Zeeta Dan Dunia Sihir

Zeeta Dan Dunia Sihir
Rekan Baru


__ADS_3

"Bisakah kusita waktumu, Putri?” tanya Suzy, dengan sedikit bumbu senyum.


“Tentu!” Zeeta membalas senyuman Suzy. “Luna, ke sanalah dan beritahu mereka,” pintanya.


“Ti-tidak, bisakah Anda diam tentang ini dulu?” tanya Suzy.


Luna mendapat lirikan Zeeta. Ia langsung menggangguk dan kembali ke kamar Zeeta.


“Baiklah, Nona Suzy, ikutlah aku. Kebetulan tadi pagi aku menemukan tempat yang cocok untuk bicara.” Zeeta kemudian memimpin jalan.


Sebuah gazebo terletak di belakang istana. Itu berada di tengah-tengah sebuah taman bunga dan beberapa pohon cemara hias. Mereka tampak cantik dan menawan dibawah teriknya matahari. Sebuah cinta terasa pada taman berkat para pelayan yang merawatnya. Di tengah gazebo ada sebuah teropong besar. Dalam perjalanannya, Zeeta juga sudah meminta pelayan dan penjaga yang berpapasan dengannya meninggalkan mereka.


Keduanya saling duduk berhadapan dan tanpa membuang waktu lagi, mereka langsung melakukan kepentingannya.


“Putri Zeeta, aku bukanlah seorang Tuan Putri lagi, jadi kumohon bersikaplah biasa padaku,” ujar Suzy.


“Eh?” Zeeta mengernyit. “Apa maksudnya?”


“Seperti yang kuucap.


“Tentunya Anda sudah tahu, bahwa aku sudah mengambil banyak nyawa orang tak bersalah dengan tangan ini. Bahkan, seorang pelayan pribadi adikku pun telah kurenggut nyawanya.”


Zeeta masih dalam kernyitnya. “Aku tahu, tetapi ... kau tidaklah dalam kendali tubuhmu.”


“I-itu benar, tapi....” Suzy menunduk. “Tetap saja, aku yang tak mampu melawannya, tetaplah bersalah.”


Zeeta menyilangkan tangannya. “Aku tidak mengerti,” ujarnya, “kenapa gadis yang lebih tua dariku ingin membicarakan hal seperti ini denganku?


“Kau tentunya tahu jika kau memiliki orang yang lebih cocok diajak bicara tentang ini, misalnya ibuku, ‘kan?”


Suzy menatap serius Zeeta. “Anda benar. Namun, kuingin membahas Jewel—jiwa yang telah menguasai tubuhku lebih dari tujuh tahun itu.”


Zeeta semakin tidak paham niatan Suzy. “Untuk apa? Jiwanya sudah tenang. Tidak harus kuungkit lagi.”


“A-aku hanya ingin tahu ... seperti apa dia orangnya. Walau sudah lebih dari tujuh tahun ia merasukiku, aku tak pernah tahu seutuhnya tentang dia.


“Aku ... selama ini juga tidak memberontak karena merasa keadilan miliknya tidaklah pantas untuk kulawan. Aku hanyalah manusia yang hanya tahu kedamaian dan tidak pernah tahu kebencian jika tanpanya.”


“Jadi....” Zeeta mulai memahami sebongkah maksudnya. “Untuk kepentinganmu sendiri?


“Nona Suzy, kuharap kau mengerti, tetapi aku melakukan pengorbanan yang tak kecil untuk meredam semua kebencian yang melibatkan dirinya. Kami—tidak—bahkan dari Nebula pun kehilangan banyak jiwa. Tidak ada keuntungan untuk menggali lagi tentangnya.


“Namun, kalau kau tidak memiliki kemanusiaan ... maka semuanya berbeda.”


“Tidak kusangka Putri Zeeta bisa menyanggahku seperti ini... Kupikir dia hanya gadis remaja yang hanya tahu beberapa hal dan seseorang yang naif...," batin Suzy. “Aku tahu itu, Tuan Putri!” serunya, “tapi kumohon padamu!


“Terdengar egois untukmu, tapi aku tidak lagi memiliki tempat untuk kutuju! Seandainya aku bisa memahami Jewel, seandainya aku bisa mengetahui sedikit tentang Jewel, bahkan jika aku mati, aku takkan keberatan!”


“Hmmm.” Zeeta menutup mata, memikirkan jalan keluarnya. Tidak butuh lama, ia berkata, “kalau begitu buatlah perjanjian denganku.”


“A-apa itu?”


“Aku tidak keberatan menceritakanmu tentang Jewel....”


Binar mata terlihat dari Suzy.


“Tapi sayang, aku tidak berhak.”


Binarnya langsung sirna. “Eh?” Suzy dibuat bingung.


“Tunggu sebentar.” Zeeta memegang anting di telinga kanannya sambil memejamkan mata. Antingnya tampak bersinar dalam waktu yang singkat. “Baiklah. Begini perjanjiannya.


“Kau jadilah bawahanku. Sebagai gantinya aku akan membawamu ke tempat dimana Jewel lahir. Pelajarilah tentangnya sedalam yang kauinginkan.”


Zeeta menyodorkan tangan kanannya.


“Eh?” Suzy masih memberi reaksi yang sama.


“Apa? Kau keberatan?”


“Ti-tidak!


“Tapi ... aku ... jadi bawahanmu...? Itu berarti....”


“Gadis dewasa tidak mungkin bingung apa yang kumaksud, ‘kan? Aku punya banyak masalah yang terlalu pusing kujalani sendiri. Aku memiliki teman-temanku, tetapi mereka saja belum cukup. Aku butuh kekuatan.”


“Ke-kekuatan....


“Maaf jika aku mengecewakanmu, Tuan Putri, tapi aku....”


“Ya. Kau tidak lagi bermana. Aku tahu. Mata ini sudah melihatnya sejak kita bertemu tadi.”


“Kalau begitu...!”


“Moh! Kau ini mirip sekali dengan si Pangeran, ya! Berisik! Tanganku juga sudah lelah!


“Jawablah saja, iya atau tidak?!”


Suzy langsung berlutut saat itu juga—mengabaikan tangan Zeeta. “Aku bersumpah setia pada Anda, Tuan Putri!”


Zeeta tersenyum, menarik tangannya. “Kalau begitu, kita akan bertemu Ratu terlebih dahulu, jelaskan situasinya secara singkat, lalu kita akan berangkat.”


“Baik, Tuan Putri!”

__ADS_1


Kemudian, Zeeta berjalan sembari diiringi Suzy. Tetapi mendadak, ia terhenti. “Putri...?” tanya Suzy.


“Sudah kuduga aku tidak suka seperti ini,” keluh Zeeta.


“Putri...?”


“Suzy, kau ini lebih tua dariku berapa tahun?”


“Eh? Ehm... enam.”


“Baiklah. Mulai sekarang aku akan memanggilmu 'Kak' dan kularang kau untuk memanggilku 'Tuan Putri'!”


“Hah...?”


“Aku akan sering merepotkanmu, tapi aku pun juga ingin membantumu. Sedari dulu aku tak begitu suka orang-orang mengelu-elukanku dengan sebutan dan semacamnya. Kau adalah bawahanku, tetapi kau tetap sederajat denganku.


“Lagi pula, kita sama-sama seorang manusia!” Zeeta melempar senyum manisnya.


Angin berhembus lembut, mengibaskan rambut panjang keduanya. Dibawah sinar mentari itulah, Suzy sedikit memahami seperti apa Zeeta dan mengapa kerajaan ini sangat menghormatinya.


“Aku mengerti, Zeeta!” Suzy membalas senyuman Zeeta.


Tapi, suasana indah untuk mekarnya pertemanan itu ... terganggu oleh kedatangan dua orang wanita yang teramat marah sampai-sampai meluapkan mananya begitu tinggi. Salah seorang darinya, Ashley, menggantikan Alicia yang sebelumnya geger bersama Scarlet usai bertemu ketika mencari sosok tuan putri itu ke segala penjuru istana. Alicia harus menuntaskan beberapa kepentingannya yang berkaitan dengan titelnya sebagai Ratu.


“ZEE... TA...!”


“Geh?!” Zeeta langsung dibuat merinding oleh identitas dua suara itu. Perlahan-lahan ia menolehkan kepala dan....


Sesuai dugaannya, mata merah menyala membuatnya semakin merinding.


“Mereka itu …” gumam Suzy, “bukankah itu Nyonya Ashley dan nenekmu Sca—“


“Kak Suzy, mari kita lari!” Zeeta langsung mendekap pinggang Suzy dan terbang memutar arah. “Dasar! Apa salahku pada kalian, Wanita-Wanita Tua?!” teriaknya.


"Jangan lari dariku, dasar Murid tak tahu diri!" bentak Ashley.


“Kembalilah dan tunjukkan keberanianmu, dasar Cucu sembrono!” teriak Scarlet.


“Baiklah-baiklah aku akan meminta maaf nanti! Tapi aku punya kesibukan yang lebih penting! Daaah!”


Zeeta masuk ke istana dengan memecahkan jendela ruang takhta.


‘PRANGG!!’


Alicia dan Hazell yang ada di dalam terkejut setengah mati. “Apa-apaan?!” mereka langsung bersiaga dengan sihir yang siap dihunuskan. Penjaga istana juga mendobrak pintu dan mengacungkan senjata mereka.


“Adududuh....


“Hehehe, maaf. Lagi pula untuk apa lewat pintu kalau lewat jendela sudah bisa masuk? Toh aku bisa mengembalikannya lagi.” Zeeta menjawabnya dengan enteng dan mengembalikan pecahan kacanya.


“ZEE... TA...?!”


“Eh…?” saat mendengar suara itulah Zeeta sadar, bahwa di titik itu, ia “mampus”.


“Siapa yang mengajarimu hal tidak sopan, tak berbudaya, dan sembarangan ini, hah?!” Alicia meledak-ledak pada anaknya untuk pertama kalinya. "Lalu! Kemana saja kau ini, sejak siuman bukannya bertemu dengan kami tapi malah...!"


Melihat kegaduhannya adalah perbuatan anak sang majikan, penjaga-penjaga itu kembali menutup pintu dan bertugas seperti sedia kala.


“I-Ibu...?” Zeeta melangkah mundur perlahan, mendekat pada jendela.


“Jangan bilang jika ini Arthur yang mengajarinya?!


“Apa yang ingin kamu lakukan? Membuat Ibu terkena serangan jantung terus menerus?


“Membuat kerajaan panik?


“Ayo, katakan!”


Zeeta menyerah. Ia berdiri tegap, menundukkan kepala dan merapatkan tangan ke depan pinggul.


“Maafkan aku, Ibu. Aku mengaku salah.”


“Astaga....” Alicia memeluk Zeeta. Ia tidak tega.


“Wogh, tidakkah ini mengingatkanmu pada dirimu seusianya, Istriku?" tanya Hazell menghampiri. "Kau pun bertingkah seperti dia!”


Alicia langsung menciptakan sebongkah batu dan melemparnya pada sang suami. “Di-diamlah! Itu informasi tak penting!”


“Hehehe....” Zeeta tertawa kecil. Ia juga membalas pelukan ibunya.


“Apa...? Apa yang kamu tertawakan?”


“Salah satu keinginanku sejak lama, baru saja terkabul. Ibuku memarahiku, seperti teman-temanku yang pernah mengalaminya, hehehe....”


Alicia dibuat terenyuh mendengarnya juga langsung mengelus serta mengecup kening Zeeta.


Memandanginya, Suzy hanya bisa tersenyum. Ia turut bahagia.


......................


“APA?! BAWAHAN?!” tidak biasanya Alicia melantangkan suaranya hingga bisa didengar dua penjaga pintu ruang takhta.


“Suzy, kenapa kau mengiyakannya? Apa kau lupa apa yang sedang keluargamu lakukan di Nebula?” sambung Alicia.

__ADS_1


“Tentu saja, Yang Mulia. Disaat genting seperti ini, aku sadar tidak seharusnya berada di kerajaan lain, tetapi statusku sebagai Tuan Putri Nebula I sudah resmi dilepas,” jawab Suzy sambil bertekuk lutut.


“Apa kau paham apa yang baru saja kaulakukan dan katakan?


“Tindakanmu bisa dianggap pengkhianatan dan namamu yang sudah ternodai itu bisa ikut menodai nama Aurora!”


“Yang Mulia, izinkan aku,” sanggah Zeeta, yang juga dalam posisi bertekuk lututnya, “aku sangat menyadari apa maksud Anda, Yang Mulia, tetapi aku tidak akan menjadikannya bawahanku bila aku tak memahami konsekuensinya.”


“Kauingin bertanggung jawab?” tanya Alicia.


“Terlepas dari masa lalunya, aku memerlukan kekuatannya. Bukti bahwa ia bisa menciptakan alat teleportasi antar kerajaan dalam beberapa hari, membuatku sadar bahwa ia mampu membantuku.”


“Jelaskan! Kau baru saja siuman dan langsung memutuskan ini. Jangan sembunyikan apapun dariku, Zeeta.”


“Tentu saja, karena itulah aku menghadap Anda, Yang Mulia.” Zeeta kemudian menjelaskan pertemuan terakhirnya dengan empat leluhurnya.


......................


“Berbeda saat kumasih berusia delapan, pertemuan itu membuatku bisa menyentuh tubuh mereka, layaknya mereka masih hidup. Aku menduga ini ada hubungannya dengan garis keturunan kita,” pungkas Zeeta setelah panjang lebar menceritakan.


Hazell memegangi dagunya. Alicia sadar akan hal tersebut. “Apa kautahu sesuatu, Rajaku?” tanyanya.


“Zeeta,” ucap Hazell, “apa kita benar-benar bisa memercayai Suzy?”


Suzy menatap Zeeta.


“Tenang saja, Paduka Raja,” balas Zeeta, “Rune tidak pernah membohongiku. Namun, bila kedepannya ada tanda-tanda....” Zeeta membalas tatapan Suzy. “Rune juga yang akan membalasnya.”


Keringat dingin langsung membasahi tubuh Suzy.


“Tetapi hari itu takkan datang. Aku yakin.”


Hazell mengangguk. “Jadi, maksudmu menghadap kami, karena kauingin Suzy meneliti dan membongkar setiap rahasia yang ada di bawah tanah?”


Alicia mengernyit. “Apa?”


“Untuk delapan tahun aku mencoba menggali apa yang bisa kutemukan di ruang bawah tanah,” ujar Hazell, “tetapi yang bisa kudapat hanya satu; sihir tidaklah pernah lenyap, seperti kata leluhur kesembilan.”


“Tidak mungkin!” seru Alicia, “lalu, apa yang sebenarnya terjadi...?”


“Anu... bolehkah aku bertanya, Yang Mulia?” tanya Suzy.


“Uhm.” Alicia mengangguk. “Kuizinkan.”


“Memangnya apa yang harus kutemukan di sana? Kuakui aku memang jenius, tetapi bila itu berkaitan dengan sihir, kukira aku tak begitu....”


“Tidak. Ini tidak berkaitan dengan sihir.” Zeeta berdiri. “Ini berkaitan dengan Yggdrasil.”


Ketiga pendengar langsung mengernyit.


“Sementara Suzy menggali lebih dalam tentangnya, kita akan memperbaiki sejarah pada kerajaan—bahkan jika perlu, ke kerajaan tetangga.”


“Tung—tunggu dulu, Zeeta!” Suzy ikut berdiri. “Itu tidak masuk akal! Bukankah kau seorang Benih Yggdrasil? Tidakkah itu menjadikanmu berwawasan luas tentangnya?


"Lagi pula, kau memiliki Roh yang Agung—Yggdrasil itu sendiri bersamamu!”


“Setengah benar, setengah salah, Kak Suzy.


“Benih Yggdrasil ada tiga. Masing-masing dari kami hanya bertugas membangkitkan Yggdrasil lagi. Tetapi, kebangkitan itu pun tergantung dari kami.”


“Apa?!”


“Untuk saat ini, hanya itu saja yang kutahu. Luna pun tak memberitahuku sisanya. Aku tak tahu bagaimana dengan Benih Yggdrasil lain.


“Meskipun begitu, Luna membiarkanku menggali apapun tentang Yggdrasil, agar memantapkan keputusan kedepannya.


“Tapi, jangan salah paham, Kak Suzy. Kupercaya Roh yang Agung lain juga sama seperti Luna.


“Jika tidak, Pangeran Klutzie tidak akan mau membantu kerajaan lain yang telah memenjarakannya selama enam setengah tahun. Tak mungkin Siren tidak ada hubungan dengan pengambilan keputusannya.”


Suzy kembali berkeringat dingin setelah mendengar semuanya. Sementara Alicia dan Hazell, mereka memegangi pelipis.


“Suzy, Zeeta,” ucap Alicia. Kedua nama itu kembali bertekuk lutut.


“Ya, Yang Mulia?” tanya keduanya bersamaan.


“Tidak perlu terburu-buru dalam memutuskannya. Suzy, sebagai Ratu Aurora Kedua Puluh, kuperintahkan dirimu.”


“Ya, Yang Mulia!” Suzy melantangkan suaranya.


“Kuberi kau waktu tiga hari. Kau sadar bahwa menjadi bawahan Zeeta, tak seperti yang kau bayangkan, bukan?”


“Sejujurnya, aku tidak terlalu terkejut, tetapi aku hanya belum siap, Yang Mulia. Namun, izinkan aku menerima waktu tiga hari itu.”


“Umu.


“Zeeta?”


“Ya, Ratuku?” tanya Zeeta.


“Setelah keluar, panggillah Scarlet, Ashley, bangsawan utama, serta Crescent Void, juga rekan-rekan makhluk sihir kita. Masih banyak yang harus kita bicarakan, mengecualikan Suzy. Urusan pribadi, uruslah belakangan. Paham?”


“A-aku mengerti, Yang Mulia....”

__ADS_1


__ADS_2