
Sepuluh tahun setelah kejadian di Southern Flare, sekarang Hilma dipertemukan lagi dengan Tellaura. Clarissa dan Leon Aurora yang menjadi pendengar dongeng Tellaura dan Hilma selama kurang lebih satu setengah jam itu terpana.
“Jadi, apa kau akhirnya menemukan Sephiroth setelah kejadian itu?” tanya Tellaura.
“Tidak,” jawab Hilma singkat.
“Lalu, apa yang kaulakukan selama tinggal bersama bangsawan wanita yang kausebutkan?”
“Seperti permintaannya, aku mengkhianati kerajaanku sendiri. Entah dia jenius atau apa, ucapannya saat itu benar-benar terjadi. Aku diasingkan, sementara nona Corynna telah dipenggal.
“Sekarang Nona Pyggrez-lah yang menjadi Ratu. Rencana Nonaku bukannya gagal, malah sangat membuahkan hasil. Saat aku diasingkan, Southern Flare sudah mulai bersih. Baik dari lingkup bangsawan dan isi kerajaannya.”
Tellaura tersenyum. “Aku turut senang untukmu, Hilma.”
“Terima kasih,” balas Hilma yang ikut senyum.
“Bagaimana Pangeran?” tanya Tellaura, “aku dan Hilma ini sudah pernah membunuh orang. Apa kau akan menunjukkan warnamu yang sebenarnya dan menjual ka—“
“Jangan bilang hal seperti itu, Laura!” tukas sang Pangeran. “Jika kau mengatakannya, kau sama saja mengingkari semua perjuanganmu untuk Risa. Apapun yang sudah dirimu dan Hilma lakukan di masa lalu, itu sudah tidak penting.
“Apa yang penting sekarang, adalah apa yang ingin kalian lakukan selanjutnya!”
“Pangeran benar, Kak,” timpal Clarissa, “selama aku ada di ceritamu, aku hanya menjadi beban untukmu. Sekarang, yang ingin kulakukan, adalah untuk setara berdiri bersamamu, dan membantumu kapanpun kau membutuhkan!”
Tellaura menyeringai. “Sialan. Kalian benar-benar...!”
Obrolan mereka usai kala matahari hendak menyelimutkan diri dibalik cakrawala. Burung-burung juga mulai kembali ke sarang mereka, untuk merehatkan sayap-sayapnya yang letih dan bakal kembali melintasi udara yang bebas esok.
Pun dengan Pangeran Leon. Dia memutuskan untuk istirahat di sini malam ini dan akan kembali ke istana besok, dengan diantar oleh Tellaura.
Sementara itu, di seberang desa Lazuli....
“Bisa-bisanya Jeanne itu membocorkan Tir Na Nog pada seorang bocah,” gerutu Morgan, “tapi itu bukanlah masalah lagi. Biarkan kedamaian bagi mereka berjalan sebelum malapetaka menghampirinya…!"
......................
[Keesokan siangnya....]
“Kucamkan ini padamu, Hilma! Jagalah adikku baik-baik!” Tellaura menunjuk-nunjuk Hilma.
Hilma mendorong ke bawah jemari temannya itu. “Aku mengerti, dasar Kakak yang terlalu protektif! Aku bukanlah pembunuh yang akan mengkhianati temanku sendiri!”
“Justru itulah yang membuatku ragu padamu!”
“HAH? Apa kau lupa seperti apa aku—“
“Sudahlah, jangan buang waktu lagi,” tukas Leon, “jika kauingin masalah ini cepat selesai, ayo segera berangkat dan dengan begitu kaubisa segera kembali bersama adikmu!”
“Ah, untuk kali ini aku setuju sekali denganmu!”
“Apa maksudmu untuk kali ini...?”
Tellaura dan Leon menunggangi seekor kuda untuk ke ibu kota. Memang, dirinya dan Hilma, ketika meletakkan barang-barang belanjaan untuk desa kemarin, sudah melapor pada Kepala Desa tentang tamunya yang akan pulang hari ini. Pagi ini dia sudah mengkamuflasekan kepulangan Hilma terlebih dahulu—sebagai jaga-jaga kepergian-jauhnya dari adiknya sekali lagi.
Leon di depan, sementara Tellaura di belakang.
“Berhati-hatilah di jalan, Kak.” Clarissa berpesan.
“Pastinya, Adik,” balas Tellaura. “Ayo.” Leon mengangguk, kemudian menjalankan kudanya.
Ketika keduanya sudah menjauh dari pandangan mata, Hilma mendapati ekspresi murung dari Clarissa. Lantas, ia bertanya, “Ada apa denganmu? Apa kau bersedih dengan kepergiannya Pangeran?” dia menyelipkan candaan dalam kalimatnya. Ia pun memberikan cengir kecilnya.
“Bukan, bukan itu....”
Hilma tak menduga. Adik dari temannya itu benar-benar merasa murung akan sesuatu. “Jadi, kenapa?”
“Entah kenapa sejak pagi ini hatiku merasa tidak enak. Seakan-akan ... ada sesuatu yang buruk yang menimpa kakak nanti. Setelah selama ini kami bertahan dari kekejaman dunia, aku tidak bisa mengabaikan perasaan ini.”
“Benarkah begitu?” tanya Hilma.
__ADS_1
“Eh?”
“Aku malah berpikir, justru kaulah yang akan tertimpa hal buruk itu, Risa. Berbeda dengan Laura yang seperti tak memiliki kelemahan, berat kumengatakannya, tetapi kau memiliki banyak lubang yang mudah untuk disisipi oleh racun.”
Clarissa tersenyum. “Kau benar. Aku tidak bisa mengelaknya.”
“Oleh karena itu, yang bisa kaulakukan adalah menggaet hati Pangeran.”
“Hu-hueh...?!” Clarissa segera merona merah. “Ke-kenapa tiba-tiba ini jadi ada hubungannya dengan Pangeran?!”
“Risa!” Hilma menepuk keras kedua bahu si adik. “Kau itu adalah wanita dan salah satu hak dari wanita adalah dilindungi oleh pria yang dicintainya.
“Apa kau mencintai Pangeran?”
“A-aku....” Clarissa mengalihkan pandangannya. “Tidak. Aku tidak mencintainya. Akan lebih baik dan lebih cocok bila kakak atau dirimulah yang berpasangan dengan Pangeran.
“Lagi pula, baru kemarin aku bertemu dengannya. Mana bisa aku mencintai seseorang dengan satu kali—“ Clarissa tidak menyelesaikan kalimatnya.
“Dasar....” Hilma melepas tangannya dari bahu Clarissa. “Kenapa Pangeran itu bisa-bisanya mendapatkan tiga hati wanita cantik seperti kita, ya?”
“Benar....
“Eh...? A-apa kaubilang...?”
......................
Di salah satu rumah di desa Lazuli, kelompok Sigurd sedang berdiskusi di beberapa buah meja. Di atas meja ada minuman keras dan senjata-senjata tajam yang biasa mereka pakai untuk berburu. Beberapa di antara mereka bahkan juga membawa senapan.
“Hehehe.” Tawa salah seorang lelaki di sana terdengar sangat menjijikkan. “Aku sudah tidak sabar untuk malam ini, Bos. Kuharap ucapanmu kemarin benar!”
“Tentu saja!” balas Sigurd dengan nada tinggi. “Kali ini kita benar-benar akan menghancurkan Laura!” dia mengusap-usap bagian selangkangannya, juga menjilat bibirnya sendiri. “Sudah lama sejak aku tidak ‘mencicipi’ mereka...!”
.
.
.
.
“Ada apa? Kau kedinginan?” Leon memelankan jalan kudanya.
“Iya, entah kenapa angin hari ini begitu dingin—padahal ini masih siang....”
“Sebentar lagi kita sampai. Bisakah kau menahan dinginnya? Mungkin kau demam?”
“HAH? Aku?! Demam?!
“Bukan bermaksud sombong, selama sembilan belas tahun ini, aku tidak pernah sakit!”
“I... itu sudah termasuk sombong….”
“Berisik!
“Pokoknya hari ini kita harus bisa meyakinkan orang tuamu agar melebarkan jalur pengawasan yang adil bagi desa.”
“Kau benar. Aku juga akan mengusahakan diplomasiku pada mereka dan para bangsawan lain.”
“Terima kasih.”
......................
[Saat malam telah tiba....]
Istana mengadakan acara jamuan makan malam setelah perbincangan mereka dengan Tellaura memberikan dampak yang setidaknya bisa disepakati bersama—yaitu sistem penjagaan di masing-masing gerbang arah mata angin diperketat. Meskipun keinginan Tellaura yang menginginkan adanya perubahan total pada desa tidak bisa dianugerahi sang ratu, dengan alasan dirinya tidak bisa seenaknya mengubah sebuah desa jika tidak ada keperluan mendesak, dirinya juga beralasan bahwa desa-desa selain Lazuli selama ini tidak memiliki masalah apapun.
Kendati Leon dan Tellaura sudah memberikan beberapa bukti-bukti seperti kertas transaksi Kepala Desa yang haram, itu tidak membuat sang wanita nomor satu sekerajaan mengubah keputusannya.
Di ruang makan dimana acaranya digelar, Tellaura bisa merasakan tajamnya pandangan-pandangan tak terima dari para bangsawan. Jika dirinya tidak ditemani Leon saat ini, dia pasti sudah angkat kaki sejak lama. “Beritahu aku alasan yang kuat kenapa harus mengikuti acara ini, Leon.”
__ADS_1
“Untuk menarik hati para bangsawan jika kau benar-benar serius menginginkan perubahan.”
“Meskipun mata mereka tidak menerimaku di sini?”
“Itu benar. seperti itulah bangsawan.”
“Kau benar." Tellaura tersenyum. "Aku sampai dibuat lupa kalau semua bangsawan tidak selembut dan seaneh dirimu.”
“Terima kasih pujiannya.” Leon tersenyum.
“Aku tidak memujimu, sialan!”
Di seberang mereka, para bangsawan yang memandanginya itu bahkan berani bicara lancang meski ada Pangeran di sebelahnya. “Lihatlah wanita kotor itu. Berani-beraninya dia bicara dekat-dekat dengan Pangeran.”
“Kuharap Pangeran tidak tertular penyakit atau ikut kotor karenanya.”
“Setelah pulang aku harus mandi dan melakukan perawatan!”
Lalu, disaat yang bersamaan....
‘PRANGG!’
Semua orang yang hadir di pesta itu mendengar suara pecah yang lantang dan segera melihat ke sumber suara. Itu berasal dari Tellaura. Dirinya bahkan terluka sedikit karenanya.
“Kau baik saja, Laura?” tanya Leon, yang membantu keseimbangan Tellaura.
“U-uhm. Aku baik....” Ketika dirinya melihat apa yang sebenarnya baru saja pecah, dia terbelalak. Kalung merah yang bisa menandakan keselamatan adiknya hancur berkeping-keping. “Ri-Risa!”
Leon yang tahu tentang kalung itu juga ikut panik.
“Apa yang terjadi di sini, Tellaura?” tanya Amanda, Sang Ratu Kedelapan.
“Ibunda, tolong berikan izin keluar-masuk darimu untuknya,” pinta Leon.
“Kenapa aku harus memberikannya?”
“Tidak ada waktu lagi, Ibunda, aku akan menjelaskannya nanti!”
Melihat seberapa bergemetar dan paniknya sang anak dan sang tamu, Amanda mengangguk. “Umu.”
......................
[Sementara Tellaura menunggu surat izin dari Ratu....]
“Hehehehehe…!” sekumpulan pria-pria brengsek mengelilingi kediaman sang kakak-adik.
“Ti-tidak...! Menjauhlah! Menjauhlah dariku!” jerit Clarissa yang merangkak mundur, sementara para lelaki terus memojokkannya.
“Tenanglah, Kawan-Kawanku!” sebuah suara sangat dikenali oleh Clarissa. “Jangan berani kaulangkahi diriku sebagai Ketua kalian ini. Akulah yang pertama akan mencicipinya lagi setelah sekian lama.”
“Cih, dasar...! Disaat begini kau selalu merebut bagian yang paling nikmatnya, Bos!”
“Berisik! Ini adalah hakku!”
“Ti-tidak! Kenapa kaulakukan ini, Sigurd…?”
“Kenapa...?” Sigurd menyeringai. “Tentu saja untuk menghancurkan kakakmu....”
Tangis mulai membasahi pipi Clarissa. “Kumohon ... jangan....”
Sigurd melebarkan seringainya. “HAHAHAHA!
“ITULAH!
“Itulah yang ingin kulihat dari wajahmu setelah sekian lama!
“Risa, tidakkah kau sadar selama ini kau hanya selalu menjadi beban bagi kakakmu? Kemanapun dirimu berada, kau hanya akan selalu menjadi bahaya yang akan menghalangi kakakmu, dan kakakmu jadi selalu kerepotan karenanya.
“Maka dari itu, bantulah kakakmu.
__ADS_1
“Bantulah dia dengan menjadi mainanku seorang!”