
Pesta teh di Southern Flare memang terlihat mewah dan elegan, serta menyambut dengan baik para tamunya. Namun, bintang utama yang seharusnya menunjukkan batang hidungnya justru sama sekali tidak hadir di sana. Kendati demikian, para bangsawan sudah tahu desas-desusnya. Putri tunggal dari pasangan penguasa seluruh Southern Flare yang kedua puluh enam tersebut, sudah lama dikelilingi oleh rumor yang menusuk jati diri, harga diri, serta batinnya.
Rumor tersebut beragam macamnya, namun yang paling banyak diketahui dan umum di kalangan bangsawan adalah ia telah dikutuk oleh penyihir. Seorang bangsawan pernah melihat Putri Kedua Puluh Tujuh di halaman istana, namun dirinya sama sekali tidak berwujud seorang Manusia. Menurutnya, Putri itu ditutupi oleh rambut yang sangat lebat—bahkan ia dikira seekor kera oleh bangsawan tersebut.
Ada pula isu lain yang mencuat dari dalam istana, yang pada akhirnya meluas hingga seluruh kerajaan. Isu tersebut mirip dengan "Putri Kera", namun pada isu ini, gadis yang seharusnya dihormati dan disegani itu, justru disebut sebagai "Putri Harimau". Ada orang-orang dalam yang pernah melihat kalau Putri memiliki taring yang menyembul dari mulutnya.
Isi-isu tersebut semakin dipercaya, sebab Putri yang bahkan namanya tidak diketahui publik tersebut, tidak pernah menunjukkan dirinya ke hadapan masyarakat. Padahal, seisi kerajaan tahu jika Ratu melahirkan bayinya dengan selamat dan kondisi keduanya pun baik-baik saja.
Dari informasi yang didapat tiga orang Aurora yang sedang mengikuti pesta tehnya, para bangsawan lokal memberitahu kalau Southern Flare memiliki tradisi untuk melakukan "Pesta Debut" untuk putra-putri bangsawan. Hal tersebut dilakukan dengan makna "melepas" anak-anak menjadi seorang dewasa. Di Pesta Debut, nantinya mereka akan mencari sendiri koneksi-koneksi yang terkait dengan hidup mereka sebagai seorang bangsawan. Apakah itu dari segi sosialitanya dan lain-lain.
Pesta Debut dilaksanakan kala seorang anak bangsawan berusia empat belas tahun. Di usia tersebut, di kerajaan ini mereka sudah dianggap dewasa. Meskipun terkadang mereka masih butuh arahan dari orang tuanya, namun jika mereka tersandung masalah hukum, maka mereka PASTI akan dijerat hukuman yang setimpal. Sementara itu, publik tidak pernah melihat Raja dan Ratu melakukan pesta tersebut, bahkan dokter yang membantu persalinan Ratu, sangat heran karenanya.
Bagi bangsawan lokal, masyarakat sebenarnya cukup berharap tentang kebenaran yang selalu disembunyikan Raja dan Ratu tentang buah hati mereka, namun mereka juga tentunya tidak akan segan untuk menghujat setelah mengetahui kondisi sebenarnya dari Putri.
"Sungguh. Ini sesuatu yang sangat 'manusiawi' sekali," ujar Scarlet, yang tengah beristirahat di bangku taman di halaman istana, bersama dengan dua rekannya.
"Kau benar," tanggap Ashley, "Manusia itu ... selalu memiliki dua sisi dalam hati, kelakuan, serta sifatnya.
"Manusia selalu memakai topeng untuk menutupi keburukannya. Kita ini ... penuh dengan dusta."
"Haaaaahh~" Scarlet menghela napas. "Bagaimana menurutmu, Barghest?"
"Dia ketakutan. Kita harus melakukan sesuatu."
"Kita bahkan tidak tahu apa yang harus kami lakukan terhadap kutukanmu!" seru Scarlet, "bagaimana cara kita menyelamatkannya?"
Barghest membisu. Ia pun tak tahu jawabannya.
"Kita perlu menunggu pestanya selesai dahulu," saran Ashley, "kalau kita diam-diam menghampiri Putri, bangsawan lokal dan kerajaan lain akan menempatkan fokus mereka pada kita juga. Bukannya menyelamatkan, kita hanya akan memperburuk situasi jika demikian."
Scarlet mengangguk. "Bersabarlah, Barghest." Dia memegang lembut bahu kanan Barghest dan menunjukkan senyum kecilnya.
__ADS_1
"Bisakah kalian ikut sertakan aku dalam rencana itu?" seorang pria tiba-tiba menghampiri dari arah istana.
"Siapa?!" Ashley langsung bersiaga, sementara Scarlet dan Barghest tetap duduk.
Tubuh yang membelakangi cahaya menghalangi ketiganya melihat wajah pria itu dengan jelas.
"Maaf, maaf," pria itu mengangkat kedua tangan. "Aku tak berniat menghalangi. Kebetulan, tujuanku sama dengan kalian."
Pria itu semakin mendekati ketiganya, dan kala mata bisa memandang lebih baik, pria itu adalah Eizen muda yang memakai tuxedo putih dan berpadu hitam. "Senang bertemu dengan kalian, Putri Aurora Kesembilan Belas dan Nona Ashley Alexandrita. Namaku adalah Eizen Gustav de Gala XXX." Ia memberi hormat ala bangsawan. "Kepadamu juga, Tuan ... Barghest." Ia tersenyum sambil melirik pada Barghest.
Ashley mengernyit—mendapati ekspresi Eizen aneh. "Sejak kapan kau menguping pembicaraan kami?" Ashley tetap bersiaga dengan kuda-kudanya.
"Sejak kalian beramah-tamah dengan Raja dan Ratu, tentu saja."
"Apa...?"
Eizen tetap tersenyum. "Apakah sangat aneh untukmu kalau aku sudah mengumpulkan informasi lebih dahulu tentang kalian?"
"Hmm?" Eizen melirik pada Scarlet.
"Scarlet...?" Ashley bertanya-tanya.
"Kuakui, aku tidak menduga seorang Pangeran Ketiga Puluh dari Gala akan turun tangan sendiri ke masalah 'rahasia' seperti ini. Iya, 'kan, Barghest?"
Barghest menatap serius Eizen. "Kau benar. Ini mempersingkat masalah."
"Apa yang Anda maksud, Putri Scarlet?" Eizen berusaha memertahankan senyumnya.
"Sebelumnya, Anda bilang kalau tujuanmu sama dengan kami. Anda pun menguping pembicaraan kami—kemudian secara terang-terangan menunjukan dirimu di hadapan kami.
"Ucapan yang seolah-olah mengatakan Anda adalah rekan kami, hanya akan memberikan racun jika dipercaya mentah-mentah. Anda juga telah menganggap kami terpojok karena tindakan Anda barusan, sebab nantinya Anda akan melumpuhkan kami dengan apapun yang sedang Anda genggam saat ini.
__ADS_1
"Bukankah begitu, Pangeran Eizen?
"Semua itu Anda lakukan demi mendapatkan pria di sebelahku ini, bukan?
"Soalnya pria ini ... saat ini sangat dibutuhkan di kerajaan Anda."
Eizen menunduk. Ia juga mengeratkan cengkeramannya. "Bualan apa yang Anda katakan disaat pertemuan pertama begini, Putri Scarlet?"
"Hah!" Scarlet yang mendengus akhirnya bangun dari duduknya. Ia lalu menciptakan sebuah tongkat panjang di tangan kirinya. "Sudah sangat jelas kalau kau tidak terbiasa dengan hal semacam ini!
"Posturmu, keringat di pelipis, senyuman creepy walau ini adalah PERTEMUAN PERTAMA kita, serta lirikan mata yang selalu terpaku pada Barghest, juga tak lupa dengan benda yang selalu ada di tanganmu itu ... semuanya terlalu mencurigakan...."
Scarlet memukul-mukul bagian tubuh Eizen yang ia sebut dengan tongkat yang diciptakannya.
Eizen menggertakkan gigi. "SIAL!" ia membanting botol kecil berisi cairan berwarna hitam ke lantai. Cairan tersebut berasap.
"Senang bertemu denganmu, Pangeran 'Cupu' Eizen. Aku adalah Scarlet Aurora IX. Dan tidak sepertimu, aku selalu berurusan dengan makhluk-makhluk tak manusiawi, bahkan orang-orangku pun demikian."
Scarlet memendekkan tongkat panjangnya lalu menghilangkannya. Senyuman darinya membuat Eizen sebenarnya cukup dongkol. "Aku tidak akan melepaskannya begitu saja! Kau pun tidak bisa membiarkanku pergi, bukan?!"
"Oh, tentu. Aku juga sejak awal berniat untuk bernegosiasi dengan orang-orang Gala, jika aku berkesempatan bertemu. Tapi, aku bahkan tidak menyangka kalau Pangerannya sendirilah yang menghampiri kami."
"Cih...."
"Pangeran Eizen, kuharap Anda sangat mengerti ini, tetapi dalam negosiasi, kedua belah pihak harus bisa satu pemahaman terlebih dahulu. Setelah Anda berencana untuk melumpuhkan kami, tentunya Anda paham apa yang harus dilakukan?"
"Baiklah. Aku akan mengatakannya!".
[Sementara itu, dari istana Southern Flare....]
Seseorang berambut keemasan, dibawah terangnya bulan hampir penuh, menatap dengan mata runcing kelompok orang-orang di halaman miliknya. "Jika mereka bahkan menyentuh teman-temanku, aku takkan segan...!" gumamnya.
__ADS_1