
"Untuk memastikan kemenangan, maka kau harus belajar dari pengalaman, dalam hal ini sejarahku." Zeeta Alter sedang berbicara pada Keenai dan L'arc sebelum gerbang Drékaheim dan Jötunnheim dibuka. "Ada satu hal yang harus bisa kalian lakukan begitu Jötunnheim dan Drékaheim terbuka. Satu hal yang dasarnya sederhana."
Alter menciptakan beberapa butir pil dengan sihir kegelapannya.
"Bujuklah para Raksasa untuk menelan pil ini."
"Apa itu, Nona?" tanya Keenai.
"Keenai. Aku penasaran apakah kau masih ingat dengan Raksasa Fenrir?"
Keenai segera terbelalak. "TENTU SAJA!"
"Pil ini akan memaksanya memiliki afinitas kegelapan, memungkinkannya memanggil Hollow, dan mengganaskan insting balas dendamnya."
"Balas dendam? Apa dia serius...? Apa dia memang sungguh berpikir bahwa kami—"
"Pakailah celah itu untuk kemenanganmu, Keenai. Aku sudah mengalami sendiri sejarah dimana dia akan dihentikan oleh Gerda. Afinitas gadis itu adalah tanah, maka bukan tidak mungkin dia juga bisa melihat seperti apa sejarah yang sebenarnya terjadi kala itu.
"Kita akan memperparah jalannya Ragnarok di dunia ini.
"L'arc, kau adalah pria baik hati, jujur, dan selalu mengutamakan orang lain sebelum dirimu sendiri. Namun, tidak pernah ada yang sesuai dengan ekspektasimu, malah semuanya hancur berantakan.
"Kau sudah hidup lima ratus tahun, tetapi selama itu kau tidak begitu paham apa yang sebenarnya kaulakukan. Menyelamatkan dunia dengan menghapus keberadaan kerajaan Gala? Menghilangkan eksistensi Raja Buas, Barghest?
"Semuanya memang memilik kemungkinan untuk tidak melahirkan Alicia ataupun Zeeta di dunia ini. Namun, wujud kehidupan yang telah membantumu selama itu, ternyata BUNGKAM terhadap waskita yang mereka sampaikan pada dunia.
"Pengkhianatan yang sungguh menyakitkan, jika harus jujur."
Alter memandang lurus L'arc yang mencengkeram tangannya, serta menggertak gigi. Alter pun tidak menunjukkan ekspresi senang atau sedang mengolok-oloknya. Dia hanya mengutarakan fakta.
"Keenai. Salah satu di keluargamu adalah pemilik kekuatan Bulan. Temanmu adalah pemilik kekuatan Matahari. Sementara yang lain bisa menggunakan sihir secara nyata, namun kau hanya bisa meramal ketika bintang bersinar menemani bulan.
"Kau sudah memperingatkan semua yang hendak menuju ke sarang Fenrir, tetapi mereka tidak mendengarkan. Yang kembali hanya satu orang, yang memiliki kekuatan Bulan, dan orang itu adalah yang pertama kali membujuk temanmu, pujaan hatimu, sekaligus calon istrimu, yang pada akhirnya malah mengundangnya pada kematian.
"Kau masih bisa berdamai dengan orang itu dan dirimu sendiri, sehingga pembalasan dendam pun terhindarkan.
"Namun kenyataannya, orang itu justru menyampaikan cerita yang mengada-ada pada manusia yang lain, bahkan hingga generasi selanjutnya, kau dijuluki sebagai....
"Iblis Peramal.
__ADS_1
"Sesuatu yang tidak pernah kauucapkan, lakukan, atau bahkan lihat, secepat arus pantai ketika pasang, kau semakin dihina oleh mereka... utamanya para pemilik kekuatan Bulan.
"Lagi-lagi sebuah pengkhianatan.
"Tidak perlu kuucapkan lagi seperti apa pengkhianatan yang kuterima. Seperti apapun besarannya, pengkhianatan adalah pengkhianatan. Kita semua sudah lelah dengan dunia sihir ini. Tidak perlu kita pandang lagi siapa yang akan atau mau menerima pil ini, tetapi....
"Rasa sakit ini, harus dibalaskan, apapun yang terjadi. Iya, 'kan?"
Pria dari lima ratus tahun dan tiga ribu tahun yang lalu itu mengerutkan dahi—merasa teryakinkan.
"Dengan kekuatan yang kudapatkan dari rasa sakit itu, akan kubalaskan semuanya. Akan kubuka dua gerbang itu, bersiaplah." Alter memberikan masing-masing pria beberapa butir pil hitam.
Alter membuka langit-langit tanah itu dengan sihirnya. Kemudian dia berdiri dan terbang, diikuti oleh dua lelaki pengikutnya. Ternyata, tempat mereka bersembunyi sangat dekat dengan dua gerbang yang ditahan oleh Rune-nya Ozy, dan dikecilkan ukurannya oleh Vanadust. Waktu masih pada dini hari. Sepi dan hanya terdengar deru angin. Alter setelah itu mengubah cincin Catastrophe Seal-nya ke bentuk sabit dan terbang menghampiri tulisan Rune tersebut.
'ZRANGG!!'
Tanpa mengucapkan sepatah katapun, Alter menghancurkan Rune dan melebarkan gerbangnya. Angin segera tertiup kencang dari dalam dua dunia tersebut, menghempaskan rambut dan mendorong sedikit Alter.
"Ragnarok dimulai. Sisanya kuserahkan pada kalian. Aku tidak akan menuntut kepada siapa saja kalian berikan pil-pil tersebut. Aku akan fokus pada Zeeta dan mengawasi jalan pertempuran dari belakang."
Keenai dan L'arc saling tatap sesaat, kemudian mengangguk. Keenai pergi ke arah barat, sementara L'arc ke arah timur. Alter sendiri pergi ke arah utara.
[Sekarang....]
Terbukanya dua gerbang dunia, menandakan Ragnarok telah dimulai. Jika Saitou tidak memberitahunya tentang itu, tentunya Arata Akihiro kewalahan dengan apa yang harus dilakukannya. Satu-satunya rekan kuat yang mampu diajak bekerja sama bila ancaman seperti Raksasa dan Naga menghampiri kekaisaran mereka hanyalah Saitou. Memang, Arata Akihiro kuatnya diluar nalar para rakyatnya, namun bila mereka disergap diwaktu yang sama, bukan tidak mungkin Arata gagal melindungi rakyatnya. Tidak ada yang mengetahui pula siapa yang akan menjadi lawan mereka.
Untuk saat ini, Arata memerintahkan para rakyatnya untuk masuk ke dalam istana dan berlindung di sana. Ia tidak menyuruh mereka ke sana pada beberapa hari yang lalu, sebab di istanalah portal antara Seiryuu dan ruang bawah tanah Axel terhubung. Ia tidak bisa merisikokan terbongkarnya rahasia tersebut.
Kini, yang bersiaga di Seiryuu hanyalah Arata, Riruko, Saitou, dan beberapa sukarelawan yang bersedia melindungi Seiryuu usai Saitou dan Arata menjelaskan apa yang terjadi pada dunia.
Beberapa saat kemudian, di langit, kendati fajar hendak menyingsing, sebuah bintang berkilau sangat terang. Lalu, tanpa diduga mereka yang sedang berjaga, dari bintang tersebut....
'BWHAAAMM!'
Terdengar seperti ledakan, namun tak ada ledakan yang terjadi. Yang ada hanyalah medan penghalang dengan gemerlap bintang mengelilingi.
"Kakak, kaudengar?" Hitomi bertanya melewati telepati.
"Hitomi, kah?" pertanyaan Arata segera memancing mata Riruko dan Saitou padanya.
__ADS_1
"Uhm. Yang baru saja terjadi adalah aku mengirimkan bantuan pada kalian. Itu adalah medan penghalang yang terinspirasi dari Aurora. Mungkin tidak sekuat mereka, namun setidaknya itu mampu menahan beberapa kali semburan napas Naga.
"Aku tidak bisa kembali ke Seiryuu, sebab aku harus ke suatu tempat dulu. Jika memang sesuatu terjadi, aku akan segera ke sana."
Hitomi kemudian menyudahi telepatinya, lalu ditanggapi Arata dengan, "Yang benar saja...?"
"Ada apa?" tanya Riruko, yang segera dijawab oleh Arata.
.
.
.
.
Sampai fajar benar-benar tiba, akhirnya beberapa sosok Raksasa terlihat. Awalnya, langit dan tanah merah di sekitar Raksasa dan pasukan yang ada di belakangnya tersebut, merupakan ilusi mata, dimana mereka terus saja memandangi arah matahari terbit itu. Namun....
"Gawat! Itu adalah Surtr!" Saitou, atau Nidhogg, Naga Pengecut dari tiga ribu tahun silam, kepanikan.
Dari kejauhan, mereka semua bisa melihat tanah di dekatnya diretakkan—mengubahnya jadi bongkahan besar. Disaat yang sama, langit pun mulai dilukiskan oleh lingkaran sihir yang hendak menghujani meteor. Ketiganya panik dengan apa yang harus dilakukan, tapi kemudian....
Mata Arata menyala. "Menyingkirlah, kalian berdua."
Sempat terkesiap dengan perubahan sikap dan suara dadakan dari Arata, keduanya tetap menjauh. Arata kemudian bersiap untuk mencakar dengan tangan kanannya. Urat-uratnya tampak jelas di punggung tangan, bahkan kukunya pun memanjang. Ia menunggu momen yang tepat untuk menyerang. Begitu Surtr melemparkan bongkahan batu besar yang kini sudah berubah merah menyala karena panas....
'DRASSH!'
Arata mencakar. Cakarannya seakan terbang di udara dan itu berwarna merah gelap. Cakar itu mampu menebas bongkahan batunya dan menembus menuju Surtr, tetapi....
'BWASSH!'
Dengan mudahnya Surtr menangkisnya.
"Begitu." Arata kemudian mengikat rambut panjangnya dengan ikat rambut. "Kuserahkan langitnya pada kalian. Hanya begitu saja bisa kalian atasi, 'kan?"
Riruko dan Saitou mengangguk. Demikian pula pada sukarelawan yang menjerit untuk menambah api semangat.
"Manusia memang makhluk yang sukar dimengerti...," batin Surtr.
__ADS_1