Zeeta Dan Dunia Sihir

Zeeta Dan Dunia Sihir
Menuju Kerajaan Nebula 3/3


__ADS_3

Klutzie sedang menunggu Zeeta di sebuah kursi di dekat air mancur dimana alun-alun kota berpusat. Siren memutuskan untuk menunggu Zeeta dengan wujud Roh-nya (baca: wujud mini) dan hinggap di saku kemeja Benih Yggdrasil-nya. Mereka sudah di sana selama hampir lima belas menit hingga akhirnya Zeeta menunjukkan batang hidungnya kala matahari hendak mencapai ketinggian di atas kepala manusia. Mereka dibuat heran dengan Zeeta yang membawa dua buah sapu. Jangankan Pangeran dan Roh Yggdrasil ini, rakyatnya yang sedang beraktivitas seperti biasanya saja sampai mematung.


"Ayo berangkat!" Zeeta segera menarik tangan Klutzie dan lekas berlari.


"Ah! He-hei tunggu! Tak perlu kautarik, aku bisa berlari sendiri!" Klutzie menepis tangan Zeeta.


"Ahahah, uhm, baiklah. Nah, sekaraaang, ayo kita ke gerbang timur!" Zeeta memimpin jalan dengan larinya.


"Ehh? Kenapa harus lari dipanas menyengat begini...?" mau tidak mau, Klutzie mengejar Zeeta meski harus gontai.


.


.


.


.


Kemudian, setelah mereka sampai di gerbang timur, Zeeta bertemu empat mata dengan para penjaga gerbang. Ia menunjukkan secarik kertas berisi pesan bertanda tangan Alicia pada mereka. "Tuan Putri... Anda...," ujar dua orang penjaga itu.


"Uhm. Aku mungkin tidak akan pulang lagi selama beberapa waktu. Aku merasa tidak enak pada kalian karena menambah waktu festival untukku, tapi aku malah pergi begini, tapi...."


Dua penjaga itu saling menatap lalu memberi hormat. "Ucapan Anda terlalu rendah hati, Tuan Putri!"


"Kami sadar aksi Anda untuk keselamatan dunia, jadi setidaknya kami bisa menjadikan Aurora sebagai tempat pulang Anda yang nyaman," ucap penjaga A.


"Kami juga mendoakan agar Anda selalu baik-baik saja!" sambung penjaga B.


Zeeta tersenyum. "Terima kasih. Tapi... aku tidak ingin rakyat tahu aku pergi dulu. Mereka nanti akan diberitahu oleh Ratu atau Grand Duchess, tapi begitu aku keluar dari sini bersama Pangeran Nebula, kuingin kalian merahasiakan ini."


Kedua penjaga tersenyum. "Baik, Tuan Putri!"


Lalu setelah itu, dengan menggenggam dua sapu di kedua tangan dan berpose tegak, Zeeta berwajah serius menghadap sungai dan pegunungan yang memisahkan Aurora dengan Nebula, yang jaraknya jika ditempuh dengan jalan kaki butuh waktu tempuh selama dua bulan, kendaraan dua minggu, dan udara selama dua hari.


"Hei, apa kautahu seberapa jauh Nebula dengan Aurora?" tanya Klutzie.


"Tentu saja tidak, aku kan tidak pernah ke sana, dasar bodoh," jawab Zeeta.


"Lalu kenapa—"


"Tapi aku bisa memperkirakannya. Luna, kauyakin aku harus melakukannya?"


Klutzie tidak bisa menemukan dimana sosok Luna. Ia mencarinya ke segala sudut mata.


"Ya. Daripada dengan sihir terbang yang akan menguras mana-mu, lebih baik pakai alat perantara," jawab Luna. Klutzie menemukan Luna melingkarkan diri dengan ekor kembarnya di atas topi penyihir Zeeta. "Memperkirakan dari jaraknya, dua hari itu bisa kalian singkat jadi dua jam, atau bahkan hanya beberapa puluh menit. Kalian mampu, 'kan?"


Klutzie menyeringai. "Tentu saja! Aku ingin sege—"


"Tidak, kita tidak harus buru-buru, Pangeran. Aku akan menjelaskannya nanti saat kita sudah terbang."

__ADS_1


Melihat ekspresi Zeeta, seringai Klutzie redup begitu saja. "Kau serius? Skenario terburuknya?"


"...." Zeeta bungkam, namun Klutzie tahu maksudnya.


"Baiklah. Aku akan mendengarnya." Klutzie mengambil sapu dari tangan kanan Zeeta lalu mengalirinya dengan mana. "Ayo, jangan buang-buang waktu lagi." Klutzie terbang duluan dengan mengendarai sapunya dengan kedua kaki.


Zeeta menyusul Klutzie dengan menaiki sapu setelah menyihirnya terbang, lalu mengendarainya sambil duduk.


......................


Zeeta dan Klutzie telah terbang menjauhi Aurora sekitar lima puluh kilometer. Mereka hinggap di sebuah batang pohon dan berlindung dari sengatan matahari sambil berbincang tentang apa yang telah Zeeta beritahu pada Ashley. Klutzie dan Siren menatap Zeeta tidak percaya.


"Ke-kenapa kau malah justru menantang pancingan mereka dan membahayakan nyawamu sejauh ini?!" tanya Klutzie, "kau memiliki rumahmu sendiri, kau pun tidak memiliki tanggung jawab apapun pada apa yang terjadi padaku, terlepas dari identitasmu dan kekuatanmu!"


"Ya, ini memang bukan tanggung jawabku," jawab Zeetq, "tetapi di sana ada orang yang menungguku. Aku tidak bisa tinggal diam di Aurora tanpa memastikan suatu hal padanya.


"Anggap saja tujuanku bertimpang-tindih dengan nasib kerajaanmu.


"Terlebih....


"Kuyakin ada banyak jiwa yang sedang menunggu kedatanganmu. Aku akan menjadi support bagimu lalu setelah itu kita akan memastikan tentang lokasi Yggdrasil itu benar atau salah."


Siren dan Klutzie menyerah. Mereka hanya bisa menerima tangan tambahan dari Zeeta dan Luna.


"Ini juga menjadi kesempatan baik bagimu untuk mengenal lebih tentang dunia sihir yang kautinggali dan untuk memutuskan hal itu," tambah Luna.


Sementara Klutzie dan Siren tidak mengerti apa yang mereka bicarakan, keempatnya memutuskan untuk melanjutkan perjalanannya lagi.


......................


Sementara itu di Aurora, Ashley memutuskan untuk tidak bungkam terhadap apa yang telah diberitahu Zeeta padanya. Ia bergegas menghadap Alicia dan menceritakan semua yang diberitahukan kepadanya. Ia tidak bisa membiarkan muridnya yang satu ini dalam bahaya seperti itu dan mengancam nyawanya sendirian.


"Ashley, segera turunkan tiga Crescent Void untuk menyusul Zeeta, sekarang juga!" perintah Hazell sementara Alicia yang tengah terguncang fakta yang didengarnya. Ia memerintahkannya sambil berdiri.


"Siap Laksanakan, Yang Mulia!" pekik Ashley. Ia memakai alat komunikasi sihir yang juga dipakai Crescent Void yang terpasang di telinga kirinya. Begitu tersambung, ia memerintahkan Gerda, Danny, dan Marcus untuk berkumpul di gerbang timur. Kemudian, ia langsung berteleportasi ke sana.


"Aku tak percaya ini...." Hazell duduk lagi. Ia mencengkeram pegangan kursi takhtanya. "Kenapa dia ingin semuanya diselesaikannya sendiri...?"


Alicia menenangkan dirinya dengan mengatur napasnya. Ia meneguk segelas air yang tersedia di meja sebelah kanannya bersama buah-buahan. Kini, dia bisa lancar memikirkan alasan Zeeta bungkam pada mereka, tidak hanya sebagai orang tua, tetapi juga sebagai Ratu dan Raja. "Tidak, Sayang, itu bukanlah maksud Zeeta sebenarnya," ucapnya, "dia meninggalkan Crescent Void karena dia merasa AKAN ADA ancaman yang sama besarnya dengan yang hendak dihadapinya di Nebula.


"Dia menerima pancingan musuh secara sengaja demi menjauhkan bahaya lebih besar untuk Aurora. Dia sangat tahu hal ini tidak bisa diatasinya sendiri, maka dari itulah dia memutuskan ini."


"Ta-tapi, kenapa dia menyembunyikan ini dari kita?"


"Mungkin, reaksimu itulah yang ingin dia hindari. Dia tidak ingin menimbulkan kepanikan begitu dia pulang dari latihannya."


"Ti... tidak mungkin...."


"Tapi... sebenarnya apa yang akan mengancam Aurora selanjutnya...? Apa benar musuh memancing Zeeta hanya untuk mendapatkan sesuatu di lantai bawah tanah?" gumam Alicia.

__ADS_1


Lalu tiba-tiba, suara teriakan panik dan dentuman-dentuman dari Wilayah Timur menggema hingga istana. Suara teriakan itu menular ke rata-rata rakyat hingga menimbulkan panik yang tak terkendali.


"Apa yang terjadi?!" jerit Hazell. Ia segera mendekat ke arah jendela.


Kemudian, seorang prajurit mendobrak pintu dengan kondisi terluka cukup parah. Ia dibantu berdiri oleh dua prajurit yang berjaga dari luar pintu.


"La-lapor, Yang Mulia! Ada serangan musuh!"


"Beritahu aku!" perintah Alicia yang segera berjalan dari kursi takhtanya.


"Di-dia....


"Dia menghalangi Crescent Void yang hendak pergi dengan perintah Grand Duchess....


"Ketiga Crescent Void itu terhempas begitu saja....


"A-aku tidak yakin dengan apa yang kulihat, ta-tapi dia seperti memakai asap hitam untuk menyerang kami!"


"Apakah dia memberitahu namanya?"


"So-soal itu...


"Kudengar dari reaksi para Crescent Void, dia....


.


.


.


.


"DIA ADALAH TUAN PUTRI AZURE!"


Hazell dan Alicia terbelalak. Meski begitu, Alicia masih bisa mengendalikan emosinya. Ia membuat sebuah kasur dengan sihirnya. "Letakkan dia di sana, aku akan menyembuhkannya. Kalian berdua segera beritahu Albert untuk membuka Labirin Cremlyn dan suruh bangsawan utama untuk menjaganya. Apapun yang terjadi, jangan tinggalkan rakyat jika tanpa alasan yang sangat-sangat mendesak!"


"Ba-baik, Yang Mulia!" begitu kedua prajurit menidurkan prajurit yang terluka itu, mereka lekas berlari melaksanakan perintah Ratu.


......................


"Jangan bercanda.... Kenapa kau me-melakukan ini, Kak Azure...?" Gerda berjalan tertatih setelah terbanting ke tembok.


"Apa yang terjadi padamu hingga kau seperti ini... Kak Azure...?" Danny berusaha bangun setelah tertimpa reruntuhan tembok.


Mereka melihat sosok baru Azure setelah enam setengah tahun. Mata birunya yang sedikit memucat dan warna wajahnya yang tidak mengatakan bahwa dirinya dalam keadaan baik-baik saja, meski dengan pakaian fancy-nya yang berwarna hitam dengan sebuah pita bunga biru di atas telinga kirinya.


Dua bersaudara itu tidak mendapatkan sepatah kata pun darinya.


"Katakanlah sesuatu, Kak Azure!!"

__ADS_1


__ADS_2