Zeeta Dan Dunia Sihir

Zeeta Dan Dunia Sihir
Ketika Tiada yang Menyadarinya


__ADS_3

[Jauh di selatan Aurora ... sebelum tim selain Colette dan Lloyd putus kontak dengan mereka....]


Pasangan Manusia dan Elf itu membuat medan penghalang berbentuk cembung. Lloyd di depan dan Colette di belakang. Guna medan penghalang itu adalah melindungi mereka dari suhu dingin yang tidak main-main dan terasa menusuk hingga ke dalam tubuh. Mereka juga memakai sihir untuk pencahayaan.


‘SRET... SRET... SRET...’


Langkah kaki yang sengaja diperlahan untuk waspada, ditambah jarak pandang yang terbatas, memaksa keduanya berjalan seolah menyeret kaki.


Tegang.


Itulah yang dirasakan Colette—dari belakang Lloyd secara intens. Terlebih, ini adalah pengalaman pertamanya melakukan misi semacam ini—yang mengharuskannya mengendap-endap. Sebuah pertanyaanpun kemudian dilayangkan dirinya. “Aku tahu Elf lebih peka terhadap mana, tapi memangnya apa yang dirasakan olehmu sampai kita harus mengendap-endap seperti ini?


"Kalau hanya dingin dan jarak pandang terbatas saja, aku sulit menerimanya—atau hanya aku yang kurang pengalaman?”


Lloyd sempat melirik Colette sebelum menjawabnya. “Jadi kau benar-benar tidak merasakannya, ya....


“Sederhananya seperti ini saja. Bersiaplah untuk hal terburuk dan lakukan apapun yang kaubisa, bahkan jika itu lari meninggalkanku.”


Jawaban Lloyd membuat Colette membeku sesaat. “Hah...?”


“Dingin yang kita rasakan memang berasal dari angin malam, namun sebagian besarnya berasal dari sesuatu yang memiliki mana yang teramat jahat—dan makhluk itu berada jauh di dalam sana, dengan membawa Batu Jiwa-nya.”


Ucapan Lloyd yang bilang dia merasakan ini dan itu, membuat Colette teringat pada Zeeta. Lantas, diapun kembali bertanya. “Kenapa kaubisa melakukan hal yang sama dengan Zeeta? Apa semua Elf selain dirimu bisa melakukannya? Maksudku, mana yang kaurasakan ada jauh di dalam sana, bukan?”


Kini giliran Lloyd yang membeku sesaat. “Hal yang sama dengan Zeeta?" tanyanya. “Pertanyaan bodoh. AKU-lah yang mengajarkannya. Juga pada Elf yang lain.”


“Ap—?!” Colette mengernyitkan alis.


“Cukupkanlah bicaranya. Beberapa ratus meter lagi kita akan menemuinya.” Lloyd kemudian kembali memimpin jalan.


Colette lalu menelan ludahnya. “Marcus ... doakanlah aku....”


......................


Sepuluh menit Colette dan Lloyd telah berjalan, hingga suatu ketika Lloyd berhenti sambil membisik, “Gunakanlah sihir pada matamu untuk kegelapan ini.” Bersamaan dengannya, ia menghilangkan sihir pencahayaannya.


Colette yang mengerti maksudnya, lantas memejamkan mata sambil memutar layaknya lingkaran masing-masing telunjuk pada masing-masing mata.

__ADS_1


Saat membuka matanya, Colette jadi bisa melihat dalam kegelapan secara jelas—dimana jika dilihat dengan pandangan orang ketiga, matanya itu menyala laksana kucing. Lloyd juga melakukan hal yang sama. Lalu, mereka melanjutkan perjalanan mereka lagi, sampai....


Mereka mendengar suara yang sangat aneh—hingga memaksa keduanya untuk berhenti sesaat dan mendengar baik-baik apa yang diterima indera pendengarnya. Mirip seperti rintihan, tetapi terlalu serak untuk disebut sebagai rintihan. Menyusul suara itu, terdengar lagi suara tawa yang begitu demonic—dimana suara rintih itu langsung berubah menjadi tawa berat yang amat mengerikan. Tawa itu juga beritme sangat cepat. Hanya “aneh” saja yang bisa diterapkan pada suara yang didengarnya.


Bulu kuduk Colette langsung berdiri begitu mendapat sosok seperti apa yang mengeluarkan suara itu.


Ia pun terbelalak—merasa sosok itu adalah apa yang hanya akan dilihatnya dalam mimpi.


Sosok itu ... adalah monster.


Setengah tubuhnya seperti banteng hitam dan setengahnya lagi adalah manusia. Bagian atas tubuhnya diselimuti bulu tebal sementara bagian tubuh lainnya seperti manusia pada umumnya. Sosok itu juga bertanduk kambing—meski setengah tubuhnya adalah banteng. Tangannya adalah tangan manusia tetapi diselimuti bulu tebal yang sama. Di depannya tergeletak banyak sekali jasad-jasad bagaikan sampah yang berserakan hingga menimbulkan bau busuk dan amis yang menjadi satu.


Jasad-jasad itu tidak hanya dari manusia, tetapi dari berbagai ras. Elf, Naga, bahkan Peri juga ada disitu.


Banyak dari mereka tidak memiliki tubuh yang lengkap. Ada yang kehilangan tangan, kaki, perut, dan lain-lainnya.


Colette dan Lloyd juga melihatnya.


Monster itu baru saja meneguk darah dari tubuh tanpa kepala seperti sedang minum dari sebuah botol. Setelah meneguknya, monster itu melemparnya ke tumpukan-tumpukan jasad.


Suara muntahnya mengejutkan Lloyd—begitu juga dengan monster di seberangnya.


Lloyd dan Colette sekali lagi dibuat ngeri. Tidak seperti tubuh bantengnya—wajahnya tampak lebih seram dan sangat aneh, begitu menoleh ke arah mereka.


Wajahnya datar. Dia tidak memiliki batang hidung, matanya hitam secara keseluruhan, dan mulut tebal bulat dengan gigi-gigi melingkar tajam.


Jantung keduanya langsung berpacu begitu melihatnya. Kaki terasa berat, seolah dirantai pada tanah—tidak mengizinkan mereka untuk lari.


“Kraaaahhhh!”


Teriakan yang dilontarkannya membuat mulutnya menganga seperti lubang besar dan menunjukkan ada lebih banyak lagi gigi-gigi di dalam mulutnya. Lloyd dan Colette langsung menutup telinga masing-masing. Bahkan hanya dengan menutup telinganya saja tak cukup. Jeritannya yang begitu melengking hingga secara tidak sadar membuat keduanya menutup mata sekencang-kencangnya dan menggertakkan gigi.


“A-apa-apaan ini...? Apa yang sebenarnya sedang kami hadapi...?” batin Colette. “Aku ... sangat takut....


“Mar... cus....”


Colette langsung tergeletak di tanah, dengan telinga dan hidung yang mengucurkan darah. Lloyd yang menyadarinya merasa sangatlah terpojok. “Cih...,” ujarnya, “teriakan ini ... apa kau ini Banshee?!

__ADS_1


“Bughk!”


Lloyd memuntahkan darah.


Monster itu perlahan berjalan menghampiri Colette dan Lloyd, setelah menghentikan jeritannya.


Berlutut lemas. Itulah after-effect yang dialami Lloyd. Jantungnya yang berdegup kencang pun tidak kunjung normal.


Kala monster itu semakin dekat dan terus mendekat menghampiri mereka, Lloyd ingin melakukan sesuatu untuk situasi ini, tetapi tubuhnya tidak mengizinkannya. “Si... al....” Akhirnya Lloyd pun kehilangan kesadaran.


Gelagat monster itu tampak akan melakukan hal yang sama seperti tumpukan jasad di belakangnya. Namun....


“Hei hei, aku tidak bisa membiarkanmu memakan mereka, kendati kau adalah ciptaanku.” Seseorang datang dari luar gua.


Monster itu langsung berhenti, lalu tunduk padanya.


“Aku datang secepat mungkin karena kau berteriak, tapi ... lihatlah dulu siapa yang kita dapat dengan mana yang unik ini....


“Mereka ini....” Orang itu memastikan siapa Elf dan Manusia yang tergeletak dengan darah di tanah dengan pandangan matanya. “Ah, begitu, ya. Sudah kuduga dari Zeeta! Dia memang hebat.


“Fufufu. Kalau aku melakukan sesuatu pada mereka, apa yang akan terjadi padanya, ya…?


“Yah, aku, sih, sudah tahu. Hahahaha!”


.


.


.


.


“Diablo, bawa mereka ke ruang dimensi itu. Aku akan sedikit bermain dengan mereka.” Usai mengucapkannya, orang itu pergi meninggalkan mereka. Tetapi, sebelum orang itu benar-benar angkat kaki dari guanya, Colette membuka mata dan melihat siapa suara samar-samar yang didengarnya bicara dengan monster itu.


“A-Anda adalah....” Tidak mampu mengatakannya dengan lantang setelah kehilangan banyak darahnya, Colette kembali tak sadarkan diri.


Monster yang disebut Diablo itu kemudian menciptakan ruang dimensi di sebelah kanannya. Ruang itu tercipta seperti pusaran dengan warna ungu dan biru gelap. Begitu dimensinya sudah terlihat, itu adalah dunia dimana segalanya adalah abu. Diablo kemudian melempar Colette dan Lloyd masuk ke dalamnya, tidak menggubris kondisi mereka....

__ADS_1


__ADS_2