Zeeta Dan Dunia Sihir

Zeeta Dan Dunia Sihir
Serina dan Gerda


__ADS_3

Sudah tiga jam semenjak Gerda dan Serina melalui jalur darat demi memeriksa bekas-bekas mana yang menjadi petunjuk untuk menuju desa yang hancur karena sesuatu saat melindungi Batu Jiwa. Terkadang, mereka juga memeriksa melalui udara—sudah dekat atau tidakkah mereka dengan desanya. Hingga akhirnya, jerih payah keduanya membuahkan hasil. Mana itu bukanlah berasal dari seseorang, namun dari zirah atau pakaian yang tercerai berai entah karena alasan apa.


Reruntuhan dengan bekas hitam di kebanyakan bangunannya, menjadi hal yang pertama kali disaksikan Gerda dan Serina. Namun, walau mereka sekarang yakin sekali desa yang mereka injak ini, hancur bukan karena Zeeta, tetapi ada kaitannya dengan negeri Timur. Mereka semakin yakin setelah Serina menemukan lagi pecahan zirah yang tersembunyi dibalik reruntuhan.


“Aneh...,” ujar Serina, yang berjongkok sambil memeriksa pecahannya. Ia berhasil mendapat atensi Gerda.


“Apanya?” tanya Gerda.


“Kita memang berhasil menuju desanya, tetapi rasanya seperti seseorang memandu kita ke sini. Sejak pertama kita menemukan pecahan zirah ini, kita selalu menemukannya lagi dan lagi, hingga akhirnya kita di sini.”


“Saat dibilang lagi ... kau benar juga.... Apa kaupikir ini jebakan?”


Serina mengernyit, mencoba melihat sekitar lagi secara saksama. “Tidak.”


“Hmm....” Gerda ikut melihat secara saksama, mencoba tidak melewatkan sedikitpun kemungkinan ada-tidaknya jebakan. “Sudah kuduga, memang ada yang aneh dari tempat ini. Jebakan atau tidak, kau benar, kita seperti dipandu ke sini. Tapi ... tidak adanya keanehan di sini, justru membuatnya jadi semakin aneh.


“Serina, aku akan melakukan sesuatu untuk memastikan, jadi tolong mundurlah beberapa meter.”


Tanpa meragukan Gerda, Serina langsung menurutinya.


Gerda kemudian mengeluarkan tongkat sihirnya, memegangnya dengan tangan kanan, merapatkan kaki—kaki kanan di depan, kiri di belakang—lalu tangan kiri diangkat setinggi pundak—layaknya seorang konduktor.


Lingkaran sihir hijau muncul di bawah kaki setelahnya, dilanjutkan dengan melawannya gravitasi pada beberapa bagian pakaian dan rambut pirang panjang Gerda. Ia memejamkan mata, yang setelahnya muncul getaran-getaran di bawah reruntuhan.


Serina mencoba menebak apa yang sedang ia lakukan. Tetapi kemudian, ia mengingat ketika Gerda masih empat belas tahun, dimana sebelum ia hampir menemui ajalnya, ia melakukan hal yang sama. Serina pun mengerti, bahwa atribut sihirnya—atribut yang jarang dimiliki kebanyakan manusia atau makhluk sihir lain—adalah atribut yang bisa berkomunikasi dan memanfaatkan alam, yakni tanah. Terkhusus untuknya, Gerda dapat memanipulasi tumbuhan.


Melalui indera yang difokuskan setelah memejamkan mata, Gerda mendapatkan beberapa petunjuk melalui pendengaran dan “informasi” yang diberikan oleh tumbuhan dan tanah. Melalui sihir yang digunakannya, tumbuhan-tumbuhan yang berada di sekitar desa, seperti pepohonan, rerumputan yang masih tersisa, juga tanahnya, seolah memberikan visualisasi kepada Gerda tentang apa yang telah terjadi. Tidak lama setelahnya, ia mengusaikan pencarian, dan Serina langsung menghampirinya.


“Bagaimana?” tanya Serina.


“Setidaknya, aku tahu desa ini sempat hancur karena badainya Nyonya Ashley, tapi....” Gerda mengernyitkan alis. “Pelayan yang kusebut di hadapan Paduka Ratu, adalah dalang dibalik hancurnya dan tewasnya penjaga Batu Jiwa di desa ini.”


Serina kaget mendengarnya. "Haruskah kita melaporkan ini?"


Gerda memegangi dagunya. “Kupikir kita harus menuju desa baru yang dibangun warganya. Tapi....”


Serina mengerti apa maksud Gerda. “Kita tidak akan disambut, aku mengerti risikonya. Apa boleh buat.”


“Kalau begitu... ayo.”


“Uhm.” Serina mengangguk.


................


Dalam perjalanan Serina dan Gerda menuju tujuan baru mereka, sambil terbang, mereka berbicara mengenai kemiripan keduanya.

__ADS_1


“Hei,” panggil Serina.


“Hmm? Ada apa?” tanya Gerda.


“Tidakkah kau menyadarinya?”


“Tentang apa?”


“Jika kemampuan kita tidak begitu berbeda.”


“Apa iya?


“....


“Kurasa tidak begitu.”


“Apa kauyakin?


“Kita sama-sama bisa melakukan pencarian cepat. Aku dengan kepekaanku dan kau dengan sihirmu.”


“Mhhmm.... Yah, kau ada benarnya, sih.... tapi menurutku.... ini bukanlah suatu kemiripan. Apa yang kulakukan tadi, hanyalah meniru Zeeta.”


“Meniru? Apa maksudmu?” Serina sama sekali tidak paham.


“Ya. Aku berlatih dengan Luna, mendapatkan senjata suci, bertemu dengan banyak makhluk sihir hebat sepertimu, Dwarf, bahkan hingga Naga, hanya karena tidak ingin tertinggal oleh Zeeta.


“Untuknya hal itu tidak begitu istimewa, tetapi tetap saja, dia selalu mendorongku untuk terus mengejarnya.


“Suatu ketika, aku sadar bahwa kami sangatlah berbeda jauh dalam hal kekuatan, karena itulah aku pernah berpikir jahat padanya, bahwa dia tidak akan lagi membutuhkanku sebagai temannya.


“Dia adalah seorang bangsawan yang nantinya akan memiliki segalanya dan aku akan ditinggal olehnya. Intinya, aku mulai takut padanya yang bisa melakukan apapun dengan sihirnya. Tetapi ... ketakutan itu menghilang ketika aku tahu beban yang ditanggungnya, tidak pernah bisa kutanggung.


“Nyawa hingga nasib dunia ada di tangannya. Ketika dia tahu tanggung jawabnya ini saat usianya delapan tahun... aku tak bisa membayangkan seberapa takutnya dia.


“Sebab itulah, Serina ... aku ingin tetap berada di sisinya, tetap menjadikannya sebagai tujuanku, dan


terus menjadi temannya,. Kapanpun aku memikirkan untuk membantu Zeeta, sihirku menjawabnya. Bahkan jika sihir itu aktif dengan alasanku menirunya, aku tidak ingin jauh darinya.


“Jadi, ini bukanlah suatu kemiripan, Serina. Setidaknya itulah pendapatku.”


Serina mendengarkan Gerda baik-baik. Ia kemudian membalasnya dengan tawa kecil. “Hehe.


“Kalian memang benar-benar manis.” Serina tersenyum lembut.


“Hehehe....” Gerda hanya bisa tertawa sambil menggaruk pipinya yang tidak gatal. “Bagaimana denganmu? Apa kau memiliki kisah sendiri sehingga kaubisa menjadi dirimu yang sekarang?”

__ADS_1


Senyum Seina pudar, menjadi tanda sesuatu, dan membuat Gerda ikut menghilangkan senyumnya.


“Ka-kalau tidak ingin diceritakan tidak apa-apa, ma-maaf...,” ujar Gerda, berusaha tak menyinggung Serina.


“Tidak....” Serina menggeleng. “Tidak apa. Hanya saja ... kisahku tidaklah manis sepertimu dan Zeeta.


“Singkatnya ... luka-luka yang bisa kaulihat di tubuh ini adalah alasannya. Namun, luka ini tidaklah seberapa dengan apa yang membekas pada kakakku Jourgan. Aku sangat menghormatinya.


“Ada kalanya ketika sesuatu memaksa kita untuk menjadi lebih kuat dan melewati masa-masa keras. Aku, kakak, dan adikku sangat jarang tersenyum sebelum Zeeta datang untuk berlatih.


“Setiap hari, setiap jam, baik itu pagi atau malam, Elf tidak pernah bisa tenang. Beberapa ada yang terlalu takut untuk berperang seperti kami bertiga, hingga mereka menguasai apa yang menjadi senjata ampuh mereka—sihir peniru wujud.”


“Serina....” Gerda bersimpati padanya.


“Kami tidak pernah malu pada luka yang abadi pada tubuh, sebab ini adalah bukti perjuangan panjang kami hingga akhirnya kita bisa dengan tenang keluar dari persembunyian dan mengenal lebih banyak dunia luar.


“Kurasa ... aku sekarang memiliki tujuan baru.


“Setelah mendengar kisahmu, aku jadi semakin paham seperti apa Zeeta, dan membuatku jadi tidak bisa meninggalkannya seorang diri.


“Gerda, maukah kauizinkan aku ikut berdiri bersama kalian?”


Gerda berhenti mendadak dari terbangnya. Ia tampak menunduk dan bergetar.


Gelagat Gerda membuat Serina cemas. “Ge-Gerda...?”


“Moh!” Gerda mendekap Serina dengan sangat erat. Terlihat tetes air mata di pipi. “Tentu saja! Kau... tidak, SEMUA Elf adalah teman kami! Tidak perlu meminta izin!


“Setelah mengetahui sejarah Elf, aku bersumpah demi harga diriku sebagai Crescent Void dan senjata suciku, bahwa aku akan melindungi Elf apapun yang terjadi!”


Serina dibuat berkaca-kaca oleh ungkapan Gerda. “Terima kasih, Gerda,” katanya, “aku sangat menghargainya.”


Momen kehangatan itu adalah pengalaman pertama untuk Serina. Tiada yang pernah memeluknya seerat ini dan tiada pernah sebelumnya yang mengungkapkan perasaan tulus seperti yang Gerda lakukan.


Namun....


Momen tersebut dipaksa berhenti ketika hujan panah menembaki keduanya dari bawah.


Sudah wajar bagi keduanya bisa menghindari hujan panah tanpa sihir itu, tetapi yang mengatensi Serina adalah apa yang ada dibawahnya.


“Sialan!” geram Gerda, hendak membalas dengan sihir dari tangan kirinya.


“Jangan!” Serina menggunakan lengan kanan untuk menghalanginya. “Jangan diserang. Ikut dan turuti aku.”


“Serina...?”

__ADS_1


“Kita sudah sampai. Ini adalah desa baru yang kita tuju.”


__ADS_2