Zeeta Dan Dunia Sihir

Zeeta Dan Dunia Sihir
Vivid Party


__ADS_3

Sore hari sekitar pukul empat, di kediaman Grand Duchess Ashley Alexandrita, sedang diadakan pesta kebangsawanan. Pesta ini digelar dengan tujuan untuk memilih satu nama bangsawan untuk dijadikan sebagai bangsawan utama dan menjadi penguasa wilayah di Wilayah Selatan, menggantikan jabatan Rowing yang telah dieksekusi beberapa waktu yang lalu. Pesta ini disebut sebagai Vivid Party. Tiga kandidat kuat untuk menjadi bangsawan utama tersebut adalah Levant, Emeria, dan Allysum. Nantinya, mereka akan dipilih langsung oleh Zeeta.


Saat ini, para bangsawan tersebut sedang bersantap sebelum memulai acara utamanya, yaitu pemilihan bangsawan utama. Disaat itulah, Mellynda von Ophenlis IX, menghampiri Zeeta. "Hai," sapanya pada Zeeta yang sedang memakan camilan buatan ayahnya di salah satu meja.


"Oh?" Zeeta menelan makanannya. "Melly! Hai!" Zeeta melempar senyumnya.


"Tampaknya kau senang hari ini, ada sesuatu yang terjadi?"


"Mmhm. Aku akan membicarakannya nanti dengan tiga bangsawan itu."


"Hmm, jadi masih rahasia, ya?"


"Ehehehe." Zeeta menggaruk pipinya. "Melly sendiri ada apa? Kau tidak seperti saat kita bertemu."


"Huhuhum." Melly menjahit senyum smug-nya lalu bertolak pinggang. "Aku sudah berkeputusan. Aku, Mellynda von Ophenlis IX akan menjadi rivalmu! Berbanggalah!"


"Ri-rival?"


"Uhm!"


"Untuk apa?"


"Aku akan menjadi kuat bersamamu dan mendampingimu sebagai Tuan Putri! Jika ada kesempatan, latih tandinglah denganku!"


Zeeta merona merah. Mellynda yang melihatnya juga ikut merona. "Ke-kenapa?! Apa yang kaupikirkan?!" ia berusaha menutup rona merahnya dengan lengan kanan.


"Itu artinya ... Melly ingin jadi temanku...? Kyaaa! Uhm! Aku juga ingin berteman denganmu!" Zeeta meraih tangan Melly.


"Hah?! A-aku tidak bilang begitu! Aku hanya bilang aku akan jadi rivalmu!"


"Aku senang sekali kalau kau mau jadi temanku. Itu berarti, kau adalah bangsawan pertama yang ingin berteman denganku!" Zeeta segera menarik tangan Mellynda lalu mendekapnya.


Mellynda semakin merona dibuatnya setelah mendengar ia teman bangsawan pertamanya. "Hu... humph! A-aku ini rivalmu! Tapi, kalau ini memang pertama kalinya untukmu, apa boleh buat!" Mellynda kemudian membalas dekapan Zeeta sambil diikuti senyum.


Beberapa saat setelah puas berpelukan, Mellynda bertanya, "Apa yang akan kaulakukan dengan Kak Azure, Danny, dan Gerda? Kau masih sibuk dengan urusan Tuan Putrimu, bukan?"


Zeeta segera murung karenanya. "Aku rindu dengan mereka. Aku juga ingin menghabiskan waktu dengan mereka. Tapi ... untuk saat ini aku belum bisa...," jawab Zeeta lirih.


"Kenapa?"


"Tujuanku saat ini lebih besar dan ini untuk kepentinganku dan kepentingan rakyatku. Aku tidak bisa meninggalkan tujuan ini hanya untuk bersenang-senang. Rasanya ... jika itu kulakukan, aku jadi merasa sangat bersalah...."


"Sudah kuduga kau akan bicara begitu, Zee!" suara Azure terdengar.


"Eh? Kak Azure?" Zeeta celangak-celinguk. "Di mana?"


Si Rival mengeluarkan kristal yang ia simpan dari dalam saku gaunnya.


"Wah! Seperti handphone saja!" tanggap Zeeta setelah melihatnya.


"Aku belum diizinkan punya barang seperti itu, jadi kubuat sendiri yang konsepnya sama. Komunikasi jarak jauh...," balas Mellynda.


"Kereen!" mata Zeeta berbinar.


"Hei! Jangan lupakan aku di sini! Lagi pula Melly, aku tahu kau sok-sokan tidak senang ketika Zeeta menganggapmu ingin berteman dengannya!" teriak Azure, seperti biasa.


"Ha-hah?! Bu-bukan berarti aku tidak senang jadi temannya, aku ini rivalnya! Jangan buat aku mengulanginya terus!"


"Hei," panggil Zeeta.


"Hm?"


"Hm?"


"Sejak kapan kalian bisa dekat seperti ini? A-apa yang terjadi saat aku sibuk?! Jangan-jangan... aku dibuang...?" Zeeta bergemetar.


"Tentu saja tidak, dasar bodoh!"


"U-uhm. Maaf...."


"Hah... kau ini. Sudahlah, ķalian punya acara penting di sana, 'kan? Jadi biarkan aku bicara agar ini tidak lama. Terutama bagimu, Zee. Pasang telingamu lebar-lebar!"


"Ba-baik!"


"Aku, Gerda, dan, Danny sudah berbicara. Ada banyak yang terjadi antara kami dan bangsawan utama bernama Melly di sana.


"Zeeta, dengar. Dirimu yang saat ini adalah seorang Tuan Putri. Walau begitu, kami menginginkanmu untuk terus tersenyum, terus bahagia, dan selalu sehat. Bahaya demi bahaya terus menghampirimu, karena itu jagalah kesehatanmu, sialan! Saat aku melihatmu akan mati jika tidak diselamatkan makhluk burung hantu itu, aku sudah memutuskan untuk mati demi melindungi apa yang ingin kaulindungi!


"Bagi kami ... keberadaanmu adalah aroma harum manis bagi kerajaan ini.... Kami tidak tahu apa yang sedang kaurencanakan dengan bangsawan-bangsawan itu, tapi kami yakin jika itu adalah hal yang baik. Karena ... ada dirimu di sana!


"Kau adalah Tuan Putri yang ceroboh, tidak memedulikan diri sendiri tapi kau justru punya rasa peduli yang terlalu tinggi. Kau pun juga terkadang bodoh. Setidaknya, jika kau tidak bisa melakukan sesuatu, jangan paksakan dirimu, sialan, aku jadi ingin menggantikanmu!


"Tapi jangan pernah menganggap kami membuangmu hanya karena alasan itu. Ayahmu sudah pernah bilang, 'kan, jika meskipun dirimu adalah Tuan Putri, kau tetap memiliki keluarga di desa Lazuli. Kau berasal dari desa Lazuli. Kau pun juga punya teman yang akan selalu menunggu kepulanganmu.


"Bergantunglah pada kami disaat kau butuh bantuan. Jangan anggap dirimu membawa seluruh kerajaan ini sendirian.


"Kau sudah menyelamatkanku, Gerda, Danny, dan semua penduduk kerajaan ini. Tidaklah aneh jika kau ingin bergantung pada kami.

__ADS_1


"Kapanpun waktunya, selamanya, kita adalah teman. Lakukanlah apa yang harus kaulakukan jika itu demi kepentinganmu dan rakyat. Kami akan mendukungmu!"


Zeeta mengambil kristal seukuran genggaman tangan dari Melly lalu mendekapnya erat. Kucuran air mata dan air hidung tampak sekali ingin disembunyikan olehnya.


"Uhm! Maafkan aku, Kak Azure. Maafkan aku jika aku tidak pernah bersama kalian. Maafkan aku Gerda, maafkan aku Danny.... Aku... sebenarnya ingin terus bersama kalian, tapi aku juga harus menjadi Tuan Putri!"


"Hei. Apa kau ini tidak pernah belajar, dasar bodoh? Disaat seperti ini, ucapkanlah terima kasih, bukan minta maaf!" dibalik kristal tersebut, Azure juga menahan air matanya. Gerda dan Danny juga tampak ada di sana, mendengarkan dalam diam dan sama-sama menahan air matanya.


"Terima ... hiks ... kasih, terima kasih semuanya, aku akan berjuang!"


Zeeta mengembalikan kristalnya pada Melly. Melly segera membelakangi Zeeta. "Dasar, kalau pesannya akan sedih begini bilang, dong, dasar Kak Azure itu...," gumam Mellynda. Ia mengusap air matanya.


Setelah kristalnya diterima, Zeeta berterima kasih sambil kembali memeluk teman bangsawan pertamanya. "Aku rasa ... aku tidak akan bertahan jika hanya aku seorang yang anak kecil di pemilihan nanti. Maukah kau menemaniku?"


"Moh... dasar, kau ini.... Baiklah, aku hanya perlu menemanimu, 'kan?" Mellynda membalas dekapan Zeeta.


"Uhm. Terima kasih."


[Kemudian....]


"Apa kubilang! Kau itu tidak perlu memikul beban itu sendiri. Ada teman yang akan bersedia memikulnya bersamamu!" seru Luna. Ia ada di meja camilan.


"Wahh?!" Mellynda terkejut.


Ketika Zeeta berbalik badan, perut Luna sudah membengkak. Untuk bergerak saja sudah tak mungkin.


"Lu-Luna?! Kau makan sebanyak apa?!"


"Yah ... aku tak pernah mencicipi makanan yang dibuat manusia. Ternyata lezat sekali, aku jadi ketagihan, hehehe."


"Jangan 'hehehe'-kan aku!" Zeeta mendekati Luna lalu berbisik, "Bukannya kau sedang mengamati pria tadi?!"


"Hmmm, yah, nanti kau tahu sendiri. Lagi pula, kau menghabiskan waktumu dengan gadis cilik itu dengan manisnya, jadi aku tidak ingin merusak momen kalian."


"Dasar, Luna...."


"Zee... Zeeta...? Si-siapa rubah manis ini?!" tanda hati di kedua mata Mellynda, diikuti dengan hembusan napas berat, yang mulai mengancam Luna. Sontak, Luna segera melompat ke atas kepala Zeeta sambil memasang gestur tubuh yang terancam—melengkungkan punggungnya dan menegakkan dua ekornya.


"Sssyyaaaahhh!!" Luna mendesis.


Serasa dijatuhi dari langit, Melly benar-benar down melihat reaksi Luna. Disaat yang sama, Ashley menghampiri mereka. "Zeeta, apa yang kaulakukan di sini? Sudah waktunya kau bersiap!" seru Ashley.


"Ah, baiklah," jawab Zeeta, "nanti akan kujelaskan. Sebaiknya kau juga kembali ke mejamu!" Zeeta kemudian menyusul Ashley yang berjalan menuju podium yang berada di dekat meja tamu calon bangsawan utama.


Mellynda yang masih syok, membatu di tempatnya.


"Hmm?" tanya Ashley.


"Aku sudah penasaran sejak keluarga Ophenlis datang... tetapi, di mana Tuan Porte?"


Ashley terhenti. "Untuk sementara ini ia tidak akan hadir dalam kepentingan apapun. Dia sudah memakai seluruh mana-nya untuk menggerakkan Labirin Cremlyn."


"Begitu, ya...." Zeeta berwajah masam.


"Biarkan dia pulih dengan sendirinya. Tak ada kewajiban bagimu untuk menyembuhkan semua orang. Meskipun dia sudah kehabisan mana, dia tidak akan mati secepat itu. Soalnya, dia adalah bangsawan utama yang sangat dipercaya oleh ibumu!"


"Aku mengerti. Kalau begitu, aku akan memulai Vivid Party-nya." Zeeta bergegas menuju podium. Ketika ia bergegas itu, Zeeta mendapati Arthur melambaikan tangan padanya—menyerukan semangat tak bersuara untuknya. Zeeta pun membalasnya dengan senyuman dan lambaian tangan juga.


......................


Semua bangsawan yang hadir di sana memusatkan pandangan mereka pada Zeeta. Emeria terlihat tenang, Levant yang gelisah dengan menunjukkan kaki yang digerakkan ke atas dan bawah, serta Allysum yang tersenyum dengan penuh percaya diri.


"Selamat sore, semuanya. Terima kasih karena sudah memenuhi undangan pesta ini." Zeeta memberi hormat. "Kalau begitu, karena aku pribadi tidak ingin terlalu membuang waktu demi rencanaku ke depannya, aku akan langsung bertanya pada kalian bertiga, Tuan-Tuan sekalian.


"Katakan, jika aku ingin membuka akar raksasa di istana, langkah pertama apa yang akan kalian lakukan?"


Semua bangsawan di sana saling membisik dan berspekulasi dengan apa yang sebenarnya dipikirkan Zeeta. Akar raksasa itu mustahil dibuka!


"Tuan Lowèn Levant, kupersilakan."


Lowèn berdiri lalu memberi hormat. "Terima kasih, Yang Mulia. Jika ditanya hal pertama, tentu saja mengamankan wilayah sekitar dulu, jika itu Yang Mulia, kupikir sihir dalam kekuatan besar pasti akan dilancarkan dan akar itu pasti terbuka."


Zeeta memejamkan matanya. "Uhm. Silakan duduk." Ia membuka matanya kembali, lalu menunjuk Allysum. "Tuan Orchid Allysum, silakan."


"Namaku adalah Orchid Allysum! Bunga-bunga dari sihirku akan membuka jalan bagi Anda, meskipun Anda tahu jika akar itu mustahil dibuka!" Orchid mempersembahkan sebuket bunga mawar dari sihirnya kepada Zeeta.


Zeeta tersenyum. "Ehehehe. Kau jujur dan manis sekali, Tuan Orchid!" Zeeta mengambil buketnya, lalu ia langsung mempersilakan Emeria. "Tuan Rey Emeria. Silakan."


"Terima kasih, Yang Mulia." Rey memberi hormatnya pada Zeeta. "Yang Mulia, izinkan saya bertanya."


"Kuizinkan."


"Apa yang akan Anda lakukan jika rencana itu gagal?"


Semua orang di sana segera naik darah mendengarnya. "Lancang sekali!" cemooh mereka.


"Apa yang membuatmu berpikir jika aku akan gagal? Aku punya banyak makhluk sihir yang ada di sisiku. Ada juga Guru Ashley. Mengapa kau berpikir aku akan gagal?"

__ADS_1


"Tentunya Anda pasti menyadari hal ini, bahwa Anda hanyalah seorang anak berusia delapan tahun. Jika Anda memerintah orang yang sudah lebih dewasa dari Anda, apa Anda yakin Anda bisa mengontrol mereka?"


Zeeta tersenyum lebar. "Tidak. Aku tidak yakin." Jawaban ini membuat Rey mendongakkan kepala.


"Seperti yang kaukatakan, Tuan Rey, aku hanyalah anak kecil. Jujur, aku pun tidak ingin berada di posisi ini. Kalau aku boleh egois, aku ingin melimpahkannya pada Guru Ashley, bahkan jika ibuku ada di sini, aku sebenarnya tidak ingin memikirkan ini terlalu banyak," sambung Zeeta dengan senyum masih tinggal di bibirnya.


"Karena itulah, Tuan Rey, aku bertanya. Jika kubilang aku akan membuka akar raksasa itu, apakah ada yang meragukanku?


"Aku selalu berpikir. Kenapa semua orang sangat percaya padaku? Kenapa semua orang percaya jika aku akan berhasil?


"Ketika aku akan gagal, aku tahu ekspektasi rakyatku akan turun begitu drastis. Lantas, mengapa mereka percaya padaku? Aku senang Tuan Orchid dan Tuan Rey ragu padaku.


"Ini bukan tentang keberhasilan atau tidak. Aku sudah bertemu banyak orang dalam waktu dua bulan ini. Peri, Rowing, Raksasa, Elf, Dryad, dan masih banyak lagi. Apa yang ingin kudapatkan dari bangsawan utama baru, adalah kepercayaan.


"Nona Hellenia pernah bercerita padaku, bahwa Rowing sudah mulai bergerak-gerik aneh sejak mereka di Akademi Dormant. Ibu percaya jika Tuan Garren tidak akan berpikir untuk berkhianat, tapi nyatanya....


"Tuan Rey, Tuan Orchid, juga Paman Lowèn dan semua bangsawan di sini, kuperjelas saat ini juga. Rubah yang ada di kepalaku adalah Roh Yggdrasil. Dia bisa memberitahuku, mana yang benar-benar ragu, mana yang hanya sekadar percaya."


"Apa...? Roh Yggdrasil?!" semua orang di sana geger. Sementara Lowèn, ia mengacak-acak rambutnya. Ia menyesal dengan jawabannya.


"Paman Lowèn, ini bukan berarti aku tidak percaya padamu. Paman memang bangsawan yang pantas menjadi bangsawan utama, tetapi aku butuh bangsawan yang menganggapku apa adanya.


"Secara kebetulan aku diberi kekuatan besar. Oleh karena itu, aku tidak ingin ada bawahanku yang merasa terkhianati oleh kekuatanku jika nyatanya aku gagal."


Lowèn berdiri dan menyanggah Zeeta, "Ta-tapi, Yang Mulia Zeeta, kita adalah keluarga! Meskipun Anda gagal, aku tidak akan—"


"Melihat Edward dan Ella saja aku sudah tahu, Paman. Jika kau bersedia beritahu aku apa alasannya, aku akan memikirkannya lagi."


Lowèn mencengkeram erat tangannya. "Jangan bercanda! Hanya karena Tuan Putri, Anda tidak pantas menasihati—"


"Karena aku adalah Tuan Putri, aku akan mengatakannya, Tuan Lowèn! Aku tidak butuh bawahan yang hanya mementingkan diri sendiri, layaknya Rowing! Jika Anda keberatan dengan ucapanku, majulah ke depan dan gantikan aku saat ini juga!"


Semua orang yang hadir terbelalak. Zeeta... seperti orang lain. Ini adalah kedua kalinya ia seperti ini, seperti ketika ia mengancam Bastanil. Ashley sudah bangun dari duduknya dan beraba-aba untuk menghentikan Zeeta.


"Apa kalian tahu beban apa yang sedang kupikul saat ini? Tuan Lowèn, katakan padaku...." Zeeta mulai mengucurkan air mata. "Apa yang akan Paman lakukan jika aku tidak diselamatkan oleh Peri bernama Sylva? Apa yang akan terjadi di negeri ini? Katakan padaku!"


Lowèn membungkam.


"Jika Anda hanya bisa terdiam, jangan membuatku seperti ini! Bukankah kita keluarga? Aku tidak tahu seperti apa rupa ayahku—yang merupakan kakak Anda, bahkan ibuku sendiri aku tidak tahu!


"Jika begini, Anda hanya membuatku membenci keluargaku sendiri...." Zeeta menutup wajahnya untuk menyembunyikan air matanya.


Ashley mendekati Zeeta dan berusaha ingin menghentikan pesta ini sejenak. Namun, Zeeta menolaknya. Setelah ia menyeka air mata dan mengabaikan pipi sembab dan mata merahnya, ia melanjutkan pidatonya.


"Tuan Rey, Tuan Orchid, setelah pesta ini berakhir, aku ingin bicara empat mata dengan kalian."


"Baik, Yang Mulia." Rey akhirnya bisa duduk setelah terjebak dalam "pertengkaran keluarga".


"Tentu saja, dengan senang hati, Yang Mulia." Senyum dari Orchid berubah serius.


"Maafkan aku karena sudah menunjukkan sifat burukku." Zeeta memberi hormat lagi. Tiada respon dari bangsawan lain. Hanya hening.


"Untuk empat orang yang menjadi tamuku, Tuan dan Nona arsitek, aku ingin percayakan pada kalian untuk membuat cetak biru untuk Wilayah Timur. Jika itu sudah selesai, hubungi aku."


Pria yang sebelumnya diwaspadai oleh Zeeta dan Luna, serta wanita berambut putih itu membalas Zeeta dengan salam hormat.


"Tuan Ahli Alat Sihir, aku menginginkan alat yang bisa digunakan sebagai sensor yang bisa merasakan mana dari makhkuk sihir dari radius sepuluh kilometer."


Pria berbadan besar nan pendek bangun dari duduknya. "Itu permintaan mustahil, Yang Mulia," balas pria itu.


"Katakan padaku mengapa."


"Aku harus memiliki sampel mana dari makhluk sihir itu, lalu jika jarak sepuluh kilometer, itu tidak mungkin. Aku hanya bisa membuat setengah darinya."


"Tapi, jika itu alat sihir sensor, kau bisa melakukannya?"


"Tentu saja."


"Hm. Nanti akan kukunjungi bengkelmu."


"Dimengerti." Pria itu kembali duduk.


Tak lama kemudian, wanita berambut putih itu mengangkat tangannya.


"Ada apa?"


"Anu ... jadi, siapa yang akan jadi bangsawan utamanya?"


"Hei! Tidak sopan!" pria berambut merah-perak itu memukul dengan lantang kepala wanita itu.


"Ah, maafkan aku...." Zeeta menatap Orchid dan Rey. "Tuan Orchid, secara pribadi aku tertarik memilihmu, tetapi aku ingin rakyat di Wilayah Selatan tidak mengalami hal serupa ketika Rowing berkuasa di sana."


Orchid berlutut pada Zeeta lalu menjawab, "Aku sudah merasa terhormat bila Anda tertarik padaku."


"Tuan Rey, kau sudah memenuhi ekspektasiku. Kupercayakan Wilayah Selatan padamu."


Sama layaknya Orchid, Rey juga berlutut. "Saya akan berusaha demi memenuhi harapan Anda, Yang Mulia."

__ADS_1


Dengan begitu, tirai pesta Vivid diturunkan. Meski ada hal yang tak terduga terjadi, Zeeta harus melangkah maju demi menyelamatkan ibunya.


__ADS_2