Zeeta Dan Dunia Sihir

Zeeta Dan Dunia Sihir
Jawaban


__ADS_3

Zeeta, Karim, dan Luna yang terus berdekatan dan memasang telinga beserta matanya pada pembicaraan Gala dan Lynn, mendadak terpisah. Tatkala Gala turun ke lubang besar yang terdapat benda kecil dari angkasa untuk memastikannya dan malah terbawa ke suatu dimensi "lain", hanya Zeeta dan Luna saja yang bisa ikut melihat dan mendengar ucapan-ucapan yang diberikan para Seele kepada Gala.


"Kekuatan Lynn berasal dari Yggdrasil."


"Kebenciannya tidak dapat terelakkan dan merupakan langkah baru dalam kehidupan kalian.


"Ingatlah, Manusia bernama Gala.


"Roda kehidupan akan terus berjalan."


Ucapan-ucapan Seele itu segera menyadarkan Zeeta, siapa sebenarnya Lynn itu dan bagaimana bisa anting bulan Aurora terus jatuh pada penerus-penerusnya. Namun, ia tidak akan mengatakan apapun baik pada Luna ataupun Karim. Ia memutuskan untuk terus menyaksikan sejarah para leluhurnya ini sampai tuntas. Ini juga demi dirinya sendiri.


Karim, yang bahkan tidak menyadari bahwa adanya "cutscene tambahan" tersebut, tetap diam memandangi secara saksama sejarah ini. Maklum, sebab ia sendiri saat ini sedang mencari jawaban tentang apakah leluhurnya yang mengikat para keturunannya dengan Sumpah, adalah sekutu bagi Aurora atau bukan.


......................


Gala menjelaskan sedikit tentang anting jatuh dari angkasa itu pada Lynn. Kendati Gala mau menjelaskan seutuhnya tentang yang ia lihat, ia ragu harus mengungkapkannya seperti apa. Ya, ia tahu apa sebenarnya pohon besar dalam penglihatannya—Yggdrasil—tetapi ia tidak tahu mengapa ada empat makhluk kecil bersayap dan bulan. Daripada membual, lebih baik bungkam.


"Cantik sekali...," tutur Lynn yang berbinar. Ia lalu melihat ke langit. "Bentuknya pun sama dengan purnama saat ini."


"Meskipun cantik," balas Gala, "apa iya aku harus memakainya? Aku terlalu tua untuk hal seperti ini."


"Siapa yang akan mengomentarimu jika Manusia di Bumi ini hanya ada aku dan kau?" pertanyaan Lynn justru membuat Gala terpatung.


"Ma-maaf? Hanya ada aku dan... kau?"


"Kenapa kau baru kaget sekarang?" Lynn mengernyit. "Aku bahkan sudah cerita kalau kelompokku dihabisi oleh Peri. Dryad juga memberitahuku kalau kelompokmu habis karena Raksasa, Naga, dan Peri."


Raut wajah Gala segera berubah. Ia yang menunjukkan anting bulannya dengan tetap memegangnya dengan jemari, segera menyimpannya dalam cengkeraman. "Kita harus tetap ke Ujung Dunia, Lynn."


"Hah? Apa kau gila? Sudah kukata—"


"Roda kehidupan terus berputar. Walau nyawa taruhannya, jika ini demi masa depan, aku tidak akan berhenti. Kau bahkan masih punya urusan dengan Hollow itu, 'kan? Tidak sepantasnya kita berhenti.


"Terlebih...."


Lynn melihat bagaimana urat tangan Gala membesar seraya cengkeramannya semakin erat.


"Aku TIDAK SUDI makhluk-makhluk sihir itu merendahkan Manusia lagi!"


Seketika itu juga, Lynn melihat sekilas tampang Gala yang berwajah sama seperti saat ini, hanya saja sekelilingnya dikelilingi oleh lautan api. Tubuhnya penuh dengan luka sayatan dan lecet.


"Bagaimana jika yang kauinginkan tak tercapai...?"


Gala menatapnya tidak senang. "Lawanlah. Berusahalah untuk mendapatkannya. Namun, jika semuanya tetap tak tercapai, maka tak apa. Setidaknya, nilaiku sebagai seorang Manusia—makhluk yang pantang menyerah dan keras kepala hanya untuk mencapai impian, sudah dapat menikmati prosesnya.


"Aku diberi kesempatan oleh Yggdrasil untuk membalaskan keluarga dan kelompokku, diselamatkan oleh Dryad, bertemu denganmu, dan bermacam makhluk lain yang belum pernah kulihat sebelumnya. Jika aku gugur, maka demikianlah, aku tak akan menolak. Namun akan berbeda ceritanya jika aku dihalang-halangi lagi oleh Raksasa, Naga, dan Peri.


"Hanya mereka bertigalah yang harus berubah. Mereka tidak mengerti arti dari kehidupan.


"Andaikata keinginanku tercapai, aku ingin siapapun yang memiliki kekuatanku ini kelak, tidak menyesali keputusannya.


"Sebab....


"Sebenci apapun aku terhadap tiga ras itu, roda kehidupan akan terus berjalan."


Zeeta yang mendengarnya menghirup napas dalam-dalam, lalu menghelanya perlahan. Ia mengiringinya dengan senyuman.


......................


Perjalanan Gala dan Lynn terus berlanjut hingga tiga bulan lamanya. Ujung Dunia yang mulai tampak menurut Lynn, terasa familiar oleh Zeeta seorang. Ia terus mencoba mengingat-ingat, namun nihil hasil. Keduanya sampai pada sore hari dan segera bersiap untuk bermalam sebelum perjalanan akhir akan dilanjut esok, tetapi....


"GROAAAARRR!" raungan lantang terdengar hingga mengguncang tanah. Tiba-tiba, angin terasa menghembuskan hawa panas hingga kedua Manusia itu berkeringat.


"Apa ini...?!" tanya Gala.


Lynn, yang merasa penglihatannya akan segera terjadi, segera meletakkan segala barang-barang yang dibawa ke tanah. "Gala!" serunya, "aku ingin apapun yang terjadi, jangan pernah mencoba untuk menang! Aku akan pergi untuk sesaat, jika aku tidak kembali, maka—"


Gala mengernyit. "Apa yang kaukatakan?!" ia mencengkeram bahu Lynn. "Disaat seperti ini, jangan buat aku semakin—"


"Aku akan berusaha demi masa depanku sendiri. Jika aku dan kaubisa selamat, maka—"


'CUP!'


Lynn mengecup bibir Gala, yang segera meronakan pipi pria tersebut. Tanpa mengucapkan apapun sebagai tambahannya, Lynn pergi begitu saja.

__ADS_1


"Dasar!" jerit Gala, yang ikut meletakkan segala barangnya, "Disaat hanya aku dan kau di dunia ini, kau malah mengambil langkah seperti itu!" Gala bersiap dengan sihirnya.


.


.


.


.


Sebab segala pemandangan sejarah ini berdasar kekuatan Levant, maka POV yang diikuti Karim, Luna, dan Zeeta adalah Lynn. Dirinya berlari tanpa berhenti walau napasnya sudah sangat terengah. Tempat yang ditujunya, semakin terasa familiar oleh Zeeta.


Tiba-tiba....


'BWHAAMMM!!'


Tanah di depan Lynn meledak dari bawah tanah.


"Aaahh!" erang Lynn yang terkena sengatan panas. Ia segera berlari menjauh saat melihat ke langit ada lava panas hendak menghujaninya. "Sialaaaann!!"


"Berani-beraninya seorang Manusia menapaki tanah ini!" seru sebuah suara.


"Ifrit?!" batin Zeeta.


"Oh Roh Api Kuno! Aku ke tanah ini bukan bermaksud macam-macam! Mohon dengarkan—"


"DIAM!" bentak Ifrit yang menyebabkan ledakan api dari balik tanah lagi.


Untungnya, Lynn bisa menghindarinya sebab sebelum tanah benar-benar meledak, itu bersinar merah kejinggaan.


"Tidak mungkin tidak berniat macam-macam! Temanku Eldtönn merasakan yang lain!"


Lynn menggertak gigi. "Makanya dengarkan aku dulu! Jika kau seorang Roh Kuno, setidaknya mendengarkan dulu tidak akan merugikanmu, 'kan?! Lagi pula, aku hanya seorang Manusia! Dengan kekuatan besarmu—tidak—bahkan tanpa kekuatan besarmu pun aku akan lenyap dengan mudah!"


Ifrit terdiam sebentar, tetapi kemudian terdengar ledakan demi ledakan jauh di belakang Lynn—dimana Gala berada.


"Aku merasakan sedikit kekuatan Yggdrasil darimu."


"Ya, tentu saja, tapi jika kau memang sudah berniat untuk berbicara, bisakah kautunjukkan sosokmu?! Tidak, tidak menunjukkan pun tak masalah, aku harus cepat menyelesaikan ini!"


"Diam dan biarkan aku bicara dulu! Tidakkah kaubisa melihat aku panik begini?!"


"Ba-baiklah...."


"Roh Kuno Api, aku ingin bernegosiasi denganmu!"


"Negosiasi?"


"Ya. Aku akan mengatakan semua detailnya nanti, tetapi pinjamkanlah aku kekuatan, dan aku akan menggantinya dengan segala kisah panjang yang akan kausaksikan dari generasi ke generasi, tentang bagaimana Bumi ini, bagaimana penduduknya bisa hidup berdampingan!"


"Oh...?"


"Tentu saja, ada kemungkinan semuanya tidak berjalan sesuai yang kukatakan, tetapi itu tetaplah bagian dari bayaranku."


Lalu, keduanya melihat bagaimana langit yang sudah berganti malam, berubah senja lagi oleh dua kekuatan yang saling beradu.


"Manusia memakai sihir...? Jadi, dia...," gumam Ifrit.


Tidak ada balasan dari Ifrit, maka dari itu pandangan Lynn terpaku dengan bagaimana berkilaunya Gala ketika ia saling beradu sihir dengan Eldtönn. Naga yang menyemburkan dan menghembuskan api itu dilawan Gala dengan dinginnya salju dan es. Kuatnya Eldtönn, memaksa sebagian tubuh Gala membeku, namun ia tidak gentar.


.


.


.


.


"Manusia, katakanlah siapa namamu." Ifrit meminta.


"A-aku Lynn."


"Lynn. Bersumpahlah denganku saat ini juga."


"Sumpah?"

__ADS_1


"Aku akan meminjamkanmu kekuatan. Kau telah mengerahkan segala yang kaumiliki demi masa depan, oleh karena itu mereka yang mewarisi kekuatanmu harus melakukan hal yang setimpal."


Lynn mengernyit. Ia tidak mengerti. "Bagaimana maksudnya?"


"Kau rela mengorbankan diri demi orang yang kaucintai—pria beranting bulan yang sedang bertarung dengan temanku itu."


"Ci-cinta?!" Lynn merona.


"Maka di masa depan, mereka yang memiliki kekuatan turunanku takkan bisa membantu mereka yang beranting bulan jika situasinya tidak seperti ini."


"Ke-kenapa harus sama...?"


"Ternyata kebodohanmu tidak hanya karena sudah berani menantangku, ya."


"A-apa?! Bodoh?!"


"Kekuatanku sangat besar. Salah setengah langkah saja, baik dirimu atau keturunanmu di masa depan akan hangus begitu saja."


"Oh... masuk akal...."


Kemudian, dari area pertarungan Gala, terdengar teriakan Eldtönn. "Sialan! Siapa kau sebenarnya?!"


Keduanya lalu melihat Gala menciptakan pedang yang bersinar putih dan menjulang tinggi hingga langit dilancarkannya pada Eldtönn.


"Nah, karena temanku sudah lenyap, maka pilihanmu hanya satu, Lynn...." Tanah dibawah Lynn mulai berubah warna.


"Tu-tunggu! Aku bahkan tak mengira Gala bisa melakukannya! Aku pun sudah bilang untuk jangan berpikir untuk menang!"


"Hoo...?! Jadi, kau berpikir kalau pria itu tidak harus mengerahkan seluruh tenaganya?!"


"Dasar!" Lynn balik menjerit. "Kau ini benar-benar makhluk yang merepotkan! Berpikirlah dengan sederhana!


"Kau yang mengetahui Gala memakai anting bulan, seharusnya tahu tujuan kami ke sini! Benar, 'kan?!


"Singkatkan saja segalanya! Kau dan temanmu itu sudah bersiap dengan kedatangan kami, maka begitu kami terlihat, kalian segera menyerang membabi-buta untuk mengetes kami!


"Lagi pula, dibawah tanah ini adalah Tanah Kematian!"


"...." Ifrit terdiam cukup lama. Merah kejinggaan di bawah Lynn juga menghilang perlahan.


.


.


.


.


"Bwahahaha!! Jadi, bersumpahkah dirimu, Lynn?" Ifrit menunjukkan dirinya di hadapan wanita itu.


"Kau yang bilang sendiri, bahwa pilihanku hanya satu!"


Begitu Lynn menjawabnya, pemandangan Luna, Karim, dan Zeeta terdistorsi. Segalanya hitam dan tampak memutar bak pusaran. Mereka terbawa kembali ke dunia sekarang.


......................


"Cih, masih tidak ada perubahan, kah?" Karim geram. "Aku berharap dengan membawa Zeeta, mungkin ada kelanjutan tentang Sumpah itu, tapi tidak mungkin semudah itu...."


"Tidak mudah untukmu, iya." Luna menjawab, "tapi...."


"Eh?"


"Zeeta masih belum kembali."


"Ba... bagaimana...?!"


.


.


.


.


[Sementara itu....]

__ADS_1


Karim dan Luna yang tertarik kembali, Zeeta justru tertarik pada suatu dimensi lain untuk yang kesekian kalinya. Ia berhadapan dengan seorang wanita dan Ifrit. Tidak perlu ditanyakan lagi siapa wanita itu. "Akhirnya!" seru dia, "akhirnya kau datang juga, Zeeta!"


__ADS_2