
Di suatu reruntuhan, Lucy yang membawa Azure yang tengah pingsan, menggeletakkannya di lantai, sementara dirinya bersandar di tembok sambil terengah. Ia mengepalkan tangan setelahnya.
“Berputus asalah, kemudian berharaplah, Aurora…,” batinnya.
Tidak lama kemudian, cahaya kecil muncul di hadapannya, mewujudkan diri menjadi rubah berekor dua. Dia adalah Luna.
“Kau takkan bisa melarikan diri dari Zeeta,” ujar Luna.
“Kalau takdirku memang seperti itu, maka itulah yang terbaik. Tapi … disaat Ratu itu kesulitan, kenapa kau tidak membantu mereka? Seharusnya Aurora bisa melewati rintangan ini tanpa korban jiwa,” balas Lucy.
“Kau takkan mengerti apa alasanku, sama sepertiku yang tidak mengerti mengapa kau harus serumit ini.”
“Haah....” Lucy menatap Azure. “Tentu saja, untuk balas dendam. Harus berapa kali kukatakan padamu? Entah itu aku, Zeeta, anak ini, atau bahkan orang lain, harus mengubah tatanan dunia sihir ini. Aku tidak peduli bagaimana dunia membentuk setelahnya, aku hanya ingin terlepas dari kekangan yang kumiliki ini.
“Dunia ini harus terlepas dari bangsawan, dunia ini harus terlepas dari rantai sihir.”
Luna menanggapinya dengan bungkam.
“Aku akan bersikap seolah tidak mampu melawanmu," tutur Luna, "tetapi semua itu akan setimpal dengan apa yang akan kau terima tujuh tahun mendatang. Sampai saat itu, apa yang akan kaulakukan pada Azure?”
“Tidak tahu.”
“Eh?”
“Anak ini yang paling mengetahui seberapa busuk
bangsawan-bangsawan di dunia ini. Untuk apa aku menanamkan dendamku pada anak yang tak mampu melakukan apapun seperti dia?” Lucy menatap Azure dan berpikir lagi. “Hahahah, kalau begitu tunggu saja tujuh tahun ke depan.”
“Kuperingatkan kau, jangan sampai kau bunuh dia. Bisa-bisa Zeeta—“
“Aku tahu. Aku juga tidak melakukan ini hanya untuk balas dendam semata saja.”
......................
Sementara itu di kerajaan Aurora, para bangsawan utama dan rakyatnya sama sekali tidak memasang wajah yang gembira. Dingin, sunyi, sedih.... Semuanya berkabung atas meninggalnya Count Willmurd Louis de Dormant. Para rakyat juga sudah diberitahu oleh Hazell tentang kekalahan ini dan seberapa sulitnya Lucy dilawan meski dengan seluruh bangsawan turun tangan.
Tepat setelah pemberitahuan itu, Alicia dan Hazell
mengunjungi kediaman Dormant untuk memberikan kotak berisi abu Willmurd pada keluarganya. Anak satu-satunya Willmurd, Zacht de Dormant XVII yang telah memiliki istri dan anak laki-laki berusia lima belas tahun, menerima kotak tersebut, tanpa menanyakan apapun, dan hanya berterima kasih atas waktu luang Ratu dan Rajanya. Namun, hal ini tidak berlaku pada anaknya, Novalius de Dormant XVIII.
Novalius memiliki rambut hitam lurus, bermata hijau sama seperti ayahnya. Kulitnya berwarna kuning langsat dan cukup berotot. Pedang rapier juga ada di pinggangnya, layaknya ayahnya.
__ADS_1
“Nyonya Ratu!” teriak Novalius sambil bertekuk lutut.
“Nova, kenapa kau berteriak?” bisik Zacht.
“Kau sedang berhadapan dengan Ratu dan Raja!” timpal Cecily, istri Zacht.
“Yang Mulia Ratu, izinkan aku bertanya!”
“Ada apa, Nova?” tanya Alicia.
“Apa kakekku … apa kakekku tersenyum?!”
Alicia merasakan getaran di hati anak itu. Ia ingin menangis tetapi ia tidak mau melakukannya.
“Ya. Dia tersenyum lebar dan berhasil membuat rencanaku berjalan. Kalau dia tidak mengorbankan nyawanya sendiri, aku dan dia akan mati.”
“Kkkhhh.... Apa musuh kita kali ini benar-benar kuat, Yang Mulia?”
“Ya, itu benar. Tapi, berkat kakekmu, kita memiliki peluang saat dia datang lagi kelak. Kita harus membayar usahanya dengan memenangkan pertarungan ini.”
Nova mengepalkan tangannya, kemudian bertanya lagi dengan lantang. “Yang Mulia, apakah tim khusus pelindung kerajaan itu masih berlaku? Aku ingin menjadi bagian darinya! Aku ingin melindungi kerajaan ini sama seperti yang dilakukan kakekku!”
“Terima kasih, Yang Mulia!”
......................
Beberapa hari kemudian, pemakaman untuk Wilmurd digelar. Semua rakyat memakai pakaian hitam. Tentu saja, semua bangsawan utama dan keluarganya hadir dalam pemakaman ini. Bahkan Hellenia mengucurkan lagi tangisnya. Dari semua kehadiran itu, tidak tampak batang hidung Zeeta. Ia mengunci diri di kamarnya di istana, dan duduk bersandar di tembok. Ia sudah memakai pakaian serba hitam tapi ia mengurungkan niat untuk ikut. Luna pun menemaninya, tetapi tak banyak yang bisa ia lakukan karena Zeeta tak melakukan apapun selain bertatapan kosong.
“Ini semua tak ada artinya. Apapun yang kulakukan tak ada artinya. Menjadi lebih kuat ... ingin melindungi semua orang ... atau bahkan menghadapi kematian berulang kali ... itu semua tak ada artinya.
“Aku adalah keturunan orang itu...?
“Jadi orang seperti dia adalah leluhurku…?
“Kalau begitu ... apa aku menyerah saja dan melakukan apa yang dia katakan?
“Dia lebih kuat dariku, dia juga lebih berpengalaman dariku....”
Luna menghela napas kemudian berjalan mendekatinya. “Orang itu mengatakan sesuatu padamu, ‘kan?” pertanyaan Luna tak digubris Zeeta. “Sesuatu tentang menghancurkan dunia.”
Zeetapun terpancing dan menoleh ke Luna.
__ADS_1
“Apakah kau tidak mau melihat bagaimana sosokmu di masa depan yang selalu diramalkan atau dicap oleh orang-orang kalau kau adalah orang yang menghancurkan dunia?”
“TIDAK!” Zeeta segera menjawabnya.
“Meskipun kaubisa mengetahui alasan mengapa kau jadi seperti itu dan mungkin menemukan jawaban agar bisa menjadi dirimu sendiri tanpa terpengaruh apa kata orang?”
“Tidak, aku tidak mau! Aku takut!” Zeeta meringkukkan badan.
“Apa kauyakin? Apa kau tidak ingin menyelamatkan Azure?”
Zeeta terbelalak. “Eh? Apa hubungannya dengan menyelamatkan kak Azure?”
“Soalnya … kauingin menyerah, ‘kan? Kalau begitu, kau juga ingin membiarkan Azure ada di tangan orang itu selamanya?”
“Tidak! Aku tidak mau itu!”
Luna mengubah bentuknya jadi bentuk siluman rubah. “Lalu, tegaskan dirimu. Apa yang ingin kaulakukan? Membiarkan Azure di sana, juga
menyia-nyiakan nyawa Willmurd yang telah melayang demi masa depan kerajaan ini? Apa kauingin membiarkan rumah untuk ribuan orang di kerajaan ini mati hanya karena kau menyerah?”
Zeeta kembali meringkukkan badan. Ia menyembunyikan kepalanya di balik lutut. “Katakan dulu padaku.... Di mana kau disaat situasi genting itu?”
“Akan kuberitahu disaat kau telah siap mendengarnya.”
“Katakan sekarang!”
“Tidak.”
“Bukankah kau ada di pihakku?!”
“Jangan manja!” bentak Luna, “jangan kaupikir meskipun Roh Yggdrasil ada di pihakmu, kaubisa menyerahkan semuanya padaku! Aku tahu kau benci mendengarnya, tapi semua masalah ini berpusat padamu dan hanya kaulah yang bisa mengatasinya!
“Kalau kau ingin menyerahkan semua permasalahan itu padaku, pada orang tuamu, atau pada rekan-rekanmu….
“Untuk apa kau jadi Tuan Putri, untuk apa kau memiliki banyak orang yang menaruh percaya padamu?
“Bukankah kau sendiri yang bilang, kalau kau akan membuktikan rasa percaya mereka dengan aksimu,? Maka buktikanlah!
“Terus meringkuk dalam ketakutan tak akan merubah apapun! Jika kau terus berdiam, ketakutan itu akan terus mendatangimu! Kau harus bergerak menuju tempat yang lebih terang dan mengubah kegelapan itu jadi cahaya!”
Zeeta mengingat-ingat kembali apa saja yang sudah ia katakan, dikatakan padanya, dan apa saja yang telah dilaluinya. Dari kebersamaannya dengan desa Lazuli, hingga ia berhasil melindungi serangan dari para Peri. Tak lama kemudian, ia membuat keputusan. Ia menepuk pipinya dua kali dan mengatur napasnya. “Perlihatkan padaku, seperti apa diriku yang ada di ramalan itu!”
__ADS_1