dan rakyatku, dan berharap Phantasmal itu sudah dibereskan oleh kalian, tapi Zeeta... untuk apa kau melakukannya?! Lebih baik dia dalam wujud itu saja, 'kan?!"


Klutzie keluar sambil merangkul sosok pria tua beruban dan lemah, yang dibuntuti oleh ratusan orang di belakangnya. Mereka semua tampak lemas dan berjalan saja sudah mengerahkan seluruh tenaga. Mereka juga tampak bobrok tidak hanya dari kesehatan, juga dari penampilan.


"Minos, kaubisa kembali," ujar Zeeta, "ini bukanlah lagi masalah yang harus diikutcampur oleh makhluk pembenci manusia sepertimu.


"Ini adalah masalah antara Manusia dan Elf."


Minos melihat Volten Sisters dimulai dari Mintia. Ia kemudian memandangi tangannya. Dia mengingat lagi apa yang baru saja dikatakan Zeeta padanya.


"Aku sungguh berterima kasih padamu. Aku memang tak melihat aksimu bersama Volten Sisters, tetapi aku tahu kau tidak akan setuju untuk membantu kami jika tidak karena Myra.


"Aku yakin kausudah diberitahu Myra tentangku, tetapi entah seperti apa aku, takdirku, dan apa yang menjadi tanggung jawab dan kewajibanku sekarang, aku memanglah bukan siapa-siapa bagimu selain manusia yang sangat kaubenci.


"Tetapi biarkanlah semua kebencian yang kaumiliki sejak lama itu untuk kaukerahkan semuanya padaku. Entah seperti apa hasilnya, kuyakin kau takkan menyesalinya. Namun sebelum itu, aku harus melakukan semua yang kubisa di tempat ini. Kau tidak perlu terlibat di dalamnya, tetapi keputusannya kukembalikan padamu.


"Apapun keputusannya, aku percaya jika itu adalah keinginanmu dari dalam hati."


Minos kemudian mencengkeram tangannya. "Aku ... akan menunggu. Tapi ... pastikanlah ... tiga Elf itu ... selamat," ucap Minos yang tidak terbiasa berbicara.


Tanpa menoleh, Zeeta menjawabnya. "Tentu saja. Mereka teman sekaligus guruku."


Setelah memberi sebuah anggukan, Minos melompat lambung tinggi untuk turun ke daratan. Lompatannya menghasilkan debu.

__ADS_1


"Kembali kepadamu, Pangeran. Maaf jika kukasar, tetapi apa kaubuta? Kakakmu sudah terpisah oleh parasit itu. Yang kulakukan sekarang tidak ada—"


"Tentu saja ada!" tukas Klutzie, "dia telah membuat Sebas, keluargaku, rakyatku ... dan juga kerajaanku bernasib seperti ini! Sosoknya yang saat ini dan tak mampu melakukan apapun adalah hal yang pantas!


"Bila kau memberinya tubuh, siapa yang tahu apa yang mampu dilakukannya!"


Zeeta menatap Jewel, lalu melirik Klutzie. "Apapun sanggahanmu, aku tetap akan melakukannya. Phantasmal itu adalah racun dunia yang dilahirkan oleh dunia itu sendiri." Zeeta berjalan menghampiri Jewel.


"Ini bukanlah pembalasan dendam, juga bukan tentang pengorbanan hidup. Ini adalah tentang tanggung jawab.


"Aku baru saja melihat dengan Rune. Alasan mengapa ayah dan rakyatmu berada dibalik gerbang itu, adalah karena Phantasmal bernama Jewel ini."


"A-apa?!"


"Kala itu dia masih memiliki kesadaran yang wajar. Dia sendiri tahu, bahwa hidup di lingkungan Manusia yang sangat dibencinya bisa membuatnya kehilangan kewajaran itu kapan saja.


"Entah seperti apa kejeniusan kakakmu yang bahkan mampu menciptakan teknologi nano, diusianya saat itu, meskipun dia adalah seorang bangsawan keluarga kerajaan, mana-nya takkan mungkin cukup untuk menciptakan ruangan seperti itu. Kau pun menyadari hal itu, bukan, Pangeran?


Zeeta sampai di hadapan Jewel. Ia segera memakai Catastrophe Seal berwujud tongkat sihirnya pada Suzy yang tergeletak tak sadarkan diri di dekat Jewel untuk menulis Rune Laguz di atas tubuhnya.


"Segala tindakannya setelah kewajaran itu hilang, harus dia pertanggungjawabkan. Padahal kala itu, dia tahu ada keberadaan Elf yang hidup bersembunyi di suatu tempat di dunia ini... yang bahkan sekarang telah benar-benar dilupakannya."


Zeeta mendekatkan dirinya untuk berbisik pada Jewel. "Kebencian takkan membawamu keluar dari sesatnya hutan, oh Jewel yang malang. Kau benar-benar mirip dengan ibumu, Marianna Aurora. Dia bahkan sekarang hidup untuk membalaskan dendamnya dari semua yang kalian terima saat itu, dengan membawa nama Lucy."


Dari wujudnya yang seperti minyak berwarna hitam itu, Volten Sisters sadar bahwa Jewel terbelalak.


"A-apa maksudmu itu...? I-ibuku sudah...." Jewel kehabisan kata-kata.

__ADS_1


Zeeta menjauhkan tubuhnya dari Jewel. "Sebelum kau menemui hukumanmu, 'kan kubuat kau menerima apa yang telah kaulakukan selama ini dalam satu pukulan. Tapi tenanglah, pohon Chronos takkan membiarkan jiwamu pergi ke Tanah Kematian begitu saja." Zeeta menarik tangan kanan ke belakang setelah mengepalkannya. Ia juga menarik ke belakang kaki kanannya. Satu demi satu lingkaran sihir warna-warni di belakang kepalan tangannya muncul memanjang, yang jumlahnya tak bisa dihitung begitu saja jika dilihat sekilas karena saking banyaknya mereka. Bahkan, bukan berlebihan jika menyebut lingkaran-lingkaran sihir itu menerangi sejumlah area di dekatnya.


Orang-orang di sana, Volten Sisters, apalagi rakyat yang tak tahu menahu apapun bingung apa yang dilihat mereka saat ini. Azure yang justru datang disaat seperti ini, sekaligus bisa merasakan jumlah kekuatan yang hendak dihempaskan Zeeta melalui lingkaran-lingkaran sihirnya, terbelalak lalu menjerit, "Bodoh, dengan daya sebesar ini, kauingin melibatkan mereka, Zeeta?!"


Tak mampu mengucapkan sepatah kata melihat apa yang hendak dilakukan Zeeta, Jewel melemaskan tubuhnya. "Inikah akhirnya...?"


"Dasar bodoh." Zeeta menyeringai. "Sudah kubilang pohon Chronos takkan membiarkan jiwamu pergi begitu saja."


Membalas seringai Zeeta, Jewel tersenyum kecut. "Haha... entah sebanyak apa yang kautahu tentang kami... kurasa aku memang harus menerima ini."


"Ya, kau harus. Inilah rasa sakit yang telah kautebar selama ini." Zeeta melayangkan pukulan kanannya setelah membuat tubuh Jewel menjadi tubuh nyata dengan Rune Berkano dari tongkat sihir di tangan kirinya. Semua itu terjadi begitu cepat, dan yang mampu melihatnya adalah Klutzie, Volten Sisters, dan Azure. Bahkan Jewel sendiri yang menyadarinya tak menduga Zeeta melakukan ini.


Pukulan itu mendarat di perut Jewel secara upper-cut. Kepalan tangannya ia putar untuk memberi damage yang lebih banyak.


'ZZZZMMMM....'


Lingkaran-lingkaran sihir warna-warni di belakang kepalannya meresap ke dalam tubuh Jewel setelah melalui lengan Zeeta. Sebuah dengungan terdengar dan getaran kecil dirasakan oleh mereka yang bisa melihat kejadian cepat itu.


Lingkaran sihir itu memberi luka dari dalam tubuh seakan-akan ada yang meledak di dalam tubuh Jewel. Berkatnya, darah dimuntahkannya tidak hanya dari mulut, tetapi juga dari hidungnya. Matanya tak mampu menahan pukulan, dan bagian iris-nya seakan terbalik ke atas. Serangan sebesar itu, jika tidak bisa dikendalikan secara total, bisa saja menghabisi semua yang ada di dekat Zeeta. Jewel kemudian terpental jauh—SANGAT JAUH ke belakang.


Mereka yang melihat kejadian itu, Klutzie, Volten Sisters, serta Azure, hanya bisa menganga melihatnya. Mereka tak percaya apa yang baru saja mereka lihat.


"A-apa yang terjadi di sini sebenarnya ... anakku?" tanya Eizen, sang Raja Nebula dan ayah Klutzie.


Masih tertegun dengan yang baru saja terjadi, Klutzie membungkam.


Setelah mendaratkan pukulan ber-damage gila itu, Zeeta terjatuh begitu saja dengan napas yang terengah bersama dengan Catastrophe Seal yang kembali menjadi cincin di jarinya. "Sisanya ... kuserahkan padamu ... Paman Hugo...."

__ADS_1


Volten Sisters kaget mendengar ucapannya. Tetua Hugo mereka ... terlibat...?


__ADS_2