Zeeta Dan Dunia Sihir

Zeeta Dan Dunia Sihir
Sebuah Misteri yang Terkuak


__ADS_3

"Makhluk sihir itu dikatakan sangat kuat.


"Ia dikatakan amatlah bijaksana.


"Ia pun dikatakan adalah pelindung terdekat dari Yggdrasil.


"Makhluk sihir itu disebut sebagai ... Naga."


Demikianlah legenda yang hanya diketahui beberapa orang tentang Yggdrasil, salah satunya adalah Claudia, sejak ia menikah dengan Lowèn. Ia menganggap Naga hanyalah sebatas legenda, bila matanya sendiri tidak melihatnya secara langsung. Namun, baru sehari setelah ia siuman sejak gagal mengutuk Feline dengan sihirnya, ia merasa seperti berada di dunia lain.


Bagaimana tidak? Keponakannya yang baru berusia delapan tahun terasa seperti sudah remaja—dinilai dari gelagatnya. Ia pun memiliki sekutu dari bermacam ras lain. Dalam benaknya, ia berpikir seperti ini. "Sebenarnya, apa yang terjadi pada Zeeta selama aku tak sadarkan diri, sehingga ia menjadi sangat jauh dari apa yang dikatakan Alice tentang ramalan Feline?"


Hanya ada satu jawaban yang didapatkan Claudia usai tiga puluh menit lebih terus di sisi keponakannya ketika dalam "mode tempur"-nya. Dan itu adalah ....


Cara mendidiknya.


Di dunia sihir yang segala sesuatunya tergantung oleh tirani kekuatan mana seseorang, bila tidak bisa memantapkan kekuatan hati, tak ada seorang pun yang bisa bertahan layaknya Zeeta.


Sebagai orang dewasa, Claudia sangat sadar bahwa hanya dengan cara didik saja tidak serta-merta memoles Zeeta layaknya di hadapannya saat ini. Ia juga tahu, bahwa pengalaman pun memengaruhinya.


Lantas, Claudia pun tersadar ... bahwa Zeeta benar-benar kuat dan sangat mirip dengan ibunya, Alicia. Disaat yang sama, Claudia juga tahu, sisi Zeeta yang satu ini juga bisa rapuh kapan saja bila tidak ada yang menemaninya....


......................


Setelah ancaman demi ancaman dihunuskan kepada mereka, Feline dan Morgan hanya bisa terpaksa menelan kesepakatan dari Zeeta. Sementara itu, Sylva, Falmus, dan Yuuvi, diberitahu oleh Eclipse untuk tinggal dulu di kerajaan, untuk "mempertanggungjawabkan" tindakan ras mereka.


Untungnya, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa yang terbilang besar, karena Zeeta sampai harus memakai Catastrophe Seal-nya. Apabila dia terlambat dan tidak dibantu oleh leluhurnya, Velvet, bisa saja kerajaan Aurora musnah saat itu juga. Tentu saja, Zeeta penasaran tentang bagaimana bisa caranya leluhurnya yang sudah tiada itu bisa bertemu dengannya layaknya secara fisik. Tapi, Zeeta pun tahu, bahwa saat ini bukanlah waktunya. Kehancuran kerajaan jadi lebih parah daripada saat dirinya melawan Hollow.


Saat ini, di kerajaan Aurora yang masih melayang di langit, tersisa para bangsawan utama dan Orchid, para Peri, Aria dan Ozy, serta Eclipse.


"Bagaimana caraku memperbaiki semua ini...? Kalau Wilayah Timur dan Selatan, sih, aku bisa... tapi... Labirin dan tanah yang melayang ini harus kuapakan...?" gumam Zeeta.


"Hei, Manusia!" panggil Aria sambil bertolak pinggang kepada Ashley.


"Hmm?" tanya Ashley, melirik pada Aria.


"Apa kalian tak lelah harus berulang kali memperbaiki bangunan jika ada ancaman seperti tadi?"


"Tentu saja kami lelah. Tapi itu bagian dari tanggung jawab kami."


Aria seperti memikirkan sesuatu, lalu menarik kepala Ozy untuk berbisik.


Ashley hanya bisa tercenung melihat dua makhluk sihir itu berbisik. Setelah mereka selesai, dengan senyum yang riang, Aria berseru, "Buat saja Aurora di atas dan di bawah! Bagian bawah adalah tempat para penduduk kalian dan penanggung jawab Wilayah, bagian atas kalian pusatkan untuk kekuatan dan pemerintahan!"


Semua yang ada di sana memikirkan hal yang sama. Kerajaan melayang ... kerajaan Aurora ... melayang? Senyum sumringah tak bisa terelakkan dari mereka tentang seperti apa indahnya kerajaan yang melayang. Disaat sedang seru memikirkannya, Zeeta jadi ingat satu hal yang sangat penting. Bila tanah kerajaan terangkat, bagaimana dengan istana yang terpisah oleh sungai? Apakah istana juga ikut terangkat? Zeeta segera terbang menuju arah istana untuk memastikannya.


Sayangnya, jawabannya adalah tidak. Istana masih tetap di tanah bersama dengan akar raksasa yang melilitnya.

__ADS_1


Aria, Eclipse, Ozy, dan para Peri menyusul. Mereka mendapati wajah Zeeta yang muram karena kondisi istananya.


Aria, Ozy, dan Eclipse saling pandang satu sama lain, kemudian mereka saling mengangguk. Selanjutnya, Aria menghampiri Zeeta.


"Hei," panggil Aria. "Selagi di sini, kuingin beritahu kau sesuatu."


"Apa?" tanya Zeeta.


"Sebenarnya, aku, Ozy, dan Roh yang Agung, ketika kau menginap di kediaman kakek dan nenekmu, kami bertemu dengan Eclipse. Kami sengaja merencanakan agar kau mengetahui tentang keberadaan ras lain yang pernah kuceritakan padamu, adalah nyata adanya. Tapi, aku pun tak menyangka Eclipse akan membuatmu seperti itu.


"Kami bersepakat untuk hanya membuatmu tahu, dan tidak ada pertarungan sama sekali, tapi dia mematahkan perjanjiannya. Maafkan kami...."


Zeeta melirik ke arah Eclipse, lalu tersenyum dan melambaikan tangan. Ia kemudian menggelengkan kepalanya pada Aria. "Tidak, Aria. Aku harus berterima kasih. Aku jadi sadar, betapa masih lemahnya diriku meskipun aku memiliki Catastrophe Seal. Meski rasanya sakit, tapi aku jadi tahu, bahwa ras Naga juga memiliki rasa rindu."


Kata akhir dari ucapan Zeeta membuat alis Aria miring. "Huh...? Apa?"


"Saat kami bertarung, aku lihat Eclipse tampak senang. Aku jadi berpikir, kalau dia hanya merasa gatal ingin bertarung lagi setelah sekian lama, hehe."


Aria mengedipkan mata dua kali. "Haaah... kau ini memang Manusia yang aneh.


"Jadi, Zee, kalau begitu aku ingin melanjutkan rencanaku. Putuskan apakah kau mau mengambil saranku ini, bersama dengan Roh yang Agung."


......................


Aria memaparkan rencananya tidak hanya semata-mata ingin membuat kerajaan Aurora tampak indah semata. Sebagai perwakilan dari Hutan Sihir Agung, ia harus memberitahu Zeeta tentang tantangan yang harus ia lewati tidak akan semudah melawan Peri. Dengan anting yang pernah diberikan Hugo pada Zeeta beberapa waktu yang lalu, Hugo juga ikut hadir dalam pembicaraan mereka, termasuk membiarkan para Peri yang diperintah Eclipse untuk tinggal tetap mendengarkan.


Apa yang harus Zeeta fokuskan adalah berlatih di Hutan Sihir Agung setelah Alicia terbebas, bersama dengan makhluk sihir lain yang ada bersamanya saat ini. Peri, Raksasa, Elf, dan Naga. Jika ditambah Luna, maka akan ada Roh Yggdrasil.


Oleh karena apa yang akan dihadapinya akan berat, selama pembangunan kerajaan, Zeeta harus menyimpan mana-nya, dan memercayakan pembangunan kerajaan pada makhluk-makhluk sihir itu.


......................


"Jadi, bagaimana keputusanmu, Zeeta?" tanya Hugo lewat anting.


"Biarkan aku bicara berdua dengan Eclipse dulu. Aku ingin memastikan beberapa hal. Sebagai Tuan Putri, aku pun punya tanggung jawab," jawab Zeeta.


Makhluk sihir lain meninggalkan mereka.


"Apa yang ingin kaupastikan, Yang Mulia?" tanya Eclipse.


Sebelum Zeeta menjawab Eclipse, ia menekan anting kanannya untuk mematikan sihir suara jarak jauh dengan Hugo.


"Langsung pada intinya, apa ras Naga berkaitan dengan kekuatan kerajaan Aurora?" tanya Zeeta.


Raut wajah Eclipse terkejut. "Kenapa kau menganggap seperti itu?"


"Dua kali. Dua kali aku bertemu dengan leluhurku. Aku tak mengerti bagaimana cara bilangnya, yang pasti, tidak bisa hanya dengan sihir saja aku bisa bertemu dengan leluhurku.

__ADS_1


"Bahkan ketika aku memakai Catastrophe Seal, mereka selalu memanduku. Bahkan sampai kalimat rapalannya.


"Sejauh yang kutahu, Catastrophe Seal adalah senjata dari kekuatan Yggdrasil. Siapapun yang tidak dipilih oleh Roh Yggdrasil, takkan bisa memakainya.


"Lantas, apa leluhurku juga dipilih oleh mereka?


"Dugaanku adalah tidak.


"Mereka memakai kekuatan anting bulan ini untuk melihat ke masa lalu. Leluhurku juga mengatakan bahwa bulan adalah sumber kekuatan kami.


"Eclipse ... kau sengaja memakai nama itu untuk memberiku petunjuk, bukan?"


Eclipse tersenyum. "Ha ha ha ha ha!" tawanya terdengar dibuat-buat. "Untuk kau yang sekarang, akan kujawab ini.


"Ya, aku memang memberimu petunjuk."


"Untuk apa? Agar aku tidak jatuh seperti ramalan Ratu Feline?"


"Tidak. Di dunia ini waktu adalah sesuatu yang tidak pasti. Meskipun, aku bisa memastikan, aku melakukannya tidak demi dirimu saja, tapi untukku, Roh yang Agung, dan seisi Bumi ini.


"Tidakkah kau pernah berpikir, bahwa kau lelah dengan dunia sihir ini? Jika kau serius, kau bahkan benar-benar bisa menghancurkan dunia di usiamu yang masih belia ini."


Eclipse mendapati Zeeta terkesiap.


"Itulah yang kumaksud dengan 'waktu adalah sesuatu yang tak pasti'.


"Lalu, apa yang ingin kaulakukan setelah tahu jawaban ini?"


"Tanggung jawabku sangatlah besar. Aku tak bisa main-main. Aku hanya perlu kejelasan dari identitasmu. Oh, aku juga punya syarat bagi kalian...."


......................


"APA? KAUINGIN AKU JADI PENGAWAS MEREKA?!" jerit Luna lantang. Mereka saat ini sudah kembali ke tanah kerajaan, dan Luna sudah menyusul setelah kepergian para Peri.


"Uhm. Kautahu? Aku sempat terpikir ingin memasakmu setelah tak hadir bersamaku sejak kemarin, Luna. Kaubilang kau akan selalu ada di sisiku, dan menyuruhku untuk tenang saja. Tapi, syukurlah kau pulang, ya?


"Inilah akibatnya jika kau menelantarkan anak kecil di dunia sihir yang kejam ini.... Roh yang Agung pun jadi korbannya!


"Kalau kau tidak mau, maka tidak ada camilan apapun dariku untukmu!"


Zeeta teelihat sangat mematikan di mata Luna


"JANGAN! AKU SANGAT MENANTIKAN CAMILAN BUATANMU!"


Makhluk-makhluk sihir lainnya serta Manusia hanya bisa memandangi tingkah mereka, berkeringat, serta berpikir, "Inikah sisi lain dari Zeeta?".


Sementara para makhluk sihir memikirkan hal lain juga. "Roh yang Agung jadi pengawas? Glek. Aku tak boleh mengecewakan!"

__ADS_1


__ADS_2