
Sebuah kedipan.... Dua kali kedipan.... Kemudian diakhiri dengan tiga kali kedipan, Tellaura melihat langit-langit asing baginya. Langit-langit tersebut memiliki beberapa lubang yang menembuskan cahaya kuning kejinggaan. “Di mana aku...?” gumamnya.
“Oh, kau sudah sadar?”
Tellaura melihat ke sumber suara. Dia melihat anak kecil yang terlihat sedikit lebih tua darinya. Mungkin sekitar sebelas atau tiga belas tahun. Anak kecil itu berambut cokelat, kulitnya kotor dengan banyak noda, dia juga memakai pakaian yang telah dijahit ulang berkali-kali.
“Siapa ... kau...?”
“Tidak perlu tahu nama seorang pembunuh jalanan sepertiku. Yang lebih penting, nyawamu sudah diselamatkan oleh ibuku. Berterima kasihlah padanya nanti.”
“Uhm, akan kulakukan....” Tellaura melihat sekujur tubuhnya dilapisi oleh kain. “Tapi ... memangnya aku kenapa?”
“Kecelakaan. Itulah yang dikatakan ibu.”
“Kecelakaan...?” Tellaura mencoba mengingat-ingat lagi apa yang terjadi sebelum ia kehilangan kesadaran.
“Ngomong-ngomong, kau sudah tidak sadarkan diri selama dua hari.”
“Dua hari...?” Tellaura mencoba mengingatnya lagi dengan lebih keras. Beberapa saat kemudian, dia langsung terbelalak. “Adikku! Tidak ... keluargaku!”
Hilma mengernyit. “Mereka semua mati.”
“Eh...?”
“Jika ibu hanya bisa membawamu pulang, maka hanya kaulah yang selamat. Itu saja. Kelihatannya kau sudah bisa mengingat apa yang terjadi waktu kau kecelakaan itu. Bisa kauceritakan padaku?”
“Se-setelah tahu, memangnya kau mau apa...?”
“Soal itu terserah aku, ‘kan? Tenang saja, aku tidak akan berbuat apapun padamu. Kecuali jika ceritamu itu menarik, keputusanku mungkin akan beda.
“Lagi pula, sekarang kau jauh dari rumahmu, ‘kan? Ibu bilang kau sedang mengendarai kereta kuda dan ibumu mati untuk melindungimu.”
Perlahan-lahan, mata Tellaura berair... yang berakhir dengan jatuhnya dengan deras. “Ibu....”
“Haaah~” Hilma menghembuskan napas panjang. Ia memutuskan untuk menghampiri Tellaura lalu memeluknya. “Ceritakan padaku apa yang terjadi, oke?”
“Ba-baiklah....”
Menurut kesaksian Tellaura, yang dia tahu mendadak kereta kudanya terhenti. Mungkin ada beberapa orang yang menghadang mereka, sebab ia bisa mendengar tiga atau empat suara yang sempat beradu mulut dengan ayahnya. Ditengah-tengahnya adu mulut itu, ibunya menyuruh dia dan adiknya untuk tetap bungkam. Lalu entah kenapa, tiba-tiba saja kereta kuda mereka meledak begitu saja.
Mendengar semuanya, Hilma mengerutkan dahi. “Bangsawan-bangsawan bangsat...!” umpatnya. Urat kepalanya bahkan sampai terlihat jelas oleh Tellaura.
“Bangsawan...? Apa maksudmu?”
“Ingatlah lagi... uh, siapa namamu?”
“Tellaura.”
“Ingatlah lagi, Tellaura. Apakah orang-orang itu menyebut nama salah satu dari mereka? Begini-begini aku kenal banyak orang.” Hilma menyentuh bahu kiri Tellaura. “Kenal karena mereka adalah targetku dan kenalan-kenalannya.”
“Hmmm....” Tellaura memandangi tangannya sendiri sambil berusaha menggali ingatannya. “Ah.
“Aku ingat....
__ADS_1
“Salah satu dari mereka menyebut pangeran Olav.
“Apa kau tahu siapa dia?”
Hilma menyeringai, membuat gugup Tellaura. “Olav, eh...?
“Dasar ibu....
“Dia sengaja tidak memberitahuku supaya kita tidak terlibat dengan pangeran bodoh, amoral, dan gila itu....”
.
.
.
.
“Akan kuanggap kutidak dengar kata-kata barusan, bila kau menyerahkan anak itu tanpa perlawanan, Jelata.” Sebuah suara menembus pintu kayu yang sudah usang di dekat mereka.
“Pa-Pangeran Olav...?!” Hilma kaget dan berusaha untuk melindungi Tellaura.
Pintu kayunya segera didobrak oleh dua prajurit yang ikut bersama Sang Pangeran. Disaat itulah Tellaura melihat dalang dari meninggalnya orang tua dan adiknya itu. Tiba-tiba saja emosinya memuncak. “Kau...!” jeritnya, “kau yang membunuh keluargaku?! Kenapa kau membunuh mereka...?!”
Melihat reaksi Tellaura, tidak menyenangkan bagi Olav. Dia segera meludah pada anak kecil itu. Hilma terkejut, apalagi Tellaura yang terkena. “Keturunan monster tidak seharusnya bicara padaku, Olav, Pangeran Southern Flare yang Kelima ini!
“Tidak kakak, tidak adik... kalian semua selalu menentangku!
“Inilah yang kubenci dari keturunan monster seperti kalian! Seakan-akan kalian tidak memiliki sesuatu untuk ditakuti....”
“Adikku masih hidup!?”
“Tsk. Prajurit, jangan membuatku banyak bicara dengan makhluk kotor seperti mereka dan segera tuntaskan pekerjaanmu!”
“Ba-baik!” jawab dua prajurit bersamaan.
“Dan kau!” Olav menunjuk Hilma. “Bila kau berani menentangku, kau akan rasakan akibatnya!”
Hilma tidak menjawab. Dia tertunduk dan membiarkan prajurit itu membawa paksa Tellaura. Begitu pula dengan Tellaura, dia tidak berontak sama sekali, dan malah membiarkan para prajurit menarik tangannya dengan kasar meskipun ia masih terluka. Namun, sebelum benar-benar dibawa pergi, Tellaura berpesan pada anak perempuan yang namanya tidak ia ketahui itu. “Sampaikan terima kasihku pada ibumu yang sudah merawatku. Maaf aku tidak bisa mengatakannya langsung....”
Ketika Tellaura mengatakannya, Hilma bisa melihat senyum kecil pasrah yang ditunjukkannya. Hal itu entah kenapa membuatnya kesal. Ia menggertakkan gigi.
Begitu rombongan Olav pergi, Hilma akhirnya bersuara. “Mana bisa kubiarkan semuanya berakhir begini. Kenapa orang sialan itu menyebutnya keturunan monster? Kenapa anak itu ... tidak membenciku karena tidak berusaha menahannya...?” ia lalu berkeinginan untuk mengejar Olav.
Tapi....
“Hentikan langkah kecilmu itu, Hilma.” Ibunya datang dari belakang Hilma yang baru beberapa langkah keluar dari kediamannya. Ia membawa keranjang di balik punggungnya yang berisi herbal—mirip dengan apa yang ia bawa beberapa hari yang lalu. “Ini bukan masalah kita, bukan juga kewajiban kita untuk memasang leher kita pada bahaya,” sambungnya.
Hilma terdiam sesaat, lalu membulatkan kedua tangannya. “Apa Ibu sengaja membiarkan ini semua terjadi karena tahu cepat atau lambat semuanya akan jadi begini...?”
“Tentu saja. Kaupikir sudah berapa lama Ibumu ini menjadi pembunuh? Melihat situasi anak perempuan itu bersama ibunya saja, aku sudah tahu bahwa ada orang lain yang dibawa oleh Olav.”
“Tapi aku tidak bisa membiarkannya jadi begini! Dia bukanlah orang yang—“
__ADS_1
“Hentikan itu! Kaubisa memancing perhatian!”
Hilma tersadar dirinya diperhatikan oleh banyak mata. Ia lalu mendekat pada ibunya. “Anak perempuan itu ... terlalu polos untuk memahami apa yang sedang terjadi padanya.”
“Meskipun begitu, tetap saja ini bukan kewajiban kita, Nak. Beruntung kau tidak menjadi korban seperti rakyat jelata lain yang langsung dibunuhnya begitu dia melihatmu. Sudahlah, segera bantu aku perbaiki pintu malang ini.”
“Maaf... Tellaura....”
......................
“Hei…,” panggil Tellaura lirih. Tangannya diikat kencang oleh tali tambang dan dikawal oleh dua prajurit sebelumnya. “Mau dibawa kemana aku...?”
Dua prajurit itu hanya bisa menggertak gigi dan terdiam. Mereka sebenarnya tidak ingin melakukan ini semua. Salah satu dari mereka bahkan meneteskan air mata.
Tellaura yang melihatnya hanya tersenyum. “Begitu ya.... Uhm. Aku mengerti. Kalian benar-benar orang yang baik ya, Paman-Paman sekalian....
“Jika ini adalah akhir hayatku bersama adikku, maka itu tidak akan jadi masalah.”
Setelah berjalan selama beberapa menit di bawah penjara pribadi milik pangeran Olav, Tellaura juga merasakan apa yang dirasakan adiknya saat berada di dalam sel. Ia melihat, mencium, dan mendengar betapa tersiksanya mereka yang ada di penjara ini. Untungnya, dua prajurit yang mengawalnya berjalan mengapit Tellaura agar dia tidak melihat betapa kejamnya para tahanan diperlakukan.
Ketiganya sampai di depan sel yang berisi seorang anak kecil. Tellaura yang hanya dengan sekali lihat langsung tahu siapa anak kecil tersebut, segera berteriak, “Risa?!”
“Suara itu....?" suara lirih Clarissa terdengar. “Kakak...?”
Hari yang sudah gelap membuat Tellaura tidak bisa melihat pasti bagaimana keadaan Clarissa yang sebenarnya. Dia belum mencurigai apapun yang salah terhadap Olav. Setelah memasukkan Tellaura ke dalam selnya, dua prajurit tersebut segera meminta maaf dan pergi.
“Risa, kau tak apa?”
“Uh... kurasa tidak baik-baik saja. Tubuhku ... sakit semua....”
Begitu Tellaura melihat dari dekat, dia baru bisa terbelalak. “Si-siapa yang membuatmu begini?!”
“Aku ... tidak tahu.... Tidak kenal.”
Tangis langsung mengucur deras pada Tellaura. Sebagai kakak, dia mencoba menyusun teka-teki yang terjadi hari ini. Dan segera saja, dia bisa mengetahui pelakunya. “Orang itu...!” Tellaura menggertakkan giginya. Dia juga menatap mengerikan. “Takkan kumaafkan...!”
Tidak lama kemudian, Tellaura mendengar adiknya bicara lagi.
“Hei ... Kakak...?”
“A-aku di sini, Dik. Ada apa?”
“Apa kita ... benar-benar keturunan monster...? Kenapa ayah dan ibu disebut monster...? Memangnya ... mereka salah apa...?
“Kenapa kita ... mengalami semua ini...?”
Salah satu mata yang bengkak pada Clarissa meneteskan air. Alisnya pun berkerut, ia tak kuasa menahan kesedihan dan kebingungannya. Ia benar-benar tidak mengerti kenapa dia kehilangan ayah dan ibunya, kenapa pula dia disakiti hingga babak belur begini.
Tellaura segera mendekap adiknya erat. “Tenang saja Adikku!” ia membulatkan tekadnya. “Aku akan melindungimu apapun yang terjadi! Meskipun dunia ini kejam pada kita, aku akan tetap mencintaimu! Apapun yang harus kukorbankan, aku akan tetap melindungimu! Bahkan jika itu adalah hal yang salah, aku tidak akan meragukannya!”
Dimomen itu Tellaura sadar. Di dunia ini, hanya ada dirinya dan adiknya saja. Sebagai kakak, dia harus melindungi adiknya, satu-satunya anggota keluarga yang tersisa. Ia bersumpah di hari itu, untuk melindungi adiknya, meskipun dirinya selalu yang tersakiti. Bila itu bisa membuat adiknya tersenyum, maka itu adalah bayaran yang sudah lebih dari cukup untuknya.
Clarissa ... adalah alasannya menebas semua halangan dan kekejaman dunia yang menghadang mereka. Keinginannya untuk menyerah hidup sebelumnya, seakan hancur begitu saja saat melihat adiknya menangis seperti itu.
__ADS_1
Mendengar semua itu, Clarissa semakin menjatuhkan deras tangisnya. “Terima kasih, Kak... aku juga menyayangimu....”
“Sekarang, tidurlah. Percayakan saja semuanya padaku—pada Kakakmu ini!”