Zeeta Dan Dunia Sihir

Zeeta Dan Dunia Sihir
Jebakan


__ADS_3

Desa Lazuli adalah desa yang “damai”. Jarak antar satu rumah dengan yang lain, memiliki cukup ruang untuk bercocok tanam sendiri, baik dijadikan sebagai kebun pribadi, atau penghasilan sampingan. Letaknya yang berada di selatan dan paling jauh dari ibu kota, membuat banyak penduduk ini tidak begitu peduli dengan apa yang dikatakan kerajaan. Malah sebaliknya, mereka memanfaatkan penjaga gerbang untuk bersekongkol dan mendapatkan uang lebih banyak bersama-sama.


Sebelum Tellaura bisa memakai sihir, rumah-rumah penduduk desa ini sangat jauh dari kata layak. Hanya sebagian kecil yang bisa “memuaskan” Kepala Desa Greimwald-lah yang bisa mendapatkan hidup yang layak. Memuaskan dari segi penghasilan, pekerjaan, atau memuaskan yang lain.


Anak tunggal Greimwald, yakni Sigurd, memiliki sifat yang tidak jauh berbeda dari ayahnya—bejat. Namun, anaknya ini tumbuh lebih bengis daripada ayahnya sendiri. Dia bahkan memiliki grup sendiri yang sangat ahli dalam berburu. Keseharian mereka di dalam hutan yang selalu bertemu dengan hewan-hewan buas dan liar, tidak bisa dianggap sebelah mata. Tubuh-tubuh yang terlatih, kekar, juga banyaknya luka yang tertinggal di badan, akan membuat orang-orang tidak ingin berurusan dengan mereka.


Terlebih, setelah Tellaura membuat hidup penduduk semakin setara dan bisa semakin layak tanpa adanya “aturan ketat” dari Greimwald, mereka juga semakin ogah untuk mencari masalah dengan grupnya Sigurd.


Kendati banyak penduduk yang hidupnya semakin layak karena Tellaura, bukan berarti kebencian padanya benar-benar surut begitu saja. Mereka benci dirinya tanpa tahu atau mengerti apa dasar kebencian itu. Dengan kata lain, mereka hanya ikut-ikutan saja karena stigma serta generalisasi dari kebanyakan penduduk yang membencinya. Oleh karenanya, Tellaura tinggal lebih jauh daripada penduduk yang lain.


Untuk mencapai rumah dari kediaman Tellaura, butuh waktu kurang lebih sepuluh menit berjalan kaki—yang berarti berjarak sekitar dua sampai empat kilo. Layaknya pisau yang tajam, kondisi seperti ini bisa sangat menguntungkan dan membahayakan disaat yang sama. Jika Tellaura dan Clarissa butuh bantuan, takkan ada yang mendengar....


Ya, seperti malam ini, dimana Clarissa sedang sendirian di rumah di depan perapian sambil merajut....


......................


[Ketika hari masih sore....]


“Oh, tidak....” Suara Clarissa dapat didengar Hilma yang berada di rumah tambahan yang baru dibuat Tellaura kemarin. Ia segera berjalan menghampirinya.


“Ada apa?” tanya Hilma, yang mendapati Clarissa berada di belakang kediamannya.


“Aku lupa kalau sudah waktunya mengumpulkan kayu bakar lagi. Kemarin, kupikir setelah mencuci, aku ingin langsung berangkat ke hutan tapi....


“Kayu bakar yang kami miliki hanya cukup untuk malam ini saja.”


“Oh, kalau begitu biar aku saja yang mencarikannya untukmu.”


“Eh? Ti-tidak usah, aku bisa kok sendiri!”


“Tidak apa. Aku pasti bisa kembali sebelum malam.”


Clarissa mengingat-ingat lagi siapa sebenarnya Hilma ini—seorang pembunuh bayaran yang sudah memiliki pengalaman yang banyak.


“Percaya sajalah padaku. Kau pun memiliki hal-hal yang harus kaukerjakan di rumah, 'kan? Kau sempat bilang padaku kalau kau harus menyelesaikan syal-syal rajutanmu untuk anak-anak sebelum musim gugur.”


Clarissa akhirnya menyerah. “Baiklah, aku minta tolong padamu, Hilma.”


Hilma tersenyum. “Ya. Serahkan saja padaku.”


Sementara Hilma berangkat membawa kapak dan keranjang lalu berangkat ke hutan, Clarissa mulai bersiap-siap untuk merajut. Sebelum itu, ia menyalakan perapian dulu, sekaligus memanaskan air teko di atas perapiannya, untuk menyiapkan teh untuk dirinya dan Hilma malam nanti. Dia juga menyiapkan bahan-bahan mentah untuk makan malam.


Sementara itu, di dalam hutan yang dituju oleh Hilma....


“Haha, betapa takdir sungguh memihak pada kami.” Morgan menyeringai jahat. Saat ia melihat Hilma sudah memasuki hutan, ia melemparkan sejumlah butiran mana pada Hilma. “Bersenang-senanglah selama dia sendirian, Manusia...!”


.


.


.


.


‘tok tok tok!’


Pintu kediaman Clarissa diketuk. “Ah, akhirnya kau pulang, Hilma? Aku khawatir karena kau tidak kunjung pu—“ begitu dia membuka pintunya, ia terbelalak. Dia segera ketakutan dan menjatuhkan syal yang sedang ia rajut. “Si-Sigurd...? Ma-mau apa kau ke sini...?” dia juga melihat belasan lelaki yang tidak dikenalnya. Ada beberapa dari mereka yang berasal dari desa.


“Hehe.” Sigurd menyeringai. “Apa salahnya jika kami datang bertamu? Iya, ‘kan?” dia meminta suara anak buahnya.


“Itu benar!” jawab para anak buah Sigurd.


“Ma-maaf, aku tidak bisa menerima tamu!” kala Clarissa menutup pintu secara paksa. Sigurd menahannya dengan tangan.


“Ayolah,” kata Sigurd, “jangan begitu dingin pada kami. Kita ini sama-sama penduduk Lazuli, bukan? Mari berteman dengan baik... Risa.” Dia lalu mendorong pintunya hingga membuat Clarissa terjatuh.

__ADS_1


Ada semacam perhiasan berwarna merah di bawah dekat pintu, dimana itu seharusnya menghasilkan sihir untuk menghalangi siapapun yang memaksa masuk ke rumah—seperti yang pernah dialami Sigurd sebelumnya. Namun, ada sesuatu yang menyebabkan sihir itu tidak aktif. Sesuatu yang berkaitan dengan para Peri.


Saat itulah, ketika banyaknya lelaki itu masuk secara paksa ke dalam, perhiasan tersebut pecah, bersamaan dengan yang dikenakan Tellaura yang sedang berada di istana.


......................


Di istana, saat sang Ratu sedang menuliskan surat izin untuk Tellaura, si gadis berambut merah itu tampak panik dan berkeringat dingin. Sekarang dia berada di gerbang istana, ditemani Leon yang sedang memegang tali kuda hitam miliknya. Dia juga memandangi tangannya sendiri yang bergemetar. “A-aku ... aku tidak bisa memakai sihirku, Leon!” ujarnya panik.


“Tidak bisa...? Apa maksudmu?”


“A-aku pun tidak mengerti! Tidak pernah kualami ini sebelumnya!”


Kemudian dengan langkah yang dipercepat, Amanda sang Ratu menghampiri keduanya. “Kau tidak bisa bersihir, Laura?” tanyanya sambil memberi surat izinnya pada Tellaura.


“Apa Ibunda tahu sesuatu?” tanya Leon.


“Ya. Aku tahu.”


“Be-benarkah, Yang Mulia?!”


“Lihatlah ke langit.” Saat Tellaura dan Leon mendongakkan kepala, Amanda lanjut bicara. “Malam ini adalah malam bulan baru. Dikatakan, para keturunan bulan seperti kita, pada malam ini sedang dalam titik terlemahnya. Aku dan Leon tidak merasakan apapun, tetapi bila yang kaukatakan itu benar, maka cerita turun temurunnya pun benar.”


“Ti-tidak mungkin...,” gumam Tellaura, “Peri itu tidak memberitahuku tentang ini....”


Leon melepas antingnya untuk diberikan pada sang teman. “Bawalah ini dan cepatlah susul adikmu, Laura! Selama kita membuang waktu di sini, adikmu....”


Tellaura menerima dan menyimpan antingnya dalam saku pakaiannya. “Aku pergi dulu! Terima kasih atas bantuan kalian, Pangeran, Ratu! Aku pasti akan membayar hutang budi ini!” Tellaura segera menjalankan kudanya dengan cepat.


“Tunggulah aku, Risa...! Juga, semoga kau tidak apa-apa...,” batinnya.


.


.


.


.


“Aku tak punya pilihan lagi. Mana bisa kutinggalkan Risa sendirian kalau sudah malam begini. Firasatku benar-benar buruk.”


Hilma seketika melompat dengan lincahnya dari satu batang ke batang lain, hingga mencapai puncak pohonnya. Seakan tidak memiliki takut, dia berdiri di pucuk pohon dengan seimbang dan berhasil mendapati letak kediaman Clarissa yang... membuat firasatnya terbukti benar. Tidak ada penerangan dari dalamnya. Bahkan tak ada tanda-tanda cerobong asap yang dipakai. Tidak menunggu apapun lagi, dia langsung melesat kembali ke kediaman temannya itu.


“Ara ara... dia bisa terlepas dari sihir penyesat arahmu, lho, Morgan,” ujar seekor Peri berambut merah muda. “Apa kau tidak menilai dia bisa melakukan itu? Ataukah kau lupa bahwa dia adalah seorang pembunuh bayaran yang kemampuannya tidak boleh kau remehkan?”


“Berisik, Feline. Aku sudah melaksanakan perintahmu. Itu saja. Lagi pula, Manusia-Manusia itu sudah mirip seperti kera yang sedang dalam musim kawinnya. Sungguh menghibur.”


“Sudah dua jam sejak adik Laura itu ditinggal sendirian. Tidak mungkin dia selamat dari para Manusia itu. Aku puji cara kerjamu, Morgan. Sekarang, kita tinggal saksikan seperti apa perubahan dunia yang akan dibawa Tellaura begitu melihat adiknya seperti itu.”


Morgan menyeringai. “Itulah yang kutunggu-tunggu.”


......................


“Hehe.” Salah seorang pria sedang memakai pakaiannya. “Tidak kuduga ternyata dia cukup bagus juga.”


“Hei hei, jangan begitu. Begitu-begitu dia adalah manusia,” imbuh pria lain yang melakukan hal sama.


“Tidak tidak, mulai sekarang, dia itu mainannya Bos. Iya, ‘kan, Bos?” kedua pria itu melirik pada Sigurd yang masih “memakai” Clarissa.


Sigurd menyeringai. “Benar. Dan dia tidak bisa menolak lagi.” Dia memandangi tatapan kosong Clarissa. Wajahnya pun kotor dengan cairan-cairan putih yang beraroma amis.


Kemudian....


‘ZRSHT!’


Seorang pria yang tadi bicara, terjatuh begitu saja bersimbah darah. Lehernya tertusuk oleh pisau.

__ADS_1


“He-hei! Apa yang—“


‘ZRASHT!’


Dua pria tewas dengan cara yang sama, membuat seisi pria di dalam segera panik. Sigurd pun sama. “Siapa di sana?!” jeritnya.


“Kukira aku mencium bau yang aneh, ternyata....” Hilma mencengkeram kuat gagang pisau yang tersimpan di belakang pinggangnya. “TAK BISA DIMAAFKAN!” dibalik gelapnya ruangan, Sigurd diteror oleh jeritan-jeritan anak buahnya yang kemudian mendadak senyap begitu saja. Dia juga melihat siluet orang yang bergerak kesana kemari dengan begitu lincah dan cepat.


“Ti-tidak! Siapa kau?! Siapa kau sebenarnya?!” Sigurd turun dari kasur, kemudian berjalan melewati tubuh-tubuh bersimbah darah di lantai. Dia panik, bergetar, juga berkeringat dingin. Semuanya terjadi begitu cepat.


“Berani-beraninya kau mengotori Risa... berani-beraninya kau merebut hal yang berharga dari temanku sekali lagi!”


‘FWISH!’


Ketika Hilma hendak memenggal kepala bajingan itu, Sigurd malah lenyap begitu saja.


“A-apa?! Dia menghilang...?” Hilma menoleh ke kanan dan kiri.


“Hil... ma...?” suara lirih Clarissa terdengar.


“Risa?!” Hilma segera melepas pisau yang digenggamnya, lalu segera mendekap Clarissa. “Ini aku! Ini aku, Hilma!


“Risa, maafkan aku... maaf karena aku meninggalkanmu, ini semua—“


“Apa ... kakak sudah pulang...?”


“Be-belum. Ada apa?” tangis membasahi pipi Hilma, melihat kondisi Risa di depannya begini.


“Tolong ... jangan beritahu kakak tentang ini. Kalau dia tahu ... dia akan sangat marah dan ... dia tidak akan menjadi dirinya sendiri ... seperti saat itu....” Clarissa mengingat waktu dirinya dan kakaknya dipermainkan di hilir sungai.


“Jangan bercanda!” bentak Hilma, “tidak mungkin kurahasiakan ini dari—“


Cahaya dan suara tapak kaki kuda terdengar.


“Ma-maaf... kakak.... Ini semua karena salahku.” Clarissa pingsan, dengan tetesan air mata di mata kirinya.


“Hei! Risa!? Hei!”


Saat mendengar suara Hilma memanggil nama adiknya, Tellaura segera berlari menghampiri pintu dan langsung tak percaya dengan apa yang ia saksikan. Tidak perlu penjelasan apapun lagi dari pemandangan ini. Hilma yang menangis di atas genangan darah dari belasan pria yang sudah tewas dibunuhnya, juga kondisi Clarissa yang didekap temannya itu, Tellaura paham siapa orang yang bertanggung jawab atas ini semua.


“SIIIGUUURD!!!” jerit Telaura kencang, sekencang-kencangnya hingga membuat takut para burung. Jeritannya juga membawa atensi dari penduduk.


.


.


.


.


“Dengar itu?” tanya Morgan, di hadapan Sigurd yang telanjang bulat. “Tamat sudah riwayatmu.” Ia juga menyeringai.


“Ini berbeda dari perjanjiannya!” jerit Sigurd, yang wajahnya amat sangat panik dan pucat. “Kaubilang kau akan membantuku melakukan apa yang kuinginkan dan—“


“Aku memang sudah melakukannya. Ini hanyalah akhir yang sejak awal sudah terlihat jelas, baik jika Laura bisa bersihir atau tidak.”


“Hah? Apa maksudmu?”


“Kau bahkan terlalu bodoh untuk memahaminya? Kesepakatan kita sudah selesai. Tapi, aku menyelamatkanmu dari gadis yang sudah membunuh teman-temanmu itu, bukan karena aku berpihak padamu, tapi....


“Akan lebih menarik jika kau dihabisi oleh Laura sendiri.”


Senyum jahat Morgan ******* habis kebengisan dari anak tunggal Kepala Desa itu.


“Ah, sial.... Apa yang sudah kulakukan?” batin Sigurd, yang kemudian dipindahkan lagi oleh Morgan.

__ADS_1


__ADS_2