Zeeta Dan Dunia Sihir

Zeeta Dan Dunia Sihir
Volten Sisters


__ADS_3

Grandtopia... sebuah negeri, atau desa, atau pemukiman, atau apapun sebutannya untuk para Elf, yang tersembunyi di dalam Hutan Sihir Agung. Letaknya berada sedikit lebih jauh dari Hutan Peri, barat daya kerajaan Nebula, dan terletak sebelah barat laut kerajaan Aurora. Dengan kata lain, Hutan Sihir Agung terletak di tengah-tengah diantara ketiganya.


Hutan Sihir Agung bisa ditemukan setelah menemukan “pintu dimensi” di dalam hutan yang didenyuti oleh pohon-pohon raksasa yang memiliki tinggi ratusan meter—yang memungkinkan siapapun hilang begitu masuk ke dalamnya.


......................


Beberapa saat setelah Hugo mengetes Zeeta menggunakan Catastrophe Seal dan mengobati luka-lukanya, Hugo berniat ingin memperbaiki kehancuran Grandtopia yang diperbuatnya—sebuah lubang lebar di tanah yang menampilkan beberapa letusan lava. Zeeta yang memandanginya hanya bisa terpana sambil membuka mulut. Rambut panjang seleher hitam milik Sang Tetua Para Elf ini melawan gravitasi. Satu demi satu lingkaran sihir dari terkecil sampai terbesar—yang muncul dari sekitar kaki hingga melebar sampai tiga meter—menandakan betapa besar mana yang hendak diwujudkannya.


Sebelum menutup lubang tersebut, Hugo menutup mata, menarik napas-nya dalam-dalam dan menahannya sesaat, kemudian melepasnya. Tak memerlukan banyak waktu, setelah lingkaran sihir itu bercahaya ungu, ia membuka matanya. Setelah itu, lava-lava yang terlihat menyembur, terangkat dan berubah menjadi gunungan tanah baru, lalu menutup lubang itu sampai rapat. Dari lingkaran sihir yang belum menghilang, muncul butiran-butiran mana yang tak terhitung jumlahnya, yang kemudian tersebar di atas tanah, dan menumbuhkan rerumputan yang baru.


Hugo butuh waktu tidak lebih dari lima menit untuk mengembalikan seperti semula negerinya yang


indah itu.


“Hebat...,” gumam Zeeta. Matanya berbinar.


“Tentu saja dia hebat,” kata Lloyd yang datang dari belakang Zeeta, “lagi pula dia adalah Tetua, pemimpin dari semua Elf.”


“Ah, Kak Lloyd. Kamu baik-baik saja?”


“Baik-baik saja?! Setelah terkena serangan dia?! Apa kau gila?”


“Ehehehe, maaf....”


“Hmph. Meskipun kau hanya seorang bocah, harus kuakui kau memang pantas memegang Catastrophe Seal. Gunakan itu dengan bijak!”


“Pantas...? Oh, maksudmu karena aku Manusia, jadi aku....”


“Tidak, bukan karena itu,” balas Lloyd segera. Ia menyilangkan tangan. “Sepengetahuanku, para Roh Yggdrasil tidak akan membiarkan sembarang makhluk menggunakan senjata suci ini. Mungkin, kau adalah orang pertama yang mampu menggunakannya sejak senjata ini eksis."


“Pe-pertama?!”


“Ya, begitulah.”


“Uaaahh.... Rasanya, bebanku tiba-tiba meningkat pesat. Aku gugup jika kelak aku justru—"


“Hentikan cara pikir seperti itu!” bentak Lloyd, “jika ini adalah senjata yang HANYA DIRIMU yang bisa memakainya, maka berbanggalah!"


Zeeta sempat terkejut tetapi segera melukiskan senyum ketika mendengarnya.


“Uhm, uhm, Lloyd benar, Zee. Karena itulah, dengan melatihmu di sini, kau mungkin akan mampu menguasai tiga bentuk Catastrophe Seal!” timpal Hugo yang menghampiri.


“Apa aku ... memang benar-benar bisa?” Zeeta masih diselimuti awan ragu.

__ADS_1


“Tidak, jika terus seperti ini.” Hugo berjalan kembali ke desa mereka, diekori oleh keduanya. “Sebelum membahas tentang ‘menguasai’, kau harus belajar terlebih dahulu tentang ‘mengendalikan’,” sambungnya, “dari apa yang kulihat, kau sama sekali tidak memakai mana di sekitarmu, sehingga potensi sebenarnya dari Catastrophe Seal tidak bisa kaukeluarkan seratus persen.


“Ya, kuakui kau memiliki mana yang besar, dan jauh lebih kuat daripada semua Manusia di kerajaanmu. Tetapi, ketahuilah, itu tidak cukup untuk melawan Lucy.”


Zeeta terhenti mendengarnya. Hugo dan Lloyd juga ikut menghentikan langkah. “Apa hanya aku ... yang bisa melakukannya?” Zeeta bergemetar.


“Ya, karena hanya kaulah yang mampu memakai Catastrophe Seal.”


“Sebenarnya .. apa itu Catastrophe Seal...? Aku sudah bertanya pada Ratu Clarissa, kak Velvet, ataupun ibuku, mereka semua tak mampu menjawabnya.


“Aku ingin bertanya langsung pada Luna, tapi aku tak memiliki kesempatannya.... Apa Paman tahu?”


Hugo tersenyum. “Tentu saja. Untuk apa aku menjaga Catastrophe Seal tanpa mengetahui kekuatan, asal usul, serta kegunaan senjata suci ini?” mereka mulai berjalan lagi.


“Ja-jadi...!”


“Tapi, jawaban itu harus kusimpan sampai kau benar-benar bisa ‘mengendalikan’. Kau memang bisa mewujudkan berbagai jenis sihir yang unik dan tak terpikirkan ketika melawan musuh. Kuakui itu pantas untuk disebut sebagai senjata lain yang hanya dimiliki olehmu seorang.


“Tetapi, kau sangat kurang dalam memakai mana di sekitar, atau harus kukatakan mana alam, jika bicara hal spesifiknya. Kutebak, kau hanya beberapa kali memakai mana alam, bukan?”


“I-iya.... Itu benar... ”


“Manusia memang tidak semuanya bisa menggunakan mana alam karena kekuatannya yang sangat sulit dikendalikan atau bahkan digunakan.


“Ya, iya.” Lloyd berjalan ke arah yang berlawanan dengan mereka, meninggalkan keduanya empat mata


Sambil menuntun Zeeta, Hugo melanjutkan topik bahasannya. “Mana alam adalah energi tanpa batas. Entah apapun yang terjadi pada alam, alam akan selalu memiliki mana. Meskipun begitu, mana alam tidak harus selalu kaugunakan hanya jika kau terdesak dan terpaksa memakainya. Mana alam pun bisa kaugunakan untuk keseharian.


“Dan kali ini... kau akan melihat bagaimana kami mempraktikannya!”


Zeeta melihat di kejauhan ada empat orang Elf yang hinggap di batang-batang pohon yang berbeda. Keempat Elf itu membawa perlengkapan berburu. Ada yang membawa tombak, busur panah, dan ada juga yang hanya membawa badannya sendiri. Satu diantara mereka terlihat sepantaran dengan Zeeta.


“Kuperkenalkan. Mereka adalah Jourgan, Serina, Mintia, dan Reina,” Hugo mulai bicara melalui telepati. “Kecuali Reina yang menjadi support untuk mereka, mereka adalah tiga bersaudari yang sejak kecil sering ‘bermain’ di hutan ini.”


“Support...?” Zeeta mengerenyitkan keningnya.


“Lihatlah sendiri.” Hugo tersenyum.


......................


Salah satu dari Elf yang ada di tengah, mengetuk batang yang dipijaknya. Elf ini memiliki rambut pirang-pucat sepunggung. Wajahnya terlihat lebih kalem dari dua saudarinya. Ia menghembuskan sihir angin kalem yang membawa beberapa dedaunan kecil, kemudian mengarahkan angin tersebut ke tempat dimana buruan mereka berada—dua ratus meter dari pohon yang ia pijaki. Elf itu adalah Serina. Ia berperan sebagai ‘pelacak’.


Elf yang paling depan, Jourgan, segera menemukan targetnya, seekor beruang bertanduk rusa dan berbulu biru yang sedang mengkamuflasekan diri. Dirinya yang memegang tombak segera berancang-ancang untuk men-javelin-nya. Elf ini memiliki rambut pirang bergelombang panjang. Tubuhnya lebih besar dan berotot—terutama di bagian lengan dan paha dibanding dua saudari lainnya.

__ADS_1


Sementara yang ada di belakang Serina, adalah Mintia. Ia memegang busur. Beruang bertanduk rusa itu, atau yang bernama Grimmur, sedang menikmati rumputnya dengan santai dan tenang, sampai Elf ini membuat matanya terbelalak-kaku. Anak panahnya ia tarik dari punggung dan segera ditembakkan ke target. Ketika anak panah itu dibidik, ia melapisinya dengan sihir yang mampu membiuskan target. Saudari kedua setelah Jourgan ini memiliki rambut pirang lurus yang pendek. Jemarinya terlihat kasar karena kesehariannya.


Ketiga Elf ini adalah wanita Elf yang tentunya tangguh.


‘PEW!’


Anak panah itu tertancap tepat di punggung sang beruang. Rintihan kesakitan bahkan tak terdengar darinya.


Jourgan kini mengambil langkahnya. “Terima kasih atas rantai makanannya!” ia melempar tombak itu dan menembus jantungnya seketika.


Elf yang paling muda diantara mereka, serta berada di paling belakang, Reina, segera lompat roll depan untuk membedah hasil buruan itu.


“Yah, siapa yang menyangka akan mendapat Grimmur secepat ini! Biasanya kita perlu masuk lebih dalam, ‘kan?” ujar Jourgan, melompat dari batang dan mencabut tombaknya. Ia mengayunkan tombaknya untuk menciprat-bersihkan bilahnya dari darah Grimmur yang berwarna hijau.


“Ini ulah Tetua. Kekuatan gilanya pasti membuat Grimmur ketakutan,” balas Serina. Ia datang berjalan.


“Reina, butuh bantuan?” tanya Mintia. “Ini baru kelima kalinya kau ikut berburu, ‘kan? Jangan paksakan dirimu!”


Sambil menguliti Grimmur, Reina menjawab, “Tidak, tolong biarkan aku melakukannya, Kak Mintia! A-aku harus berguna dan membantu kalian dengan melakukan apapun yang bisa kulakukan!”


Ketiganya tersenyum. Jourgan mendekati Reina lalu mengelus kepala Reina dengan kasar. “Hahaha! Kau sudah cukup membantu dengan obat-obatanmu!


Tapi jika ini keinginanmu, kami juga tidak keberatan membantumu. Ya, ‘kan?!”


“Maafkan aku jika kekuatanku membuat kalian repot, Volten Sisters!” seru Hugo tiba-tiba, yang tentunya mengejutkan ketiga Elf dan mengacungkan senjata mereka seketika ke Hugo. Begitu juga dengan Serina. Ia berdiri membelakangi Reina dengan mengacungkan pisau yang ia sembunyikan dibalik sepatunya. Tatapan mereka benar-benar terlihat mengancam dan penuh dengan aura ‘membunuh’.


Zeeta yang ikut teracungkan senjata, serasa ingin pingsan di tempat. Tak pernah semasa hidupnya merasa sekaget dan setegang dalam sekejap.


“Te-Tetua!” ketiga Elf ini segera menurunkan senjata mereka begitu tahu identitas suara yang mengejutkannya.


“Kebiasaanmu buruk sekali!” seru Jourgan.


“Hawa keberadaannya tak bisa kudeteksi...,” gumam Serina.


“Selalu seperti ini. Tidakkah kau bosan, Tetua?” tanya


Mintia, “bagaimana jika kami melukai Zeeta? Aku tak ingin bertanggung jawab.”


“Ahahaha,” Hugo tertawa lepas. “Jadi ... seperti inilah Volten Sisters. Jika kau menguasai mana alam, kau pun bisa mendeteksi dimana lawan berada secara akurat, memperkuat serangan, dan mempertajam insting. Besok, kau akan berlatih dengan mereka.


“Nah, kuserahkan sisanya pada kalian, Volten Sisters, daah!” Hugo menghilang begitu saja bagai ditelan asap tebal, meninggalkan lima orang gadis dengan suasana super canggung.


Keseharian Zeeta untuk beradaptasi di Grandtopia ... baru saja dimulai.

__ADS_1


__ADS_2