Zeeta Dan Dunia Sihir

Zeeta Dan Dunia Sihir
Sebuah Kebenaran


__ADS_3

Mimpi ... adalah sekadar bunga tidur seorang manusia. Entah apapun yang terjadi di dalamnya, mimpi hanyalah mimpi. Terkadang ia menjadi realitas yang sangat diinginkan, ditakutkan, atau dibenci terjadi. Terkadang ... ia juga terasa begitu nyata, dan terkadang pula ... ia terasa sangat aneh.


Zeeta tidak yakin, apakah yang ia alami saat ini hanyalah mimpi, atau saat seperti ketika dia bertemu dengan leluhurnya?


Jika dia bertemu dengan leluhurnya, ia hanya bisa bertukar kata namun tidak bisa merasakan kehangatan ataupun menyentuh mereka. Sedangkan saat ini, semuanya terasa nyata. Suhu tubuh, sentuhan, juga suara, semua terasa nyata. Ia seperti ditarik ke tempat lain setubuh-tubuhnya.


Tetapi, itu semua tidak akan mempengaruhi pertanyaan yang selalu hinggap di benaknya.


Kenapa?


Kenapa dia harus melewati semua beban itu?


Apa ada alasan khusus orang tuanya melakukan ini?


Yang pasti, kali ini dia memiliki kesempatannya. Namun, bahkan sebelum ia bertanya pada sosok yang usai memeluknya, yaitu ayah kandungnya, Hazell Levant, ia diberikan beberapa kebenaran demi kebenaran secara perlahan dan merinci.


......................


"Sejujurnya aku sangat ingin segera membawamu bertemu dengan ibumu, tapi aku harus memberitahumu banyak hal, termasuk tentang alasan mengapa dirimu begitu kuat. Aku akan bercerita panjang, jadi dengarlah baik-baik, oke?" jelas Hazell.


"U-uhm.... Aku mengerti," balas Zeeta, yang kemudian dielus kepalanya oleh Hazell.


"Yggdrasil, Benih Yggdrasil, ramalan Ratu Peri, hingga sedikit kejelasan tentang anting bulan itu, kau sudah mengetahuinya, 'kan?"


"U-uhm...."


"Kalau begitu, aku akan langsung ke intinya. Alasannya sebenarnya sangat sederhana."


"Eh? Kenapa?"


"Kurasa kau belum diberitahu kakek atau nenekmu, atau bahkan pamanmu tentang kekuatan keluarga Levant, ya?"


Zeeta menggeleng.


"Sudah kuduga...." Hazell menghela napasnya. "Dengar, Nak, alasanmu kuat sangatlah sederhana. Aurora adalah keluarga yang mengandalkan bulan sebagai sumber kekuatan, sementara Levant menggunakan matahari."


"Ma-matahari?!"


"Ya! Matahari. Itulah kenapa, Levant jarang sekali menunjukkan sihirnya, karena sihir kami sangat berbahaya dan sangat kuat.


"Kau pasti pernah dengar cerita aku membelah dua tanah hanya karena emosi, bukan?"


Zeeta teringat cerita Hellenia ketika insiden Erigona.


"U-uhm.... Tapi ... hanya karena itu...?" Zeeta seperti meragukannya.


"Ya. Hanya karena itu."


"Lalu kenapa ...? Kenapa tidak ada orang yang mau memberitahukan itu padaku? Lalu kenapa aku juga bisa menggunakan mana alam? Kenapa aku lebih kuat dibandingkan orang lain? Karena kekuatan ini—"


Kepala Zeeta ditepuk.


"Kekuatan besarmu adalah salah satu kelebihanmu selain memasak. Jangan salah, ibu dan nenekmu Scarlet, juga bisa menggunakan mana alam, meski mereka merahasiakannya."


"E-eh?!!"


"Mereka tidak bisa memberitahumu tentang alasan sederhana ini... yah, karena mereka orang dewasa. Mereka melupakan hal sederhana ini, demi mengutamakan keselamatan dan kesehatanmu."

__ADS_1


Zeeta berkaca diri dengan berwajah murung.


"Zeeta, sebagai ayah, aku adalah ayah yang buruk, yang baru bisa bertemu denganmu delapan tahun setelah kau terlahir di dunia ini.


"Sementara itu ibumu, selalu mengawasimu dengan anting bulan yang kalian pakai masing-masing. Mungkin kau membenci kami karena tindakan kami padamu ketika kau baru saja lahir, tapi... akan kukatakan apa yang terjadi di dunia sihir ini."


Zeeta hanya bisa menyimak.


"Peri, bukanlah satu-satunya makhluk sihir yang licik dengan segala rencana tersembunyinya. Phantasmal tidak hanya berbentuk seperti Hollow, tidak, bahkan sejak Yggdrasil masih ada, Phantasmal pun ada.


"Dunia sihir ini terancam dengan keberadaan sihir itu sendiri."


Zeeta mengerutkan kening. "Apa maksudnya...?"


"Sihir memang membantu banyak hal dan memudahkan pekerjaan manusia. Sihir juga merupakan kekuatan tanpa batas, meskipun penggunanya memiliki batasan.


"Lalu, apa yang terjadi jika ada makhluk yang tidak memiliki batasan itu, juga sekaligus memiliki kehendak menguasai segalanya?"


"Apa Ayah maksud... mereka adalah Phantasmal...?"


"Benar sekali. Sama halnya seperti makhluk sihir dan makhluk hidup lain, Phantasmal pun bisa tumbuh, berpikir, juga beradaptasi.


"Seperti yang kautahu, mereka memangsa emosi jahat seseorang sebagai katalis pembentuk wujud dan kekuatan mereka.


"Lalu, apa yang terjadi jika ada sekelompok—tidak, mungkin lebih banyak dari itu, berkumpul?"


"A... ancaman?"


"Kaubenar. Hollow yang pernah kauhadapi bukanlah apa-apa dibandingkan mereka.


"Kehidupan sihir yang bermula dari Yggdrasil, mulai menunjukkan taring mereka pada dunia yang melahirkannya. Aku tidak tahu apa motif mereka, tapi tidak mungkin itu adalah alasan yang baik. Pun jika itu ada, hanya beberapa persen saja kemungkinannya.


Zeeta mencengkeram kasur. "Aku jadi mengerti kenapa ramalan Ratu Peri itu ada," katanya, "kalau seperti ini, lebih baik sihir itu tidak ada sejak awal, dan kehidupan biasa saja yang ada! Meskipun tanpa sihir, kita masih bisa menggunakan mesin!"


"Soal itu, sulit untuk kita lakukan."


"Kenapa...? Bu-bukannya itu cara tercepat untuk melindungi dunia ini?!"


"Tidak, itu tidak akan menyelesaikan apapun.


"Ada banyak makhluk sihir yang butuh mana agar bisa hidup, sama seperti kita yang butuh oksigen agar bisa bernapas.


"Hutan Sihir Agung hadir bukan hanya sebagai hiasan tersembunyi saja, Nak. Bahkan di luar sana, masih ada banyak makhluk sihir yang belum pernah kautemui butuh sihir."


"Lalu kita harus apa?! Aku sangat senang karena kukira akhirnya bisa menjalankan hidup seperti keluarga biasa, bersenang-senang, dan melakukan banyak hal lainnya dengan kalian, tapi....


"Aku tidak mau kalau seperti ini... hiks...."


Hazell terenyuh, namun ia segera tersenyum. "Ahahahah, maaf membuatmu merasa seperti itu, ya. Tentu saja kita bisa melakukan apapun yang kau mau. Kau memiliki orang tua yang kekuatannya diluar akal sehat manusia!


"Alasan kami memisahkan diri dengamu semata-mata adalah untuk mempersiapkan kartu truf dikala ancaman itu mulai mendekati Aurora."


"Apa itu...?"


"Soal itu kita bahas belakangan saja, ya. Ibumu sudah tidak sabar ingin bertemu denganmu, tapi kami butuh bantuanmu untuk mengeluarkan diri dari sihir kami ini, hehehe."


"Eh?! Jadi selama ini akar raksasa itu...."

__ADS_1


"Ya! Itu sihir kombinasiku dan Alicia!" Hazell tersenyum lima jari.


"Lalu apa gunanya aku mengancam Ratu Peri, ya ampun!!" Zeeta memukul-mukul dada ayahnya.


"Ahaha, soal itu, aku tidak bisa beralasan." Hazell menangkap tangan putrinya. "Dengar, ya, inilah yang harus kaulakukan...."


......................


Zeeta terbangun, mendapati kamar dengan lampu lampion yang redup. Di sebelahnya terbaring Azure yang tidur lelap bak kapal melintang sekaligus hancur berantakan. Ia segera membangunkannya sambil berbisik.


"Hnnngghh... Zeeta...?" Azure terbangun dalam kondisi seperempat sadar. "Apa...? Mau ke toilet? Moh... sudah delapan tahun masih minta ditemani, kah? Imut sekali...."


"Kak Azure!" bisik Zeeta merona, sambil menampar pipi Azure dengan segenap kekuatannya.


"A-aduh!" Azure memegangi pipinya. "Oh? Zeeta? Aduh... duh... kenapa?"


"Aku akan menjelaskannya nanti, tapi aku butuh bantuanmu!"


"Soal itu aku tidak bisa meninggalkan kalian sendirian!" tukas Mellynda.


"U-uwah, jangan bikin kaget, dong!" Azure meninggikan bisikannya.


Beberapa saat kemudian, Zeeta meminta tolong pada mereka untuk membantunya keluar ke Axel's Workshop.


"Tapi... meskipun kauingin melakukan sesuatu, apa mereka masih mau membukakan pintu dijam segini?" tanya Azure.


"Tenang saja!" Zeeta menyuguhkan jempolnya.


Kemudian, Zeeta bersama Azure dan Mellynda, dibawa ke lokasi dengan sihir teleportasinya Azure. Semua anak-anak itu kian berkembang kekuatan sihirnya, hingga membuat Zeeta semakin takjub dengan mereka.


Kini, mereka ada di depan Axel's Workshop, dimana sekitar mereka hanya diterangi lampu jalan, juga seseorang yang duduk di bangku dekat tokonya.


"Hei!" pekik orang itu.


"Hii...!!" Mellynda terkejut setengah mati dengar suaranya. Ia segera bersembunyi dibalik Azure, meski dia lebih tinggi.


Axel sang Dwarf, identitas dari sosok yang duduk di bangku, mendekati mereka sambil menggumam. "Kupikir kau takkan datang, dan ucapan Hazell akan meleset. Sialan, siapa yang mengira dia benar?"


"Ugh... aku ingin banyak bicara lagi tentang itu, tapi...." Zeeta meliukkan jemari-jemarinya, tanda ia tidak puas.


"Aku tahu. Kau butuh ini." Axel memberikan kacamata yang tersambung dengan masker transparan, dimana masker itu juga tersambung ke tabung oksigen.


"Tapi...," ujar Zeeta seraya menerima alat itu, "tanpa sihir... aku tak bisa berenang...."


"Jangan dipikirkan," balas Axel, "aku sudah siapkan semuanya. Kau hanya perlu melakukan apa yang harus kaulakukan."


"Oke...." Zeeta hanya memandangi alat itu.


"Segeralah, Nak!"


"Ba-baik!" Zeeta memberi kode pada Azure, lalu mereka pergi begitu saja.


Azure membawa keduanya ke dekat istana.


"Jadi, segera katakan apa yang ingin kaulakukan. Aku tahu kau sudah cerita dirimu jadi tidak bisa menggunakan sihir, tapi... apa itu benar?" tanya Azure.


Zeeta mengangguk, lalu meregangkan tangan. "Aku bahkan tak bisa mengeluarkan angin kecil."

__ADS_1


"Heeehh... jadi kau pun punya kelemahan, ya...," timpal Mellynda.


"Ahahah, aku juga tidak pernah tahu. Tapi ... inilah yang akan kulakukan!"


__ADS_2