
“Jadi ... boleh kutanya apa yang membuat kalian tiba-tiba ada di sini?” tanya Mintia, yang penasaran kenapa Marcus bisa berkumpul dengan Lloyd, Luna, dan Colette—bahkan ketiganya menunggangi Phantasmal yang sebelumnya hendak mereka habisi.
“Tidak ada waktu untuk itu,” jawab Luna, “cepatlah naik. Kalian harus segera menuntaskan misi ini.”
Mintia dan Novalius saling pandang sesaat, sebelum akhirnya melompat lambung untuk naik ke masing-masing bahu Phantasmal-nya.
“Ayo,” ujar Lloyd, yang berada di kepala Si Phantasmal.
Phantasmal-nya lantas menuruti kata-kata Lloyd. Dia berjalan layaknya kera, jadi kecepatannya cukup cepat—dibarengi dengan tubuh besarnya.
“Setidaknya aku akan memberi tahu situasi kami—tidak—situasi Nak Lloyd dan Nak Colette,” ujar Luna, “mereka bertemu dengan seekor makhluk sihir yang sangat berbahaya. Jika aku tidak datang sesuai ekspektasi Zeeta, maka semua akan terlambat. Untuk sekarang, semuanya masih aman.
“Tapi ini hanyalah keheningan sebelum badai tiba. Aurora sedang dalam bahaya karena makhluk sihir itu. Terlebih, meskipun sekarang di Aurora ada bangsawan utama, mereka tidak akan cukup untuk mengatasinya.”
Mintia dan Novalius sekali lagi saling tatap, kemudian memandangi Marcus dengan heran. Dugaan dirinya perihal kerajaan, persis seperti yang dikatakan Luna.
“A-aku sungguh akan berterima kasih jika kalian tidak menatapku seperti itu...,” ujar Marcus.
“Hmm?” Colette tidak mengerti kenapa keduanya memandangi Marcus begitu. “Ada apa dengan Marcus, memangnya?”
“Tidak,” jawab Novalius, “Hanya saja ... Kapten kita sangat berbahaya dalam arti yang luas.”
“Memang,” timpal Mintia, “semua Manusia yang terlibat dekat dengan Zeeta, sangat berbahaya, termasuk kau sekalipun, Novalius.”
“Hah?! A-aku?!”
“Dan fakta bahwa kau tak menyadarinya itulah yang membuatmu semakin berbahaya....”
“Psst!” Lloyd berisyarat agar semua yang bersuara diam dengan mata yang melotot. Dia kemudian menunjuk dengan jempol kanannya.
Melihat kemana arah jempol itu menunjuk, semuanya, termasuk Novalius dan Mintia yang sebenarnya sudah lihat dari kejauhan, terkejut. Mereka mendapati makhluk-makhluk sihir dengan bermacam bentuk. Ada yang seperti humanoid pohon, gadis dengan sayap burung, pria berambut, kepalan, dan kaki api, juga masih banyak “makhluk-makhluk campuran” lainnya.
“Jadi inikah ‘kelompok’ yang kaurasakan, ya, Mintia...?” tanya Marcus.
“Sepertinya begitu. Tapi tak kusangka kalau mereka sebenarnya....”
Marcus dan Novalius mengernyit. “Kautahu makhluk apa mereka?”
“Phantasmal dan makhluk sihir,” sahut Luna.
“EH?” semua kecuali Elf terkejut.
“Ta-tapi,” sanggah Marcus, “ke-kenapa tadi Phantasmal ini berlutut padamu? Apa ini ada hubungannya denganmu sebagai Roh Yggdrasil?” Marcus mengelus-elus bulu Si Phantasmal yang sedang mereka tunggangi sekarang.
“Itu benar!” Colette satu suara dengan Marcus.
“Entahlah. Kenapa, ya?
“Tanyakan saja pada mereka nanti.”
“Berlutut...?” Novalius haus akan informasinya.
“Sebenarnya....” Marcus kemudian menjelaskan. “Saat itu, aku hendak menghabisi Phantasmal ini... tapi tiba-tiba, Luna, Lloyd, dan Colette jatuh dari langit dan menimpaku.”
“Ja-jatuh dari langit?!” Mintia memberi respon yang wajar.
“Setelah mereka sedikit menjauh dariku … makhluk ini langsung berlutut—seperti kita biasa berlutut pada
Ratu….”
Lloyd dan Mintia hanya bungkam setelah mendengar penjelasan Marcus.
Setelah itu, mereka semakin bisa melihat bahwa “makhluk-makhluk campuran” sudah menunggu mereka dengan menundukkan kepala. Saat sudah di hadapan mereka, rombongan Lloyd turun dari Phantasmal, lalu seekor Griffin datang mendekat setelah diberi jalan.
“Selamat datang, oh Roh Yggdrasil yang Agung, di tempat dimana Anda bisa menemui segala macam makhluk sihir yang ada dan Phantasmal-Phantasmal yang terlupakan oleh Tanah Ephemeral!” dengan menekuk kaki elang sebelah kanannya, Griffin itu ikut berlutut.
“Phantasmal-Phantasmal yang ... dilupakan...?” Colette bertanya-tanya.
“Maaf,” ujar Luna, “kami sedang tidak memiliki banyak waktu. Dunia ini sedang dalam bahaya, oleh karena itu aku ... tidak—Wadahku—mengirim Manusia-Manusia dan Elf ini untuk memastikan keberadaan Batu Jiwa—apakah itu aman atau tidak.”
“Manusia ... dan Elf ... bekerja sama…?” Griffin memandang teliti mereka yang disebut. “Ya ... ya.... Angin sudah memastikan kebenarannya.
__ADS_1
“Ah, maaf. Aku tidak bermaksud ingin meragukan Anda, Roh yang Agung, tapi….”
“Aku mengerti, tapi buat ini cepat, Zephyr.”
“Zephyr...?” baik itu Manusia ataupun Elf, semuanya tidak tahu siapa sebenarnya makhluk di depan mereka ini.
“Baik,” jawab Sang Griffin, Zephyr. Dia kemudian bercahaya hijau—yang mendatangkan kecurigaan terhadap rombongan Lloyd—sampai membuat mereka berancang-ancang dengan senjata masing-masing.
“Tenang saja,” kata Luna, “dia bukanlah musuh.” Ia juga meregangkan lengan kanannya—berisyarat untuk menurunkan senjata mereka.
Tatkala cahaya hijau dari Zephyr hilang—dari bentuk Griffin—dia menjadi seperti versi humanoid-nya sendiri—dimana kaki singanya berubah jadi kaki manusia bersandal-sepatu—dan kaki elangnya tetap seperti apa adanya. Sayap elangnya pun tetap ada. Hanya saja, kepala elangnya berubah menjadi lelaki tampan dengan bermata hijau, rambut lurus panjang terurai dengan warna yang sama dengan matanya, hidung mancung, dan warna kulit tan. Mintia dan Colette sedikit merona karena terpesona.
Zephyr lalu mengangkat tangan kanannya. Telapak tangannya itu bersinar hijau, yang diikuti dengan
bersinarnya sesuatu di dalam kubah kaca.
“Seperti yang bisa Anda lihat sendiri...,” kata Zephyr, yang ternyata membawakan Batu Jiwa.
Untuk mereka semua yang ada di situ—rombongan Lloyd—mengecualikan Luna—baru kali ini melihat seperti apa bentuk Batu Jiwa sebenarnya. Itu adalah batu pipih berwarna merah menyilaukan dengan tulisan Rune.
“A-apa ini Rune…?” tanya Novalius.
Zephyr mengernyit. “Manusia ... kautahu Rune?”
“Ya, aku ta—“
“Tentu saja,” tukas Luna, “sudah kubilang, mereka adalah orang-orang suruhan Wadahku. Sudah pasti mereka tahu Rune.”
Mata hijau Zephyr bercahaya hijau. “Benar. Angin sudah memastikannya untukku lagi. Tapi … Wadah Anda cukup berbahaya, Roh yang Agung. Tidakkah dunia terancam bahaya karenanya?”
Luna menatap tajam Zephyr. “Apa itu karena angin juga yang memberitahumu?”
“Tidak, Roh yang Agung.”
“Maka jangan pernah sekalipun memikirkan itu lagi. Disaat aku membuang-buang waktu di sini hanya untuk memastikan Batu Jiwa, teman-teman Wadahku yang lain sedang mempertaruhkan nyawanya.
“Ingat satu hal ini, Zephyr. Jagalah Batu Jiwa ini apapun yang terjadi. Jika tidak, yang menunggu kita adalah Ragnarok.”
“Apa Anda benar-benar serius, Roh yang Agung?!”
“Karena itulah aku buru-buru, Zephyr! Bukalah kubah itu dan lihatlah dunia yang sedang butuh bantuan ini!”
Zephyr terdiam seribu bahasa. Dia tampak sedikit bergemetar sekaligus menundukkan kepala.
Luna tidak memedulikannya. Ia membuat portal menuju Aurora dengan tangan kirinya. “Cepatlah,” ujarnya, menyuruh para rombongan untuk masuk ke portal. Kemudian, sesaat sebelum Luna ikut masuk ke portalnya, ia berpesan pada Zephyr, “Oh ya, aku lupa bilang. Ifrit pun ikut membantu Wadahku.” Portal kemudian lenyap setelah dia masuk.
“....” Masih tak ada respon apapun dari Zephyr.
“Tu-Tuan Zephyr...?” para makhluk sihir dan Phantasmal di dekatnya, cemas dengan Zephyr yang tidak bergerak dan tetap tertunduk.
“HMMM?!” kesadaran Zephyr seakan baru menyatu lagi. “Apa kalian dengar apa ucapan Roh yang Agung tadi?!”
“Y-ya....”
“Apa?!
“Cepat katakan padaku!”
“Ro-Roh yang Agung bilang kalau Ifrit ikut membantu Wadahnya!”
“I-IFRIIITTT?!
“Roh Api yang tidak pernah segan-segan membakar siapapun yang berbicara padanya, bahkan aku, satu-satunya tema—tidak—masih ada Undine ... dia ... DIA mau membantu?! Kepada manusia?!
“Semuanya!” Zephyr membalik tubuhnya—menghadap para makhluk sihir dan Phantasmal. “Sesuai perintah Roh yang Agung, kita akan membuka kubah ini dan kembali ke tanah hijau!” Wajah sumringah dan ceria langsung terpampang jelas sebagai respon dari ucapannya.
......................
Dataran tinggi dekat Aurora. Kerajaan masih tenang—menandakan sekarang masih sempat untuk bertanya pada Luna. Marcuspun menggunakan kesempatan ini.
“Tolong jelaskan pada kami, siapa Zephyr dan apa itu Ragnarok, Luna,” pinta Marcus. “Tentu saja, jika itu kauanggap perlu untuk kami ketahui.”
__ADS_1
Luna menyilangkan tangan. Semua menunggu jawaban Luna. “Kalian Elf setidaknya tahu siapa Zephyr ini, ‘kan?” tanya Luna.
“Y-ya....” Jawab Mintia dan Lloyd bersamaan—dengan sedikit keengganan.
“Kalau begitu katakanlah. Aku akan menemui Alicia.” Luna kemudian mengangkat kaki dan terbang menuju istana.
“Mintia, Lloyd!” seru Novalius, “tolonglah.”
Lloyd dan Mintia saling tatap, lalu mengangguk.
“Zephyr adalah....,” jawab Mintia, “Roh Kuno yang telah hidup sejak Yggdrasil masih ada.”
Para Manusia terbelalak. “Sejak ... Yggdrasil masih ada…?”
“Ya,” jawab Lloyd. “Roh Kuno jugalah dalang dibalik alasan bagaimana Zeeta bisa kembali hidup—dan menjadi Zeeta yang sekarang kita tahu dengan berbagai kemampuan gilanya.”
“Tu-tunggu tunggu tunggu tunggu!” Marcus tampak tak seperti dirinya sendiri. Dia panik. “Yang kaukatakan barusan, seolah Putri Zeeta sudah pernah mati....”
“Memang itulah kenyataannya.” Lloyd tak peduli dengan kepanikan Marcus.
“Ka-kapan memangnya itu terjadi dan kenapa kami tidak mengetahui apapun tentangnya?”
Mintia berganti menjelaskannya. “Tidakkah jelas? Yang menjadi subjek pembicaraan ini adalah Zeeta. Kalian tahu seperti apa orangnya.”
Marcus mencengkeram kuat kedua tangannya sambil menatap tanah. “Tidak ingin membuat kami cemas dan semakin takut, kah…?”
Mintia mengangguk.
“Kapan dan kenapa beliau bisa mati, Mintia?!” tanya Novalius, sedikit membentak.
Mintia kemudian menceritakan apa yang terjadi saat Zeeta berusia empat belas tahun dan mati karena serangan dari Benih Yggdrasil dari lima ratus tahun silam, serta kenapa Roh Kuno Api, Ifrit, bisa terlibat dengannya.
“Oleh karena itulah, sekarang, Zeeta semakin mewaspadai dirinya sendiri dan tetap berusaha untuk mengontrol kekuatannya,” tutup Mintia.
Colette terjatuh lemas. “Kenapa ... Putri Zeeta sanggup ... mengemban semua ini...? Tidakkah ini terlalu berat untuknya...?” titik air matanya pun tampak.
“Bagaimana dengan Ragnarok?” tanya Marcus, “apa kalian juga tahu apa itu?”
Lloyd dan Mintia menggeleng kepala.
“Begitu, ya....”
“Lloyd, Mintia, katakan padaku—tidak—pada kami dengan jujur! Apakah ... apa Roh Kuno benar-benar bisa dipercaya…? Bagaimana kami bisa percaya jika mereka tak berniat menjadi lawan Zeeta?”
Lloyd mengernyit. “Pertanyaan bodoh. Siapa kami untuk makhluk agung seperti mereka? Berbeda dengan Zeeta, kita tidaklah—“
“Soal itu, kuu kuu, kau salah, Elf.” Tiba-tiba, dari pohon, terdapat seekor burung yang bicara.
“Bu-burung telah bicara?!” Novalius teramat kaget.
“Tenangkanlah dirimu. Ini bukan kali pertamanya kita berte—tidak—untukmu, ini yang pertama, kuu kuu. Aku pernah bertemu dengan ayahmu, Zacht.”
“Ayahku?”
“Yap. Aku bicara melalui sebuah hutan yang teraaaamat jauh dan memutuskan untuk bicara melalui rekan hutanku, kuu kuu.”
“Oh.” Lloyd dan Mintia paham siapa identitas ini. “Maisie, kah?”
“Ting tung! Benar sekali!”
“Oh! Maisie Sang Dryad, kah?” Novalius tampak paham siapa Maisie.
“Dryad?” Colette tidak mengerti. “Apa itu, Marcus?”
“Makhluk sihir yang perannya adalah menjaga semua hutan,” balas Marcus pendek.
“Hmmm....”
“Kuu kuu, jika kalian sudah tahu siapa aku, maka semua akan singkat.
“Dimulai dari sekarang, aku akan mengarahkan, juga menjelaskan kalian siapa dan apa sebenarnya itu Roh Kuno, serta hubungannya dengan Yggdrasil, juga dengan pentingnya Batu Jiwa agar tidak direbut oleh Seiryuu.”
__ADS_1