
Sebuah kubah berwarna hijau pudar menutupi seluruh kerajaan begitu alarm kerajaan menggema. Kubah itu juga muncul tepat setelah Zeeta melihat meluncurnya Gerda, Danny, Mellynda, dan Marcus dari titik-titik yang berbeda, menuju ke arah selatan.
“Medan pelindung, ya...? Kekuatan dan efektivitasnya sudah jauh ditingkatkan daripada awal-awal kami membuatnya...,” batin Zeeta, sambil melihat sekitar.
“Sayang sekali, ya...,” ujar seorang rakyat pada rekannya. Zeeta menoleh ke arah mereka. “Kalau kubah ini muncul, berarti Hollow atau Phantasmal itu lebih buruk dari biasanya. Sudah setengah tahun kita tidak mengalami ini, ‘kan?” sambungnya.
“Ya,” jawab rekannya, “meskipun disayangkan, kuharap Crescent Void bisa mengatasinya. Persetan dengan kemeriahan festival kalau mereka pulang tak bernyawa.”
“Kau benar. Ayo, lekas ke Labirin Cremlyn!”
“Ya!”
Ketika dua rakyat itu berlari, hal sama juga dilakukan rakyat lain yang mau tak mau meninggalkan dagangannya begitu saja. Saat Zeeta menoleh ke arah lain, ia mendapati seseorang menghampirinya. Dia adalah Luna dengan mode setengah-manusianya. Ia menyeringai. “Licik sekali caramu menipu kami, ya, Zeeta?” ucapnya.
“Eheheh....” Zeeta menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Sudah kuduga, Roh memang tak bisa ditipu dengan cara seperti ini, ya?”
“Tidak sepenuhnya benar, karena aku pun tidak merasakanmu begitu kau masuk kerajaan. Perlu kauketahui, aku masih merasakan keberadaanmu saat kau masih di Graandtopia hingga kau memasuki Astray Land. Kupikir kau tersesat karena sudah lewat setengah jam sejak kau memasukinya.... Dan sekarang, aku ada di hadapanmu, dengan rasa khawatir yang terbuang sia-sia.”
“Hehe, maafkan aku.”
Ketika Luna ada tepat di hadapannya, ia segera mendekap Zeeta. “Selamat datang kembali...,” ucapnya lirih.
Zeeta tersenyum. “Uhm. Aku pulang.” Ia membalas dekapannya.
Setelah mendekapnya beberapa saat, “Lalu, apa yang kaurencanakan setelah ini?”
“Yah, tentu saja aku akan membantu teman-temanku. Tapi, aku ingin kedatanganku jadi kejutan tidak hanya untuk Aurora, tetapi juga untuk musuh.”
“Huh? Apa maksudmu?”
“Seorang Elf di Grandtopia mengajarkanku, bahwa beberapa Hollow dan Phantasmal dikendalikan oleh Phantasmal atau makhluk sihir lain untuk benar-benar bisa menyerang satu lokasi spesifik. Dia mengetahuinya setelah Hutan Sihir Agung memberinya sebuah waskita.
"Lebih lanjut, cara mereka muncul dari Tanah Ephemeral berbeda dari umumnya. Tanah Ephemeral membentuk Phantasmal dari keinginan-keinginan makhluk di Bumi ini, tetapi bagi mereka, ada suatu makhluk, atau Phantasmal lain yang menghendakinya muncul. Hal ini terjadi tidak hanya sekarang, tetapi enam setengah tahun yang lalu juga.”
“Siapa sangka hal pertama yang kudengar darimu bukanlah berita gembira. Heehh~" Luna menghela napas panjang. "Selain itu, kenapa kaubisa mengetahui dua kejadian ini berbeda dengan Hollow atau Phantasmal biasanya?”
“Setelah latihanku dengan Ozy dan membiasakan diriku menggunakan mana alam, aku bisa membaca aliran mana tidak hanya dari orang atau makhluk lain, tetapi aku juga bisa melihat kemana aliran itu mengalir. Misalnya sekarang, aku bisa melihatmu terhubung dengan Siren melalui sihir komunikasi. Aliran ini memiliki warna yang berbeda dari warna mana-mu, sama seperti dua Hollow ini.
Luna menyeringai. “Hahahaha! Kaudengar itu?
"Aku tahu, aku tahu! Berhentilah merengek, aku akan menanyakannya!”
Zeeta tiba-tiba mengibas rambutnya. “Tenang saja, jika kau penasaran tentang rambutku, aku masihlah diriku sendiri.”
Luna menganga, ia tak paham bagaimana dia bisa mengetahuinya.
“Yang lebih penting, sebaiknya aku menyusul mereka yang ada di garis depan. Mereka takkan mampu mengalahkan dua Hollow itu. Ah, sekali lagi, rahasiakan dulu kepulanganku dari mereka, ya.”
“Y-ya, baiklah....”
“Tenang saja, Luna, Benih Yggdrasilmu ini akan membuatmu menangis bangga karena sudah kaupilih!” Zeeta melempar senyum lebarnya sebelum ia pergi dengan sihir teleportasinya.
......................
Ular raksasa bersisik dua warna, bawah putih dan atas merah, dengan semacam cincin—halo raksasa yang melayang di atas kepala, juga dengan bilah merah tertancap sebagai senjata di sepanjang tubuhnya. “Rekan” yang ikut bersamanya adalah seorang “ksatria” berhelm full face, mata dibalik helm itu bersinar ungu gelap, Ia menyarung dua pedang di masing-masing sisi pinggangnya. Mereka datang dari barat daya Hutan Peri berada.
“Target ditemukan. Menunggu perintah untuk membinasakan Hutan Peri.” Suara dari ksatria terdengar. Ketika dia melihat Crescent Void turun dari langit, ia mengangkat tangan kirinya—mengode Si Ular untuk berhenti.
__ADS_1
“Target lain ditemukan. Segera memulai proses pembinasaan.”
Begitu Crescent Void hendak menyentuh tanah, Mellynda yang menyadari gerakan aneh dari musuhnya, segera membuat kristal besar nan tebal dengan sigap.
‘KRANK!’
Gelombang tebasan ungu berhasil ditahan oleh Mellynda. “Berhati-hatilah,” katanya, “seperti kata Nova, mereka berbeda dari lawan kita selama ini.”
Melihat tebasannya berhasil ditahan, Si Ksatria menyimpan kembali pedangnya di sarung pinggang sebelah kanannya.
“Hm.” Marcus memegang dagunya. “Serangannya juga lebih kuat dan destruktif.”
“Apa perintahmu, Kapten?” tanya Colette.
“Nova, jika deduksiku benar, ular itu sama bahayanya dengan Si Ksatria. Bisakah kaufokus pada Ksatria itu dulu?” tanya Marcus, “selama pertarungan aku akan meninjau kembali.”
“Tentu. Kebetulan, aku juga sedang ingin mengetes seberapa jauh aku telah berkembang,” balas Novalius.
“Sisanya, fokuskan serangan kalian pada Si Ular.”
Angin berderu, membuat suasana hening sesaat ini tegang. Crescent Void bersiaga untuk menyerang. Keduanya menunggu salah satu pihak menyerang duluan.
“Percuma, percuma!” pekik sebuah suara dari belakang mereka mencetarkan suasana. Semua mata melihat ke sumber suara.
“Ka-kau?!” Novalius dan Colette terkejut.
“Hmm? Kalian mengenalnya?” tanya Danny.
“Ka-kami sempat berbicara dengannya—“ Novalius yang ingin bercerita terhenti. “Tidak, ini bukan waktunya! Penyihir Harapan, mau apa kau ke sini? Ini bahaya!”
“Siapa dia? Aku tak bisa merasakan mana darinya...,” ujar Gerda, "kita tak bisa melibatkannya!"
Marcus mengernyitkan mata.
“Target dikunci. Target tidak diketahui. Menunggu proses eliminasi.” Si Ksatria melihat Zeeta.
“Aneh. Ada yang aneh dengan situasi ini….” Marcus bolak-balik melihat dua Hollow dan gadis misterius itu sambil memegang dagu dengan telunjuk dan jempol kirinya.
“Kuperingatkan, sihir kalian takkan bekerja pada mereka!" seru Penyihir Harapan alias Zeeta.
Keenam anggota itu terkejut. “Nova, cobalah!” perintah Marcus. Novalius segera mengangguk dan maju ke hadapan Si Ksatria. Ia menarik rapier-nya, berkuda-kuda dengan menarik kaki kanan ke belakang, menekuk tangan kanannya yang memegang pedang, dan memposisikan tangan kirinya di bawah bilah pedang. Ia menarik napas dalam-dalam, menatap tajam targetnya, lalu....
‘ZLING!’
Bunyi decitan bilah yang teradu menggema.
Novalius terkejut. Tanpa mengubah posisinya, Si Ksatria menangkis rapier dengan pedang dari sarung kanannya secara horizontal. Ia melanjut ke serangan lanjutan, yang dengan cepat menebasnya hingga menimbulkan gelombang ungu. Novalius mau tak mau terkena serangan ini.
“Guwaaah!” erang Novalius.
“Nova!” pekik rekan-rekannya.
‘BWMM!’
Gelombang ungu yang menyapu Novalius bersamanya, berakhir dengan ledakan.
“Serang mereka.” Suara Si Ksatria langsung memicu Si Ular. Bilah-bilah tajam yang ada di sepanjang tubuh si ular—melalui sisik-sisik yang melebar seperti memberi jalan bagi mereka untuk keluar, dengan cepat terbang, dan menarget keenam Crescent Void.
__ADS_1
“Serahkan padaku!” Mellynda maju, hendak membuat dinding kristal lebih besar dan tebal dari sebelumnya. Namun, begitu dia menyentuh tanah untuk membuat dinding, ia terbelalak. Sihirnya tidak keluar. Ia lantas berteriak, “Semuanya, menghindarlah!”
‘FFFFMMMM....’
Bilah-bilah itu berubah menjadi bola besar….
‘BLUAARRR’
Lalu meledak dengan daya yang sangat destruktif, hingga menimbulkan asap raksasa.
“Menganalisa hasil....” Si Ksatria memandangi kepulan asap di depannya. “Gagal. Target tidak ditemukan.”
.
.
.
.
"Sialan, bahaya tahu!" seru Danny. Tubuhnya mengepulkan asap.
"Terima kasih, Danny!" ujar Marcus yang tergeletak di tanah, yang bernasib sama seperti anggota lain.
"Hughhh. Kalau Penyihir itu tidak memperingati kita, sudah pasti kita akan mati, sialan!"
"Ughuk ughuk...." Gerda bangun dibantu Danny. "Apa yang baru saja terjadi?"
"Aku menteleportasikan kalian dengan senjata suciku," balas Danny, "ingatlah. Zeeta pernah cerita sesuatu tentang makhluk sihir yang tidak mempan terhadap sihir, yang dihadapi Marchioness Hellenia. Sudah kuduga akan seperti ini."
"Melempar satu pisaumu ke tempat lain sejak kau mendengar peringatannya, lumayan, Danny!" puji Colette.
"Hentikanlah. Aku tak bisa menyelamatkan Nova. Dia pasti terluka parah."
"Setidaknya kau berhasil menyelamatkan kami, berbanggalah dengan itu!" seru Mellynda.
Marcus kembali berpikir. "Peluang kita mungkin hanya tinggal senjata suci. Meskipun katalis kekuatannya adalah mana kita sendiri, itu patut dicoba. Tapi, berhati-hatilah. Ada kemungkinan sihir kita dihilangkan seperti Melly."
Lalu tiba-tiba....
'Tuk tuk tuk tuk tuk'
"He-hei! Gadis itu!" Mellynda menunjuk Zeeta yang berlari ke arah ular. Semuanya terbelalak dan panik.
"Berhentilah! Kaubisa mati!" pekik Gerda.
Namun ucapan itu seperti bumerang yang hilang arah.
Zeeta melompat tinggi hingga menimbulkan retakan dan lubang pada tanah. Ia memutar tubuhnya 90 derajat, membiarkan topinya terbang tertiup angin, lalu menendang keras-keras mulut Si Ular dengan punggung kaki kanannya.
'KRUUKK!'
Mulut Si Ular tampak seperti remuk, diakhiri dengan terpental jauhnya ia ke belakang. Tidak berhenti, Zeeta menaikkan tinggi tanah tempat Si Ksatria berdiri, lalu menjotosnya di bagian perut hingga bernasib sama seperti Si Ular. Zeeta turun dengan santai.
Betapa dumbfounded-nya Crescent Void melihat gadis tanpa mana ini beraksi. Kekuatan macam apa yang bisa mementalkan Hollow sejauh itu, tanpa memberi kesempatan mereka membalas balik?
Zeeta yang menyadari tatapan mereka hanya tertawa tanpa beban dan melambaikan tangan.
__ADS_1
"Siapa dia sebenarnya...?" gumam Marcus.