Zeeta Dan Dunia Sihir

Zeeta Dan Dunia Sihir
Sirkuit Sihir


__ADS_3

Zeeta dan Scarlet kembali terdistorsi dan bertemu Galkrie. Entah seperti apa rasa terkejut mereka dengan apa yang baru saja dilihat, mereka tetap masih merasa puzzle tentang garis keturunan, serta alasan mengapa Feline mengatakan Zeeta akan menghancurkan dunia, semua itu belumlah terjawab seutuhnya.


Yang telah mereka pelajari dari penglihatan-slash-kilas-balik adalah bagaimana mereka, sebagai Aurora, mendapatkan kekuatan bulan. Namun, selain puzzle tentang garis keturunan dan alasan Feline, puzzle tentang hubungan bulan dengan Yggdrasil, sehingga bisa melahirkan kekuatan diluar nalar semua makhluk di dunia, mencuat dari kepala mereka. Kemudian, tentang kekuatan matahari yang dimiliki Levant, mereka juga tidak mengetahuinya.


Terjawabnya satu puzzle, malah menambah puzzle lain. Tapi setidaknya, Galkrie mungkin bisa menjawab puzzle-puzzle tersebut, sebagaimana yang kedua bangsawan kerajaan itu harapkan.


"Anu... Kakek Galkrie...," panggil Zeeta, dengan sedikit ragu. "Bolehkah aku bertanya?"


"Jika itu bisa kujawab," balas Galkrie.


Scarlet memandangi Zeeta. Ia pun penasaran apa yang hendak ditanyakan cucunya.


"Jika semua yang telah Kakek tunjukkan ini nyata adanya... apakah Kakek adalah Gala itu sendiri? Soalnya ... dirimu...."


"Tidak," balas Galkrie cepat, "aku adalah keturunannya."


"Eh? Keturunan?" Zeeta mengerutkan alis. "Tapi ... kelompok Gala adalah kelompok terakhir umat Manusia kala itu, 'kan? Lalu bagaimana...?"


"Pikirkanlah dengan baik, Zeeta," celetuk Scarlet, yang menarik perhatian Zeeta. "Dryad itu mengajaknya ke suatu tempat. Tidak mungkin seorang Penjaga Hutan mengundang orang acak ke tempat yang disebut 'tanah yang tidak menghargai kehidupan' seperti ini.


"Jika kauselaraskan, hanya satu tempat di dunia ini, yang sudah eksis sejak zaman ini, yang memungkinkan dijuluki 'tanah yang menghargai kehidupan'."


"Ah, Hutan Sihir Agung?!"


"Kalian benar," timpal Galkrie, "tetapi sayangnya, kalian tidak memiliki waktu lebih untuk berlama-lama di sini." Scarlet menyadari ada yang aneh dari kalimat itu. "Tetapi sebelum benar-benar berpisah, aku akan memastikan ini....


"Zeeta, apa kautahu mengapa kau tidak bisa bersihir di sini?"


"Uhm. Tentu saja aku tahu." Zeeta memasang wajah seriusnya. "Raksasa Ozy memberitahuku. Pada dasarnya, mengapa Manusia tidak boleh menghabiskan mana untuk bersihir, adalah karena sirkuit sihir di dalam tubuh masing-masing individu, layaknya sebuah wadah yang menyimpan energi. Energi itu memungkinkan mereka mewujudkan sihir.


"Sederhananya, dalam pengetahuan zaman sekarang, wadah itu disebut sebagai baterai. Jika baterai itu habis begitu saja secara tiba-tiba, nyawa akan melayang.


"Itulah yang terjadi padaku. Musuhku menghancurkan sirkuit sihirku sebelum aku bisa menyerangnya."


Galkrie tersenyum. "Tetapi, bukankah kaubisa menggunakan Rune? Kenapa kau tidak menggunakannya?"


"HAH?!" Scarlet amat terkejut mendengarnya.


"Seele juga bilang begitu padaku.


"Aku punya alasan mengapa tidak sanggup—bukan ... tidak segera menggunakan Rune untuk mengalahkan musuhku.


"Begitu aku melihat waskita dari Rune yang kupelajari saat dia akan menyerang sirkuit sihirku dengan satu serangan dan memaksaku terluka fatal, aku pun melihat siapa dia.

__ADS_1


"Dia adalah Benih Yggdrasil dari ratusan tahun yang lalu, dan menyimpan dendam besar padaku.


"Aku....


"Sejak lama aku sudah diajari bahwa aku tidak boleh seperti bangsawan yang hanya memikirkan diri sendiri, yang pada akhirnya menimbulkan kejahatan pada diri dan orang di sekitarnya.


"Ketika aku paham bahwa dia memiliki dendam, aku hanya tak bisa... untuk melawannya. Dia Benih Yggdrasil yang sudah mencari Benih Yggdrasil lain, tetapi waktu malah mengeroposinya.


"Kupikir, jika aku menerima serangan itu, aku masih bisa menggunakan sihir untuk menutup lukanya, tetapi aku salah perhitungan."


Galkrie masih tetap tersenyum. Ia kemudian menjawab Zeeta. "Karena itulah Ifrit marah padamu!"


"Eh?" Zeeta mengingat geraman Ifrit padanya. "Tapi ... kenapa?"


"Tu-tu-tunggu dulu tunggu dulu! Apa yang sebenarnya kalian bicarakan?! Rune? Ifrit? Ada apa dengan semua itu?!" seru Scarlet.


Sayangnya Nenek bercucu dua itu tak mendapat kesempatan untuk mendapat jawabannya. Tubuh keduanya perlahan lenyap seperti butiran cahaya.


"Oh? Waktunya sudah tiba. Sebagai penambah untuk alasan Seele mengundangmu ke sini, adalah untuk memperkokoh keputusanmu, Zeeta Aurora. Apapun yang kauputuskan dan bagaimana akhir itu tercapai, jangan sampai kau menyesalkan keputusan itu.


"Kelak, dimana akhir itu akan terjadi, aku akan kembali untuk mempersatukan semuanya." Tiba-tiba di belakang tubuh Galkrie, muncul bola air raksasa.


Zeeta teringat pemandangan ini. Pemandangan di hadapannya ini mengingatkannya pada mimpi spesifik yang dilihatnya bertahun-tahun lalu. Mimpi dimana ia melihat kilasan-kilasan Aria, Hutan Sihir Agung, Maisie, dan seseorang di depan bola air raksasa.


"Ah... begitu, ya...." Zeeta tersenyum kecut. "Mari kita bertemu lagi, Kakek Galkrie... di waktu yang telah menantiku." Usai mengucapkannya, Zeeta dan Scarlet lenyap dari Fyrriheim.


Ifrit yang menguasai tubuh Zeeta dan Ashley masih berseteru. Pertarungan sengit tiga menit mereka belum berakhir. Di langit ada Ashley yang memegang trisula, dibawahnya ada Ifrit yang menatapnya.


"Waktuku tersisa dua menit lagi.... Bila seranganku dalam mode ini saja sulit untuk melukainya, aku tak punya pilihan lain selain mengerahkan seluruh tenagaku!" batin Ashley.


"Roh Ifrit!" jerit Ashley dalam mode Goddess of Thunder-nya, "ini adalah seluruh kekuatanku! Aku akan mempertaruhkan segalanya jadi kau pun keluarkanlah segala yang kaumiliki!"


Ashley menggunturkan petir-petir untuk menyambar Ifrit, bersama dengan dirinya yang menerjang Ifrit dengan trisula petirnya.


"Baiklah. Tekad itu akan kuladeni hingga selesai!" balas Ifrit.


"HAAAAA!!" Ashley mengarahkan petir-petir yang turin dari langit itu layaknya benang dengan tangan kirinya. Satu demi satu, atau kadang tiga hingga lima sekaligus petir ia sambarkan kepada Ifrit.


"Cih, kalau seperti ini mana bisa kufokus bertahan!" gumam Ifrit. Ia berusaha menghindari petir-petir itu dengan memutar tubuhnya ke sana dan kemari. Gerakannya begitu gemulai hingga membuat kesal Ashley.


"Kalau begini, bagaimana?!" Ashley menyambar Ifrit dengan puluhan petirnya. Namun, seperti yang diduganya, petir itu meleset lalu menghancurkan pulau layang lebih parah lagi. Ashley yang telah membacanya, berteleportasi ke depan Ifrit, kemudian meng-upper-cut perutnya dengan tangan kanan yang ia putar ke kiri sedikit ketika melandas di perut.


"Rasakan ini!" Ashley seperti mengubah aliran kekuatannya, kemudian....

__ADS_1


"Guhakk!" Ifrit memuntahkan darah. "A-apa?! Apa itu barusan? Dia tidak menggunakan mana, ataupun kekuatan petirnya...."


"Hahah... ternyata itulah kelemahanmu...." Ashley mulai tampak pucat.


.


.


.


.


Azure yang menukik menuju Zeeta (Ifrit) dan Ashley berada, bisa melihat sambaran petir yang begitu dahsyat hingga menjalar kemana ia terbang, bahkan beberapa sambaran jatuh ke tanah dan menggosongkan segala yang disambarnya.


"Gila! Apa-apaan ini?!" Azure bertahan dengan sihir kegelapan berbentuk lubang hitamnya. "Apa yang sebenarnya kusaksikan sekarang?!"


.


.


.


.


Ifrit menyeka darahnya. "Hentikan tindakan percuma ini, Goddess of Thunder.... Jika kau memaksakan diri lebih jauh, kau hanya akan mati!"


"Heh!" Ashley menyeringai. "Roh sepertimu takkan mengerti betapa penting kehidupan yang sedang kaurebut itu bagi kami! Jika nyawaku adalah bayarannya, demi menyelamatkannya, aku rela mengorbankannya!"


Ifrit menatap dalam mata Ashley. "Manusia adalah makhluk bodoh, tetapi disaat yang sama mereka bisa memperbaiki kebodohan itu. Layaknya makhluk sihir, bila kami sadar dengan perubahan dunia, maka kami pun bisa memperbaiki diri.


"Jika nyawa anak ini adalah hal berharga bagimu, maka kau pun tahu nyawamu pun berharga baginya."


Ashley tersentak. "Itu.... Tapi kau...."


"Namaku adalah Ifrit. Aku adalah Roh Kuno penjaga Levant dari generasi ke generasi. Tidak akan mungkin aku menelantarkan kewajibanku."


"Roh ... penjaga Levant...?


"Jadi... kau sebenarnya...?"


"Ya. Sekarang, beristirahatlah. Aku khawatir dengan sirkuit sihirmu."


Begitu tubuhnya rileks, Ashley seketika jatuh. Dikala yang sama, Azure melihatnya. "Nyonya Ashley!" ia mempercepat terbangnya.

__ADS_1


Disaat ia berhasil menangkap Ashley dan mendongak, ia mendengar Ifrit berkata, "Ah... sudah waktunya, kah...? Cukup memakan waktu, ternyata. Yah, tidak apa. Sirkuit sihirmu telah kuperbaiki, Zeeta."


"Apa yang ia gumamkan sendiri...?" batin Azure, mengerutkan keningnya. Tepat setelah itu tubuh Ifrit bersinar, memaksa Azure menutup matanya. "Apa yang terjadi?!" serunya panik.


__ADS_2