
Aura biru yang menyelimuti tubuhnya bak mantel berjubah. Kedua tangannya berkuku-kuku tajam, rambut hitam setengkuknya melawan gravitasi, mata merah gelapnya pun bersinar. Klutzie ... saat ini tampak seperti orang yang tak mampu mengendalikan sihirnya dan tak segan untuk menyerang bahkan seorang rekan sekalipun.
Suzy yang baru terkena pukulan adiknya memberi dampak berupa dirinya yang terpental begitu jauh, dan memaksanya sangat terkejut dengan apa yang baru saja terjadi. Selain kalang kabut oleh kekuatan tidak waras milik Klutzie, ia pun tidak paham dengan penampilannya saat ini. Apa yang sebenarnya terjadi dalam waktu singkat ini?
"Seharusnya Klutzie hanya menjadi tahanan Aurora, mengingat aku tidak pernah merasakan mana darinya sejak ia dan Siren bernaung di Aurora. Apa keputusanku membiarkannya hidup adalah hal yang salah? Kupikir dia hanya anak manja yang akan segera menyerah begitu mengetahui kenyataan dunia sihir yang keji ini!"
Sementara ia membatin, luka lebam yang terbentuk di pipi kirinya telah ia sembuhkan. Begitu ia mengedipkan mata, ia justru melihat dirinya menjauhi tanah dan menuju ke arah langit, yang kemudian disusul oleh rasa amat sakit di perutnya—yang serasa ditinju-putar—kemudian memaksanya memuntahkan darah.
"A-apa yang terjadi sebenarnya?!" batin Suzy. Dengan pandangannya yang kabur, perlahan-lahan ia bisa melihat Klutzie ada di tempat sebelumnya keduanya berdiri. Setelah itu dirinya melihat Klutzie menarik pedangnya keluar, membaluti bilahnya dengan sihir berwarna merah gelap. "Gawat!" dengan segenap tenaganya, Suzy berusaha menggerakkan tubuhnya yang terasa kaku di tengah-tengah langit—apalagi setelah dipukul di bagian perut.
Klutzie mencengkeram gagang pedangnya dengan kedua tangannya. Ia juga berkuda-kuda—menarik kaki kiri ke belakang dan mendorong kaki kanan ke depan. Kaki kanannya ditekuk sembilan puluh derajat dan ia menatap lurus targetnya—Suzy.
"Beri dia pelajaran setelah semua yang dia lakukan, Lutz!" suara Siren terdengar di benak Klutzie.
"Aku tahu!"
Kemudian, dengan kaki kiri sebagai titik poros, ia memutar tubuhnya 360 derajat bersama dengan membesarnya tebal sihir mana gelap pada bilah pedangnya. Begitu ia menghadap depan kembali, ia segera menebas pedangnya. Dari tebasan pedangnya, sihir merah gelap itu bak api tajam di depan dan bagian belakang bergelombang, yang dampaknya sangat menghancurkan. Tanah yang ikut terkena tebasannya terbelah dua bak dibelah oleh Bumi itu sendiri, sehingga menghasilkan jurang yang amat sangat dalam. Tebasan pedang itu terus menukik ke arah Suzy.
"Sialan!" Suzy memilih bertahan daripada kabur. Toh jika ingin tetap kabur, dia takkan sempat. Gadis muda berjubah laboratorium ini menciptakan perisai berbentuk persegi transparan. Namun, bahkan tidak sampai dua detik melindunginya, perisai itu retak. "A-apa?!"
'D**BWMMM!'
Ledakan merah kehitaman menggumpal di langit. Angin pun menghempas kencang apapun yang ada di tanah.
"Waspadalah! Dia mungkin baik-baik saja!" saran Siren.
"Ya," balas Klutzie. Ia menatap saksama ledakannya, juga tetap bersiaga.
Melihat cara bertarung Klutzie yang "sederhana namun kasar" dari kejauhan, membuat Marcus menggelengkan kepala. "Tsk tsk tsk. Jika Pangeran itu saja sekuat ini, bagaimana dengan Putri Zeeta yang sedang berlatih...? Yah, kuharap dengan ini semuanya bisa berakhir, sih...." Kemudian, baik Marcus dan Klutzie, melihat sebuah tubuh hitam yang termakan panasnya ledakan dan menguapnya asap dari tubuh, terjatuh ke tanah.
"Oh? Tampaknya memang sudah berakhir...?" gumam Marcus. "Hei, Pangeran! Aku 'kan mengawasi yang lain, jadi tetap berhati-hatilah!" ia melihat Klutzie mengangkat tangan kanannya. Lalu, ia mengangkat kakinya menuju Colette.
Sementara itu, Klutzie menghampiri Suzy yang kondisinya kini kurang lebih sama ketika dia membakar sebuah hutan yang ikut mengorbankan adiknya sendiri.
"Ke ... napa ... kaubisa ... sekuat ini...?" tanya Suzy. Ia butuh perjuangan hanya untuk bisa menanyakannya.
"Kau kerap meremehkanku dan Siren sebagai Benih Yggdrasil. Kau bahkan mencemooh harga diriku sebagai Pangeran dan hendak menghabisi nyawaku.
"Setelah tinggal di Aurora, tanpa kauberitahu sekalipun aku menyadarinya. Kau bukanlah kakakku, Suzy."
......................
Mellynda tengah di hadapan Grimm sekarang. Dia takjub dengan sihir Gerda yang mampu menumbuhkan pohon di punggungnya. "Latihannya untuk menumbuhkan pohon langsung dari bijinya langsung berguna, ya.... Kau memang hebat, Gerda...," batinnya. Setelah itu Mellynda memotong akar-akarnya dengan kristal yang muncul dari lingkaran sihir—memungkinkannya tak perlu mendekati Grimm untuk bisa melepaskannya.
Merasakan bahwa dia dibebaskan, membuat Grimm bertanya-tanya. Apa yang salah dengan Manusia ini? Kenapa dia hendak menolongnya? Lantas, iapun menanyakannya.
Lalu, apa yang dia terima sebagai jawaban, sama sekali tidak menyenangkannya.
"Hah?" Mellynda menunjukkan wajah jijiknya. "Untuk apa aku menolongmu? Kauingin mengambil nyawa Zeeta, sambil bersenang-senang menghancurkan kerajaan kami, 'kan?
"Untuk apa aku menolong makhluk pembawa bencana sepertimu? Bisakah kau menjamin kau tidak akan membunuh kami dengan kesenangan?
"Inti yang kausembunyikan di suatu tempat di tubuhmu telah terisi oleh keinginan kejahatan yang kuat. Ya, dunia ini memang kejam, baik untukmu, ataupun aku. Siapa yang kalah, adalah yang mati. Begitulah keadaannya, 'kan?"
Mata Grimm bersinar, meski tubuhnya tergagap, ia berusaha untuk bangun. "Kalau begitu ... akan kupastikan, Grimm yang akan memenangkannya!"
"Percuma!"
"A-apa?! Kau—"
"Kau takkan selamat setelah ini. Marcus telah mengetahui bagaimana pertarungan ini berakhir. Dan hasilnya adalah ... kau yang akan mati, Hollow bernama Grimm!"
Grimm mengepalkan tangannya. "Apa maksudmu?! Kau bahkan tidak tahu apa yang akan terjadi ketika aku seri—"
__ADS_1
"Tidak, aku tahu." Marcus datang menghampiri Mellynda.
"Kapten? Bagaimana dengan Colette?" tanya Mellynda.
"Seperti yang kautahu, kekuatan tangannya sangatlah hebat!"
......................
"Coleeeettee!" panggil Marcus, yang datang dengan lompat lambung yang amat tinggi.
Colette mengabaikan panggilan Marcus karena ia sedang mengambil sebuah peti berbentuk perisai dari dalam tanah yang berhasil melindungi dan memberi napas untuk Elbrecht.
"Mana ini... tak kusangka masih bisa aktif meskipun orangnya sudah...," gumam Colette sambil meraba petinya. Ia segera membuka perisai yang berperan sebagai penutup peti, dan mendapati Elbrecht masih tak sadarkan diri.
"Bentuknya yang tidak amat sesuai dengan perisainya ... berarti peti ini dibuat ketika Gerda terpojok akan sesuatu—makhluk yang membuat Naga ini bernasib seperti ini, ya?" Colette berbicara sendiri. Ia melihat sejenak untuk menilai kondisi Elbrecht. "Baiklah, jika begini, aku bisa mengatasinya!"
Colette menciptakan kotak berwarna biru transparan, yang masing-masing sudutnya terlapiskan karet, yang kemudian membawa Elbrecht di dalamnya. Gelang kuning keemasan sebagai senjata hasil tempaan Dwarf, Naga, dan Roh Yggdrasil, dengan cepat berubah bentuk menjadi sarung tangan yang melapisi kedua tangannya hingga ke bagian siku. Ia berkuda-kuda, menarik tangan kanannya ke belakang, mencengkeram kotaknya dengan tangan kirinya. Ketika dia akan meninjunya, Elbrecht sadar. Ia menemukan pemandangan yang akan membuat siapapun terkejut. Sambil terbelalak, Elbrecht panik. "A-apa yang—?!"
"Hehe, sampai jumpa!" Colette tersenyum tanpa beban. Dengan tangan kirinya, ia melempar sedikit ke atas kotaknya, lalu menghantam dengan sekuat tenaga bermana dari tangan kanannya.
'POW!!'
"Apa yang terjadi selama aku tak sadarkan diriiiii?!"
Melihat kepergian Elbrecht, Colette melambaikan tangan.
"Hahaha, kau hebat, Colette!" puji Marcus. Ia menghampiri Colette.
Bahagia dengan kedatangan Marcus, ia mengembalikan gelangnya ke seperti semula. Sifatnya pun berubah 180 derajat, Colette langsung bermanja-manja dengan Marcus. "Tentu saja, dong, aku 'kan tunangan, teman masa kecil, kakak, ibu, juga adikmu yang paling mencintaimu di seluruh dunia!" ia mengaitkan lengannya ke lengan Marcus dan mengelus-eluskan pipi padanya.
"Ahahah, maksud dari ucapanmu adalah kamu yang paling mengertiku dari pandangan ibu, menghargaiku sebagai kakak yang melindungi, menyayangiku dengan pandangan seorang kakak, juga mencintaiku sebagai pasangan. Uhm, aku mengerti!" sembari tersenyum, Marcus mengelus kepala Colette. Colette berusaha menyembunyikan rona merah di pipinya yang semerah tomat. Ia tidak menyangka akan mendapat respon seperti ini.
'Cup!'
Sebuah kecupan mendarat di kening Colette. "Terima kasih sudah berjuang!" senyuman mematikan yang mampu membuat orang di hadapannya mati karena tak mampu menahan kencangnya degup jantung, didapatkannya.
"Ya-yah, kamu, 'kan tunanganku, ja-jadi aku juga ingin sekaligus meminta maaf padamu jika kamu menganggapku dingin saat aku memintamu menyembunyikan pertunangan kita...."
"Dasar ... disaat begini selalu saja...," gumam Colette.
"Baiklah, Colette, aku tahu kamu sudah menduganya, tapi bersiaplah untuk lakukan serangan besar. Ada waktu selama tiga menit, apa cukup?"
Colette menepuk pipinya beberapa kali. "Ya. Cukup."
"Bagus!"
......................
"Naga itu sudah tidak di sini, katamu...?" Grimm semakin mengeratkan kepalan tangannya.
Marcus membalas pertanyaan Grimm. "Ya. Kau telah gagal membunuh siapapun. Kau bahkan kalah dari sebuah Phantasmal yang bahkan belum menjadi Hollow sepertimu. Kau juga bahkan tidak berhasil mengalahkan Naga itu. Jika kekuatan kalian berdua tidak diserap oleh Phantasmal itu, Naga itu masih berada di atasmu, tidakkah kaupaham? Naga itu sudah hidup ribuan tahun—dia adalah putra dari Naga Perang dan Naga Penempa.
"Makhluk bencana sepertimu mustahil mengalahkannya. Dia bahkan belum serius menghadapimu!"
Singgungan demi singgungan terus dilontarkan Marcus. Saking kesalnya Grimm secara terus menerus, ia mulai melakukan proses evolusinya lagi. Marcus menanggapinya santai sambil menyeringai.
"Ah, kuberitahu lagi, Grimm. Kau itu hanyalah alat dan akan segera dibuang oleh Phantasmal di belakangmu."
Awalnya, Grimm tidak menangkap apa maksud ucapannya, namun ketika ia mendengar lanjutannya, ia paham.
"Phantasmal itu sudah sangat terpojok hingga dia memutuskan untuk mundur. Namun, ia dengan terpaksa mengorbankan—tidak—dia sejak awal ingin menjadikanmu tameng di saat-saat seperti ini. Kau mudah marah, dengan begitu kau mudah dimanfaatkan.
"Pikirkanlah, oh Grimm.
__ADS_1
"Kalian hendak berhadapan dengan Manusia yang mampu membinasakan kalian, yaitu Putri Zeeta, dan salah seorang Benih Yggdrasil. Tetapi, kau tidak tahu jika Phantasmal di belakangmu menyembunyikan fakta bahwa ada Benih Yggdrasil lain selain Putri Zeeta."
"Apa?! Ada yang lain...?" begitu Grimm menengok ke belakang, ia terkejut dengan tekanan mana yang dihempaskan Klutzie.
"Akhirnya kausadar? Kau telah diperalat olehnya dan kau akan segera mati."
"Sial sial sial si—"
Suzy berteriak, yang dapat terdengar hingga ke telinga Grimm, Marcus, dan Mellynda. "Grimm! Dengan kekuatan mistikku, kuperintahkan kau! Jadilah tameng untukku!"
Grimm terbelalak. Semuanya sesuai ucapan Marcus. Tubuhnya tiba-tiba membesar seperti balon yang sedang diisi air. "Uoghk?! Ghk?!" Grimm bahkan tak mampu berbicara lagi dengan benar.
Suzy mementalkan tubuhnya dengan bantuan tanah yang ia ubah menjadi tembakan pelontar. Namun, seperti sudah membaca semua yang akan terjadi, Marcus menyeringai. "SEKARANG, COLETTE!"
Mendengar suara lantang Marcus, memancing Suzy untuk menengok. "A-apa...?!"
Colette menundukkan kepala. Ia telah siap dengan lingkaran sihir putih-emas di hadapannya, yang berukuran besar—lima kali lipat dari ukuran Colette sendiri. Ia juga dalam posisi bersiap, seperti sebelumnya. "Haaahh~" Ia menghembuskan napas ke kepalan tangan kanannya.
"Kuh! Takkan kubiarkan aku mati oleh tangan kalian, Manusia!" Suzy hendak kabur dengan portalnya.
Tetapi....
'ZRAT!'
"Takan kubiarkan kau lolos!" Mellynda menikam perut Suzy dengan kristal yang muncul begitu saja dari lingkaran sihir di depan perutnya.
"Sialan! Sialan sialan! Kenapa akhirnya jadi begi—"
'BWWMMMMM!
Baik Grimm ataupun Suzy, mereka tersapu oleh laser putih-emas. Dari belakang lingkaran sihirnya, Mellynda membuat kristal agar Colette tak terhempas oleh sihirnya sendiri. Begitu juga pada dirinya sendiri dan Marcus. Dampak sihir itu tidak hanya membelah tanah saja, tetapi juga mencapai hingga medan pelindung Maisie yang berada di istana dan Hutan Sihir Agung, yang mampu merobek banyak bagian akarnya.
Namun untungnya, akar-akar itu mampu beregenerasi. Tetapi getaran sihirnya, mampu dirasakan siapapun yang ada di istana. Elbrecht yang telah dibebaskan juga tak menyangka mereka—Crescent Void, mampu melakukan ini. Sementara itu, Ashley yang telah siuman beberapa menit sebelumnya, masih dalam kondisi berkeringat namun tersenyum. Raja dan Ratu hanya berharap anak-anak itu pulang selamat, mereka pun merasakan hilang-totalnya dua mana dari keseluruhan anggota.
.
.
.
.
"Hei, apa kau merasa apa yang kurasakan?" tanya Siren.
"Aku masih harus banyak berlatih. Ini berarti Marcus pun mengetahui apa yang kita ketahui dan bicarakan sebelumnya dengan Suzy, makanya dia sempat mengawasi kita. Tidak hanya itu, kupercaya bahkan sihir ini mampu mengalahkanku.
"Aurora ... sungguh kerajaan yang berbahaya...." Klutzie mengepalkan tangan, lalu mode 'berserk-nya habis. Siren terpisah dari tubuhnya.
"Teknik Spirit Warble ini harus kita asah lebih jauh lagi," saran Siren.
"Jangan sedikit-sedikit memberitahuku! Aku tahu semua itu!"
Siren tersenyum. "Maaf ... dan ... terima kasih, Lutz." Ia menepuk kepala Klutzie.
"Hentikan!"
......................
Setelah laser-nya lenyap, Colette jatuh terduduk. Ia kehabisan napas. "Aaaaaahhhh, tak kusangka bisa sepuas ini mengerahkan seluruh tenagaku!" serunya.
"Kau bahkan dapat mesra-mesraan dengan tunanganmu, tentu saja kau puas!" bentak seseorang
"Sssssh... buatku iri—tidak—kalian sungguh membuatku terinspirasi!" suara lain bahkan menyusulnya.
__ADS_1
"Su-suara ini...?!" Colette secepat mungkin menengok ke belakang, tempat sumber suaranya berasal....
"HAAAAAHHHH?!"