Zeeta Dan Dunia Sihir

Zeeta Dan Dunia Sihir
Kecurigaan Pandang Pertama


__ADS_3

Angin berhembus, meniup keringat dari seorang Manusia dan seorang Elf yang sedang bertekuk lutut di hadapan seorang gadis cilik yang menyebut dirinya Tuan Putri dari Kerajaan Orsfangr—nama kerajaan yang tidak pernah diketahui sebelumnya—baik dari si Manusia atau si Elf.


“Namaku adalah Cynthia Arseld Orsfangr,” kata Si Gadis Cilik, sambil menepuk kepala tamu-tamunya. “Kuterima dan sambut kalian sebagai tamu pribadiku.” Setelah mengatakannya, tubuh Danny dan Jourgan bersinar biru gelap sesaat. Keduanya tidak tahu apa yang dilakukannya. “Kalau begitu, ayo. Aku akan membawa kalian memastikan Batu Jiwa itu,” sambungnya.


“Terima kasih atas kebaikan Anda, Yang Mulia,” balas Jourgan dan Danny bersamaan.


“Oh iya. Kalian tidak perlu khawatir saat berada di dalam. Karena aku sudah mengizinkan kalian masuk,” ucap Cynthia, yang menimbulkan tanda tanya. “Napas,” tambahnya, diiringi dengan senyum.


“Ah....” Keduanya baru ngeh.


“Ta-tapi!” Jourgan menceletuk, “se-sejujurnya aku tidak bisa berenang ... apa itu akan berpengaruh...?”


Cynthia tidak menghilangkan senyumnya. “Pernahkah kau terbang di langit biru itu?” ia menunjuk langit.


“Y-ya, tentu....”


“Kalau begitu tidak ada masalah.”


“Baiklah... kurasa...?”


Cynthia berbalik badan, kemudian berjalan masuk ke dalam air, yang diikuti oleh keduanya, walau Jourgan masih menyisakan rasa kurang puas dalam benaknya. Sebelum benar-benar masuk ke dalam air, Cynthia berpesan pada Kraken peliharaannya, “Gamma, kuserahkan padamu penjagaannya lagi!”


Dengan salah satu dari dua puluh empat tentakelnya, si Kraken memberi hormat. Barulah setelah itu ketiganya benar-benar lenyap ke dalam air.


......................


Cynthia menuntun Jourgan dan Danny terus ke bawah permukaan air, jauh semakin dalam, dan terus semakin dalam. Disaat penyelaman itulah, Jourgan tahu apa maksud dari perkataan Cynthia yang tidak menjadikan berenang sebagai masalah. Tanpa gerakan renang atau menyelam pada umumnya, Jourgan bisa terus menyelam seperti biasa dengan perasaan yang sama saat ia terbang di udara.


“Sebelum kita menyelam lebih dalam lagi, kuingin kalian sabar dengan pertanyaan-pertanyaan, sampai kita benar-benar tiba di istana,” kata Cynthia dalam renangnya.


“Baiklah, kami mengerti,” jawab Jourgan dan Danny berbarengan.


Di sana, selama menyelam lebih dalam dan berenang melewati bebatuan karang yang umum ada di kedalaman laut, mereka juga menyaksikan kehidupan-kehidupannya yang tidak pernah mereka lihat sebelumnya.


Ikan-ikan karnivora yang wujudnya asing ... mungkin masih bisa ditebak. Bahkan yang herbivora juga tidak begitu mengejutkan. Yang paling mengejutkan bagi Danny dan Jourgan adalah ... banyaknya makhluk-makhluk raksasa semacam Kraken hidup dengan bebas.


Pertemuan pertama dengan salah satu dari mereka adalah makhluk semacam belut namun dengan gigi-gigi tajam. Ia hendak memangsa Jourgan dan Danny dengan listrik yang mengalir dari kulit licinnya tanpa adanya aba-aba. Sebelum listrik itu dihempaskan, Cynthia melototi si belut. Disitulah Danny dan Jourgan menyaksikan hal aneh lagi. Semacam gelombang merah yang menyapu pasir menuju si belut, datang dari mata Cynthia.


Walau gelombangnya tidak melukai si belut, dia merubah sikapnya menjadi jinak dan seperti memberikan jalan pada Cynthia dan dua tamunya. Ia juga tampak menundukkan kepala.


Makhluk yang mereka temui selanjutnya berada di reruntuhan kapal raksasa yang karam. Terdapat banyak lumut di reruntuhannya, juga ada banyak ikan-ikan kecil yang hidup di dalamnya. Namun, yang mengejutkan, mendadak mereka merasakan arus di atas mereka bergerak cepat seakan ada sesuatu yang besar sedang lewat.


Begitu dua tamu Cynthia menengadah, mereka histeris sendiri. “UWAAAHHH!!” mereka yang tidak terbiasa bergerak di dalam air justru berlari di tempat—menggagalkan sendiri usaha lari mereka dari dua ekor monster raksasa—seekor hiu dan buaya.


Kendati mereka adalah hewan yang pernah dilihat keduanya, hiunya bukanlah hiu yang umum diketahui. Ia berwarna perak dengan mata merah menyala. Gigi tajamnya jauh lebih besar dari belut yang sebelumnya mereka temui. Itu berarti mulutnya juga jauh lebih besar.


Sama dengan si hiu, si buaya—dalam jenis alligator—memiliki tubuh yang tidak kalah besar dengan si hiu. Warna kulitnya hitam-kekelabuan, sisik-sisiknya yang keras—yang dilihat mirip seperti Naga, mencuat dari kulitnya seakan seperti duri. Di bagian tengah perut dan punggungnya, terdapat garis-bercampur-lingkaran kuning yang memanjang hingga mulutnya. Bagian kuning yang dimulai dari pangkal ekornya, mendadak berubah merah ketika dia membuka mulutnya lebar-lebar, dan muncul bola api yang siap disemburkan.


Mencoba melindungi diri sendiri sebab tidak bisa kabur, Danny dan Jourgan hendak membuat perisai dengan sihirnya, tapi....


“HEI!”


Suara lelaki terdengar, menghentikan usaha si hiu dan buaya.

__ADS_1


Saat Jourgan dan Danny melihat pada sumber suara, dalam benak mereka, terbenam ucapan, “Apa lagi sekarang, ya ampun!?”


Itu adalah seekor penyu raksasa yang bahkan dua kali lebih besar dari dua monster di atas mereka.


“Apa maumu, Qyu?” tanya Si Buaya, “kami hanya melaksanakan tugas Putri untuk melenyapkan siapapun penyusup yang berani memasuki wilayah kita!”


“Si Dungu Dion ini benar, Qyu. Jangan halangi kami!” balas Si Hiu.


“Hah?! Siapa yang kaupanggil dungu, Sion?!” Si Buaya membuka mulutnya lebar-lebar—mencoba menggigit Si Hiu.


“Hentikanlah!” bentak Si Penyu—Qyu. “Lihatlah dengan baik siapa yang ada bersama mereka!”


“Hah?!” keduanya bertanya bersamaan, juga melihatnya bersamaan.


“Ah—An-Anda…?!


“Putri Iblis Cynthia!!”


Empat urat kepala muncul di dahi Cynthia. “Oh...?” aura gelap muncul dari tubuhnya, juga menggempakan sekitarnya.


“Ma-maaf, kami tak bermak—“


“Haaahh....” Cynthia menghela napas panjang. “Kali ini kubiarkan. Mereka berdua adalah tamuku. Aku


lelah harus selalu menghentikan kalian yang selalu mencoba melukai mereka, padahal aku ada bersamanya.


“Qyu. Berikan kami tumpangan!”


“Siap, Yang Mulia!” Qyu mendekat pada Cynthia.


Setelah Qyu berangkat, Dion dan Sion memandangi mereka dari kejauhan.


“Siapa juga yang akan menyangka makhluk dengan kekuatan besar seperti mereka adalah tamu,” ujar Dion, “aku, sih, berpikir mereka adalah ancaman. Lagi pula, Gamma juga bilang kakinya terpotong dengan mudah oleh wanita itu.”


“Wanita itu kuat,” balas Sion, “tetapi kekuatan yang lebih besar dimiliki si lelaki. Kau juga menyadarinya, ‘kan, Dion?”


“Ya.


“Jadi merekalah ... rekan-rekan orang yang memegang nasib dunia ini.... Seperti yang dikatakan Putri, kekuatan mereka tidak bisa dianggap sebelah mata....”


“Kuharap Putri akan baik-baik saja....”


“Hah!” Dion seakan meremehkan. “Putri Iblis itu kaukhawatirkan? Dia yang menundukkan semua monster laut?


“Tenang saja, Sion!


“Kalau dia tidak terbelenggu oleh lautan ini, dia pun bisa mengguncang dunia.”


“Hehe.” Sion tersenyum. “Lagi pula dia juga yang memberi kita nama. Kau benar. Putri Iblis Cynthia tidak perlu dikhawatirkan Mwahahaha!”


“Aku dengar lho, ngomong-ngomong!


“Aku berterima kasih kalian mengkhawatirkanku, tapi ini kedua kalinya kalian memakiku!

__ADS_1


“Kalian tahu kalau aku selalu memegang ucapanku, bukan…?


"Kalian berani menyebutku dengan julukan itu, berarti kalian pun siap dengan hukumannya, 'kan?!"


“Ah....


“Gawat...”


Dion dan Sion saling menatap satu sama lain.


Dion menggeram marah pada Sion. “Dasar otak plankton!”


“Gwaaaahhh!”


Hari itu saat menjelang sore, mendadak di lautan luas, terjadi badai kuat yang menyebabkan tornado air. Dua monster raksasa pun terlihat berputar-putar di dalamnya.


......................


Beberapa menit berlalu, Qyu mengantarkan Putri dan dua tamunya sampai ke istana yang semua bangunannya berkilau emas. Mata-mata binar tentu terlihat pada Jourgan dan Danny. Bagaimana tidak, bangunan dengan desain seperti bangunan Yunani Kuno—hanya saja dengan lapangan luas di depan pintu masuknya—dihias oleh koral-koral dan terumbu karang yang “disusun” sedemikian rupa hingga memanjakan mata tamu atau penduduk laut.


Beberapa bagian dari bangunannya, misal di pangkal dan ujung atas pilarnya, terdapat semacam perhiasan berbentuk bola—mirip seperti mutiara raksasa—yang berwarna hijau zamrud.


Terdapat satu pertanyaan yang terlintas di kepala Danny.


Dengan besarnya ukuran istana, pilar, juga perhiasan-perhiasannya, apakah warganya juga besar-besar...? Tapi, jika begitu, kenapa Putri Ketiga yang berada bersamanya ini bahkan lebih kecil darinya?


Untuk menjawab pertanyaannya, tidak butuh waktu begitu lama. Karena di depan pintu masuknya, ada tiga orang yang sudah menunggu tibanya mereka. Mereka melambai-lambaikan tangan.


Qyu mendarat di dekat pasir yang ditumbuhi rumput-rumput laut dan menurunkan sirip depannya sedikit lebih rendah sebagai ancang-ancang bagi penumpangnya untuk turun.


Dua dari tiga orang yang menunggu mereka adalah pasangan suami istri, sementara yang berada di sebelahnya, adalah kakak laki-laki Cynthia. Mereka semua berambut senada—hanya saja si ibu—berambut merah muda pekat. Dan sang ayah, berambut merah muda pucat, dan si kakak sama dengan si adik.


Memang seperti dugaan Danny, mereka berukuran raksasa.


Timbullah satu pertanyaan lagi dalam benaknya. Jika begitu, apa mereka adalah ras Raksasa?


Ia akan menyimpan pertanyaan itu nanti saat Cynthia memberinya waktu. Saat ini, kesopanannya di hadapan keluarga kerajaan yang menjaga Batu Jiwa sangatlah penting.


.


.


.


.


“Kami sudah menunggu kalian,” sambut Si Ibu, tersenyum lembut.


“Selamat datang di kerajaan kami,” sambut Si Ayah, juga tersenyum sama dengan istrinya.


“Kami mohon maaf jika dalam perjalanan, kalian memiliki pengalaman buruk,” sambut Kakak Laki-Laki Cynthia.


Alis yang mengernyit. Curiga. Itulah kesan pertama Jourgan dan Danny.

__ADS_1


Tidak mungkin mereka bisa setenang ini ketika menyambut tamu asing seperti ini, bila monster-monster laut sebelumnya saja selalu menyerang mereka.


__ADS_2