Zeeta Dan Dunia Sihir

Zeeta Dan Dunia Sihir
Dalam Hitungan Detik


__ADS_3

Mata sebelah kanan ditutup—memfokuskan pandangan yang lurus melalui mata kiri. Badannya ditegapkan, tangan lurus, dan target yang akan ditembaknya adalah kepala sang musuh.


Itulah yang dilakukan si pria “pemimpin” desa, yang sebelumnya dikepalai oleh seseorang dari ras Raksasa. Nama pria itu adalah Reid. Demi menepati janji mereka pada kepala desa terdahulu, Sang Raksasa—Jeanne—dia berani berdiri paling depan untuk melindungi rekan-rekannya.


Walaupun begitu, semulia apapun tujuannya, bertindak nekat tanpa menyadari apa yang akan ditinggalkan, adalah suatu kesalahan. Itulah yang disadari Serina. Ketika dirinya melihat perubahan pada kulit musuh penduduk desa yang ditinggali Reid menjadi serupa dengan sisik, ia amat tahu bahwa senjata apapun takkan berpengaruh padanya, sementara Reid sendiri akan menjadi santapan yang lunak.


.


.


.


.


Sebuah anak panah ditembakkan Reid. Anak panah tersebut berlapiskan dua cahaya—hijau dan putih—yang berasal dari dua Peri yang tidak bisa dilihat penduduk desa termasuk si penembaknya sendiri.


Kala itu, Serina dan Gerda baru saja keluar dari persembunyian bawah tanahnya, sementara pemandangan yang ditangkap mata Serina sudah cukup memuakkan untuknya. Tanpa berpikir panjang lagi, ia langsung melesat menuju Reid.


Gerda—yang sudah terlatih oleh banyak pengalaman dan guru—bisa melihat apa yang terjadi dalam hitungan detik itu.


Anak panah yang menuju ke kepala si musuh dari negeri Timur, hancur berkeping-keping begitu saja dengan kecepatan, besar cakarnya, dan kekuatan gilanya. Cakaran yang diayunkannya dari atas ke bawah bersamaan dengan senyum seringai, batal melukai Reid—dan menjadikan Serina sebagai “tumbal”-nya.


Tidak hanya Serina yang terluka parah di punggungnya, tanah di sekitarnya dan Reid juga membekas menjadi lima buah lubang yang dalam.


“Gila sekali!” umpat Gerda, “bagaimana Serina bisa menyadarinya secepat itu? Bahkan sihirku saja tidak memberiku peringatan!” setelah itu Gerda menenggelamkan kedua tangannya ke tanah. “Aku harus cepat!” batinnya.


......................


“Hahahaha!” sebuah tawa terdengar menggelak. Suara itu dari pria negeri Timur, Akira. “Mampuslah kau selamanya, Reid!” sambungnya.


Seorang wanita di sebelahnya—kakak dari Akira—mengernyitkan mata. Ia sadar ada yang tidak beres. “Tidak, Adikku,” ujarnya.


“Hah?! Apa maksudmu?! Kau sudah lihat sendiri dia kena cakaranku, ‘kan?!”


“Rasakanlah ki-nya dasar Adik bodoh! Sudah berapa kali kuajarkan jangan terlalu fokus pada pandanganmu saja?!” Si Kakak membentak. Dia tidak terlihat ketakutan sama sekali meski ukuran tubuh keduanya jauh berbeda—seperti manusia anak-anak dengan dewasa. Bahkan bentuknya pun sudah berbeda. Si Adik seperti Elbrecht saat melawan Phantasmal yang berubah menjadi Hollow, Grimm.


“Ma-maaf, Kak Lyuu!” Akira segera memusatkan pandangannya pada asap yang mengepul. Tidak butuh waktu lama baginya untuk terkejut. “E-E-Elf?! Kenapa...?”


Lyuu hanya membungkam dan menunggu apa yang terjadi selanjutnya.


“Ta-tapi, Kak, dia terluka parah! Apa mungkin dia—“ Akira langsung mendapat tatapan sinis.


“Jangan remehkan Elf!


“Kau tidak tahu seberapa merepotkannya Elf itu bisa menghalangi kita. Jangan buang-buang waktu lagi, Akira! Selagi dia terluka, cepatlah habiskan semuanya!”


“Aku mengerti!”

__ADS_1


......................


“OMONG KOSONG! Kami bisa sejauh ini karena bibi Jeanne selalu bersama kami!” Reid membentak Serina, menganggapnya sudah lancang. Tatapan mata yang diberikannya pun amatlah serius. Bahkan urat-urat matanya sampai terlihat.


Namun tiba tiba saja....


Langit gelap yang hanya diterangi bulan mendadak bersinar kuning kejinggaan. Hal itu segera menjadi pusat bagi mata semua penduduk desa, tidak mengecualikan anak-anak dan wanita yang berlindung di rumah, ataupun Serina dan Reid sekalipun.


Semuanya terkejut. Bola berwarna kuning kejinggaan seukuran bola sepak hendak ditembakkan Reid dari mulutnya. Meski kelihatannya dapat diremehkan dan tidak begitu serius, semua penduduk desa, apalagi Reid, termasuk dua Peri yang terpatung setelah kedatangan Serina, melotot seakan-akan sudah pernah melihatnya.


“LARI DAN SELAMATKANLAH DIRI KALIAN!” jerit Reid sekencang-kencangnya.


Teriakan Reid disambut gelak tawa dari Lyuu, sementara penduduk desa berhamburan seperti semut yang keluar dari sarangnya. Paniknya mereka membuat situasi teramat kacau, memustahilkan kemungkinan mereka bisa selamat dari serangan yang akan dilancarkan Akira.


Anak-anak dipaksa menutup mata, sementara orang dewasa juga menutup matanya. Lain dengan mereka, Reid dan dua Peri di dekatnya terus memandangi Akira—seolah sudah bersiap akan kematian.


“Fufufu...,” batin Akira, ”tak ada kabur untuk kalian!


“Nah, lenyaplah untuk selamanya, dasar serangga tak berguna!”


Namun, begitu Akira akan menembakkannya....


.


.


.


.


“Takkan kubiarkan!”


Gerda muncul tepat di samping kanan Akira, membuatnya sangat terkejut.


“A-apa?!” seru Akira.


Berada di titik butanya, sebelum mendaratkan serangannya pada Akira, Gerda mengingat pelajaran yang diberikan Zeeta belum lama ini....


......................


“Untuk memakai mana alam sebagai serangan fisik, teorinya sebenarnya sederhana, namun praktiknya-lah yang teramat sulit,” ucap Zeeta, yang menjelaskan di depan barisan Crescent Void. Sambil menjelaskan, Zeeta menciptakan boneka samsak.


“Kuyakin kalian selalu bertanya-tanya kenapa aku selalu berisik tentang stamina yang sangat diperlukan saat kalian hendak menggunakan mana alam.


"Perhatikanlah dengan baik. Karena hal itu menjadi poin penting di pelatihan ini."


Crescent Void menatap Zeeta serius dan membuka telinga lebar-lebar.

__ADS_1


“Jujur saja, dua dari kalian masih membuatku cemas dengan latihan ini, tetapi kalian adalah laki-laki yang tidak akan mengingkari ucapan. Iya, ‘kan?” Zeeta melirik ke arah Danny dan Novalius. Dua lelaki yang disindirnya hanya mematung sambil mengalihkan pandangan.


“Untuk informasi saja,” lanjut Zeeta, “untuk menguasai teknik ini, aku membutuhkan setengah tahun, sementara menu latihan kalian masihlah sangat menumpuk dengan kondisi kita yang terhimpit.


“Oleh sebab itulah, aku akan menyederhanakannya—tetapi dengan bayaran—impact yang diberikan tidaklah begitu besar dengan apa yang sudah kupelajari.”


Zeeta lalu berbicara sambil memeragakan.


“Setelah mengumpulkan mana alam dari atribut sihirmu, kau seakan-akan menyatu dengan alam itu sendiri—membuatmu mustahil untuk terdeteksi musuh. Disaat itulah, semua stamina yang kalian miliki akan jadi sangat penting.


“Berhati-hatilah saat menghempaskan semua mana alam yang sudah terkumpul itu!


“Sebab jika tidak, stamina yang akan menjadi pengganti mana yang ada di tubuh kalian, akan lenyap tanpa sisa—dengan kata lain—hanya akan menjadi bunuh diri.”


'Glek!'


Crescent Void dibuat tegang karenanya.


Zeeta setelah itu berdiri tepat di depan boneka samsak yang sudah dibuatnya, mengepal dan menarik tangan kanannya, lalu tampaklah oleh semua Crescent Void bagaimana butiran mana alam terkumpul di kepalan tangannya. Kemudian....


‘WHHAAMM!!’


Tangan kanan Zeeta terlihat meninju-putar si boneka, menimbulkan angin yang berhembus kencang mendadak—mengorbankan Crescent Void—dan membuat penampilan mereka jadi sangat berantakan. Mereka juga dibuat menganga dengan apa yang baru saja terjadi.


“Tidak begitu besar?”


Adalah pertanyaan yang terbesit dalam kepala semua anggota.


Bagian dada hingga pinggang boneka tersebut—nyaris hingga lengannya—lenyap tak bersisa, bahkan menghabiskan rerumputan di belakang bonekanya menjadi tanah gundul.


“Lawan kita adalah orang-orang dengan kemampuan tenaga dalam. Bukan berarti kita yang terbiasa dengan sihir, tidak bisa melakukannya juga.


"Yah, walaupun ... secara teknik ini bukan sepenuhnya tenaga dalam,” pungkas Zeeta. Sebuah senyum sombong terukir di wajahnya.


......................


“MAKAN INIII!” pekik Gerda kencang, sambil mendaratkan upper-cut dengan tangan kiri. Pukulannya membuat Akira menggigit lidahnya sendiri dan mengalami gegar otak ringan—menghilangkan kesadarannya mendadak. Hal itu juga menyebabkan serangan semacam bola di depan mulutnya gagal ditembakkan dan malah meledak di dekat mereka dengan arah dari bawah ke atas—meleset jauh dari target awal Akira. Pandangan penduduk desa yang tertutup, perlahan terbuka lagi dan melihat apa yang terjadi.


Disaat yang sama, Reid dan dua Peri yang tidak mengalihkan pandangannya, terbelalak dengan kedatangan mendadak Gerda.


"Si-siapa dia?!" Reid bertanya-tanya dalam benak.


Tak hanya berhenti dengan upper-cut-nya saja, dengan cepat, Gerda memutar badannya sembilan puluh derajat, mendaratkan tendangan kaki kanan pada punggungnya hingga menyebabkan bunyi retak—sebelum akhirnya Akira terhempas bagaikan meteor jatuh ke tanah.


Lyuu yang tidak menduganya sama sekali terkejut setengah mati dengan meleset dan jatuhnya Akira, ataupun dengan kedatangan mendadak Gerda. Ia melongok, tidak mengerti sama sekali apa yang baru terjadi dalam beberapa detik saja itu.


“AKIRAAA!!” pekik Lyuu panik, langsung mengejar ke mana arah Akira jatuh.

__ADS_1


“Haaah ... haaahhh....” Gerda terengah-engah setelah mendaratkan dua serangan keras tersebut. “Sudah kuduga dari Zeeta ... metodenya gila sekali....”


__ADS_2