Zeeta Dan Dunia Sihir

Zeeta Dan Dunia Sihir
Zeeta vs. Marianna 2/4


__ADS_3

Tanpa menunggu kedatangan Marianna agar lebih dekat lagi, Zeeta langsung beraksi. Sambil menggunakan tongkat Catastrophe Seal-nya, ia mengayunkan tangan kanannya ke atas—yang memunculkan sebuah tebing runcing es menjulang ke langit. Kemudian, ia memutar tangannya beberapa kali—memecah tebing es itu menjadi beberapa potong. Setelah itu, bersama dengan lompat mundur, ia terjangkan potongan-potongan es itu menuju Marianna. Marianna tentu saja menganggapnya remeh dan hendak menghancurkannya dengan tangan monsternya.


Namun....


Zeeta yang melompat mundur, tidak hanya memberi jarak lebih, tetapi dari kakinya, tanpa sepengetahuan Marianna, akar-akar dari sabana, ia gunakan untuk mengikat kaki Marianna—meski saat menyentuhnya, beberapa dari akarnya langsung hangus. Sadar bahwa dari kaki saja tidak cukup, ia memaksa kedua tangan lawannya itu untuk terikat juga.


Sayangnya, hasilnya tetap saja nihil, dan Marianna berhasil menerjang Zeeta lalu mendaratkan serangan panas padanya. Pukulannya memberi efek pada tangan kirinya yang langsung merasakan betapa sakit, perih, dan nyeri luka itu. "Gaaaaakkhh!" erangnya.


Meskipun demikian, Zeeta yang terhempas, masih mampu melakukan roll, lalu menggunakan tongkatnya sebagai rem pembantu. Disaat bersamaan, tanah-tanah yang berbekas goresan tongkatnya, dengan cepat menggumpal dan membentuk kepalan-kepalan tangan besar yang berusaha menyerang Marianna. Sadar bahwa hanya seperti itu saja tidak akan efektif, Zeeta memaksa Marianna menjulang ke langit setelah ia menghentakkan kaki kanannya dengan membuat tebing tanah yang melontarkannya. Dari sisi-sisi bawah tebingnya, muncul tiga kepalan tangan besar yang sama. Dua darinya menghantam Marianna dari kanan dan kiri, lalu satunya lagi menghantamnya ke belakang.


‘BYUSSHH!’


Bunyi terpental dirinya seolah meriam yang ditembakkan. Dampak akhir dari pentalan itu adalah Marianna yang terkubur di dalam tanah. Keheningan terjadi beberapa saat, sementara Zeeta bersiaga untuk serangan selanjutnya.


Kemudian....


Tanah-tanah itu memancarkan sinar merah dari bawah. Sebuah ledakan menyusulnya. Dengan cepatnya, Marianna menerjang lagi menuju Zeeta, dengan gerakan memutar tiga ratus enam puluh derajat untuk mempercepat lagi kecepatannya. Zeeta menggertakkan giginya—lalu mengubah tongkatnya dengan perisai.


‘BWIINGG!’


Perisai itu tidak mengalami kerusakan setelah menerima pukulan keras dari Marianna dengan tangan kanannya yang berlapis api. Namun, berbanding terbalik dengannya, Zeeta justru meringis kesakitan. Hanya dengan satu tangan saja, ia tak mampu menahan serangan sekuat itu. Zeeta menggigit bibirnya, mencoba mengabaikan rasa sakit, lalu menyerap sihir yang ada dari tangannya ke dalam perisai. Sadar bahwa itu berbahaya, Marianna lekas menjauh namun ia terlambat beberapa detik saja.


'KABWAAAMMM!!'


Ledakan amat sangat kuat terjadi hingga menimbulkan asap pohon bercincin, yang lagi-lagi menjadi pusat mata orang-orang. Zeeta dan Marianna terhempas jauh sebagai akibatnya.


“Hahahah...,” tawa Zeeta dengan wajah menahan sakit, “sudah kuduga, kekuatan Rune memang sangat hebat....” Ia terbaring di tanah dengan noda hitam di sebagian tubuhnya.


“HEBAT, KATAMU?!


“Bilang padaku kalau kau juga serius menghadapinya, Zeeta!”


Zeeta mendengar suara Ozy lagi.


“Duh, ayolah Ozy, sejak kapan kau jadi berisik seperti Aria dan kak Azure?


“Tentu saja aku serius! Tidakkah kau sadar aku sudah menggunakan Rune dalam tiap seranganku?”


“Kaukira mata gurumu ini bisa dibohongi? Tentu saja aku sadar! Tetapi aku tahu kaubisa lebih dari itu!”


“Dengan satu tangan?”

__ADS_1


“....


"Ya.”


“Uegh. Memangnya aku ini siapa? Sudah, kalau hanya ingin mengobrol, nanti saja.” Ketika Zeeta berdiri, ia sadar bahunya tidak terlalu merasa sakit. Ia kemudian tersenyum. “Dasar... terima kasih, ya, Reina... kalian juga, Elf....”


“Sudah kuduga, kau masih bisa lebih serius dari ini.”


Zeeta lagi-lagi diganggu oleh suara, tetapi kini, bukan dari Ozy. Suara itu pernah didengarnya kemarin, dan ia masih sangat ingat siapa pemilik suaranya.


.


.


.


.


“Jangan buat aku bisa melakukan apa saja, dong, Ifrit. Aku tahu apa maksudmu bicara padaku.”


“Oh...? Cobalah katakan. Manusia sepertimu, terlebih kau masihlah bocah naif, menganggap bisa mengerti jalan pikir Roh Kuno sepertiku?”


“Cih. Rune sialan!”


“Bukannya aku ingin menolak mentah-mentah tawaran bantuanmu untuk menyembuhkan bahuku, tetapi begitu kau melakukannya, aku pun juga pasti akan memiliki kemampuan itu.”


“Memiliki?! Sombong sekali!


“Sebutlah itu kontrak!”


“Ah ... uhm. Seperti itulah.


“Kusenang kauingin membantuku lagi setelah membangkitkanku, tetapi ... jika saat ini—dengan kekuatan yang telah kulatih selama enam setengah tahun tidak terbukti—setidaknya untuk diriku sendiri....


“Aku merasa aku tidak punya harga diri. Baik sebagai Manusia dan seorang Tuan Putri. Terlebih....”


“Hmm?”


“Jujur saja, aku takut.”


Seperti disetrum, Ifrit yang bersemayam di ... terganggu oleh ucapan takut dari Zeeta.

__ADS_1


Zeeta mengatur napasnya. Ia lalu mengubah perisainya menjadi tongkat sihir, lalu ia memutar-mutarnya—membuat awan perlahan mendung—hingga perlahan menjadi gelap dan mendatangkan guntur. Baru saja usai melakukannya, Zeeta terbelalak, lalu menancapkan tongkatnya, kemudian diikuti oleh gerakan menunduk.


Dengan kecepatan yang tidak berubah, saat Zeeta menunduk itu, Marianna datang dengan serangan kaki. Meleset, ia melanjutkannya dengan memutar sedikit tubuhnya ke kanan, lalu meninju. Dengan bantuan Rune Kaunaz-nya, ia bisa menghindarinya dengan cara menggelinding di tanah. Serangan yang meleset itu membuat lubang di sekitar kepala. Zeeta tidak tinggal diam setelah kepalanya terancam hancur lebur—kakinya ia gunakan untuk bersihir. Tanah dibuatnya seperti seuntai tali, lalu menarik Marianna ke belakang dan segera membantingnya ke tanah. Setelah terbanting, Zeeta segera berdiri, lalu menggunakan tangan kanannya untuk mengubah untaian tali itu agar mengikat Marianna. Rune Nauthiz tampak di atas sihir tanah itu.


Namun, lagi-lagi Zeeta dibuat menggertakkan gigi. “Sialan, Aurora memang sangat kuat, sampai-sampai aku merasa jengkel sendiri!” geramnya.


Marianna masih bisa berontak—yang perlahan menghancurkan sihir Zeeta—padahal sebelumnya, Rune itu mampu memaksanya agar melemah.


Zeeta mencabut tongkatnya, lalu memakainya seperti sebuah sapu terbang. Ia menukik ke langit gelap itu dan masuk melewatinya. Tidak tinggal diam, Marianna ikut menyusulnya.


......................


Sementara itu, Hazell, beberapa penjaga istana, dan puluhan pemilik mana besar, memenuhi halaman depan istana. Diantara pemilik mana-mana besar itu, ada sang bangsawan bunga, Orchid; seorang penjaga pintu Levant, Ebenezer; juga Arthur. Ada pula bangsawan-bangsawan lokal dari masing-masing kota wilayahnya, yang bisa diketahui dari cara berpakaian mereka. Tak luput kehadiran mereka yang sudah pulih dari Rumah Sakit Guinerva, Crescent Void; Marcus dan Danny.


Saat ini, para pemilik mana besar itu sedang menunggu kedatangan Scarlet—sebagai penggagas permintaan pengumpulan mereka. Ditengah-tengah mereka menunggu itulah, pertarungan yang mampu meledakkan apapun di dekatnya, atau bahkan mengubah cuaca dalam waktu singkat antara Zeeta dan Marianna—terjadi. Selain diselubungi oleh rasa penasaran apa yang hendak dikatakan Scarlet nanti setelah kemunculannya di waktu “dahsyat” seperti ini, mereka yang dipanggil juga "tidak ingin tahu" apa yang terjadi pada pertarungan Zeeta dan Marianna setelah melewati bencana tornado api-petir.


Lalu, tidak lama kemudian, Scarlet datang. Sebelum wujudnya dilihat utuh oleh rakyatnya, Scarlet berkata dengan tegas, “Tidak perlu turunkan kepala kalian atau formalitas lainnya! Saat ini—kita semua harus bekerja sama tanpa memandang status!” setelah itulah, Scarlet menunjukkan wujudnya. Wajah senyum menyambut mereka, terutama pada Arthur.


“Tidak ada waktu untuk dibuang-buang. Dengarkan aku baik-baik, rakyat Aurora yang kuat dan berani!” seru Scarlet dengan suara lantangnya. Mereka yang pernah hidup dalam masa kejayaan Scarlet, merasa rindunya terobati—hingga membuat terharu.


“Lakukanlah setelah aku mengatakannya, jadi dengarlah baik-baik!


“Pertarungan Zeeta dan musuhnya kali ini sangatlah berbahaya, kalian pasti telah melihatnya sendiri. Tidak ada yang bisa kita lakukan dalam pertarungan itu, bahkan untuk aku, Alicia, dan Hazell sebagai keluarganya sendiri!


“Tetapi!


“Ada hal lain yang bisa kita lakukan dengan menyatukan kekuatan kita....


“Yaitu....”


Mereka semua yang mendengar secara saksama, terbelalak setelahnya.


“A-apa hal itu mungkin dilakukan, Nyonya?!” tanya Arthur.


“Tentu saja! Tidak akan kupanggil kalian bila ini mustahil!”


“Astaaaga... Aku sedikit kecewa karena tidak bisa membantu langsung Yang Mulia Zeeta, tapi, yah... jika kami bisa membantu beliau, kami siap, Nyonya Scaaarlet.” Orchid menggigit bunga mawar yang ada di sakunya.


Scarlet menyeringai lebar. “Sekarang, lakukanlah sesuai aba-abaku, rakyat pemberani!”


“YAAA!!”

__ADS_1


__ADS_2