
"Minos...?! Tidak hanya dia tapi... Elf juga...?!" Klutzie yang menggendong tubuh Suzy terkejut dengan kedatangan Minos dan tiga Elf wanita berotot. Ya, ketiga Elf itu adalah Volten Sisters.
"Pergilah ke pintu itu sebelum semuanya runtuh, Manusia! Phantasmal yang menjadi parasit itu biar kami yang urus!" ujar sang kakak tertua, Jourgan. Ia bertolak pinggang, dengan tangan kanannya yang memegang tombak.
"Terima kasih Minos, suara kerasmu telah membuatnya terusik. Karena itu, Mintia bisa melancarkan serangannya," ujar Serina. Ia tersenyum.
Minos menanggapi Serina dengan hembusan napas dari hidung. Ia juga mengangguk.
"Lagi pula, Manusia, lihatlah sekitar! Ini bukanlah cuaca ekstrem lagi! Jika kau tidak menuntaskan apa yang dipercayakan Zeeta padamu, kami tidak akan memiliki wajah di hadapannya!" seru Mintia.
"Eh?" Klutzie akhirnya melihat sekitar dan menyadari badai api-petir yang masih berlangsung. Ia pun tersadar bahwa mana yang menurun drastis yang telah ia dan Siren rasakan sebelumnya, berasal dari Zeeta. Namun, mana yang saling beradu ini—yang mampu menyebabkan bencana ini—bukanlah dari Zeeta. Ia paham apa yang terjadi. Klutzie kemudian meletakkan tubuh Suzy di tanah.
"Bolehkah kutanya apa yang akan kalian lakukan pada kakakku?" tanya Klutzie.
Jourgan berjalan mendekatinya. "Tenang saja. Kami sudah mengetahui situasinya. Fokuslah pada gerbang itu dan selamatkan orang-orangmu!" Jourgan menepuk bahu kiri Klutzie.
Klutzie melihat ketiga Elf dan Minos... yang ia pikir tidak mungkin akan membantu manusia.
Jourgan sadar bahwa Klutzie tidak bisa percaya begitu saja, sehingga ia lanjut mengatakan, "Wujud Benih Yggdrasil yang bergabung dengan Roh-nya... memanglah kuat. Tapi, kekuatan itu tidak bisa digunakan untuk memisahkan Phantasmal parasit itu dari kakakmu, walaupun kau hendak mencoba membuat dan menaruh sihir itu pada pedangmu."
Klutzie tersentak mendengarnya.
"Kami ... kami para Elf ... memiliki caranya. Percayalah pada kami, Klutzie."
Klutzie terdiam. Ia sekali lagi melihat keempatnya. "Pergilah, Lutz. Percayalah pada mereka." Suara Siren terdengar di kepalanya. Akhirnya Klutzie membulatkan keputusan.
"Baiklah! Terima kasih banyak karena sudah menolongku!" Klutzie berlari ke arah gerbang yang masih selamat setelah semua pertarungan Klutzie dan Jewel. Namun, ketika dia sampai tepat di depannya....
"ROOAAARR!!"
Lolongan binatang buas yang terdengar tidak hanya satu, muncul dari sebelah kiri Klutzie, dari belakang Volten Sisters dan Minos. Tak lama kemudian, gerombolan binatang buas berwujud hitam dengan bentuk serigala, beruang, singa, binatang buas lain, termasuk kelinci bermata merah muncul bersamaan.
"Ja-jangan-jangan mereka...?" Klutzie memiliki ide apa mereka.
"Apa Klutzie? Kautahu sesuatu?" tanya Jourgan.
"Uhm!" Klutzie mengangguk. "Mungkin mereka adalah monster yang mendiami terowongan bawah tanah ini! Zeeta memberitahuku untuk tidak menggunakan mana, karena jika tidak monster-monster itu akan menargetku!"
__ADS_1
"Begitu. Monster, kah?" Jourgan tampak lega. "Mintia! Kuserahkan padamu!" serunya.
Klutzie terkejut. Elf itu berniat ingin menyerahkan jumlah monster sebanyak itu pada satu Elf lain? Apakah mungkin?
"Serahkan padaku!" Mintia segera membidik monster-monster itu dengan panahnya. Ujung anak panahnya muncul bola sihir—seperti ketika Jewel tertembak oleh bola api ungu. "Dilihat dari jumlahnya... Minos, bisakah kaubantu aku di bagian belakangnya?"
Minos menghembuskan napasnya lagi, mengisyaratkan ia setuju.
"Baiklah. Tunggu aba-aba dariku!"
Minos bersiaga untuk menyeruduk dengan tanduknya yang gagah dan besar itu.
'SHWOOP!'
Mintia menembakkan anak panahnya ke langit. "Menyebarlah!" serunya. Kemudian, langit gelap berbadai itu tampak seperti menjatuhkan ratusan bintang—yang semakin lama semakin jelas bahwa itu adalah panah api yang terpecah dari sihir bola di anak panah pertama yang ditembakkan Mintia. Panah-panah itu jatuh di bagian terdepan monster-monster berbentuk hewan. Api pun menyambar ke segala arah, membentuk diri layaknya dinding.
Dari belakang dinding api itu, terlihatlah siluet monster-monster yang lebih besar seperti ular, anjing, dan serigala berkepala tiga, datang menyusul.
"Sekarang!" seru Mintia.
Mata Minos bersinar merah. Ia berlari menuju monster ular berkepala tiga untuk menyeruduknya. Namun dia disambut oleh semburan racun dari kepala paling kiri si ular. Tanpa mempedulikan semburannya, Minos berhasil menyeruduk si ular dengan tanduknya ke atas hingga membuatnya terpental. Minos tidak berhenti menyerangnya. Dengan kaki dan ditambah tangan besar berototnya, ia meng-upper-cut si ular di bagian perutnya. Sebagai dampaknya, ketiga ular itu terpaksa membuka mulut. Disitulah Mintia sekali lagi beraksi.
'SWIING!'
Begitu ketiga panah tertancap....
"Tertusuklah!"
Dari mulut hingga bagian ekor si ular, muncul batu tajam yang melubangi tubuhnya. Si anjing dan serigala mengeram tidak senang.
"Lutz! Cepatlah, selagi mereka memberi kita waktu!" seru Siren.
"Uhm! A-aku tahu!" Klutzie segera menyentuh gerbangnya. Begitu dia menyentuh, tubuhnya bercahaya dan ia hilang begitu saja.
Melihat Klutzie tidak lagi di tempat, Jourgan menatap Serina. "Baiklah, ayo lakukan ini, Serina!"
Serina menghela napas, lalu membalas, "Aku tak menyangka akan seperti ini, tapi... baiklah!"
__ADS_1
"Mintia! Fokuslah pada monster itu dan serahkan pemisahannya pada kami!" jerit Jourgan.
"Aku tahu!" balas Mintia ikut menjerit.
......................
Sementara itu, di bawah kerajaan Nebula, Azure masih terus mencoba menghentikan hilangnya Luna dengan mana-nya sendiri, bersama dengan L'arc yang masih tak sadarkan diri. Kala itu....
"Kumohon Luna...," kata Azure sambil menyembuhkan Luna, "kau tak bisa hilang begitu saja! Kau adalah Roh, 'kan? Kau adalah Yggdrasil, 'kan?
"Berjuanglah! Bertahanlah! Bukankah kauingin mewujudkan keinginan Zeeta, dengan begitu kaubisa membimbingnya menuju keputusan yang harus dia ambil diakhir perjalanannya nanti?!
"Janganlah mati dulu, Luna!!!"
.
.
.
.
"Eh? Luna...?" Azure menghentikan penyembuhannya. Ia sadar hilangnya Luna menjadi butiran mana terhenti. "Apa... aku berhasil?" gumamnya.
Azure kemudian melihat ke arah L'arc. Ia menghampirinya. Sambil memandanginya ia membatin, "Siapa pria ini sebenarnya? Apa hubungannya dengan Lucy...?
"Aku tahu Lucy tidak bisa terlalu dipercaya, tapi... setelah selama ini aku mengikutinya, rasanya dia....
"Hm? Tunggu dulu.... Bukankah tadi dia memiliki luka bakar...? Tapi sekarang...." Ketika Azure ingin mengecek lukanya....
'BWOOM!'
Azure mundur dengan gerakkan meroda ke belakang. Untungnya, ia berhasil memunggungi Luna. Tapi sayangnya, lubang hitam yang selama ini melindunginya dari tornado api-petir lenyap karena konsentrasinya pecah. Begitu sihirnya hilang, ia terengah.
"Siapa di... sana?" tanya Azure.
"Aku hanyalah seorang pelayan." Suara yang bersumber di atas Azure, membuatnya mendongak.
__ADS_1
"Eh?" Azure mendapatkan seorang wanita di usia sekitar dua puluh enamnya, yang memakai set classic maid dengan rok panjang berenda dan warna hitam, bercelemek putih dan bando pita putih, serta rambut cokelat kehitaman yang disanggul. Wanita itu pun memakai kacamata. Yang lebih menariknya lagi, wanita pelayan itu tidak terbang, namun memakai parasol. Parasol itu seperti parasut baginya untuk mendarat di sebelah L'arc. Ia kemudian menutup parasol-nya, membaliknya, lalu menancapkannya di tanah.
Selanjutnya wanita itu menarik sedikit rok sebelah kanan ke atas, menarik kaki kanan ke belakang, membungkukkan setengah badannya, serta menaruh lengan kiri di dada kanan. Ia kemudian memberi salam. "Selamat malam, Nona Azure. Senang bertemu dengan Anda. Meskipun aku tidak bisa mengatakan siapa Majikanku, tapi aku hanyalah seorang pelayan biasa, namaku adalah Asteria."