
[POV Gerda.]
"Gadis yang mengaku dirinya sebagai Penyihir Harapan, tampak begitu menawan dengan keanggunannya. Rambutnya yang berwarna perak itu kuyakin akan menyihir siapapun yang melihatnya. Pesonanya bertambah dengan mata biru langitnya. Pakaiannya yang seperti ingin memamerkan diri bahwa dia adalah seorang bangsawan, membuat diriku yang tidak mengenalnya—juga dengan rekanku yang lain—tanpa sadar telah mengaguminya.
"Meski begitu, gadis itu tidak menunjukkan sama sekali aura kebangsawanannya. Dia berbeda dengan bangsawan-bangsawan yang menjadi teman—rekan sesama pelindung kerajaanku—Novalius dan Mellynda. Dia juga sangat berbeda dengan Pangeran kerajaan tetangga yang bersuaka di sini, Klutzie Nebula. Tapi, entah kenapa... rasanya aku pernah melihat gadis, tidak, bukan berlebihan jika aku merasa bahwa aku tidak hanya sekadar melihatnya saja. Rasanya ... aku sangat mengenal gadis itu, tetapi kepalaku seperti diselimuti kabut tebal yang tidak mengizinkanku mengintip lebih jauh ke dalamnya....
"Tubuhnya tidak begitu mungil, juga tidak terlalu tinggi. Jika dia tumbuh dewasa, kelak dia akan menjadi wanita cantik yang akan selalu dilamar oleh pria di semua penjuru negeri atas dasar itu saja. Lekukan tubuhnya juga menandakan bahwa kelak dia akan membuat siapapun wanita iri melihatnya.
"Di depan mataku saat ini, ketika Kakakku Danny baru saja menyelamatkan kami dari bahaya kematian, semua kesan pertamaku serasa runtuh begitu saja. Pondasi pikiranku yang ingin mengokohkan kesan bahwa dia adalah 'bangsawan tanpa mana yang hanya menang dari penampilan', hancur dengan mudahnya.
"Dengan kecepatannya yang terlihat seolah-olah dia adalah kuda berlari yang menghempaskan debu, serta dampak pukulan yang mendarat di masing-masing musuh kami pasti akan membuat siapapun yang melihatnya terkesima. Kami semua yang ada di sana, Crescent Void, yakin, bahwa dia tidaklah memakai sihir dari dirinya sendiri, namun mana alam. Sebab entah sekuat apapun Manusia, jika lawannya adalah Hollow, mustahil bisa membuat mereka terpental hanya karena satu tendangan-pukulan yang sederhana.
"Dia benar-benar seorang bangsawan dengan kekuatannya yang dahsyat. Itu tak bisa lagi dipungkiri. Tapi, kenapa aku seperti pernah melihat cara sembrono ini—yang seakan-akan mempertontonkan pada kami betapa kuatnya dia—tanpa memedulikan apa yang bisa saja terjadi pada sekitarnya...?
"Saat dia mendaratkan kakinya di tanah, langit pagi yang masih dalam cerahnya, membawa hembusan angin pada rambut perak Si Gadis, menunjukkan dua buah anting yang berdansa mengikuti nada angin. Ia sadar bahwa kami semua menatapnya seperti orang bodoh. Tetapi, begitu dia melambaikan tangan ditambah dengan senyuman yang dilemparnya, suatu kabut di ingatanku tiba-tiba saja perlahan hilang. Ingatanku lekas memberitahuku siapa identitas gadis itu. Dia adalah teman pertamaku, temanku yang paling sering menghabisi waktu bersama-sama, orang yang dicintai Kakakku, serta orang yang sangat penting perannya tidak hanya bagi kerajaan, juga bagi dunia.
"Tanpa menunggu perintah dari otakku, mulutku bergerak begitu saja memanggil nama gadis itu. 'Zeeta...?'
"Semua mata di sekitarku langsung terbelalak. Mereka tak percaya apa yang baru saja mereka dengar. Jujur, aku pun tak memercayainya. Tanpa diberitahu pun aku tahu. Aku tahu gadis ini tidak akan menjadi musuh dunia. Wajahnya, cara bicaranya, juga bagaimana ia bertindak sama sekali belum berubah dari enam setengah tahun yang lalu. Tapi ....
"Lagi-lagi kami dilindungi lagi olehnya.... Apa kami memang tak bisa apa-apa tanpanya...?
.
.
.
.
"Tidak. Persetan dengan pikiran itu semua! Yang lebih penting, Si Cengeng itu ada di hadapanku! Berani-beraninya dia menipu kami dengan menyembunyikan identitasnya! Akan kuberi dia pelajaran!"
......................
"ZEE ... TAAA!!" Gerda langsung bangkit dengan aura mencekam yang terasa benar-benar marah.
"Geh—?! Ge-Ge-Gerda?!" Zeeta mundur beberapa langkah karena terkejut.
__ADS_1
"ZEEETAAAA!!" Gerda berlari sekencang mungkin demi menghampiri temannya satu ini.
.
.
.
.
"Dasar bodoh!" Gerda mendekapnya dengan sangat erat. "Apa yang sebenarnya kaurencanakan sampai harus menutupi kepulanganmu dan menyihir kami semua untuk melupakan siapa dirimu?! Antingmu saja pasti membuat siapapun paham siapa identitasmu, aneh kalau tiada orang yang mengetahuinya!
"Katakan! Apa yang ingin kaulakukan?!"
Zeeta tersenyum, lalu membalas dekapan Gerda. "Aku pulang, Gerda. Aku minta maaf saat itu aku tidak bisa menolongmu. Kautahu? Aku sempat berpikir kalian benar-benar sudah mati dan tak bisa tertolong lagi.
"Apa kautahu apa yang kupikirkan saat itu?"
"Jangan alihkan pembicaraannya! Jawablah aku, dasar bodoooohh!" Gerda menumpahkan tangisnya.
"Sederhananya, aku juga ingin melindungi kalian semua! Tujuan utama kita sudah terselesaikan! Ini adalah balasanku terhadap apa yang telah kalian capai enam setengah tahun yang lalu.
"Jika tanpa adanya kalian, Aurora sudah tidak ada lagi. Jadi ... tenanglah. Aku ada bersama kalian...." Zeeta mengelus punggung Gerda untuk menenangkannya.
"Ugghh.... Aku tak percaya ini! Dari semua orang kenapa harus kau yang harus kutangisi?!" keluh Gerda yang semakin mengeratkan dekapannya.
"Hahahah, apa yang kaukatakan? Tentu saja itu karena aku lahir tiga bulan awal darimu! Aku lebih tua darimu, dan aku bisa lebih dewasa daripadamu dalam berbagai aspek, hihihi!"
Gerda mencengkeram bahu Zeeta. Ia langsung meregangkan pelukannya. "HAH? Apa kaubilang?" tatapan mereka saling bertemu, yang membuat mereka tertawa terbahak-bahak tak lama kemudian.
Marcus, Danny, Mellynda, dan Colette berlari menghampiri keduanya.
"Tu-Tu-Tuan Putri Zeeta! Senang melihat Anda pulang dengan keadaan sehat!" ujar Marcus sambil hormat.
"Ayolah, ini bukan pertama kalinya kita bertemu. Jangan kaku!" balas Zeeta.
"Si-siap, Yang Mulia!"
__ADS_1
"Oh, Rivalku! A-aku tak menyangka kekuatanmu akan jauh sebesar ini! Tak bisa dipungkiri, hanya akulah yang pantas menjadi Rivalmu!" seru Mellynda.
"Aku tahu! Kristalmu jadi benar-benar kuat dan mengagumkan! Kautahu, jika kau menambahkannya dengan sihir es, serangan dan pertahanan bisa kau dua-kali-lipatkan!"
Mellynda menyeringai. Ia senang dengan respon Zeeta. "Fuh! Tentu saja aku tahu cara itu! Begini-begini, aku kan Rivalmu, oh Tuan Putri!"
Danny adalah orang yang selanjutnya menyapa Zeeta. Ia tak bisa menatap mata sang pujaan hati. Hatinya sendiri bahkan tak bisa memberinya secercah keberanian untuk menyapa. Jantungnya berdegup serasa ingin meletup. Darahnya menaik hingga membuat wajahnya terlihat unik. Namun, dia tidak menyangka. Dia tidak menyangka tubuh yang sebelumnya kecil, yang bahkan harus selalu ia gandeng demi bisa dilindungi, kini terasa kasar. Disatu sisi ia bangga, dilain sisi ia memprihatinkannya. Dia adalah Tuan Putri, tidak semestinya ia harus seperti ini.
Zeeta kemudian mendekap Danny erat, sama seperti ia mendekap adiknya. "Terima kasih sudah melindungiku ... terima kasih sudah melindungi kerajaan ... terima kasih sudah melindungi Gerda ... dan terima kasih karena sudah tetap hidup, Danny!" ucapan Zeeta membuat Danny dapat memantik api keberanian.
Danny membalas dekapan pujaan hatinya, lalu berkata, "Tentu. Lagi pula kalian adalah harta karun untukku."
Zeeta tersenyum mendengarnya.
"Tu-Tuan Putri...?" Colette menjadi orang terakhir yang akan menyapa Zeeta. "Se-sebenarnya ... anu...." Colette ragu ingin mengucapkan apa yang ada di benaknya.
"Ah, tentu saja. Aku suka bagaimana kau menyanjungku. Aku masih kalah daripada Si Tunangan itu, tapi itulah kekuatan dari cinta! Yang lebih penting, aku tidak suka adanya kekakuan disaat kita bicara!
"Kita adalah rekan yang mulai saat ini akan selalu menghabisi waktu bersama. Pahit, manis, dan masih banyak lagi. Aku akan sangat berterima kasih jika kau menerimaku sebagai teman, Colette!" Zeeta menyodorkan tangan kanannya. Colette tersenyum lalu menjabat tangannya dengan semangat.
"Ah, aku hampir lupa," kata Zeeta, "uhm... kausudah bisa bangun, loh, Tuan Novalius de Dormant XVIII! Untuk apa kau berlama-lama berbaring di rerumputan sementara kau sudah kusembuhkan sejak awal?"
"Eh?" kelima anggota terkejut.
Novalius bangun dengan lompatan kecil. Ia bertumpu dengan kakinya untuk bangun. "Soalnya, aku tak mendapat waktu tepat untuk muncul... suasananya begitu bagus untuk kurusak!" Novalius masuk dalam party.
"Eh? Sejak kapan...?" Gerda bertanya-tanya, kapan Zeeta menyembuhkan luka Novalius.
"Ah? Itu? Hmmm... yah, katakan saja itu ada hubungannya dengan hasil latihanku. Yang lebih penting, ini adalah waktunya bagiku untuk menunjukkan pada musuh, bahwa Zeeta yang dicemaskan sudah tak eksis lagi!"
......................
[POV Gerda.]
"Ketika itu, Zeeta tersenyum dengan percaya diri yang amat tinggi. Dia seakan ingin menegaskan pada teman-teman sekaligus rakyatnya, bahwa dia yang diramalkan oleh Ratu Peri, takkan hadir untuk mewujudkan eksistensinya. Zeeta di ramalan itu, adalah Zeeta yang berjalan di jalan penuh 'bunga mawar' yang tidak hanya dari 'harapan' kerajaannya, juga 'takdir' yang diberi oleh dunia. Dia menjalani semua hari-harinya dengan kesendirian, tanpa ada yang bisa memahami jeritan hatinya yang tidak ingin lagi berurusan dengan dunia sihir yang kejam ini.
"Zeeta di hadapanku ini, adalah tema—sahabatku yang paling berharga. Apapun yang terjadi di kemudian hari, kami telah berjanji untuk saling melindungi sampai semua masalah ini selesai."
__ADS_1