Zeeta Dan Dunia Sihir

Zeeta Dan Dunia Sihir
Negeri Para Raksasa


__ADS_3

Sementara Zeeta sedang berbicara hal serius dengan kakeknya di kediaman Levant, di salah satu kedai di kota Moko—kota tepat setelah memasuki gerbang Wilayah Selatan—Azure dan kakak-adik Bloomy sedang berkumpul di sebuah kedai.


"EEEEHH?!" suara terkejut Azure menjadi pusat perhatian sejenak bagi para pengunjung. "Ma-maaf!" ia membungkukkan setengah badannya karena sudah memancing keributan. Para pengunjung tak memedulikannya dan kembali sibuk dengan urusannya masing-masing—ada yang makan dan ada pula yang mengobrol.


"Apa maksudmu kau sudah menembak Zeeta, Danny?!" kini Azure bicara sedikit berbisik. Wajahnya terlihat amat sangat terkejut.


"Soal itu, aku yang akan menjawabnya." Sahutan Gerda tidak disangka Azure.


"Eh...? Apa maksudnya...?"


Kemudian dimulailah kilas balik yang dikisahkan oleh gadis berambut pirang sepunggung bernama Gerda tersebut.


.


.


.


.


[Semalam....]


Gerda dan Danny, beserta banyak penduduk lain, telah menghabiskan waktu bersama untuk makan malam. Tidak bisa dibilang sebuah pesta, tetapi tetap dapat dianggap sebagai sebuah kemeriahan. Beragam jenis makanan dan minuman dihidangkan, namun kali ini, Zeeta tidak biasanya enggan unjuk gigi tentang kemampuan memasaknya. Kendati demikian, mereka tetap menikmati berkah untuk dahaga dan perut mereka malam ini.


Kemudian, setelah semuanya selesai dan segala peralatan yang dibutuhkan sudah dibereskan, kakak-beradik itu mendapati jika Zeeta sedang gusar akan sesuatu dan diam-diam pergi ke suatu tempat. Mereka berdua saling tatap untuk sesaat, lalu mengangguk begitu saja. Seakan-akan, mereka memiliki pemikiran yang sama.


Kakak yang berambut merah dan adik yang berambut pirang itu kini sedang berjalan beriringan dengan tetap menjaga jarak dari sang target. Keduanya terheran-heran, mau kemana dia seorang diri dengan melintasi jalan sejauh ini? Namun, lama kelamaan, rasa penasaran dan bingung mereka semakin tinggi usai melihat beberapa reruntuhan yang sudah berumur dan berlumut di banyak titik yang telah dilewati. Bahkan jalan setapak yang mereka lalui saat ini pun terdapat sisa-sisa peradaban, seperti adanya bekas batu paving yang sebagian sudah tertutupi tanah, dan lain-lain.


Mereka akhirnya berhenti setelah mendapati Zeeta berhenti tepat di sebuah rumah tua yang ... memang lebih pantas disebut sebagai reruntuhan. Namun, dia tidak mendekati reruntuhan tersebut, namun justru ke padang rumput di seberangnya.


"Kira-kira apa yang dipikirkannya, ya...?" gumam Danny.


"Dasar. Kau ini sudah kenal Zeeta sejak kapan? Memang kau tidak bisa menebaknya?"


"Eh? Memangnya kautahu?"


Gerda kecewa dengan kakaknya ini. "Sungguh... kenapa kau begitu bodoh dalam hal seperti ini...?


"Dengar ya, Zeeta itu sedang gundah! Kau juga sudah dengar semuanya dari Luna, bukan, apa yang menanti Galdurheim?"


"Oh...." Danny mengangguk-angguk, yang kemudian segera terdiam memikirkan sesuatu.


"Hmm? Ada apa denganmu?"


Danny lalu berwajah yakin. "Aku ... akan menembak Zeeta."


"Eh?!" Gerda sedikit merona mendengarnya. "Sungguh? Meskipun kau adalah kakakku yang begini, akhirnya kau berani? Meskipun kau begini?"


"A-apaan maksudmu dengan 'begini'?!

__ADS_1


"Ergh....


"Sebelum aku menyesalinya, aku ingin dia tahu perasaanku. Mungkin saja ketika Akhir Dunia itu tiba, aku mati. Aku tidak ingin hal seperti Malam Neraka itu terjadi lagi. Seharusnya kitalah yang melindungi Zeeta, tetapi....


"Dibandingkan hanya mengejarnya dengan kekuatan saja, aku ingin melakukannya dengan cara yang lain. Dan ... kuharap semuanya akan baik-baik saja...."


Gerda tersenyum kecil. Ia turut senang dengan tekad kakaknya. "Asal kautahu, jika kau mati, mungkin aku juga akan menyusulmu. Jadi, usahakan untuk terus memberontak, oke?"


"Hahaha.... Baiklah...."


"Sekarang, pergilah. Kau tidak ingin menyesalinya, 'kan?"


Danny mengatur napasnya terlebih dahulu. Mentalnya butuh persiapan. "Oke. Doakan aku!"


.


.


.


.


"Dann... begitulah. Semuanya sudah kuungkap. 'Gimana? Aku cocok untuk menjadi storyteller, 'kan?" Gerda menyombong diri.


Azure meneguk cangkir besar dari kayu yang berisi alkohol anggur. Keduanya ragu apakah Tuan Putri sepertinya boleh minum, apa lagi mabuk, di siang bolong begini?


'DHUWAK!'


"Ada Novalius, ada Klutzie, mungkin saja ada juga dari pihak Elf."


"Hah...? Nova dan Klutzie?" Danny mencengkeram erat tangannya. "Siapa takut dengan mereka berdua?!" keningnya memunculkan urat. "Tidak kuizinkan mereka dapat kesempatan!"


"HAHAHAHA!" Azure tergelak dengan sangat keras. "Semangat yang bagus! Tapi, yang lebih penting, kalian berdua...." Azure tiba-tiba menyipitkan matanya, seolah ingin menyampaikan sesuatu yang sangat penting.


"Kalian sudah bersiap diri untuk mati?" ia bicara dengan mendekati telinga keduanya. "Kalian pikir aku akan mengizinkannya?


"Cukup sudah. Setelah ini, ayo latih tanding denganku!"


"Geh?!" kakak-adik itu sinkron—sangat enggan untuk mengiyakannya.


"Mu-mungkin lain kali—" Danny yang ingin ngeles, segera tertukas.


"Lawan kita adalah Jormungand. Beradaptasilah dengan melawan sihirku."


Keduanya langsung berubah pikiran. "Tolong latih kami, Kak Azure!"


......................


[Sementara itu, di Jötunnheim....]

__ADS_1


Di dunia ini, segalanya sangatlah keras. Baik alam ataupun lingkungan sosialnya. Para Raksasa membagi wilayah dengan beberapa pemimpin.


Di sini, musimnya tidak berotasi, melainkan menetap pada suatu wilayah. Musimnya pun tidak seperti yang biasa hadir di Galdurheim. Misalnya, jika di sana musim salju, di sini Badai Salju; kemudian musim panas, di sini Vulkan; musim gugur, di sini Tanah Tandus; lalu ada musim semi, yang menjadi Tanah Terlarang. Meskipun "musim"-nya tidak berotasi, tetap ada siang dan malam.


Kemudian, jika mengingat-ingat lagi, ketika Ozy, sebagai salah satu dari ras Raksasa, mendatangi kerajaan Aurora disaat Zeeta hendak dinobatkan sebagai Tuan Putri, tubuhnya mirip seperti bongkahan batu berlumut dan emosinya yang sangatlah kaku. Bicara saja kesulitan. Namun, nyatanya, Jeanne dan putrinya, Titania, tidaklah demikian. Keduanya justru memiliki rupa yang sangat mirip dengan Manusia. Demikian pula dengan yang ada di sini—rata-rata.


Para pemimpin dari wilayah "musim" tersebut, kini berkumpul di satu titik, yang merupakan tanah luas berbatu runcing di beberapa tempat. Mereka semua tampak garang, kuat, dan kekar, dengan banyak bekas luka di tubuhnya. Namun, di sana, dari empat wilayah, hanya ada tiga yang hadir. Dari ketiga pemimpin tersebut, cukup mudah dan untuk mengetahui dari mana wilayah yang diwakili.


Raksasa tanpa wajah normal, namun seperti wajik, berkulit merah gelap dengan garis-garis bersinar kuning-kejinggaan di seluruh tubuh. Selain wajah, tiada yang aneh, semuanya serupa dengan Manusia. Dia adalah Surtr, pemimpin dari Vulkan.


Kebalikan dengan Surtr, ada Snjór. Ia berambut gimbal lebat putih, berjanggut hingga dada, dan bermata tanpa pupil—mata itu bersinar putih-kebiruan. Ia membawa tongkat besar di tangan kirinya. Ia juga memiliki gelang hitam berduri di masing-masing tangan.


Pemimpin Tanah Tandus, adalah adalah Raksasa berupa serigala, Fenrir. Sosoknya tampak memukau dengan bulu lebatnya yang terlihat seolah berkilau-redup. Dia memiliki dua warna—bagian atas berwarna kelabu, dan bagian bawahnya hitam. Mata hijaunya memiliki bekas luka sayatan, pupilnya runcing, dan dia tak bisa menghentikan liurnya, serta terus saja menggeram. Tubuhnya cukup kecil untuk ukuran Raksasa, sebab ia termasuk ideal untuk bisa ditunggangi Raksasa yang ada di dekatnya—walau ia takkan pernah mengizinkannya.


"Æsir sialan itu...," ujar Snjór, "dia tetap tidak mau ikut bersama kita! Padahal waktunya telah tiba!"


"Tak usah kaupedulikan Raksasa bodoh yang telah melupakan harga dirinya!" bentak Surtr, "yang lebih penting, persiapan kalian pun sudah siap, 'kan? Kita juga harus berhadapan dengan Naga!"


"Aku sudah melakukan sesuatu tentang itu!" Fenrir membalas.


"Oh?" dua lainnya tertarik.


"Mereka ternyata punya urusan yang belum diselesaikan dengan pengkhianatnya, keturunan Naga Perang dan Naga Penempa."


Snjór menyeringai lebar. "Bocah-bocah itu masih hidup? Kalau begitu... Ragnarok kali ini akan meriah...."


"Meriah?!" Fenrir membentak, "aku takkan memaafkan Manusia yang telah melukai mataku ini.... Karena mereka, aku...."


"Siapa yang peduli terhadap matamu, Fenrir?!" Surtr mengejek.


"Hah?!"


"Walau kau mengincar Manusia yang melukaimu, dia pasti sudah mati! Incar saja keturunan mereka ... yang kala itu pernah kita lihat bersama!"


"Cih!"


"Gerbangnya saja hampir terbuka dua kali karenanya," sahut Snjór, "Yggdrasil memang hebat. Bayangkan ketika kita berhasil menuntaskan dendam ini...."


"Aku tetap tidak senang. Kenapa harus Jormungand yang menjadi pertanda Ragnarok dimulai?! Terakhir kali pun juga!" Surtr menghentakkan kaki hingga lahar segera menyembur dari retakannya.


"Akui sajalah, Surtr," jawab Snjór, "dia memang kuat. Lagi pula, dia tetap ada di pihak kita."


"Heh!" Surtr terdengar senang. "Kau benar. Aku tidak sabar dengan Ragnarok nanti!"


Sementara itu, di Tanah Terlarang....


"Cepat! Siapapun harus bisa kabarkan ini pada Raksasa yang membantu Galdurheim mengunci gerbangnya lagi!" seorang Raksasa wanita berambut hijau rumput dengan berbagai hiasan di tubuhnya, juga memegang tongkat langsing di tangan kanannya, terkejar oleh waktu. Dia berdiri di hadapan Raksasa lain.


"Mustahil, Nyonya Æsir!" salah satu Raksasa menjawab. "Tidak mungkin berkomunikasi dengan mereka sampai waktunya tiba!"

__ADS_1


"Aku tahu itu! Tapi, gerbangnya sempat terbuka dua kali, oleh kekuatan keturunan Bulan! Kalian tahu apa maksudnya, 'kan?!


"Waskita Yggdrasil belum terlangkahi! Jika kita terus diam saja, Surtr dan yang lain benar-benar akan...."


__ADS_2