
Mata berwarna kuning yang seakan menyala, telunjuk dan jempol kiri yang dibentuk seperti sebuah pistol, diarahkan tepat pada kepala seorang gadis remaja dari Kekaisaran Seiryuu, Aira. Pemilik mata yang sama, juga telah mengakhiri hidup dua orang rekan yang ikut bersama Aira, Kira dan Kino, yang terdapat lubang di dada kiri keduanya. Tubuh mereka bersimbah darah dari lukanya.
‘PEW!’
Sinar kuning melesat dari jemari L’arc—sang pemilik mata—dengan niat yang sudah bulat untuk benar-benar membunuh Aira. Dan targetnya itu, memang tergeletak lemas di pasir ... namun....
Kilat-kilat emas membekas di pasir dimana Aira sebelumnya berada. Di situ juga terdapat lubang kecil dengan kedalaman yang tak dapat diukur—sebuah lubang yang serupa dengan yang diderita Kino dan Kira.
Melihat kilat emasnya, L’arc mengernyit. Ia merasakan mana aneh dari kilatan emas itu, sehingga ia melihat kemana aliran mana aneh itu berasal.
Danny.
Dari situlah mananya berasal.
Dia menyelamatkan Aira yang telah pingsan setelah menerima tekanan mental yang tinggi. Jourgan diberi kepercayaan untuk menjaganya.
“Siapa kau?” tanya L’arc.
“Danny Bloomy, salah satu anggota Crescent Void,” balas Danny, yang menatap emosi L’arc.
“Perasaan ini ... aku mengenalnya....
“Ya.
“Naga dan Dwarf.”
L’arc mengernyit sambil menatap Danny. Ia sadar akan sesuatu. “Kau ... dari Aurora?!”
Danny mewujudkan dua bilah pisau kembar—senjata sucinya—lalu beraba-aba. “Tidakkah jelas untukmu? Dimana lagi tempat di dunia sekarang ini, yang ditinggali oleh makhluk berbagai ras?!” ia melapisi senjatanya dengan aura emas yang sama seperti sebelumnya.
Merespon jawaban Danny, L’arc menekan keningnya, kemudian terbahak. “Huhuhahahaha!
“AKHIRNYA!
“Akhirnya kesempatan ini datang lagi padaku!
“Sudah kuduga, aku memang terpilih untuk menyelamatkan dunia, dengan tanganku sendiri, tanpa harus diganggu oleh Sampah-Sampah tak berguna ini!
“HAHAHAHAHAHA!”
Jourgan dan Cynthia dibuat ngeri atas tawa dan ucapannya.
“Kak Jour, Putri Cynthia, sebaiknya serahkan orang ini padaku.”
Jourgan mengerti apa maksudnya, pun dengan Cynthia.
“Berfokuslah pada apa yang ada di depanmu, Dan! Sisanya serahkan pada kami!” seru Jourgan sambil menggendong Aira masuk ke dalam air. Sama sepertinya, Cynthia juga menggendong kakak perempuannya yang tidak sadarkan diri dan diekori oleh Jourgan setelahnya.
__ADS_1
Mengabaikan perginya mereka, masih dalam perasaan lucunya, L’arc bertanya, “Hei hei hei ... apa kau benar ingin menantangku, Sang Pengembara Zaman yang telah hidup selama lima ratus tahun?
“Serius?”
“Entahlah." Danny mengangkat kedua bahunya, yang mengisyaratkan ucapannya sendiri. "Aku tahu kau memiliki mana yang sangat gila, tiga Roh Yggdrasil bersamamu, bahkan secara samar aku pun merasa aku harus lari darimu," sambungnya.
“Hoho, kau peka juga ternyata. Lantas, mengapa kau masih percaya diri? Kesombongan takkan membawamu pergi ke langit yang lebih tinggi, lo.”
Danny menyeringai. “Kubalikkan padamu, meremehkan lawan justru membawamu sial, lo, Kakek Tua Sialan...!”
“Grk!” Danny langsung menyulut emosi L’arc.
“Ngomong-ngomong, aku ingat Zeeta bercerita tentang ingatan Ifrit yang mendengar percakapanmu dengan Lucy. Dan tentu saja, yang kumaksud adalah Lucy mengatakan apa yang BARU SAJA kaukatakan....
“Tidakkah kaupikir itu sebuah ironi...?
“Terinspirasi oleh seorang Bocah Tengik, kah, Kakek Tua?!
“Kauingin membuatku merasa ingin lebih rendah darimu, dengan ucapan yang kaucuri dari orang yang telah menjelek-jelekkanmu?
“Pfft. Ayolah, dasar payah!”
‘BWUUMM!’
“Sudah kubilang jangan sombong!”
Ketika air menenggelamkan mereka, Danny masih memiliki keuntungan karena memiliki “izin” yang membuatnya mampu bernapas dan bergerak di dalam air. Sementara L’arc yang dalam kondisi menahan napas, membuat tornado dengan putaran telunjuk kanannya, serta menjadikan Danny sebagai korbannya.
Begitu Danny termangsa, L’arc langsung memanggil Roh bertudung hijau untuk memberinya kemampuan yang serupa dengan Danny.
......................
Cynthia membawa Jourgan ke dalam istana emas bawah lautnya. Bunyi pertarungan antara Danny dan L’arc membuat Jourgan cemas—apakah serangan mereka bisa mencapai sini dan merusak istana dan melukai mereka yang tak sadarkan diri?
Menanggapi kecemasannya, Cynthia langsung berkata ditengah larinya, “Tenang saja. Istana ini teraliri oleh kekuatan Batu Jiwa. Walau kerusakan apapun yang diterima bagian luar, segala serangan mustahil menghancurkannya jika Batu Jiwanya tidak dipindahkan.”
“Ya ampun, bagaimana kaubisa tahu apa yang kupikirkan?” tanya Jourgan. Ia tidak menduga Cynthia bisa mengetahuinya.
“Aku tidak mengetahuinya seperti aku bisa membaca pikiranmu, tapi aku memerhatikanmu.”
“Geh....” Jourgan memberi ekspresi jijiknya. “Kau melakukan apa yang Danny lakukan?”
“Fufufu.” Cynthia terkekeh. “Aku masih belum seberapa, kok.”
“Tapi, Cynthia, aku masih tidak begitu paham.... Jika dirimu sekuat yang kami saksikan dan rasakan sendiri, lalu mengapa ... uhm ... kakak-kakak dan orang tuamu...?”
Cynthia langsung menjawabnya tanpa ragu. “Aku pasti akan menceritakannya. Tapi, prioritas kita saat ini....”
__ADS_1
“Ya-yah, kau benar. Maafkan aku.”
.
.
.
.
Keduanya kemudian sampai di sebuah ruang tanpa air yang diisi oleh empat kasur yang lunak. Tanpa bertanya apapun, Jourgan mengikuti langkah Cynthia yang menidurkan kakaknya di salah satu kasur pada Aira. Mereka ditidurkan bersebelahan.
Setelah mereka menidurkan yang tak sadarkan diri, mereka langsung disambut oleh getaran-getaran dari istana yang menjatuhkan debu dari berbagai sudutnya.
“Ba-baru saja ditinggal, dampaknya sudah seperti ini?” tanya Cynthia, yang tercengang, “pria itu... tidak, rekan pria itu sudah membunuh ibuku, juga menyandera kakak dan ayahku...."
Alis Jourgan berkedut atas ucapannya, namun ia memilih untuk diam.
"Aku tidak mampu bereaksi apapun seperti kalian... bahkan Danny pun menyelamatkan Aira dengan sangat cepat.
"Jika Danny tidak menyuruh kita untuk percaya padanya, aku ragu bisa menggerakkan kakiku dari sana...."
"Cynthia...." Jourgan menatap iba putri kerajaan di depannya. Ia kemudian memeluknya.
"Sebagai Putri Ketiga Orsfangr, aku malu pada diriku sendiri... tapi... siapa sebenarnya pria itu? Apa kautahu, Jourgan?"
Jourgan melepas pelukannya lalu mengangguk. “Dia adalah mantan Benih Yggdrasil dan sudah hidup sepanjang lima ratus tahun. Dia bahkan lebih tua dari Tetua kami.”
“Lima ratus tahun?!” seru Cynthia, “dia hanyalah bocah yang bahkan lebih muda dari kakak keduaku!”
“Ka-kamu juga bahkan lebih muda dariku, lo....” Jourgan tak habis pikir.
“Yah, kesampingkan soal itu untuk sekarang," ujar Cynthia, yang mengalihkan pembicaraan, "aku akan memberitahumu tentang Batu Jiwa yang kami jaga. Tapi....” Ia melirik Aira yang terlelap.
......................
Danny yang terkena serangan tornado dari jari telunjuk L’arc, membebaskan diri dengan menyelimuti dirinya dengan sihir angin dan memutarnya melawan arah putaran tornado ditambah dengan bilah pisau kembar yang terlapisi aura emas. Usai keluar, Danny langsung mengganti lapisan aura kedua bilahnya. Pisau kanannya dengan sihir tanah dan pisau kiri dengan sihir api. Kedua sihir itu mengubah bilahnya menjadi cokelat dan merah.
Melihat Danny hendak melakukan sesuatu, L’arc tidak tinggal diam, ia menerobos air dengan tekanan dari kakinya. Ia meluncur seperti roket—bahkan ia tidak melambat walau ada air menghalanginya. Menyadarinya, Danny yang sudah siap langsung melakukan tindakan dengan menebas pisau kiri, mengubah tebasannya menjadi air suhu ekstrem—menimbulkan gelembung—bahkan sekilas membuat air menjadi merah terang.
L’arc yang sudah melontarkan dirinya, mau tak mau harus menyilangkan tangan dan bersiap diri akan suhu panasnya dengan melapisi lengannya dengan bantuan salah satu Roh Yggdrasil-nya.
Sesuai rencananya, Danny langsung menggunakan bilah kanannya yang tebasannya menembakkan bebatuan sedang dengan bermacam bentuk, seperti runcing, bola, atau bebatuan pada umumnya—dan ketika melewati air bersuhu ekstrem tersebut, bebatuan itu langsung bersuhu yang sama dan berhasil melukai beberapa bagian tubuh L’arc.
“Sialan...!” dengan beberapa luka bakar yang langsung sembuh, L’arc mengguncang lautan dengan melontarkan Danny ke langit bersama dengan air dan biota lautnya. Saat itulah getaran di istana terjadi.
“Astaga ... berlebihan sekali.” Danny mengomentari serangan L’arc yang mampu memberi luka sayatan di sekitar lengannya. “Tidak hanya ingin melemparku saja, dia pun kesal dengan serangan kecilku dan langsung membalasnya dengan ganas. Jika begini, sudah jelas siapa yang lebih kuat....
__ADS_1
“Tapi ... mana mungkin aku menyerah. Tekadku untuk Zeeta sudah bulat sejak lama!”