Zeeta Dan Dunia Sihir

Zeeta Dan Dunia Sihir
Langkah Menuju Kebebasan


__ADS_3

Dini hari, dimana waktu seharusnya di titik yang paling dingin, terutama ketika musim dingin akan menyambut, tiga anak perempuan sekawan sedang berada di tepi danau sedang merencanakan sesuatu.


Tidak, mereka tidaklah kedinginan. Ini dikarenakan Azure dan Mellynda sudah berlatih di suhu yang ekstrem, sehingga membuat tubuh mereka jadi memiliki antibodi yang lebih kuat, juga dibantu dengan sedikit sihir mereka. Sedangkan untuk Zeeta, ia tidak merasakan dingin karena alat sihir yang dibuat oleh Axel Si Dwarf.


Tampilan alat sihirnya memang hanya seperti alat scuba diving, namun kegunaannya lebih dari itu. Seperti namanya—alat sihir—ia tidak berfungsi untuk satu-dua hal saja.


Ketika membuat alat sihir, para pengrajin seperti Axel—layaknya pengrajin pada umumnya—menciptakan alat-alat mereka dari berbagai bahan. Yang membedakan ketika membuat alat sihir, para pengrajin harus menyesuaikan mana serta kegunaan yang diinginkan pelanggan untuk diaplikasikan pada alat.


Misalnya, pada alat bernapas yang dipakai Zeeta, Axel sudah menaruh mana dalam jumlah tertentu pada alat tersebut, disaat yang bersamaan, ia juga mengimajinasikan akan seperti apa kegunaannya. Ia akan membantu Zeeta bernapas di dalam air, melihat di kedalaman tertentu air, membuatnya tetap hangat meski disuhu yang dingin, juga membantunya berenang.


Pada konsepnya, para pengrajin sama saja seperti menyihir suatu benda agar kegunaannya lebih bervariasi, namun tetap saja mereka memiliki batasan. Diantaranya, mereka menempa alat-alat tersebut benar-benar dari awal, goresan demi goresan, lalu harus memperkirakan DENGAN TEPAT seberapa besar rata-rata mana yang bisa dimasukkan ke dalamnya. Jika mereka gagal, alat itu bisa saja hancur, dan mereka harus mengulang lagi dari nol.


Pada beberapa waktu yang lalu, ketika Zeeta meminta dibuatkan alat sensor—yang jika dipikirkan secara rasional tidak mungkin dilakukan sebab itu mencakup seluruh kerajaan—Axel justru membuktikan bahwa bengkelnya mampu mewujudkannya. Dengan kata lain, jumlah permintaan barang di Axel's Workshop melonjak tinggi sejak saat itu.


......................


Zeeta saat ini sedang menyelam dan semakin mendekat ke batu raksasa yang menyerupai pintu dan berlambangkan bulan tak bercahaya itu. Untuk sekali lagi, ia memastikan bahwa tidak ada akar yang muncul dari balik tanah yang jadi pondasi istana di atasnya itu berdiri. Kendati demikian, ia masih tidak begitu mengerti, mengapa orang tuanya harus merahasiakan banyak hal dari orang-orang yang bisa mereka percayai? Contohnya seperti Ashley dan bangsawan utama lain, mereka tidak tahu tentang ibunya bisa menggunakan mana alam. Namun, ia tetap fokus untuk melakukan apa yang ayahnya minta lakukan.


Sebelum ia terbangun dari lelapnya, ayahnya berpesan, "Dini hari ini bulan baru tiba. Kau dan ibumu akan jadi manusia biasa, dan inilah saatnya dirimu membantu kami membuka segelnya."


"Segel? Segel apa?" tanya Zeeta.


"Ibumu menghalangimu mendekati batu berlambang bulan di dalam danau, 'kan?"


Zeeta mengangguk.


"Kau harus membuka segel itu dengan anting bulanmu. Tetapi, kau perlu membawa teman untuk mengatasi dampak ketika segel itu terbuka. Mereka harus bisa menahan atau menangkis sihir dalam jumlah besar dalam waktu yang lama. Kesempatan ini hanya ada malam ini saja.


"Jika kita melewatinya, kita harus menunggu delapan tahun lagi."


......................


"Hahahah... aku jadi terbiasa dengan beban seperti ini... tapi aku harus bisa! Aku mengandalkan kalian, Mey, kak Azure!" batin Zeeta, yang sebentar lagi sampai di batu berbentuk pintu.


"Kalau dipikirkan lagi, ruang bawah tanah di bawah bengkel paman Axel kan katanya dimensi buatan ibu... jadi, apa akar raksasa ini juga....


"*Kalau itu benar....


"Uahh... aku jadi tahu perasaan orang-orang saat aku memakai kekuatan besarku*...."


Zeeta sampai tepat di depan batunya. Bentuk bulan itu bulat sempurna, dengan garis-garis yang memisahkan masing-masing fase—seperti perbasi, sabit, dan lainnya. Di tengah pola bulan tersebut terdapat lubang yang cukup untuk menaruh anting bulan Zeeta. Ketika ia meletakkannya....


'BWOOOOMMMM!!'


Akar raksasa di istana mulai menggeliat dan membuat seluruh kerajaan bergetar dan gempar seketika.


"Sialan, Zeeta itu! Kenapa tidak beri tanda kalau dia akan menaruhnya?!" keluh Azure, sambil mengeluarkan Buku Sihirnya.


"Moohh~ kalau tahu seperti ini jadinya, lebih baik kuserahkan pada Danny saja!" keluh Melly, yang juga bergegas memakai sihir dari Buku Sihirnya.


"Tutup mulutmu dan fokuslah!"


"Aku tahu!!"


Azure dan Melly membuat penghalang dari sihir-sihir mereka untuk menahan "buasnya" akar raksasa itu. Sihir kegelapan Azure membuat akar-akar itu meleleh, sementara sihir kristal Melly membuat akarnya membeku.


......................


[Sementara itu....]


Di semua rumah yang masing-masing penghuninya, termasuk Ashley yang sedang terlelap, dikejutkan oleh gempa yang bersumber dari istana. Semua rumah segera menyalakan lampu dan bergegas keluar untuk melindungi diri dan memastikan apa yang terjadi. Mereka segera panik ketika melihat akarnya menggeliat.


"Demi Aurora, apa yang terjadi?!" seru Ashley terkejut, mencoba menyeimbangkan diri dari getarannya dan bersiaga dengan bangunan yang bisa saja rubuh.


Dari jendela kamarnya, ia bisa melihat akar raksasa di istana sedang membuas dan terdapat dua jenis sihir yang sedang menahannya.


"Apa yang—" Ashley menerka apa yang terjadi. "Jangan-jangan...? Sialaaan! Kenapa mereka selalu merahasiakan sesuatu seperti ini, sih?!" Ashley segera mengganti piyamanya dengan pakaian resmi Grand Duchess-nya dengan sihir. Kemudian, ia segera bergegas ke istana dengan sihir terbangnya untuk melihat sendiri apa yang sedang terjadi.

__ADS_1


Tak lama kemudian, ia disusul oleh bangsawan utama lainnya.


"Grand Duchess, apa yang terjadi?!" tanya Willmurd, yang sedikit berteriak karena angin dan bunyi dentuman dari akar.


"Alicia akan keluar!"


"A-apa?!" Porte dan Hellen terkejut.


"Apa itu pasti?!" tanya Willmurd.


"Ya. Cara mengendap-endap tapi menimbulkan dampak besar ini... selalu dilakukannya!"


......................


Lima belas tahun yang lalu, Alicia Aurora XX, masih berusia tujuh belas tahun. Ia masih dilatih oleh Ashley tentang bersihir, tetapi ia tidak begitu tertarik dengan pelajarannya, dan lebih memilih bereksperimen dengan kekuatannya yang besar.


Suatu pagi, Alicia berada di sebuah ruang di istana. Suasananya cerah, cahaya mentari membuat ruang itu terasa sehat dan hangat. Ruang itu berisi beberapa botol dan mangkuk kimia. Alicia sendiri memakai baju santainya, yang merupakan gaun pendek ungu bermotif bunga hitam, dengan berlapiskan jubah kain sepanjang selimut yang menutupi tengkuk hingga pahanya. Ia mengaitkan jubah tersebut di depan dadanya dengan bros zamrud. Ia sedang duduk membelakangi matahari, dan membuat sesuatu dari sihirnya.


"Kalau aku berimajinasi dengan benar, maka apa aku bisa membuat makhluk sihir juga...? Apa mereka bisa berbicara? Apa mereka bisa bernapas? Apa mereka bisa... bergerak?" batinnya, ketika ia fokus dengan memejamkan mata.


Mana warna-warni terkumpul di kedua tangan yang ia buka seperti mangkuk. Perlahan tapi pasti, mana-mana tersebut berkumpul menjadi satu, dan terbentuklah kupu-kupu bercahaya emas dan menjatuhkan butiran-butiran sihir.


"Wah... aku berhasil!" seru Alicia. Wajahnya sumringah dan rona di pipinya pun tampak. Tetapi tak lama kemudian, kupu-kupu itu hancur dan kembali menjadi butiran mana. "Ciih...." Ia merajuk. Bibirnya ia manyun-kan. Ia kembali mencoba dan terus mencoba mengulangi hal yang sama, sampai sore telah tiba. Orang yang datang menemuinya kala itu sama sekali tidak senang.


'DUAR!!'


Seseorang membanting pintu.


"Di sini kau rupanya, Anak Perempuanku...." Aura kematian timbul tak berhenti.


"Geh?! Ibu?!" Alicia terjatuh saking kagetnya.


"Melupakan sarapan, melupakan makan siang, bahkan melupakan latihanmu dengan Ashley, kaupikir kau siapa berani melakukan ini?!" bentak Scarlet, "sedang apa kau sendirian di sini?!"


"A-aku hanya... me... mencoba bereksperimen!"


"Soalnya... aku ingin tahu...." Suaranya pelan karena emosi sang Ibu.


"Kalau beralasan, katakan yang jelas!"


"A-aku ingin tahu, apakah aku bisa membantu anakku kelak di ramalan Ratu Peri dengan makhluk sihir buatanku!"


Scarlet segera membisu. Ia meredakan emosinya.


"Tak perlu memaksakan dirimu. Kau sudah membuat banyak orang khawatir. Ayo, lekas makan dan aku akan membantumu."


"E-eh...? Benarkah...?"


"Hah?! Apa kauingin aku emosi lagi?!"


"Ti-tidak! Aku akan melakukannya!" Alicia segera berlari dan melakukan apa yang diperintahkan.


"Dasar.... Setidaknya beritahu ibumu, dasar anak bodoh," batin Scarlet.


Beberapa hari selanjutnya, ruang yang sama meledak dibarengi asap hitam dan memecahkan kacanya.


"Tuan Putri, Anda baik-baik saja?!" seorang pelayan segera masuk ke ruangan, memeriksa Alicia di balik asap hitam.


"Uhuk uhuk... ya, aku tak apa. Maaf membuatmu ... uhuk, khawatir." Alicia mengibas asap hitam itu keluar dan mengembalikan kaca yang pecah seperti semula.


"Kali ini... apa yang Anda lakukan?" tanya Si Pelayan.


"Aku mencoba mengubah sihir yang sudah jadi, kembali ke bentuk mana dan memasukkannya ke dalam botol. Dengan begini, kapanpun anakku di masa depan kesulitan, kuharap ini akan membantunya!" Alicia menyuguhkan senyum lima jari, meski tubuhnya bernoda hitam.


Lalu hari-hari eksperimennya terus berjalan, hingga di waktu ia berkunjung ke Axel's Workshop, setelah mengetahui ada Dwarf di kerajaan dari ibunya. Ia berniat mempelajari makhluk sihir dari makhluk sihir itu sendiri. Sebenarnya, Alicia bisa melakukan itu pada Morgan yang diutus Feline untuk Scarlet, tetapi Scarlet sedang menaruh curiga padanya.


.

__ADS_1


.


.


.


Axel telah berbincang dengan Alicia, dan menyuruhnya untuk bicara pada Myra. Setelah Alicia bicara, Myra bertanya, "Untuk apa kau melakukan ini semua? Hanya karena anakmu di ramalan itu?"


Alicia tersentak. "Iya, itu benar."


"Kauyakin?"


"Me-memangnya kenapa...?"


"Aku sudah hidup berdampingan dengan kalian para manusia selama ribuan tahun. Aku sudah terlanjur nyaman hidup di sini, jadi jika aku mendengar tuan putri selanjutnya diberi beban seperti ini oleh ibunya sendiri, aku merasa ragu dia mampu mengembannya."


"Beban...? Aku ingin—"


"Kebaikan itu akan membuatnya terbebani, Tuan Putri. Jangan remehkan pikiran luas dan rapuh seorang anak kecil. Mereka pun bisa terbebani dengan kebaikanmu.


"Anak itu bisa berpikir, 'ibuku sudah berjuang keras sejauh ini demiku, jadi aku harus bisa!', tetapi itu justru membuatnya membatasi potensinya yang sebenarnya."


"Apa maksudnya...?"


"Kalian adalah keluarga kerajaan. Kalian tidak hanya bertanggung jawab atas kehidupan kalian sendiri, tetapi rakyat kalian juga.


"Kalau tiba-tiba anakmu disuguhkan kekuatan ibunya yang sudah matang, ia akan terfokus untuk mengejarmu, bukan mengembangkan potensinya sendiri.


"Dan itu, sangat buruk bagi seorang tuan putri. Apa kauingin kejadian tabu keluarga kerajaan terulang lagi?"


"I-itu...." Alicia membungkam diri sesaat. "Lalu, apa yang harus kulakukan...?"


Myra tersenyum kecil. "Sederhana. Mengarahkannya."


"Eh? Tapi...."


"Aku tahu. Kau tidak pernah disebutkan dalam ramalan itu untuk hidup bersamanya. Tapi, ada cara bagaimana kaubisa mengubahnya menjadi kesempatan membalas Peri-Peri itu.


Alicia bermimik serius. "Aku akan mendengarkan!"


.


.


.


.


[Beberapa bulan kemudian....]


Ashley digandeng Alicia ke Axel's Workshop. "Ada apa kau menarikku seperti ini?" tanya Ashley.


"Tentu saja, sebuah kejutan. Kejutan padamu tentang aku yang sudah berkeeeembang pesat!" Alicia begitu semangat.


"Oho~ menarik."


Ketika mereka sampai, Ashley dibuat menganga dengan "ruang dimensi" bak hutan dilengkapi air terjun. Kala itu, tidak ada makhluk yang menghidupinya.


"APA-APAAN INI?!" pekik Ashley.


Wajah sumringah puas memperlihatkan bagaimana perasaan Alicia. "Ini adalah hasil kerja keras dan sihirku. Bagaimana, hebat, 'kan?" senyum smug ditunjukkannya.


"Sejak kapan—bagaimana—apa yang.... Kkkhhhh kau ini selalu saja!" Ashley mengaitkan lengannya di kepala Alicia. "Hebat sekali, Nak!"


......................


Ashley usai mengingat masa lalunya. Ia kembali fokus menuju istana.

__ADS_1


"Sialan, sejak kapan anak itu mengisi ruang bawah tanahnya dengan banyak makhluk seperti itu?!" batinnya, "tapi aku sangat bersyukur, kau akan kembali. Andai saja Scarlet ada di sini...."


__ADS_2