Zeeta Dan Dunia Sihir

Zeeta Dan Dunia Sihir
Latihan yang Keras


__ADS_3

Angin dingin serasa menembus tulang. Penerangan yang remang menambah sunyi suasana. Bisikan-bisikan rumput yang terbawa deruan angin membuat seseorang yang sedang meringkuk di sana dapat tenang berpikir dalam diam. Dia hanyalah seorang anak kecil yang untuk kesekian kalinya diberi sesuatu yang mengejutkan dalam hidupnya, dan kali ini "kejutan" itu dari Aria lagi. Ia juga menyadari, bahwa kata-kata dirinya di “masa itu” adalah nyata adanya....


Mimpinya yang awalnya hanya ingin menguasai sihir seperti ayah angkatnya, Arthur, dan mengikuti jejaknya menjadi seorang koki, serta menjadi gadis desa biasa, telah tergerus oleh apa yang disebut takdir. Ia tidak mungkin menggapai lagi mimpi itu. Semuanya sudah berubah dan ia tidak bisa mengabaikan apa yang sedang terjadi di dalam hidupnya saat ini.


“Menguasai Catastrophe Seal secara mutlak, ya...? Pasti ada lagi yang mereka sembunyikan dariku tentang kebenaran dunia sihir ini. Ada sesuatu yang hanya aku yang bisa melakukannya, dan mereka tidak ingin membuatku terbebani....


“Kalian bodoh....”


Zeeta berdiri dan melemaskan tubuhnya. “Aku harus mengubah diriku. Aku tidak boleh terus terguncang dengan hal seperti ini. Nenek, juga leluhurku yang lain seperti yang diceritakan Aria, adalah orang yang teguh, kuat, dan juga tegar. Aku harus mencontoh mereka dan....


“Melindungi dunia ini!”


......................


Keesokan paginya, Zeeta berada di suatu padang rumput luas tak berujung bersama Hugo dan Lloyd.


“Zeeta, aku ingin kau menyaksikan kekuatan sebenarnya dari Lloyd,” kata Hugo.


“Eh, kenapa?” tanya Zeeta memiringkan kepala.


“Kenapa, katamu?! Tentu saja ini bagian dari tanding ulang kita! Iya, ‘kan, Tetua?” tanya Lloyd yang sudah berapi-api.


“Tidak. Ini hanya langkah pemanasan bagi Zeeta yang sudah serius menghadapi tantangan di hidupnya.”


“Eh...?” keduanya dibuat bingung.


“Tujuan akhirmu adalah untuk menguasai Catastrophe Seal. Tetapi sebelum itu aku ingin membuatmu terbiasa dengan melihat kekuatan besar yang nantinya akan menghadangmu, juga terbiasa dengan apa yang ada di sekitarmu.


"Dengan begitu, kujamin kau akan menjadi lebih kuat dan mampu melindungi apa yang ingin kaulindungi.”


Sementara Zeeta berbinar-binar, Lloyd sama sekali tidak senang mendengarnya. “Hah? Jadi aku harus menunjukkan kekuatanku untuk membantunya berlatih?


“Aku enggan!


“Dia sudah meremehkanku dan membuatku kalah dengan sihir anehnya, padahal sudah kubuat dia terluka agar dia menunjukkan keseriusannya padaku! Untuk apa aku harus membantu dia jika dia tidak bisa menghormati Elf?!”


“Baiklah,” jawab Hugo, “diam di situ dan saksikanlah sendiri. Zeeta, kau akan berlatih denganku.”


“A-ah, baiklah!” jawab Zeeta. Ia memandangi Hugo yang berjalan menuju tengah padang itu.


Tak lama kemudian, Hugo melayangkan dirinya sambil membuat bola sihir di telapak kanannya. Dengan melihatnya saja, Zeeta sudah bisa tahu bahwa bola itu akan meledak dengan daya yang dahsyat. Ia mengangkat tangan kirinya yang dilanjutkan dengan rapalan.


“Oh, wahai ibu dari segala makhluk sihir, Yggdrasil! Bila engkau adalah sekutuku jawablah aku!” cincin Catastrophe Seal-nya bersinar emas.


“Jangan-jangan, kau…?!” ujar Lloyd tak percaya apa yang dilihatnya.


“Kak Lloyd, tolong berlindunglah di belakangku!” perintah Zeeta.


“Hah?! Apa mak—“


“Cepatlah!”


Lloydpun segera melakukannya. Melihat reaksi cepat Zeeta yang segera mengeluarkan Catastrophe Seal, membuat Hugo tersenyum kecil. Catastrophe Seal yang bersinar emas itu berubah bentuk menjadi perisai berbentuk prisma yang berwarna emas di bagian ujungnya, dan putih di bagian dalam. Di tengah perisai itu terdapat pola pohon Yggdrasil yang bagian ranting dan batangnya terlihat seperti akar menjalar.


Zeeta melanjutkan rapalannya. “Apa yang ada di hadapanku adalah bencana yang harus dilenyapkan. Alam ... adalah tempat kembalinya mistik yang tersesat ini....”


“Mari kita lihat seberapa mampunya kau menahan kekuatanku...,” batin Hugo. Ia kemudian menjatuhkan bola sihirnya begitu saja. Bahkan sebelum mencapai tanah, bola itu meledak dan menghempaskan segala sesuatu hingga mencabik-cabik apapun yang disentuhnya. Disaat yang sama, Zeeta juga merapal bagian akhirnya.


“Segellah mereka! CATASROPHE ...  SEEAAALLL!”

__ADS_1


Perisai itu menjadi raksasa dan melindungi Zeeta dan Lloyd yang ada di belakangnya. Baru beberapa saat itu melindungi dan menyerap sihir Hugo, Zeeta yang menggertakkan giginya, membatukkan darah yang menyebabkan melemahnya si perisai—hingga menimbulkan beberapa luka sayatan di paha dan lengan, baik pada Zeeta atau Lloyd.


“Ka... Kak Lloyd, apa kau baik-baik saja?” tanya Zeeta.


“Cih, jangan hiraukan aku! Khawatirlah pada dirimu sendiri!”


“Hehehe, baiklah....”


“Kekuatan macam apa ini...?! Mungkin ini lebih hebat daripada milik guru Ashley...,” batin Zeeta yang masih dengan segenap tenaganya melindungi diri sendiri dan Lloyd.


“Jangan gunakan kekuatanmu saja! Gunakan mana di sekitarmu!” pekik Hugo.


Mendengarnya, Zeeta berusaha untuk menenangkan diri dan berimajinasi.


“Mana di Grandtopia berbeda jauh dengan mana alam di sekitar Aurora. Di sini terasa lebih pekat, kuat, dan lebih sulit dikendalikan.


“Zeeta. Percayalah pada dirimu sendiri jika kaubisa melakukannya!


“Lakukanlah dan buktikan!


“Buktikan jika kaubisa melindungi dunia!”


“HWOOOOOOHHHHH!!”


Lloyd terkejut dengan pemandangan di hadapannya. Mana-mana di belakang mereka terkumpul ke perisai itu dan memperkokohnya kembali. Tetapi, ada dampak yang terjadi pada Zeeta. Pakaiannya mulai robek dari bagian lengan dan kaki hingga menyebabkan banyak luka sayatan yang membuatnya semakin kesulitan memegang perisainya.


“Cih. Kauingin aku melihat kemantapan hati anak ini di depan mataku sendiri, dan membuatku membantunya, Tetua?! Kau memang Elf licik!” batin Lloyd. “Hei bocah!” pekiknya, “jika kau percaya pada Elf, lakukan apa yang kukatakan!”


“Baik!” balas Zeeta tanpa ragu.


Lloyd sedikit tercengang dengan respon cepat Zeeta.


“Jangan fokuskan perisai itu hanya untuk menyerang, tetapi balikkan ledakan ini ke tuannya sendiri!”


Zeeta memejamkan matanya lagi.


Hugo tersenyum melihat interaksi di hadapannya. “Ini belum seberapa, Lloyd, kau harus ikut andil dalam serangannya!” pekiknya dengan senyum riang.


“Tidak usah memberitahuku!” teriak Lloyd.


[Sementara itu....]


Ledakan dahsyat dari Hugo menggetarkan seluruh Grandtopia dan membuat seluruh Elf di dalamnya dibuat cemas. Banyak yang berprasangka ini adalah latihan dari Hugo, Lloyd, dan Zeeta, tetapi ada juga yang berprasangka ini adalah bentuk ancaman dari luar.


Tidak hanya dari Grandtopia saja, kerajaan Aurora juga bisa merasakan getaran dari tanah dan gerakan mana yang berubah-ubah. Ini baru hari keenam Zeeta absen dari kerajaan, tetapi mereka tahu latihan yang dilakukan Zeeta tidak main-main. Hal itu juga tersampaikan pada suatu pasukan yang di hadapan mereka berbaris Albert, Luna, Eclipse, dan Ozy.


“Rasakanlah getaran ini,” kata Albert, "getaran ini berasal dari tempat Tuan Putri kalian berlatih. Baru enam hari, latihan di sana terasa sangat menantang dan butuh keberanian, serta memerlukan pengorbanan nyawa untuk menyelamatkan apa yang berharga baginya.


“Bagi Tuan Putri kalian, kalian adalah yang terutama. Dia bahkan rela untuk mengorbankan kehidupan dan mimpinya demi kalian.


“Kami tidak merekrut kalian hanya untuk menyombongkan diri pada orang atau kerajaan lain. Kehadiran kalian adalah untuk melindungi! Ingat itu baik-baik!


“Bersumpahlah demi nama baik keluargamu, harga dirimu, atau demi orang-orang tersayang bagimu, jika kalian ingin melindungi mereka!


“Kalian adalah kebanggaan! Kalian adalah tombak dan pedang bagi kerajaan! Kalian adalah Pasukan Crescent Void! Gertakkan gigi kalian dan bersiaplah untuk latihan berat!”


“YAAAAAA!!!”


Diantara pasukan itu, terdapat Novalius de Dormant. Ia mengepalkan tangannya dan menarik napas dalam-dalam. Dia siap untuk melakukan latihan keras bersama tiga makhluk sihir itu.

__ADS_1


......................


Lloyd yang masih ada di belakang Zeeta mewujudkan sebuah cross bow, dimana anak panahnya terbentuk dari mana-nya sendiri. Ia kemudian menyipitkan matanya untuk berfokus pada Hugo. “Aku ini tidak disebut Elf Terkuat Nomor Dua hanya karena bualan


semata!”


‘PEW!!’


Lloyd menembakkan tiga anak panah sekaligus. Tetapi, anak panah itu segera lenyap diterjang dampak ledakan dari bola sihir Hugo. “Sudah kuduga! Hei, bocah! Saat aku beri tanda, lepaskanlah perisai itu dan fokuskan seranganmu pada pukulan seperti yang kaulakukan padaku!”


“Ba-baik!”


Lloyd mengulangi lagi tindakannya yang memanah Hugo dengan tiga anak panah mana-nya. Kali ini, anak panah itu lenyap sebelum mencapai area ledakan yang ditahan oleh perisai, dan tiba-tiba muncul lagi tepat di belakang Hugo.


“SEKARANG!!”


Zeeta melepas perisai itu, membiarkan ledakannya menggerus apa yang ada di hadapannya, sementara Zeeta sendiri berteleportasi ke belakang Hugo. Lloyd "mengirim" Zeeta dengan metode serangannya.


“A-apa?!”


‘POW!!’


Zeeta berhasil memukulnya dan membuat Hugo terkena ledakannya sendiri.


Zeeta yang terengah sedang dalam keadaan yang cukup mengkhawatirkan. Tangannya penuh luka yang menyebabkannya tremor dan tak mampu ia angkat. Ia bahkan tidak mengerti apa yang baru saja terjadi.


“Tunggu dulu.... Kenapa ledakan mana tadi berlangsung lama sekali? Tidak, bahkan ledakan itu jadi lebih kuat sejak aku memperkuat perisainya....” Zeeta menerka-nerka dengan apa yang terjadi. “Jangan-jangan Paman Hugo sengaja menekan mana-nya lagi sehingga memperlama waktu ledakannya...?


“Uwah! Tanahnya...!”


Tanah di bawah mereka berlubang sangat besar, hingga nyaris menyemburkan lava. Tidak, bahkan aliran lava sudah bisa terlihat akibat dari ledakan yang tampaknya sengaja diperpanjang Hugo itu.


“Jangan bilang kalau nanti aku disuruh memperbaiki ini?!”


“Ughuk uhuk!” suara Hugo terdengar dari seberang tanah berlubang. “Aku tidak sekejam itu. Biar aku sendiri yang melakukannya.


“Sialan, aku tak menyangka kau berteleportasi dengan mana-nya Lloyd....” Hugo menyembuhkan luka lebam ungu di pipinya. Ia tidak mampu melihat dengan begitu jelas sebab luka yang menghalangi pandangannya.


“Teleportasi dengan mana Kak Lloyd?” Zeeta turun menghampiri Hugo.


“Eh? Kau tidak diberitahu dia?


“Dia bisa menteleportasikan apapun yang sudah ditandai oleh mananya. Sebagai substitusi dari anak panahnya yang muncul dari belakangku, dia berhasil mengecohku. Hahahahaha!”


“Wah, Kak Lloyd hebat!”


“Tentu saja! Kau masih akan banyak berlatih jadi tidak perlu terburu-buru!”


“Aku siap!


“Tapi ... apa aku boleh minta disembuhkan dulu? Tanganku sama sekali tak bisa kurasakan, hehehe….”


“Kau?!” Hugo terkejut melihat kondisi Zeeta.


“Hmm? Ada apa?”


Hugo melihat rambut violet Zeeta memudar di beberapa bagian.


“Ah, tidak, aku akan segera menyembuhkanmu. Maafkan aku karena sudah kelewatan.” Hugo segera menyembuhkan luka parah di tangan Zeeta.

__ADS_1


“Ahahaha, tidak apa. Lagi pula ini juga bagian dari persiapanku. Aku sudah siap dengan hal seperti ini!” Zeeta membalasnya dengan senyum riang.


“Tidak mungkin…. Kenapa?! Kenapa poros waktunya masih sama?! Seharusnya Zeeta tidak mengalami perubahan seperti ini!”


__ADS_2