Zeeta Dan Dunia Sihir

Zeeta Dan Dunia Sihir
Baru Dimulai


__ADS_3

"Hei ... jangan bercanda...!" Gerda bergemetar ketika ia baru saja menginjakkan kaki di medan pertempuran. "Kenapa kau jatuh disaat seperti ini...?" ia mengira kakaknya telah kehilangan napasnya. Tak bisa dimungkiri jika ia berpikir demikian. Dari kejauhan, ia melihat kakaknya mendapat banyak luka dan genangan darah di hadapan tubuhnya, ditambah dengan kalimat terakhir yang dijeritnya.


"Fufufu... huhuhahahaha!" Suzy tertawa gelak. "Apa yang terjadi di sini? Kenapa ada Roh Yggdrasil yang begitu terikat dengan banyak Manusia...?" ia melepas diri dari tanah runcing yang menjebak kakinya dengan mematahkannya, mencabutnya, dan menutup lukanya dengan sihir.


"Bukankah seharusnya kalian hanya peduli pada Benih Yggdrasil, hah?!


"Tapi tidak mengapa. Lawan kami hanyalah anak kecil tanpa pengalaman.... Grimm! Jangan lepaskan pandanganmu dari Naga itu! Aku akan bersenang-senang dengan mereka!"


'Fwiiingg...!'


Elbrecht melayang jatuh ke daratan.


"RRRAAAAAHHH! Elbrecht telah kukalahkaaann!" pekik Grimm amat berapi-api.


"Mana ini ... Eclipse?!" gumam Gerda, "oh tidak ... mana-nya melemah!"


"Sangat disayangkan jika Banshee mati sebelum sempat berevolusi. Bahkan aku sendiri terkejut dengan kemampuan bocah lelaki itu. Meski dia menerima sihirku yang bahkan mampu membakar Klutzie, dia masih bisa bertahan!" seru Suzy sambil menyeringai.


"Jadi dia kakak yang disebutkan Klutzie...? Aku harus waspada...," batin Gerda.


Ashley berjalan membelakangi Gerda. "Jangan panik dan lihatlah baik-baik kondisi di sekitarmu. Jika kesadaranmu terhadap hal itu hilang, kau jadi santapan lezat bagi musuh.


"Gerda, kakakmu adalah orang yang tangguh. Ditambah, dia adalah lelaki yang sudah berjanji pada dirinya sendiri. Rasakanlah mana-nya. Dia masih hidup.


"Lalu, pikirkanlah baik-baik. Aku adalah Grand Duchess. Serahkan Suzy padaku dan kupercayakan Hollow bernama Grimm itu padamu."


Awan gelap yang masih menyelimuti mendatangkan guntur demi guntur, lalu mendatangkan pusaran angin pada Ashley, yang kemudian memberinya power up berupa zirah petir biru.


Grimm terkejut setelah melihat wujud full power Ashley, namun tidak dengan Suzy.


"Inikah wujud kekuatan penuhmu, Ashley Alexandrita? Meskipun kau serius, aku sudah melihatmu bertarung dengan Lucy, aku ragu kaubisa—"


Suzy mendapati dirinya melihat langit begitu ia mengedipkan mata. "Guhakk!" darah dimuntahkannya. Ia kemudian melihat ke perutnya. "Apa?!" perutnya ternyata berlubang dengan tombak petir. Tombak itu kemudian memanggil petir untuk sekali lagi menyerangnya.

__ADS_1


'ZZDAARR!'


"Aaaggghhkkk!" erang Suzy kesakitan.


Melihat Ashley sudah beraksi, membuat Gerda mengikutinya. Ia mengambil tongkat sihir dari sabuknya. "Aku bersyukur karena sudah berlatih demi menyusul Zeeta!" Gerda mengingat momen pertama ia berlatih dengan Luna, ia harus menyesuaikan diri dengan lingkungan bermana tinggi.


"Trèmoir!" seru Gerda yang mengarahkan tongkat sihirnya ke bagian belakang Grimm, memunculkan butiran mana hijau dan terbentuk pohon yang mengakar disana. Seketika, Grimm terjatuh di tanah dan terperangkap di tanah dengan akar yang terus menjalar jauh ke tanah. "A-apa ini?! Kenapa apiku tidak bisa membakarnya?!" gerutu Grimm.


Di momen itulah, Gerda memanfaatkannya untuk menghampiri Elbrecht dan memeriksa keadaannya.


Gerda melayangkan tubuhnya dan mendapati tubuh Elbrecht tergeletak tak berdaya dengan luka-luka bakarnya. Ia segera menggunakan tongkat sihirnya lagi untuk melakukan pertolongan pertama. "Healing!"


Napas Elbrecht yang sebelumnya berat kini berangsur-angsur ringan. "Kuharap ada yang bisa membawamu pergi dari sini...," gumam Gerda. Ia kemudian bersihir lagi. "Shieldèn!" ia memerisai Elbrecht dengan akar yang muncul dari balik tanah. "Frèzè!" ia menambahkan udara sejuk di dalamnya. "Huuh, untung saja aku sering melihat bagaimana Zeeta bersihir. Aku berhutang padamu, Zee!" gumamnya.


Tetapi, semua kelancaran tindakannya ini membuatnya bertanda tanya. Ini adalah medan pertempuran, bahkan jika situasinya sudah menguntungkan bagi pihaknya, suasana sepi dengan bunyi hantaman demi hantaman pukulan dari Ashley sebagai satu-satunya suara yang terdengar, ditambah semakin dinginnya angin terasa, tidak mungkin jika dirinya tidak akan curiga ada sesuatu yang aneh.


Meskipun Gerda senang bisa menghentikan langkah Grimm sejenak, adalah sebuah fakta bahwa pertarungan antara Grimm dan Elbrecht berlangsung lama dengan mana yang dihabiskan sama sekali tidak sedikit. Tidak mungkin dalam waktu sesingkat ini—ketika Gerda datang bersama Ashley—Grimm dan Elbrecht seperti sudah sangat kelelahan.


'KLAK!'


Suzy menjentikkan jarinya. Tanah seketika bergetar dan mengejutkan Ashley dengan apa yang muncul setelahnya—ratusan makhluk dengan bentuk yang sama dengan Banshee. "A-apa?!" seru Ashley yang terbelalak.


Melihat wujud mereka yang sedikit berbeda dengan rambut yang menjuntai ke bawah, membuat Gerda bergemetar. "Ma-makhluk apa itu?!" teriaknya.


......................


Sementara itu, disaat yang sama, Maisie usai mengisi kekuatan lingkaran sihirnya. "Sudah tiba waktunya...," ujarnya, "pertarungan yang menentukan nasib masa depan kita semua!"


Mendengar ucapan Maisie, Zacht bergidik. "A-apa yang harus kita lakukan...?"


"Aku akan memberikan medan penghalang yang akan melindungi kerajaan dan suatu tempat lain yang sangat penting bagi dunia dari makhluk yang baru saja muncul ini, sesuai dugaan kami, kuu kuu.


"Setelah medan penghalangnya aktif, kuyakin aku takkan bisa menggerakkan satu jari pun. Kuharap, kau mau membantuku dan membawaku pergi ke Aurora."

__ADS_1


Tanpa banyak bertanya meski ada banyak pertanyaan, Zacht mengiyakannya.


"Baiklah. Gertakkan gigi kalian lebih lama lagi, anak-anak Aurora!" jerit Maisie.


......................


Teriakan demi teriakan dilantangkan oleh ratusan Banshee. Teriakan-teriakan itu seketika memberi efek yang kuat pada Ashley, yang menghancurkan zirahnya dan memberinya sakit yang luar biasa pada kepalanya. "Guwaaaaahhhh!!" erangnya. Meskipun begitu, ia tak bisa melakukan apapun. Tubuhnya terhalang oleh Suzy yang terus mencengkeram kepalanya.


"Nyonya Grand Duchess!!" panggil Gerda. Ia segera memakai tongkat sihirnya. "Aèwin!" hembusan angin berwarna hijau kencang bak cambuk dari ujung tongkat untuk menjauhkan makhluk-makhluk itu beserta Suzy menjauh.


Tidak menduga kuatnya cambukan anginnya, Suzy dan ratusan Banshee terhempas jauh. Gerda segera menyelamatkan Ashley dan pergi menjauh. "Jadi inikah yang menyebabkan Eclipse jadi melemah?" batinnya.


Dikala yang sama, Maisie merapal sambil mengangkat tongkatnya. "Namaku adalah Maisie! Aku adalah Dryad, Pengawas Hutan beserta Hutan Sihir Agung! Dengan memakai kekuatan alam sebagai katalis, kumohon pada kalian untuk melindungi targetku dari makhluk yang mengancamnya!"


Tanah-tanah di sekitar kerajaan Aurora bergemuruh, membuat Alicia dan Hazell waspada. Begitu mereka mengintip ke jendela, mereka dibuat menganga. Akar-akar raksasa mulai menyelimuti seluruh kerajaan. "Demi Aurora, apa yang—?!" seru Hazell.


Sama seperti Aurora, Hutan Sihir Agung yang bahkan tersembunyi, perlahan dilindungi oleh medan pelindung transparan, namun juga memberi gemuruh pada tanah. "Mana ini...," batin Hugo. Tidak lama kemudian, Volten Sisters dan Aria menghampirinya.


"Kami akan membantu mereka, Tetua!" seru Aria.


"Belum!" balas Hugo, "belum saatnya.... Lagi pula kalian sudah mendengar situasinya dari Reina, bukan?"


"Meski begitu, aku tak bisa membiarkan mere—"


"Keputusanku sudah bulat, Aria!"


"Kkkhhhh...." Aria mengencangkan kepalannya.


......................


"Sudah lima hari kau berlatih di sini. Itu artinya, kau sudah ada bersamaku selama tiga jam waktu nyata," ucap Ozy, "aku tahu situasi di sana semakin memburuk, tetapi mereka belum kehabisan langkah. Fokuslah pada latihanmu."


"Aku tahu! Aku juga paham mereka pun bergantung pada satu sama lain, termasuk aku. Aku harus bisa menyelesaikan latihan ini, dan segera membantu mereka!" balas Zeeta, yang kini rambut pudarnya— lebih ke perak—semakin banyak dan panjang. "Bertahanlah di sana, teman-teman!"

__ADS_1


__ADS_2